Monthly Archives: March 2020

  • -

Corona Gebuk Pariwisata Bali, Entitas Anak Usaha Perusahaan Milik Orang Terkaya RI Terpaksa Tutup..

Entitas anak usaha PT Sona Topas Tourism Industry Tbk (SONA), yakni Bali Galleria terpaksa tidak beroperasi atau tutup sementara. Penutupan dilakukan sejak Sabtu (28/03/2020) hingga waktu akhir April mendatang.

Direktur SONA, Susan Liwang, mengungkapkan bahwa pandemi corona yang berlangsung sejak Februari 2020 lalu menjadi pertimbangan utama yang membuat manajemen menutup sementara pusat perbelanjaan Bali Galleria yang berlokasi di Jalan By Pass Ngurah Rai, Kuta, Bali itu.

“Sehubungan dengan pandemi virus coorna yang sampai sekarang masih berlangsung, maka terjadi penutupan toko bebas bea di tengah kota, Jalan By Pass Ngurah Rai, Kuta, Bali terhitung tanggal 28 Maret 2020 hingga akhir April 2020,” jelas Susan, Jakarta, Senin (30/03/2020).

Ia menambahkan, penutupan Bali Galleria tentu akan berdampak pada penurunan pendapatan. Terlebih lagi, kewajiban dalam hal pembayaran operasional, seperti sewa, listrik, dan dan gaji karyawan masih harus dipenuhi oleh Bali Galleria.

“Kami akan menyampaikan kembali bila ada dampak kelangsungan usaha yang berhubungan dengan wabah virus corona,” sambungnya.

Sebagai informasi, SONA merupakan perusahaan yang bergerak di bidang biro perjalanan wisata. Emiten ini dimiliki oleh keluarga Tahir dengan kompisisi kepemilikan sebesar 11,53%. Dilansir dari RTI, salah satu anak dari Dato Sri Tahir, yakni Jonathan Tahir menjabat sebagai Presiden Komisaris SONA.

 

Sumber : https://www.wartaekonomi.co.id/


  • -

Saham Sektor Pariwisata Paling Terpukul Corona

Saham-saham sektor pariwisata dan perhotelan terpukul cukup dalam karena pandemi virus corona. Dibandingkan dengan saham sektor konsumer, perbankan, dan konstruksi.

Maklum, bisnis pariwisata dan perhotelan pun lesu karena sebagian besar masyarakat menunda rencana liburan, dan maraknya pembatasan terbang di beberapa negara.

Sebut saja, saham PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) terpantau turun 2,17 persen ke posisi Rp450 per saham pada penutupan perdagangan Jumat (27/3). Sejak awal Maret, emiten yang mayoritas sahamnya dikantongi Pemprov DKI itu anjlok 45,45 persen.

Pemprov DKI sendiri telah menutup tempat wisata itu selama dua pekan terhitung sejak Sabtu, 14 Maret lalu, bersamaan dengan tempat wisata lainnya di Jakarta yang menjadi episentrum virus corona.

Emiten perhotelan juga mengalami hal serupa sejak kunjungan tamu yang menginap di hotel merosot.

Saham PT Citra Putra Realty Tbk yang memiliki hotel The Stone di Legian, Bali, tercatat urun 0,43 persen ke posisi Rp2.330 per saham. Sejak awal bulan, saham Citra Putra Realty terjun 41,90 persen.

Serupa, saham PT Hotel Sahid Jaya International Tbk juga tak bergerak di posisi Rp3.980 per saham. Sejak awal bulan saham dengan kode SHID ini turun dua digit, yakni 13,85 persen.

Lalu, saham PT Dafam Property Tbk sebagai pengelola Hotel Dafam yang memiliki jaringan hotel di berbagai kota juga menetap di posisi Rp338 per saham. Sejak awal bulan, saham dengan kode DFAM ini tergerus 11,98 persen.

Berbeda dengan emiten lainnya, saham PT Nusantara Properti Internasional Tbk masih terpantau kinclong. Pada penutupan hari ini, perusahaan dengan kode saham NATO itu mampu naik sebesar 4,13 persen menjadi Rp1.135 per saham. Sejak awal bulan, saham Nusantara Properti justru mampu bertambah 3,18 persen.

Nusantara Properti sendiri memiliki hotel, vila, dan resort di beberapa kota. Untuk fasilitas hotel, perseroan mengelola Luna2 Seminyak, Bali.

Lalu, The Seri Villas di Seminyak serta sejumlah resort seperti Takabonerate Resort di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Maratua Beach Resort di Kalimantan Utara, dan Surfer Paradise Resort di Pulau Rote.

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee memprediksi kinerja sektor tersebut baru pulih pada tahun depan. Usai pandemi virus corona mereda, baru lah masyarakat mulai memperbaiki usahanya.

“Orang akan berwisata kalau sudah punya uang,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Hans menilai sektor pariwisata merupakan sektor yang paling parah menerima dampak negatif virus corona. Padahal, jika saja pandemi tersebut tidak muncul, maka sektor pariwisata memiliki prospek gemilang tahun ini.

Sebab, sebagaimana diketahui Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebelumnya mengaku akan menggenjot sektor pariwisata untuk mendatangkan devisa.

“Sebenarnya kalau tidak ada virus corona prospek pariwisata masih bagus, tetapi virus corona diprediksi baru selesai pada Agustus,” katanya.

 

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/


  • -

Pariwisata Terimbas Corona, Bantuan Tunai Hingga Stimulus Fiskal Disiapkan

Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah telah menyiapkan berbagai skema seperti program Bantuan Langsung Tunai (BLT), stimulus fiskal untuk membantu sektor pariwisata, dan juga Program Kartu Pra-Kerja sebagai jaring sosial bagi masyarakat yang paling terkena dampak virus corona Covid-19.

“Untuk stimulus fiskal tahap kedua beberapa pasal seperti pasal 21 dan 25 Itu di-extend ke sektor pariwisata. Kami juga sudah siapkan BLT untuk masyarakat kita yang paling terdampak, kemudian untuk Kartu Pra-Kerja juga sudah dialihkan untuk benefit bagi yang mengalami pemutusan hubungan kerja,” ujar Airlangga kala rapat bersama Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, seperti dilansir dalam keterangan tertulis, Jumat, 27 Maret 2020.

Dalam rapat itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama melihat perlunya benefit khusus seperti pengurangan pajak bagi hotel dan restoran yang tidak memutus hubungan kerja dengan para karyawannya. Hal ini berkaitan dengan anjloknya kinerja industri sektor pariwisata lantaran terhantam wabah cirus corona.

“Extra benefit kepada perusahaan-perusahaan yang tidak melakukan PHK bagi karyawannya, semisal pengurangan pajak untuk hotel dan restoran di Indonesia, hal itu akan sangat membantu mereka,” ujar Wishnutama.

Selain benefit, Wishnutama juga menyarankan agar program Kartu Pra-Kerja dapat diprioritaskan untuk para pekerja yang mendapatkan PHK akibat dunia usaha yang terkena dampak Covid-19. “Kami menyarankan ini diprioritaskan kepada karyawan yang mengalami PHK jadi untuk kartu Pra-Kerja yang training bisa dialihkan ke tahun depan apalagi mengingat kondisi seperti saat ini,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Bank Indonesia menyampaikan kondisi saat ini lebih kompleks dibandingkan dengan kondisi pada 2008 ketika saat itu dunia juga diterpa krisis ekonomi global. Namun, BI tetap memprioritaskan di bidang kesehatan masyarakat, jaring pengaman sosial dan juga terus berupaya menstabilkan sektor keuangan.

“Kami fokus ke penanganan kesehatan masyarakat, kemudian kepada program social safety net, karena ini berdampak sangat luar biasa bagi masyarakat. BI juga terus berusaha menstabilkan sektor keuangan, dengan cadangan devisa kita yang jumlahnya juga cukup besar,” ujar Deputi Senior Gubernur BI, Destri Damayanti.

Menurut Plt Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenko Marves, Odo Manuhutu, sektor pariwisata memang banyak terkena dampak. Dia pun menyarankan beberapa hal di antaranya dengan benefit khusus. “Semoga dengan adanya forum ini dapat membantu masyarakat, terutama di sektor yang paling banyak terdampak,” kata dia.

 

Sumber : https://bisnis.tempo.co/


  • -

Menparekraf: Industri Pariwisata Untuk Sementara Stop Promosi

JAKARTA—Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menunda sementara kegiatan promosi pariwisata untuk mengantisipasi bertambahnya kembali jumlah orang yang positif virus corona (COVID – 19).

Apalagi, saat ini jumlah pasien yang positif virus corona sudah mencapai 117 orang.

“Semua kegiatan promosi yang mendorong pergerakan pariwisata kami putuskan sudah sejak minggu lalu untuk sementara ini ditunda,” kata Wishnutama kepada Bisnis, Minggu (15/3/2020).

Sementara itu, Sekjend Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno mengatakan pihaknya sebetulnya tidak menolak jika dilakukan lockdown di sejumlah daerah/kota.

“Kembali lagi, minat orang berpergian sudah tidak ada, kami tidak menentang lockdown, tetapi aturannya tolong dimudahkan supaya kami tidak bangkrut,” kata Pauline.

Dalam hal ini, dia mengaku cukup dilematis dengan kebijakan unpaid leave yang dilakukan oleh beberapa pengusaha travel/ perjalanan.

“Pak Jokowi barusan mengumumkan work from home, kalau kami pilih unpaid saja sekalian. Toh memag gak ada yang bisa dikerjakan. Tetapi kalau unpaid terus berapa lama kan juga kasian karyawannya, otomatis tidak dapat pemasukan, daya beli menurun,” imbuhnya.

 

Sumber : https://ekonomi.bisnis.com/


  • -

Kemenparekraf Incar Wisata Minat Khusus Untuk Naikkan Devisa

Jakarta – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) terus mendorong peningkatan kualitas kunjungan wisatawan serta devisa pariwisata. Salah satu caranya melalui kegiatan wisata minat khusus termasuk di dalamnya wisata petualangan (adventure).

Hal tersebut disampaikan Sektretaris Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Edy Wardoyo seusai membuka pameran INDOFEST 2020 di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (12/3/2020).
Ia menjelaskan, fokus pariwisata Indonesia dalam lima tahun ke depan adalah meningkatkan kualitas kunjungan wisatawan. Kemenparekraf menargetkan pengeluaran rata-rata wisatawan/ASPA (Average Spending per Arrival) maupun length of stay (LoS) sehingga berdampak positif terhadap peningkatan devisa.
“Untuk mencapai target tersebut berbagai upaya dilakukan di antaranya dengan meningkatkan kualitas produk termasuk wisata minat khusus. Dengan harapan dapat meningkatkan ASPA dan LoS di kalangan wisatawan selama berkunjung ke Indonesia,” kata Edy Wardoyo.
Beragam produk wisata minat khusus seperti surfing, diving, tracking, hiking, rafting, atau fishing, menurut Edy Wardoyo, sudah terbukti mampu mendatangkan kunjungan wisatawan ke Indonesia. Biasanya mereka juga memiliki waktu tinggal serta pengeluaran yang lebih tinggi dibanding wisatawan leisure pada umumnya.
“Misalnya dalam wisata minat khusus selam (diving), pengeluaran penyelam termasuk tinggi. Karena rata-rata waktu tinggal mereka cukup lama. Baru tiba mereka belum tentu langsung diving, setelah menyelesaikan trip diving-nya mereka juga harus punya waktu istirahat minimal satu hari. Jadi length of stay-nya lebih lama,” kata Edy Wardoyo.
Wisata minat khusus juga mendorong industri dan terciptanya pariwisata berkelanjutan atau sustainable tourism. Data Adventure Travel Trade Association juga menunjukkan, wisata minat khusus memberikan dampak langsung pada masyarakat atau destinasi. Pasalnya, penikmat wisata petualangan sekitar 67 persen pengeluarannya langsung bisa dirasakan masyarakat di daerah yang dikunjungi.
Pemerintah pada 2020 menargetkan devisa pariwisata sebesar US$21 miliar dan kunjungan wisman sebanyak 17,3 juta orang.
“Melalui pameran INDOFEST 2020 produk wisata minat khusus semakin terpromosikan, sehingga menarik bagi wisatawan untuk melakukan wisata peluangan atau outdoor di berbagai destinasi menarik di Tanah Air,” katanya.
Sementara itu, Chief Executive Officer COS Event, Disyon Toba, sebagai penyelenggara pameran mengatakan INDOFEST 2020 merupakan salah satu acara, yang selalu dinantikan para pecinta kegiatan wisata minat khusus atau kegiatan outdoor.
Hadir dalam acara pembukaan pameran INDOFEST 2020 tersebut antara lain mantan Menpora Hayono Isman sebagai Ketua Umum Federasi Olahraga Rekreasi Indonesia (FORMI), Kadisparekraf DKI Jakarta Cucu Ahmad Kurnia, dan Bupati Belitung H Sahani Saleh.
“Event ini sebagai ‘lebarannya’ kalangan pencinta wisata autdoor di Tanah Air. Mereka datang dari berbagai komunitas pecinta wisata alam,” kata Disyon Toba.
Wisatawan menikmati wisata bawah laut di perairan Labuan Bajo, 5 Mei 2017. Bagi pecinta olahraga diving dengan dana Rp800.000 hingga Rp1.000.000 wisatawan dapat menggunakan jasa pariwisata menyelam. ANTARA FOTO
Disyon mengatakan, INDOFEST sebagai pameran outdoor yang telah dimulai sejak tahun 2015, banyak dikunjungi para pecinta wisata petualangan dari penjuru tanah air.
Penyelenggaraan INDOFEST 2020  yang belangsung selama 4 hari (12-15 Maret 2020) menurut Disyon Toba cukup istimewa, karena bersamaan dengan digelarnya pameran INDOFISHING yang banyak diminati para pencita wisatawan mancing (fishing) dari Jakarta dan kota besar lainnya.
“Kami menargetkan tahun ini mencapai 100.000 pengunjung dengan total transaksi sebesar Rp75 miliar,” kata Disyon Toba.
Sumber : https://travel.tempo.co/

  • -

Andalkan Turis Eropa, Pariwisata Jembrana Tak Terpengaruh Corona

Merebaknya  virus corona yang memukul sektor pariwisata di Bali, tampaknya, tidak begitu berpengaruh bagi industri pariwisata Jembrana.

Kendati sempat dirasakan pelaku wisata Gumi Makepung, karena isu global, tapi, dampaknya tidaklah terlalu signifikan.

Kondisi ini terjadi mengingat pasar Jembrana lebih banyak tamu asing dari Eropa. ’’Tidak signifikan, pariwisata Jembrana masih baik-baik saja.

Tamu yang datang juga masih banyak. Tidak ada penurunan yang terlalu drastis,’’ ujar Kepala Dinas  Pariwasata Budaya Jembrana Nengah Alit.

Berbagai agenda kepariwisataan yang telah disusun juga jalan terus. Tidak ada pembatalan even atau festival.

Namun, langkah waspada tetap dilakukan pihaknya. Di antaranya, memberikan rasa aman bagi wisatawan dengan senantiasa berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Jembrana.

Langkah mitigasi itu sebagai bentuk antisipasi mengatasi isu virus itu ke Jembrana.

Di antaranya, dengan menyinergikan dengan kegiatan internal Dinas Kesehatan terhadap tempat tempat wisata dengan  fogging, maupun perbaikan sanitasi lainnya.

Koordinasi ini, disebut Alit sangat penting sebagai langkah antisipasi. Guna meyakinkan bahwa Bali, dan Jembrana khususnya, masih aman dikunjungi, dinasnya aktif melakukan kegiatan promotif.

Di antaranya, melalui pelaksanaan even wisata, festival seni, dan budaya maupun sport tourism. Berbagai even itu, katanya, juga digelar rutin dan terjadwal.

’’Kemarin digelar kejuaraan surfing di Yeh Sumbul, serta offroad di Pekutatan. Even itu, juga bagian promosi wisata melalui kegiatan olahraga,’’ jelas Alit.

Disinggung adanya perubahan target kunjungan pasca isu corona merebak, Alit mengatakan tidak ada perubahan.

Target kunjungan disusun  Disparbud Jembrana masih sama dan tidak ada revisi target. Hanya saja, ia berharap kunjungan wisatawan ke Jembrana nanti lebih banyak bisa menggenjot   sektor domestik. .

’’Kita semua berharap, isu korona tidak berpengaruh terhadap pariwisata Jembrana. Saya menghimbau masyarakat tetap tenang,

tetap ngastiti, sekala niskala, agar virus ini tidak merambah ke Jembrana dan segera berakhir,’’ papar Alit.

Demikian juga halnya kepada ASN, Alit juga menghimbau mereka  membantu pemerintah agar situasi tetap kondusif.

’’Percaya pada sumber resmi pemerintah. Apabila dapat informasi hoaks, dan  belum jelas sumbernya, cukup dibaca saja jangan diteruskan,’’ pungkasnya.

 

Sumber : https://radarbali.jawapos.com/


  • -

Tempat Konvensi di Jakarta Bersiap Mengutamakan Faktor Kesehatan Untuk Delegasi dan Penunjung Pameran

Untuk Disiarkan Segera

JAKARTA – 10 Maret, 2020 – Penyelenggara acara diberbagai tempat di Indonesia, khususnya Jakarta tentunya “was was” karena mendapatkan pertanyaan dari para peserta dan delegasi dimana pada tanggal 2 Maret 2020 pemerintah mengumumkan adanya dua orang yang positif terjangkit virus corona.

 

Hal ini di alami pula oleh sebuah perusahaan multinasional NuSkin yang mengadakan acara Konvensi pada tanggal 6-7 Maret, 2020,  apalagi  terdapat antusiasme peserta yang tinggi dari peserta yang berencana akan hadir di tengah-tengah situasi merebaknya wabah virus corona di Indonesia beberapa hari belakangan ini.

 

Manager penyelenggara event Nu Skin menyampaikan “Sebagian besar peserta ingin memastikan apakah convention ini akan tetap berlangsung dan juga mereka ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh penyelenggara untuk menyikapi epidemi ini, apalagi mereka sudah kadung membeli tiket dari beberapa provinsi di Indonesia”

 

Beliau mengakui perlu adanya kolaborasi yang baik dengan Tempat Konvensi untuk bisa melakukan langkah-langkah preventif yang dapat dilakukan sebagai memberikan kenyamananan melalui pencegahan resiko penyebaran virus ini di tempat keramaian selama acara berlangsung.

 

Jim Tehusijarana, Direktur AlcorPrime sebagai Pengelola The Kasablanka Hall sesuai arahan pemerintah  “Ada dua hal utama yang sudah langsung dilakukan oleh management The Kasablanka Hall sebagai langkah preventif, Yang pertama menjalankan kerja sama operasi dengan beberapa layanan medis yaitu TelkoMedika dan Ros Medika. Kemitraan ini bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi para penyelenggara untuk mendapatkan akses layanan dokter dan tenaga medis termasuk on call Ambulance.

 

“Tindakan pencegahan tersebut mencakup beberapa hal seperti melakukan tindakan sanitasi dan pengukuran suhu tubuh bagi semua peserta konvensi pada saat mereka masuk ke area venue” Hal yang sama kami berlakukan untuk setiap karyawan saat masuk ke tempat kerja untuk memastikan keadaan sehat saat memberikan layanan”

 

Lanjut Jim “Yang Kedua, Di beberapa titik di venue ini kami menyiapkan dispenser ‘hand sanitizer’ dan juga melakukan prosedur pembersihan titik-titik rawan kontak tangan seperti; gagang pintu, pegangan tangga dan lainnya dengan menggunakan bahan pembersih yang mengandung antiseptik secara rutin”

 

Didien Djunaedi, Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia Mengharapkan pemilik venue dapat memberikan keyakinan dengan menyampaikan langkah2 preventif kepada peserta event2 yg berjalan, khususnya agar industry Pariwisata dapat terus berjalan. “Kesehatan adalah tetap menjadi Pertimbangan Utama, karena para peserta konvensi ingin memastikan berada dalam 1 ruangan dengan orang2 yang sehat ”

WhatsApp Image 2020-03-10 at 21.06.57 (1) WhatsApp Image 2020-03-10 at 21.06.57

 


  • -

Ini Dia Kebijakan Susulan Wishnutama untuk Cegah Virus Corona

Jakarta – Mewabahnya virus corona di berbagai negara, mendorong Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memutuskan menunda pemberian insentif ke beberapa negara yang terdampak wabah Covid-19, sampai situasi mereda dan suasana kembali kondusif

Kebijakan lainnya, adalah membatalkan promosi di berbagai negara yang terdampak virus corona. Hal tersebut disampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio di Jakarta, Rabu, 4 Februari 2020. Keputusan tersebut merupakan bentuk peninjauan kembali, terhadap rencana promosi dan insentif sektor pariwisata.
“Kami sudah putuskan untuk menunda promosi dan insentif mendatangkan wisatawan mancanegara di negara-negara yang saat ini terkena dampak virus corona seperti Korea Selatan, Jepang, Iran, Italia, dan lain-lain, dan sudah dilakukan kepada Cina sebelumnya,” kata Wishnutama.
Menurut Wishnutama, hal itu dilakukan, untuk melindungi masyarakat Indonesia. Kata dia, pemerintah juga terus berupaya maksimal untuk mencegah, agar jangan sampai titik awal penularan meluas menjadi sebuah wabah di dalam negeri.
“Hal ini tidak hanya untuk menjaga keselamatan dan kesehatan seluruh masyarakat Indonesia, tapi juga kondusivitas ekosistem pariwisata Indonesia secara menyeluruh,” katanya.
Sebelumnya, Presiden Jokowi memastikan pemerintah telah mengidentifikasi semua orang yang sempat kontak dengan kedua pasien, yang sudah positif terkena virus corona. Dan saat ini sudah dilakukan pengawasan terhadap yang berhubungan dengan kedua pasien tersebut.
“Jadi kami tidak perlu terlalu ketakutan masalah ini, tetapi tetap harus hati-hati dan waspada dalam setiap beraktivitas,” tutur Presiden.
Presiden Jokowi juga mengingatkan agar masyarakat melakukan pencegahan penularan virus corona dengan sering mencuci tangan. Dan jangan kemudian menyentuh wajah sebelum cuci tangan.
Sumber : https://travel.tempo.co/

  • -

Jokowi: Insentif Pariwisata ke Daerah Non Episentrum Virus Corona

Jakarta – Presiden Joko Widodo atau Jokowi yakin pemberian insentif pariwisata tidak akan meningkatkan potensi penyebaran virus Corona.

Sebelumnya pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 298 miliar sebagai insentif untuk menarik wisatawan mancanegara. Pemerintah juga berupaya memacu tingkat kunjungan wisatawan dalam negeri ke obyek wisata nasional.

“Insentif itu kita berikan kepada wisatawan (mancanegara) dari daerah-daerah yang sudah diperkirakan tidak menjadi episentrum dari virus Corona,” kata Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 2 Maret 2020.

Dalam kesempatan itu Jokowi menjelaskan bahwa pemerintah berkeinginan kuat untuk menjaga Indonesia dari penyebaran virus corona. Namun pemerintah juga harus memastikan ekonomi tidak terganggu akibat wabah yang telah menginfeksi lebih dari 80.000 orang di seluruh dunia tersebut.

Sebelumnya Jokowi telah mengumumkan dua orang warga negara Indonesia telah positif terinfeksi virus corona. Keduanya tertular dari warga negara Jepang yang berkunjung ke Indonesia dan kini berada di Malaysia.

Dua orang tersebut merupakan ibu dan anak yang masing-masing berusi 64 tahun dan 31 tahun. Keduanya saat ini telah dirawat di ruang isolasi khusus Rumah Sakit Sulianti Saroso, Jakarta.

Menteri Pariwisata Wishnutama Kusubandio sebelumnya menyebutkan insentif pariwisata dianggarkan untuk mendatangkan 736.000 wisatawan asing. Seluruh wisatawan tersebut diharapkan bisa menghasilkan devisa sekitar Rp 13 triliun.

“Kurang lebih kami targetkan yang ASPA (average spending per arrival)di atas US$ 1.700 per kunjungan, sehingga punya dampak ekonomi yang besar buat indonesia,” kata Wishnutama belum lama ini.

Wishnutama sempat menjabarkan bahwa Indonesia berpotensi kehilangan US$ 2,8 miliar atau Rp 38,2 triliun akibat wabah virus Corona. Hal ini buntut dari penutupan penerbangan langsung dari dan ke Cina.

Sementara itu virus mematikan itu telah menginfeksi 89.070 orang di seluruh dunia. Cina menjadi pusat penyebaran dengan jumlah pasien 80.026 orang. Adapun korban jiwa akibat virus Corona telah mencapai 3.044 orang. Provinsi Hubei di Cina mencatat 2.803 korban di antaranya.

 

Sumber : https://bisnis.tempo.co/


  • -

Pemerintah Jawa Tengah Dorong Desa Wisata Jadi “Borobudur Baru”

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Jawa Tengah Sinoeng Noegroho mengatakan bahwa konsep desa wisata akan dijadikan destinasi “ Borobudur baru” di Jawa Tengah. Menurut Sinoeng, agar Candi Borobudur menjadi inti destinasi wisata di Indonesia, maka diperlukan sistem pendukung yang kuat di sekitarnya.  Hal ini untuk meningkatkan periode tinggal wisatawan yang berkunjung ke Borobudur.

“Setelah Borobudur lantas lanjut wisata ke mana? Bisa dengan menciptakan ‘Borobudur baru’ dengan destinasi yang menawarkan hal yang luar biasa. Itu bisa didapat dari desa wisata,” ujar Sinoeng dalam acara forum pariwisata Quality Tourist, Super Quality Destinations, Wonderful Indonesia di MarkPlus Main Campus EightyEight, Jakarta, Jumat (28/2/2020).

Sejauh ini, terdapat sekitar 353 desa wisata di sekitar Jawa Tengah. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sejak 2019 yang hanya 229 desa wisata dari total 7.800 desa di Jawa Tengah. Target di akhir periode Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo adalah memiliki 500 desa wisata.

Untuk bisa membangun desa wisata yang baik, Sinoeng mengatakan tak bisa melepaskannya dari faktor kultural. Faktor kultural yang dimaksud adalah pola kehidupan masyarakat di desa tersebut bisa membentuk atraksi unik untuk menarik wisatawan.  “Jadi tidak hanya mengandalkan faktor sosial saja tapi harus ada kultural juga. Kalau perlu ditambah dengan spiritual,” jelas Sinoeng.
Sinoeng mengatakan penting untuk membuat wisata berkelanjutan. Salah satunya dengan cara memilih atraksi desa wisata yang beragam.

Pola di banyak desa wisata saat ini adalah menjual hal yang sama. Misalnya, desa yang satu unggul sebagai sentra penjualan jaket kulit, lalu desa lain di sekitarnya juga ikut menjual jaket kulit. “Jangan seperti itu. Sebaiknya jika satu desa itu ada potensi, harus tengok kiri kanan. Ada enggak yang punya potensi sama? Kalau sudah ada, ya jangan,” tutur Sinoeng.

“Karena kalau kita melakukan sesuatu yang sama dengan tetangga kita, itu artinya kita melakukan bunuh diri ekonomi,” lanjutnya. Ia menjelaskan pasar akan mudah jenuh jika atraksi desa wisata satu dengan yang lain serupa. Konsep utama desa wisata yang ingin digagas pemerintah daerah Jawa Tengah adalah desa wisata dengan konsep Bala Desa.

Artinya, desa wisata yang terdiri dari beberapa sistem pendukung, saling melengkapi satu sama lain. “Kalau berkelanjutan itu artinya, misalnya satu orang datang ke Borobudur saat masih kecil. Lalu dia datang lagi ke Borobudur ketika sudah besar dan punya anak sendiri. Itu berkelanjutan,” tutup Sinoeng.

Desa wisata ini memang jadi salah satu program yang akan digarap dengan sangat serius. Menurut Sinoeng, Pemerintah daerah Jawa Tengah sudah menyiapkan anggaran sebesar Rp 1 miliar pada desa wisata yang sudah maju. Lalu Rp 500 juta untuk desa wisata menengah, dan Rp 100 juta untuk yang baru muncul.

Sumber : https://travel.kompas.com/