Monthly Archives: June 2020

  • -

Banyuwangi Siapkan Protokol New Normal Pariwisata

Jakarta, CNN Indonesia -Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyiapkan sejumlah protokol aktivitas wisata sebelum sejumlah destinasi dibuka kembali jelang tatanan hidup baru (new normal). Protokol ini mengatur soal standar pelayanan, jam kerja, hingga sertifikasi.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, protokol ini penting untuk diterapkan karena pandemi infeksi virus corona atau Covid-19 belum terkendali sepenuhnya. Protokol ini juga diterapkan demi mengaktifkan kembali sektor pariwisata yang merupakan tulang punggung ekonomi Banyuwangi.

“Protokol ini kami sesuaikan dengan melihat bagaimana new normal tourism di Perancis, Belanda, Thailand juga,” ungkap Anas dalam diskusi virtual bertajuk Sukarno Festival, Minggu (21/6).

Nantinya, Anas mengatakan, pelaksanaan aktivitas wisata tak lagi berfokus pada akomodasi yang menawarkan pelayanan dan harga terbaik atau termurah. Alih-alih demikian, akomodasi akan fokus pada pelayanan yang lebih bersih, sehat, dan aman.

“Atraksi wisata dari yang ramai, gebyar, dan massal, kini menjadi jaga jarak dan memperhitungkan kapasitas atraksi wisata dengan pembatasan pengunjung,” ucapnya.

Selain itu, sumber daya manusia (SDM) bidang pariwisata juga tak hanya perlu unggul dari segi keramahan dan kompetensi, tapi juga mementingkan unsur kesehatan.

“Banyuwangi secara berkala juga akan melakukan rapid test pekerja wisata untuk jualan kesehatan dan keamanan berwisata,” terangnya.

Kemudian, Pemkab Banyuwangi juga berencana memberlakukan pembatasan waktu operasional. Dari semua buka tujuh hari dalam sepekan, menjadi lima hari. Libur selama dua hari bertujuan untuk tetap menjaga kesehatan petugas dan pengunjung, serta kebersihan area wisata.

“Destinasi buka lima hari seminggu, restoran wajib tutup sehari dalam seminggu, dan sebagainya,” tuturnya.

Terakhir, Pemkab Banyuwangi juga akan menggelar sertifikasi tempat wisata yang terverfikasi. Tujuannya, untuk memberikan standar pelayanan berbasis kesehatan.

“Sertifikasi dari yang belum menjadi prioritas, kini wajib diperlukan, sehingga Banyuwangi memulai inisiatif pertama di Indonesia untuk menerapkan stiker atau tanda new normal bagi kafe, resto, dan berlanjut ke hotel, rent car, destinasi, dan sebagainya,” jelasnya.

Sebelumnya, Pemkab Banyuwangi sudah mulai menggelar simulasi penerapan protokol new normal di 10 destinasi wisata yang berada di wilayahnya. Sejumlah destinasi wisata itu di antaranya Kawah Ijen, Bangsring Underwater, Grand Watu Dodol, Agrowisata Tamansuruh, Taman Gandrung Terakota, Pantai Cacalan, Pantai Pulau Merah, Hutan De Djawatan, Pantai Mustika, hingga Taman Nasional Alas Purwo.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/


  • -

Begini Pesan Wishnutama Agar Pariwisata Bali Lekas Pulih

Ubud – Bali berupaya menekan penyebaran wabah virus corona, sekaligus menerapkan langkah-langkah protokol kesehatan pada destinasi wisata dan hotel. Hal tersebut mendapat apresiasi dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio. Wishnutama memberi kiat, agar pariwisata Bali lekas pulih, yakni mengedepankan kepercayaan turis, “Ketika wisatawan percaya, mereka akan datang, berkunjung dengan aman dan nyaman ke Bali,” kata Wishnutama. Wishnutama juga mengapresiasi Pemprov Bali yang telah siap mengimplementasikan protokol kesehatan di wilayahnya. Menurutnya, salah satu upaya membangun kepercayaan wisatawan, yakni dengan menerapkan protokol kesehatan jauh-jauh hari.  “Secara keseluruhan penyebaran COVID-19 di Bali ini relatif lebih rendah dibanding di tempat lain. Tapi sekali lagi yang perlu kita bangun di Bali adalah kepercayaan publik, kepercayaan dari wisatawan domestik maupun internasional. Itu yang perlu kita bangun karena bisnis pariwisata adalah bisnis kepercayaan,” katanya. Wishnutama juga mendorong Pemprov Bali melakukan tiga tahapan pembukaan beberapa sektor di Bali. Setelah pada tahap pertama pembukaan dianggap berhasil dengan implementasi protokol kesehatan yang ketat. Ia berharap tahapan selanjutnya bisa dilalui dengan cepat. Wishnutama meminta para pelaku sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali, agar dapat melaksanakan protokol kesehatan dengan baik. “Sehingga semua proses tahapan bisa kami review dan bisa memasuki tahap-tahap selanjutnya dengan lebih cepat,” ujarnya.  Sementara itu, Gubernur Bali I Wayan Koster menjelaskan, pihaknya telah mempersiapkan tiga tahapan untuk implementasi protokol kesehatan menyambut kenormalan baru. Tahap pertama akan dilakukan pada 9 Juli 2020.  “Kami berencana kalau situasinya kondusif itu 9 Juli kami akan mulai membuka untuk pergerakan di Bali dalam beberapa sektor kecuali pendidikan dan pariwisata,” ujarnya. Tahap kedua akan dilakukan pada Agustus 2020 dengan catatan apabila pergerakan tahap pertama kondusif dan berhasil. Maka akan dilanjutkan ke tahap kedua untuk wisatawan nusantara. Setelah tahap kedua berhasil berlanjut ke tahap ketiga dengan mulai membuka destinasi bagi wisatawan mancanegara pada September 2020. Seorang pegawai hotel mengenakan masker dan pelindung wajah ketika mensimulasikan penyemprotan koper tamu dengan disinfektan di Hotel Inaya Putri Bali, Nusa Dua, Bali, Jumat, 5 Juni 2020. Sejumlah hotel di kawasan Nusa Dua mulai memberlakukan protokol kesehatan bagi tamu dan pegawainya. Johannes P. Christo “Tapi ini hanya persiapan dan ancang-ancang, bukan jadwal pelaksanaan. Jadi atau tidak tergantung dari perkembangan situasi dan dinamika COVID-19 khususnya perkembangan transmisi lokal di Bali,” ujarnya. Menurut Koster, pihaknya tak ingin terburu-buru membuka pariwisata Bali, agar tak terjadi gelombang kedua pandemi virus corona di wilayahnya. Sumber : https://travel.tempo.co/

  • -

PHRI Prediksi Bisnis Hotel Berjalan Signifikan Juli 2020

Jakarta – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia atau PHRI memperkirakan bisnis penginapan akan berjalan signifikan pada Juli 2020. Seperti diketahui, sektor pariwisata termasuk penginapan benar-benar terpukul di masa pandemi Covid-19.

Pengusaha hotel, losmen, vila, dan sejenisnya kini berusaha bertahan dengan berbagai cara. Memasuki masa new normal pada sepekan terakhir pun, belum semua pengusaha hotel membuka kembali layanan mereka.

“Sekarang hotel belum semua buka karena permintaannya kecil sekali. Sebagian besar menunggu sampai awal Juli 2020,” kata Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani dalam konferensi pers daring yang diadakan tiket.com, Rabu, 17 Juni 2020. Masih rendahnya permintaan akan jasa perhotelan, menurut dia, karena masyarakat masih enggan bepergian dan masih ada kekhawatiran lantaran pandemi Covid-19 belum benar-benar reda.

Kondisi di bisnis perhotelan atau penginapan, Hariyadi menjelaskan, berbeda dengan usaha restoran. “Kalau bisnis restoran sudah buka, terutama sebagian yang merasa tamunya tidak sedikit,” katanya.

PHRI telah membagikan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19 pada 5 Juni 2020. Pedoman itu sudah diberikan ke seluruh pengelola hotel dan restoran anggota PHRI. “Dari usaha jasa boga juga ada yang meminta izin menggunakan protokol kami untuk katering,” katanya.

Pedoman pencegahan Covid-19 itu, kata dia, mengacu peraturan Menteri Kesehatan dan organisasi kesehatan dunia atau WHO. Hariyadi Sukamdani menjelaskan, hal utama yang paling penting adalah menjaga jarak fisik antar-individu. Sebab itu, pengelola bisnis hotel dan restoran mesti menghitung ulang kapasitas mereka dan membatasinya.

Ihwal pengurangan kapasitas tamu di hotel atau restoran selama masa new normal ini, Hariyadi menjelaskan, angkanya tidak harus separuh dari daya tampung total. “Bisa dikurangi 40 persen atau 30 persen, tergantung besar restoran dan gedung pertemuan,” ujarnya.

Hariyadi menambahkan, jangan lupa ketersediaan keran untuk mencuci tangan lengkap dengan sabun atau cairan pembersih tangan (hand sanitizer). “Orang yang sedang tidak makan harus selalu menggunakan masker,” katanya.

Pengelola hotel dan restoran juga harus rutin melakukan disinfeksi dan menjaga betul sanitasi di lingkungannya. “Industri ini kami membutuhkan keyakinan dari pelanggan,” ujarnya.

 

Sumber : https://travel.tempo.co/


  • -

Pariwisata RI Diramal Bangkit Lagi Awal 2021

Jakarta – Pandemi virus Corona (COVID-19) merupakan bencana ‘mematikan’ bagi pariwisata Indonesia saat ini. Berkurangnya pergerakan manusia menyebabkan berbagai bisnis di industri tersebut mulai dari kawasan wisata, hotel, biro perjalanan, maskapai kehilangan sumber pendapatannya.

Department Head Industry & Regional Research PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani mengatakan, selain disebabkan kebijakan social distancing, saat ini masyarakat cenderung hanya mengonsumsi kebutuhan pokok. Pola konsumsi ini lebih diutamakan ke makanan dan minuman, suplemen, dan sebagainya. Oleh sebab itu, masyarakat menahan pengeluaran untuk berwisata.

“Kalau dilihat sektoral konsumsi berubah di bottom piramid itu ke makanan minuman, suplemen, restoran juga lebih ke delivery. Nah kelas menengah juga lebih memilih makanan olahan di rumah,” kata Dendi dalam diskusi online Mandiri Economic Outlook 2020, Rabu (17/6/2020).
Dendi memprediksi, industri pariwisata ini berpotensi bangkit kembali paling cepat di akhir tahun 2020, atau awal 2021.

“Pariwisata ini masih menunggu, mungkin 6 di akhir tahun atau awal tahun depan. Kalau melihat SARS kan hanya 3 bulan di tahun 2003. Nah sekarang kalau recovery tourism ini mungkin di akhir tahun atau awal tahun depan, ini bisa jadi lebih lama lagi,” jelas Dendi.

Begitu juga dengan bangkitnya bisnis restoran di Indonesia. Menurutnya, masyarakat masih menunggu keberhasilan social distancing hingga nanti kembali mengunjungi restoran lagi.

“Restoran dine-in juga perlu waktu karena orang perlu confidence melihat apakah social distancing berhasil,” urainya.

Menurut Dendi, dengan vaksin yang belum juga ditemukan maka kunci utama pemulihan sektor-sektor tersebut ialah ketertiban penerapan protokol kesehatan.

“Artinya kita kan bergantung para proses alamiah. Karena itu social distance sangat penting. Sehingga bisa smooth proses transisi atau recovery dari sektoral ini,” urainya.
Selain dari ketertiban masing-masing individu, menurut Dendi pemerintah juga perlu memberikan sanksi bagi masyarakat atau lembaga/badan yang melanggar protokol kesehatan.

“Pemerintah harus memfasilitasi dan enforcement juga. Kalau selama ini kan imbauan. Kalau ada enforcement atau punishment ini mungkin bisa lebih berjalan. Misalnya kalau nggak pakai masker bisa didenda,” pungkasnya.
Sumber : https://finance.detik.com/


  • -

Protokol Kesehatan Bandara Bali, Apa Saja yang Baru?

Jakarta – Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali menerapkan protokol atau tata cara kesehatan terkait pencegahan virus corona (Covid-19). Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio sempat berkunjung ke bandara tersebut untuk meninjau penerapan protokol kesehatan tersebut. Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 telah menerbitkan peraturan baru pedoman dalam pelaksanaan kegiatan transportasi, pada 6 Juni 2020. Surat edaran itu mengatur pula persyaratan calon penumpang dalam mempersiapkan perjalanan udara. “Kini penerbangan komersial rute domestik telah dibuka kembali untuk masyarakat secara umum,” kata General Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Herry A.Y. Sikado, Rabu, 17 Juni 2020. Herry menambahkan, pihak bandara ingin protokol kesehatan berlaku ketat. “Intinya, sistem dan infrastruktur penunjang telah berjalan dengan baik selama masa pengendalian perjalanan orang mudik Idul Fitri, serta untuk selanjutnya,” ujarnya. Protokol kesehatan berdasarkan Surat Edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nomor 7 Tahun 2020, Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 10925 Tahun 2020, serta Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 11525 Tahun 2020. Beberapa surat edaran itu berlaku setelah berakhirnya Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020. Berdasarkan Surat Edaran Nomor 7 Tahun 2020, penumpang rute domestik yang berangkat menuju Bali wajib melengkapi dokumen persyaratan, yaitu kartu identitas, surat hasil negatif tes polymerase chain reaction (PCR) masa berlaku 7 hari. Kemudian, mengaktifkan aplikasi PeduliLindungi dalam ponsel penumpang. Calon penumpang mengisi formulir secara daring atau online. Kemudian, mengisi dokumen Surat Pernyataan Pelaku Perjalanan dan Surat Pernyataan Pemberi Jaminan. Pemeriksaan dokumen kelengkapan itu akan dilaksanakan saat penumpang tiba di terminal kedatangan. Selanjutnya pengisian Kartu Kewaspadaan Kesehatan atau Health Alert Card (HAC) dan wawancara dengan petugas dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Khusus untuk pengisian HAC, calon penumpang bisa mengisi formulir daring melalui aplikasi perangkat gawai atau ponsel. Hal itu untuk meminimalkan proses antrean di terminal kedatangan. Penumpang rute domestik yang akan pergi wajib menyertakan identitas. Kemudian, surat keterangan hasil negatif Covid-19 tes cepat (rapid test) masa berlaku tiga hari. Herry menjelaskan, penumpang dengan bandara tujuan yang mensyaratkan tes PCR, maka wajib menunjukkan surat tersebut, “Pemeriksaan di terminal keberangkatan,” ujarnya. Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali menyediakan layanan pelanggan secara daring atau online customer service dalam situasi pandemi virus corona. Dok. Humas Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali Ia menambahkan, protokol kesehatan bertautan dengan kebijakan, di antaranya pengaturan slot penerbangan. Adapun kebijakan pengaturan ruang melalui pembatasan jarak fisik (physical distancing). Proses desinfeksi fasilitas dan terminal, serta upaya sanitasi lainnya. Ada pula penerapan sistem teknologi. “Kami menerapkan penggunaan sistem Online Customer Serviceboarding pass scanner, serta digital meeting point (DMP) untuk mengurangi interaksi fisik antar-manusia di terminal,” kata Herry. Bandara I Gusti Ngurah Rai juga menerapkan sistem bagasi yang baru, untuk mengurangi kepadatan penumpang. Sumber : https://travel.tempo.co/

  • -

Era New Normal, Webinar Berbayar Semakin Laris Manis

Jakarta – Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang dilakukan di masa Pandemi Covid-19 beberapa bulan terakhir melahirkan kebiasaan-kebiasaan baru yang akan berlanjut di masa new normal. Di tengah pembatasan fisik yang jadi kendala diselenggarakannya sebuah seminar, webinar, hadir sebagai solusi.

Webinar merupakan kependekan dari web-based seminar alias seminar berbasis web. Webinar sebetulnya bukan barang baru. Akan tetapi popularitasnya baru melonjak satu dua bulan terakhir ini. Kini hampir setiap hari ada informasi mengenai jadwal webinar baik yang gratis maupun berbayar dengan berbagai topik dan narasumber yang menarik.

Imogen Communications Institute (ICI) dalam survei terbarunya mengungkapkan di masa new normal, webinar masih akan tetap menjadi tren namun sudah bergerak dengan konten yang lebih serius dan berbayar. Dari hasil survei kepada 100 orang responden di seluruh Indonesia pada bulan Mei 2020 ditemukan 56 persen responden menyatakan tertarik mengikuti webinar berbayar. 44 persen responden lainnya lebih memilih mengikuti webinar gratis.

“Sebagian besar responden menyatakan tertarik mengikuti webinar berbayar asalkan tanpa syarat-syarat khusus, harganya harus terjangkau serta materinya menarik dan bermanfaat dalam menambah pengetahuan dan skill,” kata Jojo S. Nugroho, Managing Director Imogen PR sekaligus Principal ICI dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada 16 Juni 2020.

ICI melakukan survey ini untuk mendapatkan pandangan terkait preferensi masyarakat terhadap serba serbi penggunaan Zoom sebagai platform seminar dan kelas daring. Survey dilakukan dengan memberikan pertanyaan pilihan ganda seputar serba-serbi penggunaan Zoom kepada target 100 orang dari seluruh Indonesia terdiri dari 61 persen laki-laki dan 39 persen perempuan. Responden didominasi oleh generasi milenial dengan rentang usia antara 26-35 tahun, dari latar belakang pendidikan yang beragam.

Menurut Jojo, para responden rela mengeluarkan dana untuk mengikuti webinar berbayar sesuai dengan kemampuan ekonominya dan kebutuhan mereka masing-masing. Dari responden yang menyatakan tertarik mengikuti webinar berbayar tersebut, 60 persen diantaranya bersedia membayar dengan kisaran antara Rp 100 – 200 ribu. Sementara itu 13 persen responden lainnya bersedia membayar lebih dari Rp 200 ribu dan 8 persen bersedia membayar bila harganya kurang dari Rp 100 ribu. ”Yang penting buat mereka, syarat webinar berbayar yang diminati di antaranya memiliki konten atau materi inspiratif, eksklusif, berbicara hal teknis dan menampilkan pembicara yang keren dan popular,” kata Jojo.

60 persen responden juga mau ikut webinar berbayar asalkan memiliki konten inspiratif karena ingin mempelajari hal baru dan merasa termotivasi. 51 persen responden ingin konten yang ekslusif, bagus dan jarang ditemui di webinar lain. “50 persen responden ingin ikut karena materinya tentang hal teknis dan memberikan tutorial secara step by step. Dan terakhir 31 persen respon rela membayar karena pembicara dalam webinar tersebut profesional, praktisi dan terkenal di bidangnya,” kata Jojo.

Sumber : https://gaya.tempo.co/


  • -

Soal Pembukaan Pariwisata Bali, Ini Kata Menpar Wishnutama

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, Selasa (16/6/2020) pukul 14.43 Wita. Wishnutama mengatakan, kunjungannya kali ini untuk membicarakan kesiapan Bali terkait pembukaan pariwisata di saat new normal bersama pemerintah daerah. Ia belum memastikan kapan pariwista di Bali akan dibuka kembali.

“Belum tahu (kapan dibuka), kan tergantung kesiapan daerah masing-masing. Itu yang mau dibicarakan,” kata Wishnutama, di Bandara Ngurah Rai, Selasa (16/6/2020) sore. Ia juga mengatakan, Bali seharusnya sudah siap dalam new normal. “Iya, harusnya siap ya. Saya lagi memastikan saja,” kata dia. Sebelumnya, Gubernur Bali I Wayan Koster angkat bicara terkait permintaan pembukaan sektor pariwisata yang disampaikan sejumlah pihak. Koster tak ingin buru-buru mengambil keputusan itu.

“Kita jangan terburu-buru terpancing dengan sodokan agar kita cepat membuka pariwisata,” kata Koster, di Gedung DPRD Bali, Senin (15/6/2020). Koster mengaku, sudah mendapat arahan dari Ketua Gugus Tugas Nasional Doni Monardo agar hati-hati dalam membuka sektor pariwisata. Pemerintah Provinsi Bali, kata dia, mempertimbangkan dinamika kasus Covid-19 sebelum membuka sektor pariwisata.

Sumber : https://regional.kompas.com/


  • -

Pariwisata Tunggu Kedatangan Wisatawan Mancanegara dengan Aturan “New Normal”

Bali sebagai barometer pariwisata Indonesia berhati-hati mempersiapkan kegiatan pariwisata dan memantau perkembangan kebijakan negara-negara lain terkait perjalanan ke luar negeri.

Sektor pariwisata di Indonesia selama triwulan pertama dan kedua 2020 terpuruk ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Banyak usaha pariwisata dan hotel ditutup menyebabkan pegawai diberhentikan atau dirumahkan akibat perebakan virus corona.

Ida Bagus Purwa Sidemen, Direktur Eksekutif BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali mengatakan meski Bali ingin mengembalikan pariwisata seperti sebelumnya namun protokol-protokol baru yang diterapkan pemerintah akan mempengaruhi sektor ini.

Ida Bagus Purwa Sidemen, Direktur Eksekutif BPD PHRI Bali (foto: courtesy).
Ida Bagus Purwa Sidemen, Direktur Eksekutif BPD PHRI Bali (foto: courtesy).

“Mungkin kembalinya pariwisata, tidak seperti “booming” atau maraknya pariwisata sebelum covid karena kalau saya contohkan di hotel ada beberapa prosedur SOP yang diterapkan termasuk misalnya di dalam hotel terdapat restoran, bagaimana mengatur jarak kursi antara satu dengan yang lain, misalnya kalau dulu ada 100 kursi sekarang hanya bisa setengahnya, 50 kursi dan lain sebagainya,” kata IB Purwa Sidemen.

Sejak perebakan virus corona, Indonesia telah kehilangan sumber perolehan devisanya dari sektor pariwisata demikian pula triliunan rupiah pendapatan pajak hotel dan restoran. Direktur Eksekutif BPD PHRI Bali mengatakan dari target sekitar 4,7 triliun rupiah pendapatan pajak hotel dan restoran yang ditetapkan tahun 2020, pemerintah provinsi Bali telah kehilangan hampir 2 triliun rupiah.

Putu Astawa Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali (foto: courtesy).
Putu Astawa Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali (foto: courtesy).

Putu Astawa, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali mengatakan ambruknya pariwisata akibat covid menyebabkan pertumbuhan ekonomi Bali sejak bulan Januari hingga Maret 2020, minus 1,14 %.

Meski ada pelonggaran pembatasan kegiatan masyarakat secara bertahap, Pemda Bali belum menetapkan kapan pariwisata akan mulai dibuka kembali mengingat situasi masyarakat dan kebijakan pemerintah pusat serta pemerintah asal wisatawan asing.

“Karena dari pusat sendiripun pariwisata internasional juga belum dibuka, penerbangan belum ada kemudian negara-negara luar juga belum ada melakukan perjalanan untuk perjalanan luar negeri mereka sehingga masalah visa juga belum ada kejelasan dari pemerintah kita,” lanjut Putu Astawa.

Akibat situasi ini, pariwisata masih mempersiapkan kondisi “new normal” karena tren mendatang pada pariwisata global akan berfokus pada CHS “Clean, Health, Safety” atau Kebersihan, Kesehatan dan Keamanan, kata Putu Astawa. Beberapa negara wisatawan asing, seperti Belanda dan Australia telah menyampaikan rencana perjalanan luar negeri mereka.

Objek wisata Taman Mumbul di Sangeh, Bali (foto: Gus Santi Utama).
Objek wisata Taman Mumbul di Sangeh, Bali (foto: Gus Santi Utama).

“Rata-rata menyampaikan sekitar bulan Oktober, baru akan bepergian kalau toh kelihatannya Juli dibuka Bali, mungkin juga belum ada wisatawan yang datang,” tambah Putu Astawa.

Terkait citra pariwisata dan upaya meyakinkan warga asing, Pemda Bali juga menyambut partisipasi desa dalam mengamankan wilayahnya lewat keterlibatan aparat petugas pengaman desa adat (pecalang) dalam mencegah perebakan di wilayahnya. Partisipasi ini menjadi kampanye lunak pariwisata, dan telah berimbas pada pencapaian tingkat kesembuhan Bali yang tertinggi dari virus corona di Indonesia.

Putu Agus Yudiawan, pengamat dan aktivis pariwisata dan sosial di Bali, mengatakan terlepas dari kebijakan pemerintah, warga yang selama hampir enam bulan menggantungkan diri pada inovasi mata pencaharian daripada pendapatan sektor pariwisata, siap Bali dibuka kembali.

Warga Menuju Pura di Bali (foto: Gus Santi Utama).
Warga Menuju Pura di Bali (foto: Gus Santi Utama).

“Saya sudah berkecimpung di pariwisata lama selama 24 tahun, saya kira Bali selalu siap untuk menerima pariwisata, baik dengan aturan “New Normal”. Di Bali sudah mulai ada perubahan-perubahan signifikan tentang cara hidup misalnya restoran, di depan rumah makan yang dulunya tidak ada tempat cuci tangan sekarang ada, apalagi hotel lebih dari siap,” kata Agus Yudiawan.

Hingga pertengahan Juni 2020, dari sekitar 5000 hotel berbintang dan non bintang dengan 146 ribu kamar di Bali, tingkat hunian hotel kurang dari 2 %. [my/jm]

Sumber : https://www.voaindonesia.com/


  • -

Kawasan Wisata di Kota Bandung Siap Dibuka Kembali

Jakarta – Pemerintah Kota Bandung saat ini mempersiapkan dan memantau regulasi protokol kesehatan di kawasan wisata di Kota Bandung. Seperti halnya mal, kawasan wisata pun harus menyiapkan diri agar diberikan segera direlaksasi.

Rencananya setelah mal dan pusat perbelanjaan, sektor pariwisata secara umum akan diberikan relaksasi jika sektor pariwisata mampu menyiapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya transmisi Covid-19.

“Standar yang paling penting, antrean harus physical distancing, ada tempat cuci tangan, termasuk tempat isolasi, kalaupun ada wahana seperti di taman lalu lintas itu harus langsung dibersihkan disinfektan,” ujar Yana, Selasa, 16 Juni 2020.

Yana pun mengaku sudah melakukan pemantauan objek wisata yang ada di Kota Bandung, seperti Taman Lalu Lintas, Kebun Binatang Bandung dan Karang Setra.

Menurut Yana, ketiga kawasan wisata tersebut merupakan kawasan pariwisata outdoor yang merepresentasikan kesiapan sektor pariwisata untuk kembali beroperasi.

Berdasarkan pantauannya, untuk pariwisata seperti Taman Lalu Lintas kemungkinan tidak boleh langsung membuka semua wahana yang ada.

“Wahana itu sebenarnya jangan dulu, termasuk kantin, itu tahapan berikutnya lah, jadi kalau kolam renang, ya itu saja (kolamnya saja). Di kebun binatang ya di sana dulu, taman lalu lintas juga hanya kereta dan sepeda yang lain belum, bertahap,” katanya.

Nantinya, kawasan wisata juga akan diberlakukan pembatasan kapasitas yakni hanya boleh diisi 30 persen dari kuota maksimal tempat wisata tersebut.

“Kalau kapasitas tetap 30 persen dulu, karena (Kota Bandung) masih zona kuning, kita sudah 5, tinggal satu angka lagi, syukur-syukur bisa loncat ke 7 jadi zona hijau,” ucapnya.

Menurut Yana, jika mengacu pada aturan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) proporsional, sebetulnya ketiga tempat wisata itu sudah boleh beroperasi. Namun, ketiganya belum memenuhi protokol kesehatan.

“Itu domainnya ada di Disbudpar dan Satpol PP, tadi kita lihat kesiapannya kita juga diskusi apa saja yang harus disiapkan. Jadi tergantung dari kesiapan pengelola pariwisata ini, kapan mereka bisa melengkapi, setelah lengkap mereka buat surat ke Disbudpar, kita tinjau ulang dan dibuat simulasi setelah siap,” katanya.

Berdasarkan keputusan PSBB Proporsional kali ini, baru Saung Angklung Udjo saja yang diperbolehkan beroperasi dengan melihat dari kesiapan penerapan protokol kesehatan.

Selain itu, kata Yana, para pengelola pariwisata juga harus membuat surat pernyataan akan menerapkan standar protokol kesehatan. “Ketika nanti terjadi ada standar yang tidak dilakukan, akan ditutup kembali,” katanya.

Sumber : https://bisnis.tempo.co/


  • -

Bentuk dan Cara Berwisata yang Diminati dalam Masa New Normal

Jakarta – Masa new normal atau tatanan kehidup baru dengan tetap memperhatikan pencegahan penularan Covid-19 sudah berjalan. Masyarakat mulai beraktivitas kembali dan menerapkan protokol kesehatan, seperti memakai masker, menerapkan physical distancing, dan menjaga kebersihan. Lambat laun, sektor pariwisata yang diketahui paling terpukul akibat pandemi Covid-19 ini juga kembali menggeliat. HIS Travel Indonesia memperkirakan ketika jenis wisata yang banyak diminati dalam masa new normal ini. General Manager Business Strategy Management HIS Travel Indonesia, Duma Asianna mengatakan wisata alam akan menjadi pilihan utama masyarakat untuk berlibur. Setelah jenuh berada di rumah saja, banyak orang ingin berjalan-jalan menikmati udara segar dan keindahan alam. Ilustrasi keluarga bepergian dengan kendaraan pribadi. Shutterstock “Berlibur di alam juga membuat wisatawan lebih leluasa menerapkan jarak fisik dengan orang lain,” kata Duma Asianna melalui keterangan tertulis, Jumat 5 Juni 2020. Untuk mencapai destinasi wisata alam berupa pegunungan atau pantai, masyarakat cenderung menggunakan transportasi pribadi yang tidak berisiko untuk kesehatan atau penularan Covid-19. Dalam periode new normal ini, Dumma Asianna melanjutkan, masyarakat juga memilih destinasi wisata yang berada tak jauh dari rumah. “Kita sering menyebutnya dengan staycation,” kata dia. Dengan bentuk dan cara berwisata itu, dia memperkirakan, berbagai sektor penunjang industri pariwisata juga mulai menggeliat. Di antaranya bisnis restoran dan hotel. Wisatawan tentu akan mencari tempat makan untuk mengisi perut selama perjalanan. Untuk staycation, hotel atau vila, dan sejenisnya menjadi alternatif yang menarik untuk dipilih. Sumber : https://travel.tempo.co/