Monthly Archives: December 2019

  • -

Pengembangan Pariwisata Wakatobi Harus Kedepankan Prinsip Konservasi

JAKARTA – Berdasarkan laporan berjudul The Travel & Tourism Competitiveness Report, skor daya saing Indonesia pada 2019 mencapai 4,3 dari skor tertinggi 7. Skor tersebut memposisikan Indonesia di peringkat 40 dunia. Padahal, pada 2011, Indonesia berada di peringkat 74 dunia dengan skor 3,96.

Hal itu tentunya membuat pariwisata di Indonesia sudah menjadi salah satu pilar perekonomian. Kekayaan alam dan budaya merupakan komponen penting dalam pariwisata, sehingga pengelolaan menjadi kata kunci. Daya saing pariwisata Indonesia terus meningkat setiap tahun.

Beberapa daerah kini tengah fokus mengembangkan sektor pariwisatanya, salah satunya Taman Nasional Wakatobi. “Pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Wakatobi harus dilakukan dengan mengedepankan prinsip-prinsip konservasi,” ujar Kepala Seksi Wilayah II Taman Nasional Wakatobi, La Fasa dalam keterangan tertulisnya, Senin (2/12).

Karena itu, kata La Fasa, dengan pendekatan wisata berkelanjutan dan kemitraan konservasi, akan menciptakan kegiatan wisata yang mendukung penghidupan berkelanjutan serta melindungi sumber daya alam, nilai tradisi, serta sosial budaya masyarakat.

Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, kaya akan sumber daya alam, peninggalan sejarah, seni, dan budaya yang berpotensi sebagai daya tarik wisata, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Akan tetapi, berstatus sebagai Taman Nasional dengan luas 1,39 juta hektare, Wakatobi tentunya juga menuntut perlakuan khusus dalam hal konservasi kawasan guna menjaga kelestarian sumber daya alamnya.

Di kawasan Wakatobi kini dikembangkan ekowisata mangrove di Tampara. Pengembangannya didukung Pemerintah Kabupaten Wakatobi, Taman Nasional Wakatobi, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), serta PT First State Investment Indonesia melalui dana filantropi salah satu reksadananya yakni First State IndoEquity Peka Fund yang secara aktif menyalurkan dana sosial sejak 2011.

Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem terpenting di kawasan pesisir. Pada banyak wilayah pesisir, masyarakat sangat bergantung pada jasa lingkungan yang disediakan ekosistem mangrove.

“Ekosistem mangrove yang sehat mendukung produktivitas perikanan. Selain itu, ekosistem mangrove juga memiliki potensi yang dapat dimanfaatkan secara optimal terkait mata pencaharian berkelanjutan dan inisiatif yang menghasilkan pendapatan, termasuk ekowisata dan kegiatan rekreasi lainnya,” terang Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman.

Sumber : https://lifestyle.sindonews.com/


  • -

Kunjungan Turis Asing ke Indonesia Turun 3,28% Selama Oktober 2019

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Indonesia selama periode Oktober mencapai 1,35 juta kunjungan. Angka ini mengalami penurunan 3,28% dibandingkan bulan sebelumnya mencapai 1,40 juta.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, meskipun turun dibandingkan bulan yang lalu, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia justru mengalami kenaikan sebesar 4,86% dibandingkan tahun sebelumnya/ Wisman yang datang ke Indonesia pada Oktober 2018 sebanyak 1,29 juta kunjungan.

“Wisatawan mancanegara menurun 3,28%. Jadi jumlah wisatawan mancanegara Oktober 2019 adalah sebesar 1,35 juta. Tapi naik 4,86% dibandingkan Oktober 2018,” ujarnya dalam acara konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (2/12/2019).

Memang menurut Kecuk, tren wisatawan pada Oktober masih sama dengan tahun tahun sebelumnya. Di mana setiap tahun pada kuartal III selalu mengalami penurunan dan baru akan naik lagi menjelang musim liburan akhir tahun.

Wisman

“Tren November sama dengan bulan-bulan sebelumnya pada Oktober 2019 sama dengan pattern bulan Oktober tahun sebelumnya di mana selalu mengalami penurunan dan mengalami kenaikan pada Desember karena Desember itu musim liburan,” ucapnya.

Sementara itu, secara kumulatif, Januari hingga Oktober 2019, jumlah kunjungan wisman mengalami kenaikan mencapai 13,62 juta kunjungan. Jumlah ini naik sebesar 2,85% jika dibandingkan kunjungan wisman periode yang sama tahun sebelumnya yang berjumlah 13,25 juta kunjungan.

Adapun kenaikan jumlah wisman yang berkunjung pada Oktober 2019 ini masuk melalui pintu udara adalah 856,35 ribu kunjungan , laut sebanyak 336,04 ribu kunjungan dan darat sebanyak 162,01 ribu kunjungan.


  • -

Melirik Wisata Edukasi Sebagai Potensi Pariwisata

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Menjelang tutup tahun ini, nilai pemasukan negara dari pariwisata masih kurang sekitar USD50 juta dari target USD 20 miliar.

Namun, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) optimistis target tersebut dapat dipenuhi di sisa satu bulan. Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran I Regional IV, Kemenparekraf, Adella Raung yang bertanggung jawab mempromosikan Indonesia, untuk wilayah Australia, Selandia Baru, dan Oseania menjelaskan, perkembangan gaya hidup travelling dari warga negara asing, ikut mendongkrak pemasukan negara dari sektor pariwisata.

Hal tersebut, sambungnya, membuat potensi terbentuknya destinasi wisata baru. ”Selain lima destinasi wisata super prioritas seperti Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika, Likupang, dan Borobudur. Ini yang sedang jadi fokus kami, untuk menjual itu. Tapi sebenarnya banyak potensi destinasi wisata lain,” ujar Adella di Best Western Senayan, Jakarta, Senin (2/12/2019).

Khusus untuk wisatawan mancanegara (wisman) asal Australia, yang datang ke Indonesia, berada di rentang umur 15-34 tahun. Klasifikasi ini ujarnya, menjelaskan wisman yang datang ke Indonesia, tidak sekadar ingin bersantai.

Tapi juga merasakan secara langsung pengalaman hidup bersama masyarakat. ”Kami menyebutnya sebagai volunterism tourism. Jadi para wisatawan ini, juga ikut membantu masyarakat kita, dengan cara mengajar atau bahkan belajar di Indonesia,” tuturnya.

Salah satu maskapai internasional bahkan terang dia, membuka paket travel ke Tangkahan, Sumatera Utara untuk mempelajari orangutan. Nah, cara ini dapat dijual kepada wisman, agar lebih memberikan pengalaman hidup yang tidak didapatkan negaranya. ”Jadi tidak hanya datang, lalu foto. Tidak begitu sekarang. Jadi harus ada experience yang dirasakan. Misalnya, tidur dengan masyarakat setempat, atau ikut membantu, dan belajar,” imbuh Adella.

Secara persentase, pertumbuhan pariwisata pada 2018 mencapai 12,58 persen. Angka, itu membuat Indonesia, berada di posisi kedua di antara negara-negara Asia Tenggara (Asean), sebelum Vietnam dengan catatan 19,90 persen. Kedua negara ini, bahkan berada di atas rata-rata kedatangan wisatawan di Asean yang hanya mencapai 7,4 persen pada tahun yang sama.

Artinya, potensi untuk terus berkembang semakin lebih luas, tidak hanya mengandalkan 5 destinasi wisata prioritas yang diusung Presiden Joko Widodo. Namun, kendalanya terang Adella, dibutuhkan kejelian dari pemerintah daerah dalam melihat potensi yang dimiliki.

Sehingga, pengembangan pariwisata di setiap daerah tidak sekadar mengikuti tren, tapi memiliki karakteristik tersendiri, agar dapat mengetahui target pasar wisatawan yang disasar.

”Sebagai contoh Jakarta, dalam beberapa tahun terakhir wisman yang datang mengalami penurunan. Padahal ini adalah ibu kota Indonesia. Tapi patut diketahui, wisman yang datang rata-rata untuk berbisnis. Nah, ini menjadi pembelajaran kepada kepala daerah selaku CEO, untuk bisa menentukan arah bisnis dalam sektor pariwisata,” ujar dia.

Sumber : https://www.tribunnews.com/


  • -

Pengembangan Budaya Dan Pariwisata, Dorong Community Based Tourism

SINGARAJA – Pengembangan kebudayaan dan pariwisata di Kabupaten Buleleng terus dilakukan. Berbagai pihak turut dilibatkan. Salah satunya dengan melibatkan masyarakat atau Community Based Tourism. Di Buleleng sendiri, community based tourism sangat berkembang dan terus didorong.

Hal tersebut diungkapkan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana saat berdialog dalam program Obrolan Budaya yang diselenggarakan RRI Singaraja, Senin (2/12/2019).

Bupati Agus Suradnyana menjelaskan pengembangan pariwisata community based tourism sudah berjalan dengan lancar. Daerah Bali Aga yang dikenal dengan SCTPB, komunitasnya sangat berperan aktif mengembangkan pariwisata di sana. Komunitas Bali Aga sudah sangat digaungkan dengan nama Komunitas Masyarakat Bali Aga.

Di daerah timur pun sudah ada namun belum memiliki nama. “Komunitas ini memang belum memiliki nama. Tapi tetap berjalan di desa masing-masing,” jelasnya.

Dalam community based tourism, komunitas yang ada memang melakukan pergerakan yang sangat kuat untuk memajukan kebudayaan dan pariwisata. Seperti yang dilakukan komunitas di Pemuteran, rutin menggelar kegiatan-kegiatan mendukung kepariwisataan. Mengenai pemanfaatan teknologi informasi (TI), di SCTPB memang sudah dilakukan.

Komunitas yang ada sangat memanfaatkan TI khususnya media sosial (medsos) untuk mempromosikan kebudayaan dan pariwisata. “Di SCTPB ada sahabat saya, Pak Ariawan yang gencar mengunggah kegiatannya. Bukan hanya kesenian, kebudayaan dan pariwisata. Melainkan juga tentang edukasi sampah, bahasa, dan pengetahuan,” ujar Agus Suradnyana.

Bupati Agus Suradnyana pun mengungkapkan dengan gencarnya promosi melalui media sosial, ini menunjukkan bahwa antusiasme masyarakat begitu tinggi. Diharapkan sebenarnya di setiap desa ada pionir-pionir komunitas. Pemerintah tidak bisa melakukan pembangunan sendiri tanpa dukungan dari masyarakat.

“Orang sering bilang pemerintah harus hadir. Kalau memang ada kelompok masyarakat yang mau membantu, itu sangat luar biasa. Kita akan motivasi terus komunitas-komunitas maupun masyarakat untuk ikut serta,” ungkapnya.

Dia menegaskan kepada seluruh masyarakat Buleleng untuk tidak berhenti berkesenian. Sebab, kesenian dan pelestarian budaya merupakan proses yang tidak lepas dari kegiatan keagamaan yang ada di daerah masing-masing. Jika semua dilakukan secara terintegrasi, kesejahteraan akan bisa didapatkan secara tidak langsung dari apa yang dilakukan.

“Saya juga mengajak seluruh Warga Negara Indonesia datang ke Buleleng untuk melihat Buleleng secara keseluruhan. Bukan hanya budaya dan kesenian, tapi juga alamnya sangat mendukung. Buleleng sangat patut menjadi pilihan untuk berwisata,” tandas Agus Suradnyana.

Sumber : https://daerah.sindonews.com/


  • -

Ada Sport Tourism, Begini Dampaknya Bagi Kota Kecil

TEMPO.CO, Jakarta – Perhelatan event olahraga atau sport tourism berupa “Muba Asia Auto Gymkhana Cup 2019″ yang dihelat pada Minggu, 29 November – 1 Desember 2019 di Sirkuit Skyland, Sekayu, berakhir hari Minggu (1/12) kemarin.

Perhelatang yang diikuti 28 pembalap dari 10 negara itu, dirajai pembalan nasional. Selain berdampak fositif bagi pembinaan olahraga otomotif, perhelatan itu membawa berkah bagi pengusaha hotel, restoran dan pelaku wisata lainnya di bumi Serasan Sekate itu.

“Multi efeknya bukan hanya hari ini, kami yakini sport tourism seperti ini dampaknya akan panjang,” kata Muhammad Fariz, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, Senin, 2 Desember 2019.

Dalam keterangannya, Fariz menjelaskan beberapa hotel dan sarana akomodasi lainnya menjadi penuh. Tamu-tamu di hotel tersebut berasal dari peserta dan official dari 10 negara di Asia.
Hotel-hotel juga dipenuhi para penonton yang datang dari Palembang, Jakarta dan dari kota-kota lainnya. Hotel Ranggonang sebagai salah satu hotel terbesar di kota Sekayu misalnya, menjadi full booked lantaran kedatangan tamu sejak sepekan terakhir ini.

Sport event mendorong pula pariwisata di Kabupaten Musi Banyuasin. Foto: @langgeng_putra
Hal sama kata Fariz juga dirasakan oleh usaha restoran cita rasa lokal seperti rumah makan pindang, rumah makan padang dan sejenisnya, “Secara langsung kami telah merasakan dampak baiknya,” ujar Fariz.
Bahkan kata Fariz untuk hajatan supermoto yang akan digelar di sirkuit yang sama pada 7-8 Desember, beberapa hotel sudah dipesan. Dia meyakini tamu yang akan masuk kota Sekayu, akan lebih banyak lagi dibandingkan pada hajatan Muba Asia Auto Gymkhana.
Untuk itu dia telah meminta pelaku industry wisata untuk lebih meningkatkan pelayanan agar membawa kesan baik bagi para tamu. Sehingga pada kesempatan lainnya, Sekayu akan menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Sementara itu, Ketua Panitia Pusat “Muba Auto Gymkhana Cup 2019” Siswanto Budi mengucapkan terima kasih kepada Bupati Muba Dodi Reza dan seluruh warga yang sukses menjadi tuan rumah yang baik. Menurutnya, event Asia Gymkhana dan Super Moto sangat pas dan pantas digelar di Skyland Muba.

Tidak hanya dukungan warga, kenyamanan melaksanakan event balap di Muba ini, juga karena sarana prasaran dan fasilitas yang lengkap dan sangat menunjang untuk level internasional. Hal itu katanya sangat berbeda pada kondisi beberapa tahun sebelumnya, para peserta harus diinapkan di hotel-hotel yang ada di Palembang. Kondisi tersebut akan merepotkan panitia dan melelahkan bagi para peserta.

Sedangkan Riduan Tumenggung menjelaskan sebanyak 28 pebalap asal 10 negara di Asia turun dalam ajang Muba Asia Auto Gymkhana Cup 2019 di Sirkuit Skyland, Sekayu.
Sejak Sabtu 30 November, pebalap telah tiba di Sekayu di antaranya dari Thailand, Kamboja, Hongkong, Taiwan, Vietnam, Malaysia, Singapura, dan India.
Pembalap Wanita

Di antara puluhan pembalap itu, terdapat peslalom perempuan, Ng Aik Sha, 29 tahun asal Malaysia dan Yap Hui Ching asal Singapura. Selain pembalap, Aik Sha dikenal sebagai pharmacist di sebuah rumah sakit di Kuala Lumpur. “Tertarik ikut Ghymkhana sejak tamat kuliah,” katanya, Minggu siang.

Aik Sha menamatkan kuliah sejak 2014 silam di Cyberjaya University College of Medical Sciences (CUCMS) di Kuala Lumpur. Sejak saat itu selain menjalankan rutinitas di bidang farmasi atau obat-obatan, ia mulai menekuni impiannya untuk menjadi pembalap andal untuk kawasan Asia. Untuk mewujudkan impiannya itu ia rutin menggelar latihan bersama rekan-rekan di Kuala Lumpur. Selain itu, sejumlah kejuaran tingkat regional dan asia sering pula di ikuti.

Sumber : https://travel.tempo.co/


  • -

Mau Liburan Gaes? Ini Rekomendasi Destinasi Ala Jokowi

Jakarta, CNBC Indonesia – Sektor pariwisata memang menjadi salah satu fokus pemerintah ke depan. Dalam Nota Keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020, pemerintah pun menyatakan komitmen untuk mempercepat pembangunan beberapa destinasi wisata prioritas.

Sebab itu, Presiden Jokowi pun terus menerus mensosialisasikan destinasi wisata, termasuk lewat akun Instagramnya @Jokowi, tentu juga menyasar para milenial yang lazimnya memang memiliki akun media sosial, termasuk Twitter, Facebook dan Instagram.

“Ke mana berlibur akhir tahun nanti? Di dalam negeri, kita tengah mengembangkan destinasi wisata baru,” kata Jokowi.

“Kita memang memiliki Bali yang sudah sangat terkenal. Dan sekarang, sedang dikembangkan sepuluh Bali baru. Lima destinasi bahkan kita kebut pengembangannya dalam dua tahun ini,” kata mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Adapun kelimanya adalah Mandalika (Lombok Tengah, NTB), Labuan Bajo (Manggarai Barat, NTT), Borobudur (Jateng), Danau Toba (Sumatera Utara), dan Manado (Sulawesi Utara).

“Segmennya berbeda-beda, ada yang super premium, medium ke bawah, ada yang untuk wisata ramai-ramai, juga wisata khusus,” ungkap Jokowi.

“Saya berharap, nanti di akhir tahun 2020, semua infrastruktur — calendar of event, produk ekonomi kreatif, dan cenderamata — yang akan mendukung destinasi wisata baru ini akan selesai.”

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/


  • -

Mengenal Likupang, Si Destinasi Super Prioritas

Manado – Pemerintah punya 5 Destinasi Super Prioritas, yang akan dikebut dan dimaksimalkan pembangunan pariwisatanya. Salah satunya adalah Likupang.

5 Destinasi Super Prioritas itu yakni Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang. Tahun 2020, diharapkan pembangunan bandara, perpanjangan runway, jalan tol, hingga fasilitas penunjang pariwisatanya selesai dibangun.

5 Destinasi Super Prioritas merupakan pengerucutan dari 10 Destinasi Prioritas atau juga disebut dengan julukan 10 Bali Baru. Namun menariknya, ada satu nama yang tidak masuk dalam 10 Destinasi Prioritas tapi masuk dalam 5 Destinasi Super Prioritas.
Ya, itulah Likupang. Presiden Jokowi baru menetapkan status Destinasi Super Prioritas untuk Likupang pada bulan Juli 2019.

Apa dan di mana itu Likupang?

Likupang merupakan suatu kecamatan di Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Luasnya sekitar 200 hektar, yang memiliki kawasan pesisir dengan pantai berpasir putih. Likupang pun sedang disiapkan untuk menjadi KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) Pariwisata.

Dalam undangan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), detikcom menjelajahi Likupang. Lokasinya cukup jauh dari Manado, ibu kota Provinsi Sulawesi Utara, sekitar 2 jam naik mobil.

Medan perjalanannya pun berkelak-kelok, naik-turun, dengan lebar jalan yang tak luas-luas amat. Cukup bikin lelah, untungnya jalanannya sudah mulus alias tidak bolong-bolong.

“Tahun depan rencananya pembangunan jalan tol dari Manado ke Likupang akan selesai. Nantinya, lebih cepat ke sana dari Manado hanya 30 menit,” kata Wakil Gubernur Sulawesi Utara Steven Octavianus Estefanus Kandouw di Kantor Gubernur Sulawesi Utara, Manado, Kamis (29/11/2019) kemarin pada awak media.

“Semenjak diputuskan sebagai Destinasi Super Prioritas, kami fokus untuk pembebasan lahan supaya pembangunan infrastruktur dapat dipercepat. Sekarang, tidak ada masalah pembebasan lahan lagi,” tambahnya.

Mengenal Likupang, si Destinasi Super PrioritasWakil Gubernur Sulawesi Utara Steven Octavianus Estefanus Kandouw (Afif Farhan/detikcom)

detikcom pun mendatangi Likupang, tepatnya ke Pantai Paal dan Pantai Pulisan. Dua kawasan pesisir ini disebut menjadi pusatnya KEK Pariwisata Likupang.

Pesisir pantainya cukup cantik. Hamparan pasir putih, berhadapan dengan lautan bergradasi. Pantai Pulisan malah punya perbukitan dengan padang savana yang elok. Bentuk pesisirnya yang berupa teluk, membuat Pantai Pulisan punya banyak spot pantai menawan.

Proyek pembangunan fasilitas pariwisata terlihat di dua pantai di Likupang tersebut. Salah satunya pembangunan toilet umum, yang masih terlihat jelas pondasinya.

Pembangunan toilet umum di Pantai PaalPembangunan toilet umum di Pantai Paal(Afif Farhan/detikcom)

Yang cukup disayangkan, posisi rumah-rumah makan cukup dekat dari bibir pantai. Apakah akan ada penataan lebih lanjut?

“Tentu, nanti akan ditata untuk membuat wisatawan lebih nyaman. Yang pasti, kami dari Pemprov akan melibatkan masyarakat sebagai pelaku wisata. Tenang saja, mereka juga nanti akan bisa berjualan di sana dan mendapat lapangan pekerjaan lainnya,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Utara, Daniel Mewengkang dalam ‘Sosialisasi Promosi Pariwisata pada Media Nasional’ yang diadakan Kemenparekraf bersama Pemprov Sulut pada Jumat (29/11) kemarin.

Selama ini, Sulawesi Utara sudah terkenal dengan Bunaken. Namun dengan adanya Likupang, diyakini menjadi pilihan lainnya yang juga lebih menggoda wisatawan, khususnya turis mancanegara.

Mengenal Likupang, si Destinasi Super PrioritasKepala Dinas Pariwisata Sulawesi Utara Daniel Mewengkang

Apalagi, Sulawesi Utara dapat dibilang menjadi destinasi favorit turis China. Cuma 3-4 jam terbang dari China, turis-turisnya sudah bisa liburan di berbagai pantai eksotis di Sulawesi Utara.

“Turis China adalah pasar potensial bagi kita. Jarak penerbangan mereka tidak terlalu jauh dari Sulawesi Utara. Ke depannya, mungkin turis dari Jepang dan Korea Selatan juga kita incar,” terang Daniel.

Soal Likupang, tampaknya kita harus bersabar. Kini, pembangunan pariwisata sedang dikebut dan dimaksimalkan.

Semoga, Likupang nanti bisa mencuri hati turis dunia. Jadi kebanggaan Sulawesi Utara, juga Indonesia!

Mengenal Likupang, si Destinasi Super Prioritas.

Sumber : https://travel.detik.com/


  • -

Jokowi Harap Infrastruktur Pendukung Di 5 Bali Baru Rampung Pada 2020

Presiden Joko Widodo atau Jokowi menargetkan sejumlah infrastruktur pendukung di lima destinasi wisata “Bali Baru” rampung di 2020. Kelima destinasi itu adalah Mandalika (Nusa Tenggara Barat), Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), Borobudur (Jawa Tengah), Danau Toba (Sumatera Utara), dan Manado (Sulawesi Utara).

“Saya berharap nanti di akhir 2020 semua infrastruktur – calendar of event, produk ekonomi kreatif, dan cenderamata – yang akan mendukung destinasi wisata baru ini akan selesai,” cuit Jokowi dalam akun Twitternya @Jokowi, Minggu (1/12).

Kalau target itu tercapai, maka langkah selanjutnya adalah melakukan promosi besar-besaran. “Wiasatawan yang datang akan berpromosi sendiri,” katanya. Segmen untuk kelima spot wisata itu ada yang super premium dan medium. Dalam dua tahun ini pemerintah akan ngebut untuk menyesaikan pembangunannya. Pemerintah menetapkan lima Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) sebagai Bali Baru. Pembangunannya direncanakan akan terpadu, baik penataan kawasan, jalan, penyediaan air baku dan air bersih, pengelolaan sampah, sanitasi, dan perbaikan hunian penduduk.

Penetapan kawasan itu bertujuan agar sektor pariwisata dapat menjadi motor peningkatan devisa yang mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Masalah kebersihan tolong dimulai kementerian terkait. Urusan sampah plastik yang bertebaran di kawasan wisata benar-benar bisa diselesaikan,” kata Jokowi saat membuka Rapat Terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, pada 21 November lalu.

Jokowi juga menyoroti tata ruang di kawasan pariwisata prioritas harus diatur kembali. Selain itu, pembangunan akses ke lokasi pariwisata segera diselesaikan. Ia mencontohkan, runway Bandara Internasional Komodo yang jadi akses menuju Labuan Bajo harus diperpanjang oleh Kementerian Perhubungan. Seiring dengan itu, Kementerian PUPR harus bisa membangun jalan darat ke tempat-tempat wisata di Labuan Bajo.

“Termasuk juga memperbaiki kawasan, baik itu pelabuhan atau tempat-tempat untuk mempermudah wisatawan datang ke tujuan,” kata Jokowi. Berbagai daerah, menurut dia, mempunyai banyak material untuk menggelar acara wisata. Hanya saja, kemasan dari berbagai acara wisata tersebut harus dibenahi dan fasilitas penunjang harus diperbaiki. “Saya kira kita juga harus sentuh masalah kostum, pakaian adatnya, calendar of event, kemudian yang berkaitan dengan event besar atau annual event-nya,” kata Jokowi.

Sumber : https://katadata.co.id/


  • -

Labuan Bajo Mau Jadi Wisata Premium, Rakyatnya Sudah Makmur?

Jakarta, CNBC Indonesia- Presiden Joko Widodo punya mimpi, Labuan Bajo hingga Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur (NTT) bakal jadi obyek wisata premium di mana hanya turis kelas atas yang bisa menikmatinya. Usulan harga tiketnya pun tak main-main, diwacanakan sebesar US$ 1000 per orang atau sekitar Rp 14 juta.

Rencana untuk mewujudkan wisata premium ini kembali ia singgung di sebuah acara di Ritz Carlton, Kamis pekan ini (28/11/2019).

“Jangan dicampur-campur. Labuan Bajo misalnya, tidak semua orang bisa ke sana, bayarnya mahal. Tapi ini masih di-desain memang, tahun depan baru selesai,” tutur Jokowi, sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia.

Jokowi mengingatkan Menteri Pariwisata Wishnutama agar berhati-hati soal destinasi wisata ini, jika perlu diberlakukan sistem kuota agar jangan tercampur aduk antara yang turis premium dan menengah bawah.

Dalam unggahan akun Instagramnya, @jokowi, Presiden juga terus menerus mensosialisasikan destinasi wisata, salah satunya Labuan Bajo.

“Kita memang memiliki Bali yang sudah sangat terkenal. Dan sekarang, sedang dikembangkan sepuluh Bali baru. Lima destinasi bahkan kita kebut pengembangannya dalam dua tahun ini,” kata mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Adapun lima destimasi yang dipromosikan yakni adalah Mandalika (Lombok Tengah, NTB), Labuan Bajo (Manggarai Barat, NTT), Borobudur (Jateng), Danau Toba (Sumatera Utara), dan Manado (Sulawesi Utara).

“Segmennya berbeda-beda, ada yang super premium, medium ke bawah, ada yang untuk wisata ramai-ramai, juga wisata khusus,” ungkap Jokowi.

“Saya berharap, nanti di akhir tahun 2020, semua infrastruktur — calendar of event, produk ekonomi kreatif, dan cenderamata — yang akan mendukung destinasi wisata baru ini akan selesai. Begitu selesai, kita promosi besar-besaran. Wisatawan yang datang pun akan berpromosi sendiri,” kata mantan Wali Kota Solo ini.

Peneliti Alpha Research Database Indonesia sekaligus pemerhati masalah NTT, Ferdy Hasiman, menegaskan soal wisata premium ini sebaiknya Jokowi perlu tinjau ulang dan membeberkan konsepnya lebih rinci kepada masyarakat Manggarai Barat (Mabar).

“Apa yang di dapat rakyat Mabar dari bisnis pariwisata premium ini? Di TNK [Taman Nasional Komodo] saja, penerimaan dari pajak dan retribusi masuk senilai Rp 28 miliar tapi pemasukan untuk Manggarai Barat, daerah lokasi TNK enggak jelas,” tegasnya di Jakarta, Minggu (1/12/2019).

“Sudah begitu masyarakat yang tinggal di Pulau Komodo tak diperhatikan oleh pemerintah bertahun-tahun. [Pemerintah] Pusat ini sungguh tidak adil. Aset TNK berupa biawak komodonya diambil pemerintah pusat, sementara masyarakat di wilayah TNK menjadi tanggung jawab daerah,” tegas Ferdi yang juga berdarah Flores ini.

Terkait dengan infrastruktur, dalam hal ini listrik, Ferdi menegaskan Pembangkit Listik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu di Manggarai hanya melayani kelistrikan untuk pariwisata Mabar, sementara kapasitasnya hanya 2×4 megawatt (MW).

Situs Rekadaya mencatat, PLTP Ulumbu merupakan proyek percontohan pertama untuk mengelola panas bumi skala kecil bagi masyarakat terpencil. PLTP ini terletak di Desa Wewo, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai dengan kapasitas sebesar 2 x 2,5 MW.

“Padahal di aturan panas bumi, potensi yang kapasitasnya di bawah 10 mw diambil PLN memakai dana imbursment dari APBN untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat,” tegas Ferdi.

“Masyarakat sekitar Ulumbu enggak dapat listrik, karena listriknya di bawah ke hotel-hotel di Bajo,” katanya.

Sebab itu, dia meminta kepada pemerintah pusat agar jangan hanya melirik Labuan Baju karena yang mendapatkan keuntungan hanya elite dan pengusaha pariwisata, sementara tata kota dan kesejahteraan masyarakat kurang mendapat perhatian.

“Air bersih juga jadi isu krusial masyarakat Labuan Bajo. Sementara air di hotel-hotel itu penuh. Ini [pemerintah] pusat ini ke Bajo hanya untuk melayani bisnis elite aja,” katanya.

Sebab itu, menurut dia ke depan diharapkan PLTP Ulumbu, listriknya tak hanya untuk hotel-hotel di Bajo, melainkan untuk rakyat Manggarai yang selama Indonesia merdeka belum mendapatkan listrik memadai karena PLN kurang memiliki suplai listrik. “Jauh itu Bajo-Ulumbu. Ulumbu di Kabupaten Manggarai, sementara bikin sutetnya di Manggarai Barat.”

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/


  • -

Cerita Guide Yang Temani Wishnutama Di Pulau Komodo

Labuan Bajo – Baru-baru ini Menparekraf Wishnutama dan wakilnya, Angela Tanoe mengunjungi Pulau Komodo. Ini cerita naturalis guide saat menemani mereka di sana.

Dimulai dari hari Selasa (26/11) kemarin, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama dan Angela Tanoe mengunjungi Mandalika di NTB dan Labuan Bajo di NTT. Dua tempat tersebut masuk dalam daftar 5 Destinasi Super Prioritas yang sedang digarap maksimal oleh pemerintah.

Hari Kamis (28/11) kemarin, Wishnutama dan Angela Tanoe menapakkan kaki di Labuan Bajo. Mereka mendatangi Pulau Komodo di Taman Nasional Komodo.

Selama di Pulau Komodo, Wishnutama dan Anegla Tanoe didampingi oleh pihak Taman Nasional Komodo, jajaran Pemkab Manggarai Barat, dan naturalis guide. Naturalis Guide merupakan penduduk lokal di Desa Komodo yang menjadi pemandu wisata di Taman Nasional Komodo. Mereka pun biasa mendampingi wisatawan untuk melihat komodo.

Hamnor, merupakan salah satu naturalis guide yang ikut dalam rombongan dan menemani perjalanan Wishnutama di Pulau Komodo. Dia menemani sejak berlabuh di dermaga di Loh Liang.

“Dari dermaga, Wishnutama dan Angela Tanoe mampir di pusat oleh-oleh. Mereka melihat berbagai suvenir, terutama soal patung-patung komodo,” jelas Hamnor kepada detikcom lewat sambungan telepon, Minggu (1/12/2019).

Hamnor pun mendengarkan apa yang Wishnutama diskusikan bersama jajarannya dan para penjaja suvenir. Wishnutama memuji para penjaja suvenir yang juga merupakan penduduk asli Desa Komodo di Pulau Komodo.

“Dia (Wishnutama) bilang, harus ada nilai tambah. Patung-patung komodo sudah bagus, tapi harus ada ekonomi kreatif lainnya seperti kerajinan tangan. Dia juga bilang akan memberikan pelatihan pada para pengrajin suvenir, khususnya para pemahat patung komodo,” papar Hamnor.

Cerita Guide yang Temani Wishnutama di Pulau KomodoFoto: (dok Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)

Setelah dari situ, Wishnutama bersama rombongan lanjut ke Oase Cafe, suatu kafe yang berada di pinggir pantai di Pulau Komodo. Saat itu Hamnor tidak bisa ikut ke dalam, karena hanya para pejabat dari Pemkab Manggarai Barat serta pihak Taman Nasional Komodo.

“Tapi dari kafenya, Wishnutama melihat-lihat komodo. Di bawah kafenya juga banyak komodo,” terangnya.

Cerita Guide yang Temani Wishnutama di Pulau KomodoWishnutama melihat komodo di dekat Oase Cafe (dok Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)

Namun sebelum ke kafe, Wishnutama bersama rombongan melewati pintu gerbang Pulau Komodo. Kata Wishnutama, gerbangnya mau diubah.

“Dia bilang patung dan gerbangnya akan diubah supaya ada daya tarik,” ungkap Hamnor yang sudah menjadi naturalis guide selama 10 tahun.

“Kemudian, Wishnutama juga dikenali oleh Kepala Desa Komodo. Dia pun mendengarkan keluh kesah warga desa, seperti membutuhkan dermaga permanen. Kata Pak Menteri, nanti akan disampaikan ke Menteri Perhubungan Budi Karya,” lanjutnya menjelaskan.

Menurut Hamnor, Wishnutama tidak sempat untuk trekking di Pulau Komodo mungkin karena jadwal yang padat. Dirinya pun ikut senang dan berharap banyak kepada Wishnutama sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

“Harapan saya, semoga masyarakat di Desa Komodo bisa lebih terlibat pada pariwisata. Selama ini, kami belum banyak merasakan langsung pendapatan dari pariwisata,” tutupnya.

Sumber : https://travel.detik.com/