Monthly Archives: May 2020

  • -

MICE Day Acara Pertemuan Bisnis MICE Virtual Pertama di Indonesia untuk Memulai Kembali Tatanan Baru Penyelenggaraan Event Bisnis Digelar oleh Para Pelaku Industri Pariwisata Konvensi dan Pameran

 

Dampak wabah virus Corona (Covid-19) tidak hanya merugikan sisi kesehatan, bahkan turut mempengaruhi perekonomian negara-negara di seluruh dunia tak terkecuali Indonesia. Wabah virus corona berdampak pada sejumlah sektor, termasuk industri Meetings, Incentives, Conventions, Exhibitions (MICE) di Indonesia.

Menyusul penetapan dari WHO yang menyebutkan wabah ini sebagai pandemi, yang pastinya mempengaruhi para pelaku usaha dan industri MICE itu sendiri. Hadirnya MICE Day “Breaking The Barriers” pada tanggal 2 Juni 2020, merupakan event yang menjawab keresahan para pelaku industri MICE dimasa pandemi ini.

MICE Day merupakan serangkaian acara yang akan mendukung acara besar tahunan yaitu IIME (Indonesia International MICE Expo) 2020 yang akan digelar di bulan Oktober mendatang.  IIME 2020 yang digawangi oleh 3 pelaku usaha di industri MICE yang terdiri dari AlcorMICE sebagai perusahaan yang membawahi beberapa unit usaha, salah satunya di bidang venue. Selanjutnya, RajaMICE yang merupakan perusahaan dibidang professional conference organizer, dan TripEvent sebagai perusahaan yang mengelola trip and event management company.

Jim Tehusijarana, Co-founder mengatakan “MICE Day  merupakan platform yang akan mendukung para pelaku usaha dan industri di bidang MICE untuk tetap bisa mengadakan meeting, menggali potensi, saling bertukar pikiran dan memberikan informasi terbaru mengenai keadaan kondisi masing – masing pelaku MICE, yang tentunya berguna untuk saling support dan tetap memiliki perencanaan serta harapan di waktu yang akan datang dalam menghadapi situasi sulit ini”

Panca R Sarungu, Co-founder IIME menambahkan “Diperlukan kerjasama untuk menghadirkan event ini sehingga kami melakukan kolaborasi juga bersama perusahaan besar di Indonesia dan Singapura diantanya Katadata perusahaan asal Indonesia yang merupakan perusahaan media, data dan riset online di bidang ekonomi dan bisnis akan berperan sebagai media partner. Sedangkan perusahaan asal Singapura yaitu Jublia turut berkolaborasi sebagai penyedia alat dalam bidang networking business matching untuk event yang akan digunakan oleh semua peserta MICE Day”.

Christovel, CEO TripEvent menyampaikan “ Format acara MICE Day “Breaking The Barriers” akan berbasis Online Trade Show yang merupakan event online pertama kalinya di Indonesia. Para Attendance akan dipertemukan satu sama lain dengan sistem meeting one on one secara online. Peserta akan melakukan bisnis meeting as usual tetapi menggunakan paltform online, yang bertujuan untuk melakukan dealing – dealing khusus antar sesama pelaku usaha, dan sebagainya. Sehingga, harapannya setiap pelaku usaha dan industri dibidang MICE tetap memiliki pandangan positif meskipun kondisi sekarang sedang tidak bersahabat”

MICE Day “Breaking The Barriers”, akan ditutup dengan Webinar bertajuk “Masa Depan Industri MICE Pasca Pandemi Covid-19” dengan panelis yang berasal dari Indonesia yaitu delegasi perwakilan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI, Dr. Mulya Amri PhD (Research Director of Katadata Insight Center), Wita Jacob (Chairman, Indonesia General Manager Hotel Association, Jakarta Chapter) dan Errol Lim (COO at Jublia) sebagai panelis berasal dari Singapura.

 


  • -

Geliat Pariwisata Dunia Diprediksi Mulai Bangkit Bulan Juli

Jakarta, CNN Indonesia — Jumlah kunjungan wisatawan di dunia bisa turun 60 hingga 80 persen pada tahun 2020 akibat pandemi virus corona, kata Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO), merevisi perkiraan sebelumnya yang jauh lebih rendah.

Pembatasan perjalanan serta penutupan bandara dan perbatasan negara untuk mengekang penyebaran virus corona telah menjerumuskan pariwisata internasional ke dalam krisis terburuk sejak pencatatan dimulai pada 1950, badan PBB itu mengatakan dalam sebuah pernyataan seperti yang dikutip dari AFP pada Senin (11/5).

Kunjungan wisatawan internasional turun 22 persen dalam tiga bulan pertama tahun ini, dan 57 persen hanya pada bulan Maret, dengan Asia dan Eropa menderita penurunan jumlah kunjungan wisatawan internasional terbesar, menurut organisasi yang berbasis di Madrid itu.

pesiar, dan operator tur.

UNWTO telah memperkirakan pada awal tahun bahwa pariwisata internasional akan tumbuh 3,0 sampai 4,0 persen pada tahun 2020, tetapi kemudian merevisi perkiraannya pada akhir Maret, memperkirakan penurunan 20 sampai 30 persen.

Krisis pariwisata internasional dipengaruhi durasi pembatasan perjalanan dan penutupan perbatasan.

Skenario kasus terbaik, dengan pembatasan perjalanan mulai mereda pada awal Juli, kunjungan wisatawan internasional turun hanya 58 persen.

Jika perbatasan dan pembatasan perjalanan dicabut pada awal Desember, penurunan akan lebih dari 78 persen.

Jika pembatasan dicabut pada awal September, badan PBB memperkirakan penurunan hanya 70 persen.

Dalam skenario ini, penurunan perjalanan internasional dapat menyebabkan hilangnya US$910 miliar hingga US$1,2 triliun pendapatan pariwisata dunia, dan 100 hingga 120 juta pekerjaan.

Pariwisata internasional sempat terpukul oleh wabah penyakit di masa lalu, namun pandemi virus corona dirasa menjadi alasan munculnya krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya karena faktor geografis.

Sebagai perbandingan, kunjungan wisatawan internasional “hanya” turun hanya 0,4 persen pada tahun 2003 setelah wabah Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) yang menewaskan 774 orang di seluruh dunia.

Perjalanan untuk liburan bakal pulih lebih cepat

Badan PBB mengatakan sebagian besar ahli percaya akan ada tanda-tanda pemulihan pada kuartal terakhir 2020, tetapi sebagian besar pada 2021, dengan Asia dan Pasifik diperkirakan akan pulih lebih dulu.

Perjalanan domestik diperkirakan akan pulih lebih cepat dari permintaan internasional, tambahnya.

“Berdasarkan krisis sebelumnya, perjalanan untuk liburan diharapkan pulih lebih cepat, terutama perjalanan untuk mengunjungi teman dan kerabat, daripada perjalanan bisnis,” tambahnya.

Perusahaan telah membatasi perjalanan karyawan sementara pameran dagang telah dihentikan karena pandemi.

Pengamat perjalanan lebih optimis dengan pemulihan di Afrika dan Timur Tengah, dengan sebagian besar memperkirakan pemulihan masih terus berlangsung hingga akhir tahun 2020.

Pemulihan perjalanan di Amerika adalah yang paling pesimis, dan diperkirakan baru mulai dirasakan pada tahun depan.

Kunjungan wisatawan internasional naik 4,0 persen pada 2019 menjadi 1,5 miliar, dengan Prancis negara yang paling banyak dikunjungi di dunia, diikuti oleh Spanyol dan Amerika Serikat.

Terakhir kali kunjungan wisatawan internasional mencatat penurunan tahunan pada 2009 ketika krisis ekonomi global menyebabkan penurunan 4,0 persen.

Industri pariwisata menyumbang sekitar 10 persen dari produk domestik bruto (PDB) dunia dan pekerjaan.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/


  • -

‘New Normal’ Sebuah Tantangan Baru untuk Industri Pariwisata Usai Corona

Jakarta – Pandemi virus Corona diyakini menjadi titik balik perubahan wisata dunia, termasuk kawasan Asia Tenggara. Industri wisata pun wajib beradaptasi new normal, termasuk protokol kesehatan.

Sejumlah negara telah merancang protokol baru setelah dunia diterpa virus Corona. Social distancing, pemakaian masker, dan standar kebersihan diprediksi menjadi hal lumrah nantinya. termasuk di negara-negara Asia Tenggara.

Eddy Krismeidi Soemawilaga Vice President ASEANTA (Asosiasi Travel Agent se-ASEAN) dalam bincang ASITA dengan tema New Normal dari ASEAN Perspective pada Sabtu (9/5/2020) petang meminta operator wisata bisa segera menyesuaikan diri dengan new normal usai pandemi virus Corona.

Caranya, negara ASEAN harus menyiapkan skenario pengembangan wisata setelah pandemi virus Corona berakhir. Restart pariwisata masing-masing negara usai COVID-19 berbeda satu sama lain, tergantung kemampuan negara Asia Tenggara itu untuk menghentikan kasus Corona.

Kemudian, negara-negara Asia Tenggara diimbau untuk membuat rujukan traveling bersama.

“Akan ada regulasi ‘new normal’ di bidang pariwisata setelah pandemi virus Corona, sebab saat ini orang memiliki ketakutan berlebihan. Nah, manajemen empati itu akan lebih berhasil diterapkan,” kata Krismeidi.

Selain itu, masing-masing negara di Asia Tenggara sudah harus didukung oleh aplikasi pelacakan kontak untuk berbagi informasi COVID-19. Sebagai contoh, Malaysia memiliki May Trace, Thailand dengan Mor Chana, Indonesia dengan PeduliLindungi dan Singapura menggunakan TraceTogether, adapun Filipina memakai StaySafe.ph.

“Untuk negara selain lima negara itu di Asia Tenggara, kasusnya tidak banyak,” ujar Eddy.

Sumber : https://travel.detik.com/


  • -

WIshnutama Ajak Milenial Hadapi Pandemi Covid-19 dan New Normal

Jakarta – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio mengajak kaum milenial dan generasi Z optimistis menghadapi tantangan pandemi Covid-19 dan bersiap menyambut kondisi new normal pascapandemi. “Seperti apa new normal dari sektor pariwisata? Sebelum terjadinya Covid-19, kami sudah mengubah strategi Kemenparekraf. Strategi yang ingin kami laksanakan adalah pariwisata harus kembali ke dasar-dasar kebutuhan wisatawan, yaitu kebersihan,” kata Wishnutama dalam diskusi daring  I’m Gen-Z, Milenial dan Gen Z; Tantangan, Harapan, dan Masa Depan New Normal di Jakarta pada Minggu, 10 Mei 2020. Dia mencontohkan toilet yang bersih. Menurut dia, destinasi yang bersih dengan dilengkapi toilet yang bersih akan jauh lebih menarik. Dalam diskusi tersebut, Wishnutama dan anggota DPR Maman Abdurrahman sepakat meski Indonesia sedang dalam masa pandemi Covid-19, generasi muda harus tetap optimistis khususnya untuk menyambut era new normal pascapandemi Covid-19.
Wishnutama menegaskan situasi new normal yang terbentuk karena Covid-19 sudah sejalan dengan apa yang dijalankan Kemenparekraf. Strategi lainnnya adalah masalah keselamatan. Wishnutama mencontohkan rescue yang harus ada di area pantai harus mulai diterapkan dengan SOP yang jelas. Sementara untuk bidang ekonomi kreatif, Kemenparekraf mendorong hadirnya kreativitas di masing-masing destinasi. Caranya dengan melakukan training, coaching, dan lainnya. “Sektor pariwisata sudah sangat siap dengan new normal. Karena  new normal pasca-corona sudah sejalan dengan apa yang kita jalankan, yaitu higienis. Kami sudah menjalankan protokol kesehatan di airport, hotel, tempat hiburan, dan lainnya. Semua kami siapkan dari sekarang. Kenapa harus sekarang, karena kita juga harus mempersiapkan agar ekonomi pariwisata segera berjalan,” katanya. Menurut Wishnutama, “new normal” lainnya adalah era digital yang terakselerasi dengan cepat saat Covid-19. Dia mengatakan dalam kondisi seperti ini seluruh orang dipaksa melakukan aktivitas secara digital, yang artinya, ada potensi digital yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. “Di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif banyak potensi itu. Dan kita akan membuka ruang-ruang diskusi untuk itu. Yang penting di era digital, adalah bagaimana bangsa Indonesia menguasai ekosistem digital, itu yang bisa membuat kita menang. Yang juga penting adalah data, karena sangat ‘valueable’. Untuk bisa menang, kita harus tahu siapa yang mengontrol data kita, siapa yang memiliki data kita,” kata Wishutama. Ia menambahkan, pada setiap krisis selalu ada kesempatan. Namun harus ada strategi untuk manfaatkan kesempatan tersebut, “Ada pilihan buat semua, yaitu defensif atau ofensif. Dalam sejarah saat terjadi berbagai krisis, biasanya yang punya kesempatan adalah yang ofensif, bukan defensif. Oleh karena itu pemerintah membagi dua perlakuan, pertama supporting untuk mengatasi krisis dan menciptakan peluang sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang sifatnya ‘sustainable’. Jadi saat pandemi berakhir, apa yang kita lakukan tetap bisa berlangsung,” katanya. Menurut dia, momentum ini tergantung setiap individu untuk bisa memanfaatkannya, akan menjadi pesimistis atau menjadi pemenang. “Tapi pemenang tidak ada sifat pesimistis. Pemenang mencari kesempatan, bukan kekurangan. Buat generasi muda, ayo cari apa kesempatan yang ada. Hal ini tidak bisa dipelajari, tapi harus dicari sendiri,” katanya. Wishnutama mengakui dalam situasi seperti ini tidak mudah bagi pariwisata untuk berkembang. Seluruh dunia pun mengalaminya. Menurutnya, sektor pariwisata paling terdampak karena pariwisata tergantung pada kunjungan orang. Sedangkan saat ini sudah tidak memungkinkan dilakukan kunjungan. “Yang terpenting, adalah kita harus optimistis pada masa depan kita. Kita meyakini masa depan pariwisata kita akan luar biasa setelah pandemi ini. Kita akan sekuat tenaga berupaya, karena negara lain juga akan berusaha keras untuk mendatangkan wisatawan. Kita akan coba dari wisatawan domestik dulu, baru kita datangkan wisatawan internasional,” katanya. Menurut Chief Executive I’M Gen Z Budi Setiawan, generasi milenial dan generasi Z harus siap menyambut The New Normal. “Bahwa kami generasi milenial dan generasi z, siap menyambut ‘the new normal’ , pascapandemi COVID-19. Kami siap menyambut ‘new normal’ dengan lebih optimistis,” kata Budi. Sementara anggota DPR RI yang juga Founder I’M Gen Z Maman Abdurrahman, dalam paparannya mengakui tidak mudah menghadapi wabah pandemi Covid-19. “Langkah yang diambil pemerintah harus diapresiasi. Banyak sektor yang terdampak. Tapi memang sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang sangat terdampak. Kita semua harus memikirkannya. Semua harus bisa mendukung Kemenparekraf, minimal dengan menyampaikan hal-hal positif,” ajak Maman. Menurutnya, masa pandemi Covid-19 bisa membawa perubahan ke hal baik selama semua pihak melihatnya dari sisi positif. Sumber : https://bisnis.tempo.co/

  • -

7 Komitmen Negara ASEAN untuk Mitigasi Pariwisata Saat Covid-19

Jakarta – Negara-negara anggota ASEAN menyepakati tujuh penguatan kerja sama pariwisata untuk mitigasi pandemi Covid-19.

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Angela Tanoesoedibjo mewakili Indonesia dalam pertemuan para menteri pariwisata negara-negara ASEAN bertema ‘Special Meeting of the ASEAN Tourism Ministers (M-ATM) on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19)’ pada Rabu malam, 29 April 2020. “Kerja sama yang kuat dibutuhkan dalam menangani dampak Covid-19 di sektor pariwisata kawasan ASEAN. Saatnya kita semua para anggota ASEAN untuk bersama. Dengan bersama kita bisa kuat,” kata Angela dalam keterangan tertulis, Jumat 1 Mei 2020.

Pertemuan tersebut menghasilkan tujuh kesepakatan dari seluruh menteri pariwisata negara-negara ASEAN. Tujuannya, memperkuat kerja sama pariwisata, salah satu sektor ekonomi yang paling terpukul selama pandemi Covid-19.

Berikut tujuh kesepakatan para menteri pariwisata negara-negara ASEAN:

Pertama, para menteri sepakat membina koordinasi ASEAN dalam mempercepat pertukaran informasi tentang perjalanan, terutama standar kesehatan dan langkah-langkah lain yang diperlukan negara-negara anggota ASEAN dalam menekan penyebaran Covid-19. Kolaborasi ini dilakukan melalui Tim Komunikasi Krisis Pariwisata ASEAN atau ATCCT.

Kedua, mengintensifkan kolaborasi Organisasi Pariwisata Nasional (NTOs) ASEAN dengan sektor-sektor ASEAN lain yang relevan, terutama di bidang kesehatan, informasi, transportasi, dan imigrasi serta dengan mitra eksternal ASEAN.

Ketiga, meningkatkan kerja sama yang lebih erat, dalam berbagi informasi dan praktik terbaik di antara negara-negara anggota ASEAN, serta dengan mitra dialog ASEAN dalam mendukung sektor pariwisata.

Keempat, kerja sama ini juga mencakup penerapan kebijakan dan langkah-langkah yang tepat untuk meningkatkan kepercayaan antara pengunjung domestik dan internasional ke Asia Tenggara. Termasuk pengembangan standar dan pedoman dalam meningkatkan keamanan dan kesehatan guna melindungi para pekerja dan masyarakat di industri yang terkait pariwisata.

Kelima, mendukung pengembangan dan implementasi pemulihan krisis pasca pandemi Covid-19, membangun kemampuan pariwisata ASEAN, serta upaya promosi dan pemasaran pariwisata bersama. Semua bertujuan memajukan ASEAN sebagai single tourism destination.

Keenam, mempercepat penerapan kebijakan mikro dan makro ekonomi, memberikan dukungan teknis dan stimulus keuangan, pengurangan pajak, peningkatan kapasitas dan kemampuan, terutama keterampilan digital bagi para stakeholder industri perjalanan dan pariwisata.

Ketujuh, mempercepat kerja sama dengan mitra dialog ASEAN, organisasi internasional dan industri yang relevan untuk membangun Asia Tenggara yang tangguh dan siap mengelola pariwisata berkelanjutan dan inklusif setelah krisis.

Angela Tanoesoedibjo mengatakan beberapa studi menyatakan sedikitnya butuh waktu lima tahun bagi sektor pariwisata untuk pulih setelah pandemi Covid-19. “Tapi saya percaya ASEAN bisa lebih baik dari itu,” kata dia. “Pariwisata regional akan pulih lebih cepat dengan kerja sama dan kolaborasi yang kuat.”

Sumber : https://travel.tempo.co/


  • -

Wishnutama Gandeng GoPlay, Ajak Masyarakat Nonton Film Indonesia

Jakarta – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio mengajak masyarakat menonton film Indonesia berkualitas di rumah saja. Hal ini guna mendukung insan kreatif perfilman di tanah air agar tetap produktif.

Wishnutama mengatakan pemerintah bekerja sama dengan layanan streaming dan unduh film dari Gojek, GoPlay dan Badan Perfilman Indonesia (BPI) untuk mendukung perfilman Indonesia dan memberikan apresiasi kepada para pekerja film dengan menonton film Indonesia berkualitas.

“Sekarang waktunya yang tepat untuk nonton film Indonesia, selain kita #dirumahaja pastinya butuh hiburan. Banyak #filmindonesia yang keren dan sudah diapresiasi di luar negeri,” kata Wishnutama.

Selain itu, ia menekankan pentingnya untuk berkontribusi dan mendukung kampanye #BeliBuatanIndonesia yang tentu akan membantu ekonomi bangsa semakin kuat dan berjaya.

“Mulai dari 1 Mei sampai 30 Juni 2020, kita bisa mengakses film Indonesia pilihan Goplay, dan apresiasi kita akan disalurkan oleh Badan Perfilman Indonesia untuk membantu para tenaga kerja sektor film yang terkena dampak ekonomi dari pandemik COVID-19. Ayo kita dukung Film Indonesia, untuk Indonesia.
Jayalah Film Indonesia,” kata Wishnutama.

Melalui program Dukung Perfilman Indonesia, dimungkinkan akan sangat membantu pekerja film di tanah air. Sebab setiap penjualan akses nonton GoPlay, sebanyak 20 persennya akan disalurkan melalui BPI.

Dana tersebut kemudian akan menjadi bentuk apresiasi masyarakat yang telah menonton film Indonesia di GoPlay kepada pekerja film Indonesia.

Di tengah pandemi COVID-19, para pekerja film banyak yang terpaksa harus menghentikan proses kreatif dan produksinya demi memutus mata rantai penyebaran virus.

“Namun hasil karya mereka sebelumnya tetap bisa kita apresiasi sekaligus untuk membantu mereka tetap produktif selama masa darurat corona ini. Nonton film mereka juga bisa jadi hiburan yang mengasyikkan selama kita di rumah saja,” kata Wishnutama.

Masyarakat hanya perlu menginstall aplikasi GoPlay pada ponsel pintar mereka untuk dapat mengakses program Dukung Perfilman Indonesia.

 

Sumber : https://bisnis.tempo.co/


  • -

Aplikasi Pelatihan Online Gratis Untuk Meningkatkan Kompetensi SDM Diluncurkan Assosiasi Pariwisata, Komunitas dan Para Mentor Profesional

Indonesia Tourism E-Learning (ITEL) mentargetkan 10.000 peserta dalam 3 bulan kedepan tambahan kemampuan “Up skilling” berbasis kompentensi untuk Karyawan yang terkena dampak dalam bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Jakarta 4 Mei 2002

Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) bersama beberapa assosiasi industri Pariwisata Indonesia seperti GIPI (Gabungan Industri Pariwisata Indonesia), Astindo (Asosiasi Travel Agent Indonesia), IHGMA (Indonesia Hotel General Manager Indonesia), Asperapi (Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia) , ITLA ( Indonesian Tour Leader Association), PUWSI (Perkumpulan Usaha Wisata Selam Indonesia) dan menyusul assosiasi lain hari ini meluncurkan sebuah aplikasi gratis yang dinamakan Indonesia Tourism E.Learning (ITEL) dalam rangka hari Pendidikan Nasional. ITEL merupakan sebuah sistem kursus online gratis yang bersertifikat dengan fokus pada peningkatan dunia pariwisata.

Ada beberapa fitur menarik di dalamnya, yakni Kursus Online, Ruang Kelas, Perpustakaan, Berita Pariwisata, Latihan Soal, dan Ujian. Fitur seperti “Ruang Kelas” dimana terdapat jadual yang diajar langsung oleh para mentor secara online yang dapat ditonton rekamannya pada kelas2 berikutnya , fitur lain adalah Latihan Soal dengan sistem ‘Download and Go”, hanya digunakan oleh peserta sebagai latihan. Fitur Ujian streaming yang dipakai hanya saat ada ujian saja dengan waktu sangat flexible. Panca Sarungu, Ketua Umum MASATA mengatakan, aplikasi ITEL ini tercipta sebagai bentuk kontribusi nyata dari MASATA untuk pariwisata Indonesia.

Selain menambah ilmu pariwisata, aplikasi ini diciptakan untuk mengisi waktu luang pekerja pariwisata yang terkena dampak dari COVID-19. Target utama peserta ITEL ialah para pekerja pariwisata yang terkena PHK atau unpaid leave akibat dampak dari COVID-19, ITEL mentargetkan 10.000 peserta dalam 3 bulan kedepan tambahan kemampuan “Upskiling” berbasis kompentensi untuk karyawan yang terkena dampak dalam bidang Pariwisata dan ekonomi kreatif.

COVID-19 membuat beberapa karyawan dari Industri lain harus mencari alternatif dalam era normal baru “Lewat aplikasi ini, kita juga memikirkan bagaimana caranya membantu orang-orang di industri lain untuk belajar pariwisata. Kesempatan mengajak mereka mau beralih ke industri ini yang selalu digadang2 jadi penghasil devisa no 2 setelah energi, untuk menambah jumlah SDM terlatih yang ada saat ini,” ucap Panca lagi.

ITEL dalam hal ini juga mendukung usaha pemerintah dalam peningkatan SDM seperti yang disampaikan Presiden Jokowi, “Goals kita adalah setelah pandemi ini berakhir, Indonesia memiliki sumber daya nomor 1 di ASEAN untuk industri pariwisata, ibarat direset harusnya kita memanfaatkan masa seperti ini untuk bisa mengasah kemampuan sehingga setelah new normal posisi kita bisa lebih baik dari Malaysia dan Thailand bahkan Singapura,” harapnya lagi.

Tetty DS Ariyanto Ketua Umum ITLA (Indonesia Tour Leader Association) yang menaungi hampir 1500 tour leaders seluruh Indonesia “Sangat penting bagi seorang Tour Leader memiliki kompetensi, baik dasar maupun tambahan, dimana kompetensi yang dibutuhkan adalah yang berkualitas dan bernilai” Lanjut Tetty “Pandemi Covid – 19, #stay home, disikapi oleh para Tour Leader Profesional untuk melakukan perenungan sekaligus memperkaya diri melalui Peer To Peer Sharing dengan bertumpu pada pemanfaatan teknologi” Sebagai wadah profesi, DPP ITLA memfasilitasi peningkatan kapasitas anggotanya melalui program Merdeka Belajar.

“Tujuannya adalah dalam rangka pemeliharaan kompetensi profesi dan agar tetap memiliki kemampuan kebekerjaan (employability skills) dalam situasi dan kondisi di era disrupsi berorientasi layanan prima serta cerdas berinovasi, Kolaborasi ITEL adalah sinergi yang pas dan semoga menghasilkan sinergi yang berfaedah” Jelas Tetty K. Swabawa, CHA , salah satu anggota Dewan Penasihat ITEL yang juga praktisi, penulis buku perhotelan, akademisi serta professional trainer mengatakan “ITEL merupakan suatu terobosan yang inovatif dan satu-satunya platform Learning Managament System di Indonesia yang melibatkan berbagai Industry Expert sebagai online mentornya.

Langkah strategis ini akan menjadi essential supplement dalam rangka akselerasi pembangunan SDM Pariwisata Indonesia yang berdaya saing global” Saat ini Aplikasi ITEL baru dapat diakses oleh pengguna ponsel Android. Untuk pengguna iOS dan Windows akan menyusul beberapa waktu mendatang. Kedepan ITEL akan menggandeng Kementrian, Lembaga, BUMN dan organisasi swasta untuk mengembangkan medium dan higher education.