Monthly Archives: December 2019

  • -

Mau Tahu Info Pariwisata NTB? Datanglah ke Kemenperin

TEMPO.CO, Jakarta – Gemilang NTB yang dikemas dalam bentuk pameran berupaya mempromosikan kekayaan alam dan budaya Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Acara tersebut digelar di Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jakarta, 2-6 Desember 2019.

Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Moh Faozal di Jakarta, Senin (2/12/2019) mengatakan kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama para stakeholder pariwisata di NTB. Faozal berharap Gemilang NTB bisa menjadi referensi bagi traveler yang ingin mengisi waktu liburan ke Pulau Lombok.

“Gemilang NTB adalah pameran produk-produk unggulan NTB sekaligus promosi pariwisata. Event ini adalah hasil kerja sama Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) dengan Pemerintah Provinsi NTB dan Dekranasda NTB. Serta dukungan dari Kementerian Perindustrian,” papar Faozal.

Dalam Gemilang NTB, Wakil Gubernur NTB Sitti Rohmi Djalilah, bakal diberi penghargaan sebagai wanita inspiratif versi IPEMI.

“Dalam Perhelatan ini, tema yang kami angkat adalah NTB Nuansa Tanpa Batas. Kami melibatkan berbagai industri pariwisata dan UMKM unggulan NTB. Kami menampilkan kain tenun dan batik, fashion, kerajinan tangan, kuliner, serta wisata di NTB,” tuturnya.

Ditambahkan Faozal, Gemilang NTB bisa menjadi referensi bagi wisatawan yang ingin mengisi waktu libur ke Pulau Lombok.

“Kami promosikan destinasi-destinasi unggulan yang ada di Lombok. Ada alam, desa wisata, banyak sekali. Wisatawan yang ingin berkunjung ke Lombok, lebih baik mencari informasi di event ini. Sehingga waktu liburannya bisa maksimal,” tutur Faozal.

Sumber : https://travel.tempo.co/


  • -

Lokomotif Pembangunan Masa Depan Jawa Barat Bernama Pariwisata

PARIWISATA benar-benar dijadikan lokomotif perekonomian di Jawa Barat dan menjadi antensi Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat. Di bawah kepemimpinan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum perhatian tertuju pada peningkatan kepariwisataan, yang merupakan bagian dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPKMD) 2018-2023.

Ekonom Universitas Padjadjaran Dr. Ferry Hadiyanto menyebutkan, kepariwisataan sudah terbukti mempunyai dampak positif bagi pembangunan suatu daerah karena multiplier effect yang diciptakan. Menurut dia, ada dua pengaruh yang ditimbulkan dari sektor pariwisata, yakni pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung.

“Pengaruh langsung muncul dari pengeluaran wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke suatu destinasi wisata. Pengaruh tidak langsung bisa muncul dari berbagai jasa dan kebutuhan dari bisnis pariwisata, seperti transportasi, kuliner dan seterusnya,” kata Ferry dalam siaran persnya, Selasa (3/12/2019).

“Sektor pariwisata adalah sektor yang melibatkan semua stakeholder. Bagaimana sumber daya digunakan, produk diciptakan, pelanggan dipuaskan, dan investasi untuk meningkatkan kepuasan dan kebahagiaan masyarakat, sehingga akan menimbulkan multiplier effect, makannya pembangunan infrastruktur baru seperti destinasi, pusat budaya, creative center dan lainnya di Jabar adalah langkah yang tepat,” imbuhnya.

Apabila melihat trend pertumbuhan ekonomi Jawa Barat tahun ini kata Ferry, menurut data dari BPS Jawa Barat terjadi kenaikan dari triwulan I sebesar 5,43 % ke triwulan II 5,68 %. Hal itu salah satunya dari faktor penggunaan penyediaan akomodasi dan makan minum terhdapat PDRB Jawa Barat jika dirata-ratakan sebesar 9,5 % (data bps Jabar 2019)
Menurut Ferry data tersebut ditunjang oleh penyelenggaraan event pariwisata. Dalam industri pariwisata, kata dia, event memiliki daya tarik yang tinggi. Dia pun mencontohkan penyelenggaraan West Java Festival (WJF) 2019 yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat.

“Menurut data Disparbud Jabar penyelenggaraan event selama tiga hari tersebut menyedot jumlah pengunjung hingga 79 ribu. Jika setiap orang rata-rata mengeluarkan uang sebesar Rp 200 ribu, maka perputaran uang atau spendin money nya bisa mencapai Rp. 15 milyar an” kata dosen Ekonomi tersebut.

Ferry pun menyebutkan, penyelenggaraan event-event besar di Gedung Sate menurut pengelola Gedung Sate dalam satu bulan bisa 2-3 event.

Karenanya area gedung sate terus berbenah diri memperbaiki dan merenovasi halaman dan taman Gedung Sate yang memang merupakan area publik. Dengan renovasi tersebut, Gedung Sate diharapkan dapat menyelenggarakan banyak event, baik berskala nasional maupun internasional.

Selain event, Pemprov Jabar fokus dalam meningkatkan kualitas destinasi wisata, ekonomi kreatif, dan promosi
berbasis digital dan industri pariwisata.

Pembangunan dan perbaikan infrastruktur menuju destinasi pariwisata ke daerah – daerah di Jawa Barat terus dilakukan. Salah satunya di Kabupaten Majalengka yang mendapatkan bantuan pembangunan akses jalan ke destinasi Panyaweuyan dan Desa Wisata Bantaragung serta pembangunan alun-alun.

“Kami di daerah berterima kasih atas perhatian provinsi Jawa Barat, ini adalah bentuk sinergi antara pemerintah dengan program-program yang saling mendukung,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Majalengka, Gatot Sulaeman .

Gatot menambahkan bantuan yang diterima oleh Pemerintah daerah diharapkan menjadi aktivitas-aktivitas yang menunjang terhadap kegiatan pariwisata sehingga dapat menumbuhkan perekonomian di daerah.

Hal Senada Hendra Nugraha Koordinator Creative Hub Kabupaten Sumedang yang di tahun ini akan membangun gedung Creative Center di sumedang menyatakan bahwa kebijakan mengenai pembangun sektor pariwisata di daerah adalah kebijakan yang akan berdampak kepada semua aspek. Sehingga Pemerintah Daerah Sumedang pun berfokus pada pembangunan pariwisata.

“Untuk menciptakan ekosistem pariwisata dilakukan juga secara masive oleh pemda Sumedang. Sektor pariwisata akan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi. Pemda Sumedang juga membentuk Komite Pariwisata Daerah, Badan ekonomi kreatif daerah, hal itu untuk mendukung terwujudnya icon pariwisata di sumedang yang memiliki jati diri dan unsur budaya,” katanya.

Terkait promosi berbasis digital, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas pariwisata dan Kebudayaan Jabar, meluncurkan Sistem Pariwisata Terpadu (Siraru) dan aplikasi Smiling West Java. Sistem tersebut mampu mengintegrasikan kegiatan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan penyedia jawa wisata. Selain itu informasi mengenai calender of event di Jawa Barat bisa dilihat langsung melalui apps Smiling West Java.

Seperti diketahui, tahun ini Pemprov Jabar sedang giat membangun infrastruktur baru yang akan mendukung kepariwisataan, seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pangandaran, KEK Cikidang, pembangunan enam destinasi pariwisata tipe 1 di antaranya Curug Malela, Curug Cinulang, amphiteater Ciletuh, Kebun raya Kuningan, Galunggung dan Panyaweuyan, lalu tujuh destinasi tipe 2 seperti Waduk darma, breakwater Pangandaran dan lainnya.

Sementara untuk pembangunan pusat budaya di tahun ini ada di Kabupaten Subang dan Sumedang. Selain itu pembangunan 6 gedung creative center di Kota Bogor, kota Cirebon, kota Bekasi, Subang, sumedang dan Purwakarta. Ditambah penataan alun-alun di Kota Cirebon, Majalengka, Indramayu, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bogor pun terus dikebut pembangunannya.

Jika melihat perkembangan kepariwisataan secara global, langkah Pemda Provinsi Jabar sangat tepat. Berdasarkan data Organisasi Pariwisata dunia (UNWTO),kedatangan wisatawan internasional tumbuh 6 persen pada 2018. Perputaran uang di sektor pariwisata pun mencapai 1.332 miliar dollar Amerika Serikat pada 2017.

Pun demikian di Indonesai. Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementrian Pariwisata (Kemenpar) RI melaporkan, sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa terbesar bagi ekonomi Indonesia pada 2020. Sekitar 5,25 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional berasal dari sektor pariwisata.

Sumber : https://www.galamedianews.com/


  • -

Mimpi Wisata Premium Jokowi & Realita Pulau Komodo, Layakkah?

Jakarta, CNBC Indonesia- Presiden Joko Widodo punya mimpi, Labuan Bajo hingga Pulau Komodo bakal jadi obyek wisata premium di mana hanya turis kelas atas yang bisa menikmatinya. Usulan harga tiketnya pun tak main-main, diwacanakan sebesar US$ 1000 per orang atau sekitar Rp 14 juta.

Rencana untuk mewujudkan wisata premium ini kembali ia singgung di sebuah acara di Ritz Carlton, Kamis Kemarin.

“Jangan dicampur-campur. Labuan Bajo misalnya, tidak semua orang bisa ke sana, bayarnya mahal. Tapi ini masih di-desain memang, tahun depan baru selesai,” tutur Jokowi, sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia.
Jokowi mengingatkan Menteri Pariwisata Wishnutama agar berhati-hati soal destinasi wisata ini, jika perlu diberlakukan sistem kuota agar jangan tercampur aduk antara yang turis premium dan menengah bawah.

sejak setahun lalu, lantas bagaimana perkembangan infrastruktur, sarana, dan prasarana di lokasi wisata yang berada di pulau Flores tersebut?

CNBC Indonesia berkesempatan mengunjungi lokasi wisata tersebut selama 2 kali dalam satu tahun ini, yakni April 2019 dan akhir November 2019 dan bisa melihat perkembangan signifikan di daerah Labuan Bajo.

Pembenahan infratruktur seperti jalan, sistem kelistrikan memang sudah signifikan. Kehadiran tempat makan dengan standar internasional pun mulai ramai bermunculan, bahkan sudah terdapat gerai kopi Starbucks di Labuan Bajo. Menjadi gerai pertama rantai bisnis kopi dunia tersebut di kawasan Nusa Tenggara Timur.

Begitu juga dengan kehadiran hotel-hotel yang mulai menerapkan standar internasional di fasilitasnya. Secara keseluruhan, catatan positif untuk industri dan sarana penunjang wisata di Labuan Bajo memang sudah mendukung.

Dari sisi sarana kelistrikan di Labuan Bajo misalnya, PT PLN (Persero) juga mencatat pertumbuhan yang signifikan.

“Pelanggan industri paling tampak terlihat. Sebagai gambaran saja beban puncak tahun lalu itu 8 MW, tahun ini sudah sampai 13,2 MW. Minggu lalu juga baru ada pemasangan tambah daya 1 MVA, untuk hotel. Dan memang seiring investasi kelistrikan, pertumbuhan ekonomi di kawasan ini tumbuh pesat,” ujar Manager Unit Pelaksana Pembangkitan Flores PT PLN (Persero) Lambok R Siregar, saat dijumpai di Labuan Bajo, Jumat (29/11/2019).
Kondisi Tak Serupa di Pulau Komodo
Namun, kondisi berbeda akan dijumpai di pulau lain yang menjadi destinasi wisata di wilayah tersebut. Seperti diketahui, salah satu tujuan turis yang ke Labuan Bajo adalah menuju Pulau Padar-padar dan juga Pulau Komodo atau Pulau Rinca.

Untuk Pulau Padar-padar memang tak berpenghuni, pengunjung ke sana hanya untuk menikmati pemandangan dari atas bukit. Pemerintah sudah membangun tangga agar turis bisa menuju bukit dengan mudah.

Namun, ada sedikit catatan untuk sisi keamanan. Yakni kondisi bukit yang agak curam saat menuju puncak, tak sedikit turis yang terpeleset saat mendaki ke puncak bukit.
Sementara untuk di Pulau Komodo, sempat ada wacana akan dikenakan tarif US$ 1000 atau Rp 14 juta untuk melihat hewan langka tersebut. Saat ini, tiket masuk dikenakan sebesar Rp 80 ribu untuk turis lokal. Di mana Rp 40.000 atau separuhnya akan dialokasikan untuk guide dan penjaga di sana, sementara sisanya ke pengelola yang berada di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Selain bisa melihat komodo yang langka, kondisi di lapangan tak jauh berbeda dengan destinasi wisata di Kepulauan Seribu. Lokasi cinderamata yang belum tertata, serta tempat istirahat dan jajanan makanan yang apa adanya. Beratap terpal, dengan bangku dan meja sederhana. Menunya pun seperti warung-warung kebanyakan; mi instan, gorenga, minuman botol, dan lainnya.
Salah satu kendala di Pulau Komodo adalah penyediaan listrik dan air yang masih terbatas. Dengan lokasi yang panas, sulit buat warga menyediakan es yang banyak diminta oleh pengunjung yang berdatangan.

“Jadi UKM-nya di sini agak susah tumbuh, karena untuk usaha kecil-kecil ibu listriknya belum ada. Cuma ada dari jam 6 sore sampai jam 6 pagi,” ujar Hamnoor, warga lokal Pulau Komodo sekaligus guide di lokasi tersebut saat dijumpai.

Soal es mungkin masalah kecil, namun banyak permintaan dari kapal-kapal pengunjung untuk pasokan es ini. Apalagi dengan promo wisata yang gencar, bahkan sempat terlihat adanya kapal pesiar yang membawa ribuan turis ke Pulau Komodo. Es berperan penting untuk menjaga kesegaran makanan dan minuman. “Tapi kami di sini susah pasok es-nya, ini mungkin yang harus dipertimbangkan pemerintah.”

Di lokasi tersebut, juga mudah dijumpai anak-anak di bawah umur yang menjajakan dagangan. Jika dagangan tidak dibeli, anak-anak ini tampak tak sungkan untuk meminta sekadar jajan ke pengunjung yang datang. Ini juga yang diteriakkan oleh para anak yang sedang berenang di sekitar pantai Pulau Komodo.

Tampaknya selain membangun sarana dan prasarana, masih ada pekerjaan rumah pemerintah untuk mensosialisasikan dan membangun jiwa pariwisata ke warga setempat.

Sementara, untuk rencana tiket Rp 14 juta atau US$ 1000 masih sangat simpang siur di warga. Menurut mereka, belum ada tindak lanjut dan dampak ke warga sejak wacana dilontarkan.

Jadi Pak Jokowi, mau dibikin sepremium dan semewah apa nantinya Pulau Komodo dengan harga tiket Rp 14 juta?

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/


  • -

CEO Detiknetwork Abdul Aziz Raih The Best Industry Marketing Champion 2019

Jakarta – CEO detiknetwork, Abdul Aziz menjadi salah satu pemenang The Best Industry Marketing Champion 2019. Aziz dinobatkan sebagai pemenang di bidang Broadcast, Pay TV, and Media.

Penobatan award ini diberikan di ballroom Ritz-Carlton, Jakarta, Rabu (4/12/2019). Terlihat acara pemberian award ini dihadiri langsung oleh Menteri Kesehatan Terawan, Menteri Pariwisata dan Eknomi Kreatit Wishnutama, Menteri BUMN Erick Thohir, dan Ketua MPR Bambang Soesatyo.

Award The Best Industry Marketing Champion ini diberikan langsung oleh Bambang Soesatyo kepada Abdul Azis. Award tersebut berhasil diraih Azis karena membawa detiknetwork menjaring 88 juta unique visitor dengan target berikutnya 100 juta unique visitor.

Selain itu, Aziz juga berhasil meningkatkan pendapatan detiknetwork secara signifikan. Karena itu Abdul Azis dinobatkan sebagai Marketeer of the year 2019.

Acara Markplus Confrence 2020 yang ke 14 kali ini dilaksanalan selama dua hari. Acara yang mengusung tema ‘Rediscovering Growth: Finding the Momentum’ ini dihadiri oleh 8.000 peserta.

Sumber : https://news.detik.com/


  • -

Nusa Penida Masuk Destinasi Backpacker Terbaik Sedunia 2020

Badung – Kabar baik untuk insan pariwisata Indonesia. Nama Nusa Penida di Bali disebut menjadi destinasi backpacker terbaik sedunia versi HostelWorld. Bangga!

Berita baik itu pun ditulis dalam situs travel global HostelWorld yang jadi rujukan para kaum backpacker sedunia baru-baru ini. Dilihat detikcom dari situsnya, Rabu (4/12/2019), nama Nusa Penida pun memuncaki daftar 20 destinasi terbaik untuk backpacker di tahun 2020.

Peringkat itu pun dirilis pada awal Desember atau tepat jelang liburan akhir tahun. Sekiranya daftar itu bisa menjadi rekomendasi destinasi, khususnya untuk para kaum backpacker.

Dalam artikelnya, nama Nusa Penida disebut sebagai destinasi teratas untuk kaum backpacker di tahun 2020. Nama Pantai Kelingking pun juga disebut sebagai atraksi wisata utama yang ada di sana.

Ditulis, kalau Nusa Penida menawarkan kegiatan hiking, snorkeling bersama ikan manta raksasa hingga melihat sunset yang luar biasa. Tak lupa juga keberadaan warung yang menawarkan makanan khas Bali dengan bujet bersahabat untuk kaum backpacker.

Alam yang indah serta biaya makanan yang murah pun turut didukung dengan akomodasi bujet seperti Nuansa Penida Hostel. Hostel berkonsep boutique yang satu ini pun dilengkapi dengan bungalow, kolam renang hingga ruang terbuka untuk bersosialisasi.

Selain Nusa Penida, berikut daftar lenggkap 20 destinasi terbaik untuk backpacker tahun 2020:

1. Nusa Penida, Bali
2. Surat Thani, Thailand
3. Maribor, Slovenia
4. Hossegor, Prancis
5. Trondheim, Norwegia
6. Kodaikanal, India
7. Isfahan, Iran
8. Nosara, Kosta Rika
9. Pulau Siargao, Filipina
10. Gijon, Spanyol
11. Nassau, Bahama
12. Maputo, Mozambik
13. Ha Giang, Vietnam
14. Buenaventura, Kolombia
15. Liege, Belgia
16. Trapani, Italia
17. Pisac, Peru
18. Raglan, Selandia Baru
19. Portland, USA
20. Sendai, Jepang

Sumber : https://travel.detik.com/


  • -

Pemprov DKI Akan Sulap Situ Rawabadung Jadi Destinasi Wisata Air

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya menjadikan Situ Rawabadung, Cakung, Jakarta Timur, sebagai destinasi wisata air. Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jakarta Timur Iwan Henry Wardhana mengatakan, rencana menyulap Situ Rawabadung menjadi destinasi wisata lokal sudah dimulai sejak lama. Menurut Iwan, untuk bisa menata situ tersebut menjadi destinasi wisata harus berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait termasuk elemen masyarakat lokal.

“Situ Rawabadung sudah direncanakan sejak lama untuk dijadikan kawasan wisata tapi asal muasal diinisiasi oleh masyarakat sendiri. Mereka melihat bahwa Rawabadung ini bagusnya potensinya dijaga, punya kualitas yang sangat baik untuk dijadikan destinasi wisata lokal. Misalkan buat mancing, wisata apung dan lain-lain,” kata Iwan saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa (3/12/2019). Iwan menjelaskan, pihaknya belum bisa memastikan kapan penataan Situ Rawabadung dimulai. Kendati demikian, pembahasan rencana tersebut sedang berlangsung dan dalam tahap menyusun master plan situ tersebut untuk menjadi destinasi wisata lokal. “Rencananya itu harus dibikin dulu master plannya atau grand desainnya seperti apa gitu. Tapi untuk mengarah ke sana ya sudah pasti karena warga sih senang banget bikin kayak gitu. Iya itu sudah dibahas, sudah berjenjang, bahkan dari dewan sudah memikirkan kawasan itu menjadi kawasan wisata yang baik untuk lokal punya yah, semacam itu,” ujar Iwan.

Sumber : https://megapolitan.kompas.com/


  • -

Jelajahi Nusantara, Menghemat Devisa

Jakarta –
Target pembangunan kepariwisataan dalam RPJMN bukan lagi jumlah wisatawan seperti tahun-tahun sebelumnya. Target utama sekarang adalah nilai tambah dan devisa. Di samping mengatasi masalah klasik SDM, perlu mengatasi masalah strategis lain, yakni pariwisata hijau atau berkelanjutan dan pemanfaatan teknologi.

Pariwisata bukan lagi industri berbasis sumber daya, namun makin jelas menjadi industri berbasis pengetahuan dan teknologi. Indonesia dengan sumber daya yang luar biasa terbukti masih kalah dari beberapa negara tetangga, karena ketinggalan dalam inovasi penciptaan produk dalam rangka penciptaan nilai tambah.

Berbeda dengan produk industri, produk pariwisata adalah pengalaman yang diperoleh wisatawan saat berwisata. Kualitas pengalaman tergantung dari kualitas sumber daya dan kemampuan destinasi menciptakan nilai tambah yang akan menjadi bagian dari pengalaman wisatawan melalui penampilan yang asri, penyampaian materi atau informasi yang menarik maupun cara penyampaiannya. Wisatawan bisa tidak membawa pulang cendera mata secara fisik, tetapi membawa kenangan indah atau kenangan penuh makna.

Mari, sementara kita lupakan saja target wisman yang belum kunjung tercapai, sambil berikhtiar memperbaiki neraca devisa dari sektor pariwisata.

Akhir tahun merupakan waktu emas bagi semua destinasi untuk menjadi tuan rumah para wisatawan dari berbagai penjuru. Pasti banyak warga Indonesia yang sudah berencana untuk berwisata ke dalam maupun ke luar negeri. Orang Indonesia menjadi harapan banyak negara tetangga maupun negara yang jauh sekalipun. Perkembangan ekonomi dan kelas menengahnya sangat getol berwisata; apalagi beberapa bank bekerja sama dengan biro perjalanan menawarkan kredit untuk melakukan wisata, ke luar negeri pula.

Sebetulnya itu sama juga dengan berutang untuk berwisata, termasuk ke luar negeri. Lucu, karena umumnya berwisata –Undang-Undang Kepariwisataan sudah menyebut sebagai bagian dari kebutuhan dasar manusia– dilakukan setelah pemenuhan kebutuhan dasar akan sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan.

Sadarkah kita bahwa berwisata selain memberi kesenangan untuk pelakunya, juga memberikan kontribusi ekonomi bagi negara yang kita kunjungi, melalui konsumsi berbagai barang dan jasa selama perjalanan wisata tersebut? Juga, menciptakan lapangan pekerjaan di lokasi tujuan maupun lokasi lain yang terkait dengan segala produk barang atau jasa yang kita konsumsi.

Kalau kita konsumsi produk wisata itu kita lakukan di dalam negeri, dampaknya akan kembali ke Indonesia.

Dalam kaitan membantu kondisi perekonomian nasional, mari kita serukan agar warga Indonesia memprioritaskan berwisata di dalam negeri dan menjadi “penghemat devisa”, serta ikut menggerakkan ekonomi nasional.

Dalam penilaian WEF (World Economic Forum), Global Competitiveness Index daya saing Indonesia berada di posisi 50, di bawah Malaysia dan Thailand. Hal ini salah satunya terkait posisi kita kurang bagus dalam pasar tenaga kerja dan kesesuaian produk wisata. Sebaliknya, posisi bagus Indonesia justru pada pasar wisata domestik yang besar.

Dalam hal pariwisata, Indonesia bukan hanya memiliki Bali, tetapi juga 33 provinsi lain dengan masing-masing daya tarik tersendiri. Sepuluh di antaranya dijadikan prioritas untuk dikembangkan menjadi destinasi berkelas seperti Bali, dari barat ke timur: Danau Toba, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Tanjung Kelayang, Borobudur, Bromo- Tengger-Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, Morotai. Dan, lima di antaranya menjadi superprioritas dengan pembangunan infrastruktur dan program besar untuk segera menjadikannya destinasi berkelas : Toba, Borobudur-Yogya-Prambanan, Lombok/Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang.

Bagi warga Indonesia yang akan berwisata, pertanyaannya, sudahkah Anda mengunjungi destinasi tersebut di atas, atau destinasi lain di Indonesia yang sudah terkenal di mancanegara dari Sabang dan Nias sampai ke Ambon, Ternate atau Raja Ampat?

Kalau Anda memilih salah satu destinasi di dalam negeri ketimbang ke luar negeri, berarti Anda sudah ikut menghemat devisa yang sedang susah payah kita cari.

Mari kita ingat peristiwa 1998 saat krisis nasional, salah satu sektor yang terpuruk adalah pariwisata. Kunjungan wisman menurun drastis dan butuh waktu cukup lama untuk kembali ke posisi 1997, yang disebut puncak (kunjungan wisman sebelum 1998). Penyelamat industri pariwisata nasional saat itu yaitu wisnus, wisatawan Indonesia yang berwisata di Indonesia.

Penurunan nilai tukar rupiah dan kebutuhan berwisata yang tak terbendung oleh krisis ekonomi telah mendorong wisatawan Indonesia untuk memilih destinasi di dalam negeri yang jumlahnya tak terhitung banyaknya. Alhasil, industri pariwisata Indonesia, termasuk Bali terselamatkan oleh arus wisnus ini.

Mari kita lakukan hal tersebut, agar neraca perekonomian Indonesia membaik.

Tanpa mengurangi hak masyarakat Indonesia dalam memilih destinasi wisata akhir tahunnya, kita dapat berpikir untuk ikut membantu peningkatan kinerja ekonomi dengan menukar pilihan wisata dari destinasi luar negeri menjadi kunjungan wisata ke dalam negeri.

Saya yakin tidak banyak orang Indonesia yang sudah berkunjung ke lima atau sepuluh destinasi prioritas di atas, apalagi ke 34 provinsi.

Buat rencana untuk menjejakkan kaki Anda di 34 provinsi di Indonesia, untuk mengatakan bahwa kita orang Indonesia yang mengenal Nusantara. Kalau sekarang Anda berusia 20 tahun dan mulai setiap hari mengunjungi satu pulau di Indonesia, tanpa libur, nanti pada usia menjelang 70 tahun Anda baru tamat menyelesaikan kunjungan ke 30 provinsi Indonesia!

Ayo tamasya, jelajahi Nusantara, dan menjadi penghemat devisa!

Sumber : https://news.detik.com/


  • -

Hadiri Raker Konektivitas Pariwisata, Luhut Bicara Pentingnya Infrastruktur

Jakarta – Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi membuka rapat kerja soal konektivitas pariwisata. Luhut mengingatkan pentingnya pembangunan infrastruktur.

“Kenapa infrastruktur harus dibangun? Ya karena semua berkaitan dengan cost, biaya, jadi kalau kita mau negeri ini bagus untuk anak cucu kita, maka harus menurunkan cost, apapun yang kita lakukan harus berbicara cost, cost efisiensi dan efektifitas,” ujar Luhut dalam rapat kerja di Hotel Mercure, Kemayoran, Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Luhut mengatakan dalam pembangunan konektivitas pariwisata, semua pihak harus kompak. Dia mengingatkan agar tak ada kebocoran dalam pembangunan konektivitas pariwisata.

“Apapun yang kita kerjakan kalau kita kompak, kita bisa, dan sekarang makin tertib, jadi saya minta pada teman sekalian, kalau seperti gaya-gaya yang lalu ada kebocoran sana sini, itu akan persulit kita semua dan persulit pribadi kita, karena itu kerja disiplin, kerja dengan hati, dan profesional,” ucap Luhut.

Sumber : https://news.detik.com/


  • -

Curug Gondoriyo Jadi Destinasi Wisata Baru Di Semarang

Jakarta – Jumlah wisatawan yang mencapai 5,7 juta orang pada 2018 belum membuat Pemerintah Kota Semarang berhenti berinovasi. Pemkot Semarang pun makin giat mengembangkan wisata kearifan lokal.

“Akan kita arahkan, wisatawan itu tidak hanya ke Sam Poo Kong, Lawang Sewu, Kota Lama, atau Semarang Bridge Fountain, tapi juga masuk ke pariwisata yang mengutamakan kearifan lokal seperti di Gondoriyo ini,” ungkap Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi dalam keterangan tertulis, Senin (2/12/2019).

Kelurahan Gondoriyo memiliki destinasi baru bernama Curug Gondoriyo dan berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi wisata kearifan lokal yang menarik.

“Saya mendengar ada namanya curug di Gondoriyo kurang lebih pada awal tahun 2019. Kemudian diberi lampu-lampu, dibuat spot foto-foto instagramable dan alhamdulillah jadi viral,” ungkap pria yang akrab disapa Hendi ini.

Curug Gondoriyo mulai awal tahun ini menarik banyak minat wisatawan salah satunya karena pengelola mempercantik curug saat malam hari menggunakan lampu warna-warni. Curug setinggi 20 meter ini juga unik karena terdapat gua sepanjang 2.5 meter di dalam air terjun. Meski demikian, menurut Hendi Curug Gondoriyo masih memerlukan pembenahan.

“Tempat pariwisata itu yang pertama adalah aksesnya harus gampang. Aksesibilitas itu macam-macam, mulai dari transportasi umumnya sampai jalan masuknya,” ungkapnya.

Hal tersebut diungkapkan karena saat berkunjung pertama kalinya ke curug tersebut Hendi menilai akses jalan susah dijangkau. Pihaknya pun meminta kepada dinas terkait agar akses jalan diperbaiki berupa paving blok pada akhir tahun ini.

Ia juga berpesan agar Gondoriyo menggelar atraksi kesenian sebagai pemikat wisatawan secara kontinyu.

“Kesenian itu harus rutin diadakan, sehingga orang datang ke sini tidak hanya menikmati kecantikan curug ini tapi juga ada event atraksi, ada lesung, setap hari ada yang masak jenang, jangan setahun sekali,” pesan Hendi.

Gondoriyo memiliki sejumlah kesenian yang dapat dikategorikan sebagai wisata kearifan lokal karena memiliki sejumlah kesenian berupa Susrukwangan & Gejluk Lesung. Hingga ragam kuliner lokal seperti Jenang Gondoriyo, Nasi Bleduk dan Wedang Sinom.

Sumber : https://news.detik.com/


  • -

Tiket Rp 14 Juta Wisata Pulau Komodo, Ini PR Berat Jokowi!

Jakarta, CNBC Indonesia – Skotlandia meraup Rp746 miliar per tahun dari wisata berbasis mitos, yakni naga Nessie di DanauLochness. Indonesia, negeri di mana naga benar-benar ada dan melata, berencana menggarap Pulau Komodo menjadi wisata premium. Layakkah?

Rencana itu mengemuka Senin (30/9/2019) lalu setelah rapat rencana pengembangan Taman Nasional (TN) Komodo, Nusa Tenggara Timur, yang merupakan cagar biosfer hewan endemik Komodo (Komodo Dragon) pada 1977 dan world heritage pada 1991.

Rapat itu dihadiri Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar dan Gubernur NTT Victor Laiskodat. Siti menyebutkan bahwa Taman Nasional Komodo akan ditata menjadi wisata premium.

Terakhir, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama bersama tim Kemenparekraf melakukan kunjungan kerja ke beberapa destinasi wisata super prioritas, termasuk di antaranya Pulau Komodo, pada Jumat (29/11/2019).

“Hari ini, kami mengeksplorasi beberapa sudut terindah Destinasi Super Prioritas ini dalam rangka mengawal progres pembangunan Labuan Bajo sebagai Destinasi Super Premium,” kata Wishnutama dalam caption unggahan Instagramnya di Pulau Komodo.

Rencana tersebut sempat memicu pro-kontra di sosial media. Sebagian netizen menilai itu sebagai bentuk komersialisasi mengingat tiket masuk ke Taman Nasional Komodo direncanakan sebesar US$1.000 atau setara Rp 14 juta.

Gubernur NTT Viktor B Laiskodat mengukuhkan kesan ini setelah terang-terangan menyatakan bahwa NTT hanya untuk wisatawan kaya. “Oleh karena itu wisatawan yang miskin jangan datang berwisata ke NTT, karena memang sudah dirancang untuk wisatawan yang berduit,” kata Viktor Laiskodat di Kupang, NTT, Kamis (14/11), sebagaimana dikutip Detik.com.

Menurut catatan Tim Riset CNBC Indonesia, wisata premium bukanlah hal baru dalam praktik industri wisata global. Indonesia terhitung terlambat dibanding negara lain yang sudah menggarapnya, seperti Maladewa (Maldives), Australia, dan Selandia Baru (New Zealand).

Secara Natural Pulau Komodo Idealnya Wisata Premium, Tapi..Foto: Sumber: IE University
Mengacu pada Selandia Baru, separuh dari wisatawan premium mereka berasal dari Negara Adidaya yakni Amerika Serikat (AS). Dalam strategi nasionalnya, mereka membidik wisata premiumnya secara ekslusif. Bukan untuk 15 juta kaum kaya dunia, melainkan 1,5 juta orang dari situ yang minimal penghasilannya adalah US$5 juta (Rp 70 miliar) setahun.

Secara Natural Pulau Komodo Idealnya Wisata Premium, Tapi..Foto: Sumber: IE University

Yang digarap bukan asal masyarakat tajir (high net worth individual/HNWI), melainkan pasar tajir melintir (very high HNWI) dan super tajir (ultra HNWI). World Wealth Report (2013) menyebutkan kaum elit ini membelanjakan minimal US$50.000 (Rp 700 juta) sekali kunjungan.

Sumber :https://www.cnbcindonesia.com/