Monthly Archives: November 2019

  • -

Setelah Sukses Tahun Ini, SEOCON 2020 Akan Digelar

Jumpa pers penyelenggaraan SEOCON 2020 di Jakarta.

ACARA Search Engine Optimization (SEO) Conference (SEOCON) 2019 telah sukses digelar di Balai Kartini, Jakarta, pada 13-14 Maret 2019. SEOCON 2019 dihadiri 450 peserta yang mengikuti workshop dari sejumlah praktisi berpengalaman di bidang masing-masing.

Dengan besarnya animo peserta terhadap SEOCON 2019, maka SEOCON 2020 akan kembali diselenggarakan di The Kasablanka, Jakarta, pada 26-27 Februari 2020. Bahkan pada SEOCON 2020, para pesertanya diperluas hingga dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Dengan target 3.500 peserta, SEACON 2020 alan menjadi SEO Conference yang paling prestisius.  Kesempatan emas tersebut tentunya tidak boleh dilewatkan untuk kalangan praktisi dan pengamat tren digital dari Indonesia dan negara lainnya.

Pada hari pertamanya, SEOCON 2020 akan mengadakan konferensi yang diisi pakar-pakar digital dari dalam maupun luar negeri seperti Neil Patel, salah satu pakar SEO terbaik, kemudian Jono Alderson dari Yoast, Jon Earnshaw dari Pi Datametrics, hingga Fabian Lim yang merupakan pakar SEO terkenal.

Tidak hanya itu, masih ada JC Carlos (Head SEO, Traveloka) dan Reza Putra (SEO Lead, Tokopedia, serta Ryan Kristo Muljono, pencetus SEOCON dan pendiri ToffeeDev siap membuat SEACON 2020 terasa berbeda.

Pada hari keduanya, dilaksankan lebih dari 12 workshop gratis untuk diikuti, menjadikan SEOCON 2020 ini berbeda jika dibandingkan dengan acara SEOCON sebelumnya,

Chris Adam selaku perwakilan AdamEve Brand Innovator yang turut mendukung SEOCON sebagai Official Digital Partner, mengatakan,“Insight dari speakers luar negeri yang berpengalaman tentu sudah menjadi alasan yang kuat untuk tidak melewatkan acara ini, sebagai acara dengan kemasan lengkap dan holistik untuk praktisi digital”

Pada jumpa pers di Jakarta, Rabu (27/11), Chris menjelaskan SEACON 2020 akan menjadi salah satu acara penting tahun depan. Ia menjelaskan beberapa alasan kenapa SEACON 2020 memiliki nilai berbeda jika dibandingkan sebelumnya.

Chris memberi alasan, pertama, speakers berpengalaman dari dalam dan luar negeri.

“Pengalaman para speakers yang sudah malang melintang di dunia digital tentu akan membuat perusahaan mampu mengoptimalkan keuntungan dengan mengikuti tren yang ada dan trend masa depan, sehingga keputusan perusahaan akan tepat dalam ekosistem digital, secara investasi maupun perencanaan keputusan di masa depan,” jelasnya.

Kedua, yang penting menyangkut networking. Menurut Chris, selain dihadiri para narasumber yang berpengalaman, acara ini akan dihadiri oleh banyak pelaku bisnis dari berbagai latar belakang usaha. “Sudah tentu ini akan menjadi kesempatan yang bagus untuk menambah koneksi bisnis.”

Alasan ketiga, Indonesia market insightkarena SEACON 2020 menentukan kebijakan perusahaan terutama di dalam ekosistem digital, tentunya memerlukan perencanaan sesuai dengan trend dan forecasting pasar yang up to date, dan SEOCON adalah acara yang tepat. (RO/OL-09)

 

Sumber : https://mediaindonesia.com/


  • -

Kinerja Industri Sektor Wisata Di Mata Pelaku Usaha

Jakarta, CNBC Indonesia-  Pariwisata menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional yang diyakini mampu mendorong penerimaan devisa negara dengan cepat. Menurut Wakil Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Sudradjat potensi sektor pariwisata RI sangat besar namun masih kalah bersaing dengan negara tetangga karena masih kurangnya akses dan atraksi yang ditawarkan.
Sudradjat menyebutkan di tahun 2019 kinerja sektor pariwisata terhitung masih lesu akibat terjadinya beberapa bencana alam dan  stabilitas politik yang kurang kondusif. Sehingga penting dukungan dari media nasional bisa memberikan informasi positif terkait pariwisata Indonesia.

Selengkapnya saksikan dialog  Daniel Wiguna dengan Wakil Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Sudradjat  dalam Profit, CNBC Indonesia (Rabu, 27/11/2019)

 

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/


  • -

Yogya Jadi Salah Satu Lokasi Uji Trail Wisata Kesehatan Indonesia

Yogyakarta – Kota Yogyakarta menjadi salah satu lokasi uji trail wisata kesehatan di Indonesia. Uji coba ini merupakan tindak lanjut kerja sama Kemenkes dan Kemenparekraf setelah meluncurkan katalog wisata kesehatan dan skenario perjalanan wisata kebugaran beberapa waktu lalu.

“Sesuai kesepakatan dengan Kementerian Pariwisata, Indonesia sudah siap dengan wisata yang wellness. Karena itulah yang kita kembangkan, dan teman-teman pariwisata sudah membuat uji trail namanya di lima kota tadi: Yogya, Solo, Semarang, kemudian Bali, dan Jakarta.”

Hal itu dikatakan Kepala Pusat Analisis Determinan Kesehatan Kemenkes Pretty Multihartina seusai acara sosialisasi determinan kesehatan pada 25-27 November 2019 di Cavinton Hotel, Yogyakarta, Rabu (27/11/2019).

Pretty menjelaskan ada empat kluster wisata kesehatan dan kebugaran yang dikembangkan Kemenkes dan Kemenparekraf. Kluster tersebut adalah wisata medis, wisata kebugaran dan jamu atau herbal, wisata olahraga yang mendukung kesehatan, dan terakhir wisata ilmiah kesehatan.

“La kenapa kita sekarang mencoba untuk mensosialisasikan di Yogya dan sekitarnya? Karena Yogyakarta dengan Borobudur-nya menjadi salah satu dari lima destinasi superprioritas,” sebutnya.

 

Sumber : https://news.detik.com/


  • -

Peragaan 80 Kostum Unik di Lippo Village Festival Angkat Budaya Lokal

JawaPos.com – Indonesia adalah negara yang kaya dengan busana adat dan budaya. Dalam ajang Jember Fashion Carnaval (JFC) yang mengusung tema Tribal Grandeur di Lippo Village Festival, sebanyak 80 kostum unik ditampilkan dan dibawakan untuk mengusung keagungan busana Indonesia dan dunia.

Lebih dari 80 kostum unik dibawakan oleh model dewasa dan juga anak-anak dari JFC Kids yang mewakili budaya Indonesia seperi Garuda, Hudog, dan yang lainnya. Mereka juga memperlihatkan kostum dari suku-suku negara lain seperti Aztec dari Meksiko, Karen dari Thailand, dan Viking dari Norwegia.

”JFC sengaja kami hadirkan di Provinsi Banten untuk pertama kalinya untuk mempromosikan festival budaya. JFC sendiri sudah dikenal di dunia melalui prestasinya,” kata Chief Executive Director (CEO) PT. Lippo Karawaci John Riady.

Event Director JFC Intan Ayundavira menjelaskan banyak cara untuk memperkenalkan kostum daerah kepada milenial. JFC selama ini menjadi salah satu karnaval yang telah mendapatkan pengakuan.

“Kami ingin membuat masyarakat lebih mengenal budaya Indonesia dan budaya negara-negara lain yang kami tampilkan dalam kemasan karnaval yang menarik,” tutupnya.

 

Sumber : https://www.jawapos.com/


  • -

Masyarakat Sadar Wisata Tingkatkan Profesionalisme

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Pariwisata mengharapkan masyarakat dan para pengelola desa wisata sadar wisata.

Kesadaran ini diperlukan untuk meningkatkan profesionalisme dalam menyambut dan melayani lebih banyak wisatawan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ni Wayan Giri Adnyani, Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar.

Menurutnya, semakin tinggi tingkat kesadaran masyarakat akan manfaat pariwisata di daerahnya akan meningkatkan profesionalitas layanan terhadap wisatawan.

“Pengelola desa wisata termasuk bagian penting dari langkah pengembangan destinasi, penyusunan story telling, dan pembentukan kelompok sadar wisata atau pokdarwis,” tuturnya dalam acara Sosialisasi Sadar Wisata di Desa Adat Peken, Tabanan, Bali, seperti dikutip dari siaran pers, Selasa (25/6/2019).

Upaya ini, lanjutnya, juga bertujuan meningkatkan kapasitas pengelolaan dan masyarakat desa wisata agar mampu meningkatkan dan mengembangkan desa wisata. Hal ini lantaran pengembangan desa wisata menjadi stimulus positif pertumbuhan perekonomian perdesaan.

Dia mengakui bahwa pariwisata merupakan cara tercepat untuk meraup devisa sehingga pariwisata perlu dikembangkan dalam membangun perekonomian desa.

Kondisi itu nantinya yang jelas juga meningkatkan percepatan kesejahteraan masyarakat desa.

 

Sumber : https://ekonomi.bisnis.com/


  • -

Pasir Timbul Sulawesi Yang Cantiknya Mirip Lukisan

detikTravel Community – Pasir timbul atau gusung pasir kerap jadi destinasi bagi wisatawan pecinta vitamin sea. Kalau main ke Sulwesi ada pasir timbul Tallu yang cantik kaya lukisan.

Kepulauan Balabalakang terletak di Selat Makassar. Terdiri dari belasan Pulau dan Pasir timbul yang sangat banyak. Kepulauan Balabalakang dapat diakses melalui pesisir Kalimantan Timur dan Pesisir Sulawesi Barat.

Akses terdekat menuju Kepulauan Balabalakang adalah dari Pesisir Kabupaten paser yang beribukota Tana Grogot. Dimulai dari Tana Grogot dengan menggunakan transportasi darat menuju dermaga pelabuhan desa lori atau Tanjung Aru.

Dari Lori menuju Gusung Tallu kepulauan Balabalakang hanya memerlukan waktu 3-4 jam tergantung kapal dan cuaca. dari Tanjung Aru, kapal bisa lebih cepat sampai ke Gusung Tallu.

Perjalanan dari Gusung Tallu ke Pulau Durian memerlukan waktu kurang dari 1 jam. Sedangkan dari Gusung Tallu menuju Pulau Salissingan hanya memerlukan waktu 1-1,5 jam. Jadi, penanda pintu masuk kepulauan Balabalakang adalah Gusung Tallu.

Tallu artinya tiga dari bahasa suku mandar yang cukup mirip dengan bahasa suku bugis. Gusung atau pasir timbul yang berderet tiga dan saling berdekatan.

Saat pasang naik Gusung ini hanya terlihat cukup kecil bahkan bisa tenggelam, namun saat pasang surut, maka ketiga gusung akan terlihat sangat luas dan dikelilingi hamparan terumbu karang.

Jangan lewatkan untuk bermain di Gusung Tallu karena gusung ini memiliki pemandangan yang indah, pasirnya lembut dan spot memancing yang bagus.

Selanjutnya Pulau Durian. pulau ini hanya terdiri dari 3-4 rumah nelayan dan tugu layar biru buatan pemerintah sulawesi barat. pulau ini dijadikan tempat persinggahan nelayan.

Untuk mendarat di Pulau Durian cukup sulit karena di kelilingi laut yang sangat dangkal dan tidak memiliki dermaga kapal. Kapal-kapal berukuran sedang dapat mencapai pantai saat pasang naik saja.

Dari Pulau Durian, terlihat Pulau Salissingan. perjalanan yang ditempuh dari pulau Durian menuju Pulau Salissingan kurang dari 1 jam. Pulau Salissingan adalah Pulau yang cukup besar dengan perkampungan nelayan yang luas.

Di Pulau Salissingan terdapat spot-spot tertentu untuk mendapatkan sinyal telpon dari provider tertentu dan juga memiliki fasilitas internet desa yang menggunakan sistem voucher. Dari Pulau Salissingan kita bisa melihat banyak Pulau-pulau yang berdekatan satu sama lain seperti Pulau Durian, Kamariyang besar, kamariyang kecil, Pulau Samataha dan Pulau Saboyang.

Pulau Salissingan adalah sentra pengolahan teripang dan surga ikan segar hasil tangkapan nelayan. Bagi Kapal yang berukuran sedang hingga besar, mendarat di nPulau Salissingan sangat sulit dan hanya bisa saat pasang naik jika kapalnya tidak ingin kandas di laut dangkal dekat bibir pantai Pulau Salissingan

 

Sumber : https://travel.detik.com/


  • -

Tantangan Wishnutama untuk Kembangkan Pariwisata Bali Utara

Jakarta – Menparekraf Wishnutama ingin mengembangkan kawasan Bali bagian utara, termasuk timur dan barat. Tapi rasanya, ada tantangan yang tak mudah.

   Pekan lalu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama bersama wakilnya Angela Tanoe mengunjungi Bali sebagai kunjungan kerja perdana ke daerah. Selama di Bali, mereka bertemu Gubernur Bali, Wayan Koster dan para pelaku wisata.
Salah satu hasil pertemuan tersebut adalah, Wishnutama ingin mengembangkan pariwisata di Bali bagian utara, barat, dan timur. Tentu bukan rahasia lagi, kawasan Bali bagian selatan seperti Kuta, Sanur, dan Seminyak sudah penuh sesak.

Konsentrasi pariwisata Bali pun terpusat di bagian selatan. Hingga akhirnya muncul permasalahan seperti overtourism, hingga kemacetan.

Tantangan Wishnutama untuk Kembangkan Pariwisata Bali UtaraWishnutama saat kunjungan kerja perdana di Bali (Afif Farhan/detikcom)

BACA JUGA: Siap Benahi Turis Nakal di Bali, Wishnutama?

Praktisi dan pemerhati pariwisata asal Bali, Puspa Negara berpendapat, pengembangan pariwisata Bali bagian utara, timur, dan barat tidak semudah membalikan telapak tangan. Akesesibilitas menjadi tantangan terberat.

“Aksesibilitas menjadi faktor penentu terdistribusinya wisatawan maupun berkembangnya destinasi di belahan Bali utara, timur, dan barat. Ini tak lepas dari kondisi infrastruktur pendukung kepariwisataan lebih dominan ada di Bali selatan seperti bandara, sarana, dan prasarana pendukung lainnya,” kata Puspa kepada detikcom, Selasa (26/11/2019).

Tantangan Wishnutama untuk Kembangkan Pariwisata Bali UtaraKawasan Bali utara yang penuh kontur perbukitan (Imam Sunarko/d’Traveler)

Rata-rata, wisatawan yang menginap di Bali menghabiskan waktu 2-3 malam. Tentu kalau dari kawasan selatan ke utara Bali, waktunya akan habis di jalan.

“Turis yang datang lewat jalur laut seperti cruise, ada yang berlabuh di Padang Bay (Bali bagian timur), Celukan Bawang (Bali bagian utara) dan Gilimanuk (Bali barat). Namun angkanya, itu hanya 2 persen saja dari total turis yang datang ke Bali. Sisanya melalui Bandara Ngurah Rai di Bali bagian selatan,” papar Puspa.

Bagaimana soal pembangunan bandara di kawasan Buleleng?

“Begini, tahun 1967 ibukota Bali pindah dari Singaraja ke Denpasar, mungkin karena upaya untuk membangun bandara sebagai pintu masuk, yang mana pembangunan bandara relatif lebih mudah di Bali bagian selatan,” jawab Puspa.

Maksudnya pembangunan bandara relatif lebih mudah?

“Kawasan Bali bagian utara mungkin secara geografis memang sulit dibangun bandara karena kontur lahan yang berbukit, sedangkan di Bali bagian selatan relatif datar. Termasuk untuk membangun bandara di atas laut di Bali bagian utara, biayanya lebih besar,” terangnya.

Tantangan Wishnutama untuk Kembangkan Pariwisata Bali UtaraMenteri Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono saat meninjau proyek Jalan Pintas di Mangwitani-Singaraja di Bali (Kementerian PUPR)

Puspa menjelaskan, oleh sebab itu harus ada perhitungan matang dari Kementerian Perhubungan dan Kementerian PUPR untuk membangun bandara dan jalan tol. Sementara menanti bandara dan jalan tol tersebut, Wishnutama disarankan untuk memperkuat SDM, atraksi wisata, dan peningkatan MICE di Bali bagian selatan.

“Menteri Parekraf Wishnutama bisa fokus untuk perbaikan destinasi, penguatan SDM pariwisata, penguatan atraksi wisata, dan peningkatan MICE,” tutup Puspa.

Sumber : https://travel.detik.com/

  • -

Ekonomi Kreatif Di Mata Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo

Jakarta – Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo membahas ekonomi kreatif bisa menjadi kekuatan baru dalam ekonomi di masa depan. Ini alasannya.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif menggelar acara Creative Economy Review di Balai Kartini, Selasa (26/11/2019). Menurut penjelasan Angela dalam pidatonya bahwa saat ini terjadi pergeseran ekonomi.

“Fenomena global saat ini pergeseran ekonomi baru ke ekonomi kreatif. Pergeseran terjadi ke kebutuhan konsumsi barang menjadi konsumsi pengalaman,” kata Angela mengawali keynote-nya.Menurut Angela, ekonomi kreatif akan semakin besar dan dikenal melalui teknologi yang ada saat ini. Tapi, kata dia, para pemangku kepentingan juga harus melihat sela tersebut.

“Ekonomi kreatif akan berkembang dan tumbuh beriringan dengan teknologi. Dan peluang ada jika kita mampu memanfaatkannya dengan baik,” tegas dia.

Lebih lanjut, menurut Angela ekonomi kreatif adalah wujud dari nilai tambah kekayaan intelektual yang bersumber pada kreativitas manusia dan berbasis warisan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi ekonomi kreatif diharapkan mampu menjadi pilar ekonomi yang baru.

“Ekraf diharapkan mampu jadi kekuatan baru di masa mendatang di ekonomi nasional tentunya bersamaan dengan sektor pariwisata,” imbuh dia.Ada satu alasan utama kenapa ekonomi kreatif tak akan habis. Karena, sektor ini tak bertumpu pada sumber daya alam, tapi lebih ke manusianya.

“Beda dengan lainnya, sektor ekonomi kreatif sangat bertumpu pada SDM. Lainnya kebanyakan bertumpu alam. Seiring terdegadrasi SDA setiap tahunnya, sektor ekonomi kreatif justru menempatkan kreativitas dan pengetahuan sebagai aset utama,” pungkas dia.

 

Sumber : https://travel.detik.com/


  • -

Jangan Gagal, Target Wisman 24 Juta Tahun 2024 Dan US$ 32 Juta Devisanya

Tak sedikit yang mencari-cari apa dan berapakah target-target Menparekraf Wishnutama di sektor pariwisata? Ternyata untuk konsumsi publik satu informasi terselip dalam sebaran melalui email termasuk yang saya terima ini  minggu lalu. …..

Menparekraf Wishnutama Kusubandio rupanya mengembalikan pada beberapa konsep yng tercantum pada RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024) dan disitu tercantum ditargetkannya  nilai penerimaan devisa pariwisata dari US$ 19,3 miliar tahun 2018 akan menjadi US$ 32 miliar tahun 2024, jumlah wisman 15,8 juta orang tahun 2018 ditargetkan menjadi 24 juta tahun 2024 (ini target tercantum dalam RPJMN 2020-2014). Dicatatnya 4 pilar  pembangunan pariwisata yaitu (1) peningkatan daya saing industri dan ekosistem usaha pariwisata; (2) peningkatan aksesibilitas, amenitas, atraksi dan tata kelola destinasi pariwisata; (3) peningkatan kualitas SDM pariwisata; dan (4) penguatan citra pariwisata dan diversifikasi pemasaran.

Ada satu artikel lagi yang saya baca melalui email kemarin. Sangat menarik, tampil angka yang menarik pula, bahwa rupanya Pemerintah sendiri menargetkan devisa pariwisata USD 32 miliar dan 24 juta wisman pada 2024 dengan Average Spending per Arrival (ASPA) sebesar USD 1.333 sebagai dasar perhitungannya. Disebutkan, artinya, pertumbuhan ASPA periode 2019 – 2024 adalah 9%. Faktanya, pertumbuhan ASPA Indonesia dalam 5 tahun terakhir hanya 3,1%.

Artikel itu tercantum ditulis oleh “ipangwahid”, Tim QuickWin 5 Destinasi Super Prioritas.

Sebelumnya kita ikuti dan catat di sini pernyataan Menparekraf tentang 3 target utama Kemenparekraf/ Baparekraf yaitu bertekad mewujudkan : pertama, pariwisata sebagai penghasil devisa nomor satu di Indonesia; kedua,  produk ekonomi kreatif Indonesia menjadi terbaik di kawasan ASEAN; dan ketiga, menjadikan pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai sumber kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (sumber: Siaran pers). Dan, melanjutkan pembangunan infrastruktur dan utilitas dasar di lima destinasi super prioritas. Kelima destinasi super prioritas itu ialah Danau Toba (Sumatera Utara), Borobudur (Joglosemar), Mandalika (Nusa Tenggara Barat), Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), dan Likupang (Sulawesi Utara).

*****

Sebenanya sudah sampai dimanakah pariwisata kita dewasa ini? Pernah kita catat di sini dengan diagram seperti di bawah ini, bahwa dalam 2 tahun pertama waktu itu (2015-2016) strategi pemasaran/promosi BAS (Branding, Advertising, Selling) menampakkan hasil (sukses) signifikan. Yaitu fase pelaksanaan bagian B dan A (Branding dan Advertising). Menjadi pertanyaan kemudian ialah hasil dari fase pelaksanaan S yaitu Selling. Tampak begini :

peta-hasil-bas-25112019

peta-05112019

Tetapi dua tahun kemudian fakta menunjukkan penerapan strategi dan program Selling tampak kurang konsisten sehingga mengalami kegagalan. Gagalnya antara lain dicerminkan melalui data berikut ini: statistik-wisman-yg-menurun-sd-2019

Terkait ini pernah dicatat di sini juga fakta selanjutnyat ini. Ketika memasuki tahap melaksanakan strategi selling itu, para pelaksana strategi tampak seperti terjebak pada sikap bekerja menjalankan rutinitas dan monoton. Hasil penjualan produk dan destinasi tampak tak bergerak bahkan secara kualitas wisman cenderung menurun. Padahal menurunnya kualitas wisman tentu menurun pula hasil devisanya. Dan effeknya akan terasa pada aspek lain perekonomian kita, yaitu CAD atau current account deficit, neraca pembayaran (internasional) berjalan. Terbantukah CAD itu dari hasil devisa pariwisata?

Kendati dimaklumi bahwa terjadinya peristiwa beberapa bencana alam yang besar (erupsi, gempa, tsunami) dan gejala sementara melambatnya perekonomian dunia, niscayalah berpengaruh pada naik turunnya arus kunjungan wisman, namun fakta statistik tergambar di atas, tetaplah amat patut didalami oleh segenap pelaku bisnis pariwisata, dan menjawab pertanyaan bagaimana selanjutnya…?

*****

Terasalah dan menjadi pertanyaan yang meminta jawaban segera, apakah selanjutnya program Kemenparekraf dan penggiat-penggiat pariwisata yang akan dilaksanakan tahun demi tahun 2019-2024? Pengalaman menunjukkan, rumusan-rumusan pada tataran policy dan strategi yang tampak sangat masuk akal dan memberi harapan, pada tataran pelaksanaannya tampak tidak efektif.  Situasi kondisi pariwisata kita saat ini serasa memesankan: Jangan gagal! Setiap kali kita membaca kalimat-kalimat berisi kebijakan, strategi, enak dibaca, terasa masuk akal, namun di pariwisata ini, pertanyaan pun selalu timbul : HOW TO OPERATE IT? Pertanyaan tak lagi 5 W, what, who, where, when, why,…tetapi HOW TO ?(bersambung).***

Sumber : http://indonesiatouristnews.com/


  • -

Wishnutama: Beda Daerah Di Indonesia, Beda Target Turisnya

Jakarta – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (MenparekrafWishnutama bicara soal target turis. Menurutnya, beda daerah di Indonesia maka beda pula target turisnya.

“Ke depan di era digital ini, cara menargetkan turis adalah lewat pola behavior mereka,” kata Wishnutama kepada detikcom lewat sambungan telepon, Kamis (21/11/2019).

Menurutnya, selama ini promosi pariwisata dilakukan secara konvensional melalui iklan-iklan billboard. Tentu, targetnya adalah masif.

“Cara-cara konvensional memang perlu dan terus digunakan, tapi sekarang kita micro targeting. Mengapa, sebab beda daerah di Indonesia maka beda pula target turisnya,” terang Wishnutama.

Melalui teknologi, Wishnutama berujar akan mudah menentukan behavior turis di Indonesia. Turis dari negara A misalnya suka ke gunung, maka nanti promosi yang diberikan adalah gunung-gunung cantik di Indonesia dan dapat dihitung berapa jumlah turis yang datang.

“Atau misal begini, turis China suka ke pantai, maka nanti kita promosikan itu. Melalui digital platform kini mudah kok mengenali behavior turis,” tuturnya.

“Kita tentukan potensi daerahnya apa, maka kita targetkan turisnya,” lanjut Wishnutama.

Menurut Wishnutama, Indonesia punya ragam potensi wisata. Beda daerah, beda pula keindahan dan keberagamannya.

“Indonesia itu luas, punya keunikan masing-masing dan target market yang beda-beda. Ada daerah yang bagus buat shopping, wisata pantai, budaya, sport tourism, dan lainnya,” tutupnya.

Sumber : https://travel.detik.com/