Monthly Archives: October 2020

  • -

Harapan Pada Desa Wisata Agar Mampu Sebagai Stimulus Kebangkitan Kembali Pariwisata Indonesia

Desa Wisata merupakan salah satu bentuk Kelembagaan di bidang pariwisata yang membutuhkan pengelolaan strategis demi keberlangsungan suatu destinasi dan industri pariwisata. Sebagaimana berwisata merupakan dambaan setiap orang, baik lokal – domestik – internasional maka desa wisata pun perlu menciptakan hal-hal kreatif dan unik untuk mendukung popularitas dan daya tarik destinasi. Saat ini ketika pandemi COVID-19 melanda, orang akhirnya tidak bisa berwisata baik karena disiplin agar tidak bepergian untuk memutus mata rantai penyebaran virus selain alasan keterbatasan keuangan.

Foto : Ketut Swabawa, Sekjen DPD MASATA BALI bersama ketua Forum Komunikasi Desa Wisata (Forkomdewi) Provinsi Bali, I Made Mendra Astawa di Kaniva-Student Coffee di Mengwitani, Badung

Bagaimana prospek kebangkitan pariwisata pasca pandemi? Menurut Ketut Swabawa, Sekjen DPD MASATA BALI, dampak pandemi pada perubahan perilaku manusia dan kampanye protokol kesehatan mengarahkan target kunjungan wisatawan ke pedesaan. “Untuk jangka pendek sepertinya demikian, wisatawan cenderung memilih low risk covid destination dengan kriteria jauh dari keramaian, cahaya matahari maksimal, sirkulasi udara yang sempurna serta terhindar dari populasi padat dan kerumunan pengunjung. Untuk Bali sangat mudah karena kita punya banyak desa wisata di seluruh kabupaten/kota, tinggal bagaimana kita bisa membangkitkan optimisme pelaku kegiatan wisata di desa dalam menyiapkan produk, layanan dan tata kelola yang adaptif dengan standar CHSE yang menjadi concern kita bersama” kata Swabawa ketika mengadakan pertemuan tatap muka dengan ketua Forum Komunikasi Desa Wisata (Forkomdewi) Provinsi Bali, I Made Mendra Astawa di Kaniva-Student Coffee di Mengwitani, Badung pada hari Rabu bertepatan hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2020.

Ditambahkannya pula bahwa pelaku usaha pariwisata saat ini harus bergandengan tangan dan menghindari strategi pengelolaan yang fraksional. Semua harus bersatu padu dalam spirit membangun industri pariwisata. “Kita harus menyadari bahwa wisatawan ke Bali untuk berwisata, jadi destinasi nya harus dijamin bagus dan menarik, destinasi kan ada di desa baik secara kewilayahan maupun pengelolaannya. Setelah menentukan destinasi barulah mereka memikirkan akan menginap dimana, cari hotel apa dan dimana. Jadi industri hotel pun saya kira harus memikirkan destinasi ini secara nyata karena dampaknya akan mereka nikmati” ujar mantan Wakil Ketua DPD IHGMA Bali periode 2016-2020 ini.

Mendra Astawa menyampaikan menyambut baik terbentuknya MASATA (Masyarakat Sadar Wisata) di Bali. Menurutnya semakin banyak yang memikirkan desa wisata di Bali akan semakin baik. “Kami dari Forkomdewi Provinsi Bali tentu sangat senang dengan keberadaan MASATA Bali dan siap bersinergi membangun dan mendampingi desa wisata yang ada. Tadi kami sudah jelaskan banyak hal tentang keberadaan dan karakteristik desa wisata yang ada di Bali. Termasuk kendalanya dan berharap MASATA Bali bisa mengambil peran strategis untuk memecahkan permasalahan bersama-sama” kata Mendra Astawa yang telah malang melintang di dunia pariwisata dan berbagai asosiasi ini.

Foto : Dr.(C). I Made Ramia Adnyana, SE.,MM,.CHA (Wakil Ketua Umum DPP IHGMA ).

Dihubungi secara terpisah, Ketua Umum DPD MASATA BALI, Dr.(C). I Made Ramia Adnyana, SE.,MM,.CHA menyampaikan program kerja jangka pendek asosiasi yang dipimpinnya sejak 3 Oktober 2020 ini adalah membentuk DPC di seluruh kabupaten/kota di Bali serta persiapan mengikuti Rakernas MASATA I 2020 yang akam dilaksanakan pada akhir November depan di Bandung. “MASATA telah ditunjuk oleh Kemenparekraf RI sebagai mitra kerja dalam mewujudkan desa wisata kategori Mandiri sebanyak 250 desa secara nasional hingga tahun 2024 mendatang. Jadi program kami sangat jelas yakni membangun kemandirian desa wisata dalam mewujudkan pariwisata berkualitas berbasis budaya dan kerakyatan. Rakernas bulan depan akan diikuti 10 DPD dan 34 DPC seluruh Indonesia dan kami dari Bali akan sampaikan hal-hal strategis dalam membangun desa wisata di era digital ini sehingga semakin dikenal secara global” kata pria yang juga Wakil Ketua Umum DPP IHGMA ini.

Sumber : http://www.ihgma.com/


  • -

Garut Menjadi Garda Terdepan Penerapan Pariwisata Berbasis CHSE

Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Bapekraf) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Teknis Kemitraan Strategi Promosi Pariwisata di Era Adaptasi Kebiasaan Baru di Garut pada Rabu (28/10/2020). Bimtek kali ini mengajarkan penerapan pariwisata berbasis Cleanliness, Health, Safety and Environtment Sustainability (CHSE)

Direktur Pemasaran Regional I, Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Bapekraf, Vinsenius Jemadu mengatakan melalui Bimtek ini Garut akan menjadi garda terdepan dalam penerapatan pariwisata berbasis CHSE. Ia menambahkan pariwisata berbasis CSHE ini merupakan salah satu strategi menghadapi masa adaptasi kebiasaan baru di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Saat pandemi seperti ini, CHSE menjadi pedoman wisatawan untuk menentukan destinasi wisata yang akan ditujunya. Pandemi membuat orientasi wisatawan dalam melakukan perjalanan mengalami perubahan drastis.” ujar Vinsensius Jemadu di Garut.

CSHE ini dibuat sebagai salah satu upaya pencegahan dan pengendalian Covid-19 terutama di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Kemenkes membuat peraturan ini sebagai jaminan kepada wisatawan dan masyarakat bahwa produk dan pelayanan yang diberikan sudah memenuhi protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan dan kelestarian lingkungan.

Sumber : https://infogarut.id/


  • -

Serap Banyak Hal, MASATA Aceh Kunjungi BPCB Aceh

Dewan Pengurus Daerah (DPD) Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) Aceh kembali menggelar audiensi dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh, Kamis (15/10/2010) sore.

Kunjungan dari MASATA Aceh ini disambut langsung Kepala BPCB Aceh Nurmatias bersama sejumlah stafnya di kantor setempat, daerah Peukan Bada, Aceh Besar.

“Ini merupakan kunjungan silaturrahmi MASATA Aceh dengan pihak BPCB Aceh guna untuk beraudiensi dan saling bertukar informasi mengenai lembaga masing-masing,” kata Kabid Pelestarian Budaya dan Pariwisata Berkelanjutan Arini Izzati mewakili Ketua MASATA Aceh Putri Syafrilia.

Kabid Media Informasi dan Humas MASATA Aceh Reza Fardian yang juga hadir dalam pertemuan ini mengungkapkan, selain mengenalkan organisasi dan lembaga, juga turut membicarakan sinergi program kerja.

“Ada sejumlah hal yang ingin kita bahas, termasuk diantaranya perkenalan lembaga serta program jangka pendek. Secara tegas Kepala BPCB Aceh sangat mendukung segala program kerja yang disusun pengurus MASATA Aceh,” ungkap Reza.

Kepala BPCB Aceh Nurmantias mengapresiasi atas kehadiran pengurus DPD MASATA Aceh untuk berkunjung langsung ke lembaga yang dipimpinnya.

“Saya baru saja menjabat sekitae 1 bulan di BPCB Aceh, jadi sangat senang bisa bersilaturrahmi dengan teman-teman dari MASATA Aceh. Kami jadi lebih tahu lebih mendalam tentang MASATA yang juga konsen dalam hal budaya,” jelas Nurmatias.

Lebih lanjut, Nurmatias menuturkan bahwa BPCB Aceh ingin cagar budaya yang ada di Aceh lebih dikenal masyarakat.

“Melalui MASATA Aceh kami ingin agar masyarakat luas mengenal cagar budaya di Aceh. Bagaimana bentuknya nantinya bisa dilakukan bersama dengan berbagai cara agar masyarakat juga ikut menjaga cagar budaya,” tukasnya.

Ketika disinggung mengenai kegiatan yang akan digelar BPCB Aceh dalam waktu dekat, Nurmatias mengatakan bahwa akan ada kegiatan Diskusi Kelompok Terpumpun serta Virtual Tour.

“Kami akan menggelar kegiatan Diskusi Kelompok Terpumpun tentang “Jalur Rempah” serta Virtual Tour Masjid Raya Baturrahman dalam waktu dekat. Saya ingin MASATA Aceh ikut terlibat dalam kegiatan tersebut,” tambahnya.

Terkait kolaborasi sendiri, Nurmatias mengatakan bahwa BPCB Aceh akan mendukung kegiatan MASATA Aceh.

“Terlebih lagi MASATA Aceh ini banyak digerakkan oleh anak muda serta penuh semangat jadi kami harus mendukungnya apalagi untuk hal-hal yang positif. Dengan kolaborasi segala kegiatan pasti akan lebih ringan untuk dilaksanakan,” tutupnya.

Sumber : https://acehnow.com/


  • -

Terapkan Prokes, Masata Audiensi dengan Wakil Ketua DPRD Pekanbaru

PEKANBARU, (RIAUPOS.CO) – Pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Masyarakat Sadar Wisata (Masata) Kota Pekanbaru,  melakukan audiensi dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) bersama Wakil Ketua DPRD Pekanbaru Ginda Burnama ST, Rabu (21/10).

Selain memperkenalkan organisasi, kedatangan Ketua DPC Masata Pekanbaru Abdul Khair, Wakil Ketua I Bidang Organisasi Lismar Sumirat SE Ak MM, Sekretaris Budi Setiawan SIkom, Bidang Penelitian Pengembangan SDM Tonny Martinoes SM PAR dan Bendahara DPD Masata Riau Harpina Diansari ini, untuk mengajak Ginda sebagai Dewan Penasehat Organisasi DPC Masata Pekanbaru periode 2025-2025.

Ketua DPC Masata Pekanbaru Abdul Khair menjelaskan, Masata merupakan wadah organisasi pariwisata yang berbasis komunitas Indonesia yang memiliki visi sebagai organisasi pelaku, pemerhati dan pecinta pariwisata Indonesia yang berkompeten dalam mendukung pariwisata berkelanjutan di Indonesia. “Masata berdiri tahun 2018.

Saat ini memiliki pengurus dari pusat, provinsi hingga kabupaten/kota. Di Riau yang sudah terbentuk adalah Pekanbaru dan Kampar. Khusus Pekanbaru, akan dikukuhkan dalam waktu dekat. Untuk itu,  kami minta kesediaan Ginda Burnama menjadi Dewan Penasehat DPC Masata Pekanbaru,” ujarnya.Ada lima fokus Masata, yakni mendukung sektor pariwisata sebagai penyumbang devisa terbesar, meningkatkan ekonomi daerah melalui pariwisata, ikut mendorong desa wisata, kawasan wisata dan destinasi wisata, sebagai narahubung dalam kepentingan pusat dengan daerah.

Selanjutnya membangun siner­gitas dan kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam industri. Wakil Ketua DPRD Pekanbaru Ginda Burnama ST, menyatakan kesediaanya menjadi Dewan Penasehat Organisasi DPC Masata Pekanbaru. “Saya berharap, hadirnya Masata bisa menaikkan gairah pariwisata khususnya di Kota Pekanbaru. Masata harus bersinergi bukan saja pemerintah. Namun juga travel dan pelaku pariwisata lainnya,” ucapnya.(mar)

Sumber : https://riaupos.jawapos.com/


  • -

Tegal Mas Dapat Piagam Masata untuk Destinasi Wisata Bersih, Sehat, Aman, dan Menjaga Lingkungan

Organisasi komunitas pelaku, pemerhati, pecinta pemajuan dunia pariwisata Indonesia, Masyarakat Sadar Wisata (MASATA), secara eksklusif memberikan penghargaan bergengsi kepada pengampu destinasi wisata Pulau Tegal Mas, Pesawaran, Lampung, Jumat 9 Oktober 2020.

Penghargaan itu berupa Piagam Apresiasi Pulau Tegal Mas Lampung Telah Memenuhi Persyaratan Standarisasi CHSE (Cleanliness, Healthty, Safety, and Environmental Sustainability) Destinasi Pariwisata Indonesia.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) MASATA Panca Rudolf Sarungu dan Sekretaris Jenderal Andi Azwan, didampingi sejumlah pengurus DPP menyerahkan piagam tersebut kepada Direktur Utama PT Tegal Mas Thomas, Rafsanzani Patria, mewakili Thomas Azis Riska selaku owner destinasi.

Penyerahan di sela kunjung lapang itu berlangsung hangat di dermaga utama Pulau Tegal Mas, di bawah pandu ketat protokol kesehatan COVID-19.

Direktur Operasional Pulau Tegal Mas, Happy Yulizar, hangat menyampaikan ucapan selamat datang. Disusul kata sambutan dari Sekjen DPP MASATA Andi Azwan, mewakili ketumnya.

Andi mengungkapkan, pihaknya cukup tersanjung atas sambutan tuan rumah. “Pulau Tegal Mas ini sungguh karunia Tuhan yang luar biasa. Surga kecil, Maldives of Indonesia, from Lampung,” pujinya disahut aplaus yang hadir.

Menjelaskan maksud kedatangan, tak lupa Andi mensosialisasikan berikut hasil agenda diskusi fokus terpumpun/ Focus Group Discussion (FGD) Strategi Reaktivasi Pariwisata Nusantara di Provinsi Lampung, sehari sebelumnya, Kamis 8 Oktober 2020, di Hotel Bukit Randu, Bandarlampung.

Gelaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bareng MASATA itu, membangunkan kembali optimisme elemen pemangku kepentingan sektor pariwisata regional se-Sumatera.

Yakni untuk tetap tangguh bertahan di tengah pandemi, bersama meyakini bahwa pemajuan pesat akan kembali dirasakan masyarakat pariwisata di Indonesia pascapandemi, disertai kata kunci proses pemajuannya: kolaborasi.

“Alhamdulillah kegiatan FGD yang dilaksanakan oleh Kemenparekraf dan MASATA berjalan dengan sukses. Demikian juga Kick Off Penerapan Protokol Pariwisata dan Sosialisasi Digitalisasi Pariwisata MASATA dan Telkom Indonesia, di Lembah Hijau Lampung, kemarin (Kamis),” ujarnya.

Pria berlatar 20-an tahun pengalaman profesional sejumlah perusahaan multinasional di Jakarta-Hongkong ini menambahkan, dengan tangan terbuka pihaknya mengajak Pulau Tegal Mas bersinergi berkolaborasi memajukan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Lampung, Sumatera dan Indonesia.

“MASATA siap mendukung dan bekerja sama, kami juga siap mempromosikan tempat yang indah ini melalui semua media sosial MASATA,” janjinya.

Dirut Tegal Mas, Rafsanzani Patria, semangat pidatonya berterima kasih atas penganugerahan piagam apresiasi, juga mengatakan itu jadi sebuah kebahagiaan, kebanggaan, kesan mendalam, pelecut semangat pihaknya untuk terus berbuat terbaik bagi pemajuan pariwisata di Lampung.

Paparannya, soal seluk beluk muasal berdirinya destinasi Tegal Mas, yang beroperasi sejak 2018 usai Thomas Azis Riska bersama warga setempat bahu-membahu dan jatuh bangun membangun pulau eksotis itu.

“Dulunya pulau ini bisa dibilang pulau hantu, tak berpenghuni. Saat kami para warga sini, bertemu pak Thomas Riska selanjutnya terus berjuang bersama-sama hingga saat ini, saat itu kami menemukan selain lautan sampah juga ada mohon maaf, 86 mayat manusia saat pembersihan pulau dan wilayah sekeliling,” ungkap dia, bikin kaget juga tercengang yang mendengarnya.

Dia menambahkan, sebelum dikelola pihaknya, Pulau Tegal Mas juga dikenal sebagai penampung ‘setia’ sampah laut dan pesisir pantai Teluk Lampung.

“Sampai sekarang masih pak. Disini ada siklus Januari-Februari, di bulan itu pulau ini kedatangan sampah berton-ton jumlahnya. Eksavator kami pun tak cukup imbangi volume sampah yang ada. Abis gimana, masih buruknya sistem penanganan sampah oleh pemda, tak heran warga di pesisir sana rata-rata buang sampah ya ke laut. Dari itu kami juga aktif bersama lakukan penyadaran,” Rafsazani setengah curhat mengeluarkan unek-unek suka duka.

Sekadar informasi, apa CHSE dan Say CHSE, peran MASATA berkecimpung didalamnya, secara normatif CHSE ini Panduan Pelaksanaan Kesehatan, Kebersihan, dan Keselamatan untuk sektor Hotel, Restoran dan Bioskop.

Menparekraf/Kepala Baparekraf Wishnutama Kussubadio meluncurkan program tematik ini bareng program “Indonesia Care” atau I Do Care pada 11 Juli 2020 lalu, ditandai dengan pemutaran video “Indonesia Care” di Studio XXI Plaza Senayan, Jakarta.(*/rls)

Sumber : https://lampung.tribunnews.com/


  • -

Kemenparekraf Yakin Pariwisata Akan Jadi Sektor Utama Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Pasca Pandemi

Direktorat Pemasaran Pariwisata Regional I, Deputi Bidang Pemasaran, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berkolaborasi dengan DPP Masyarakat Sadar Wisata (MASATA), melaksanakan FGD dengan tema Strategi Reaktivasi Pariwisata Nusantara.

FGD yang dilakukan di Hotel Bukit Randu, Kamis, 8 Oktober 2020 itu dilaksanakan seiring dengan keyakinan sektor pariwisata akan menjadi sektor utama penggerak meningkatkan pertumbuhan ekonomi pasca-pandemi Covid-19, meningkatkan kesejahteraan rakyat, menghapus kemiskinan, dan mengatasi pengangguran.

Kegiatan dilaksanakan secara hybrid dihadiri oleh seluruh stakeholders pariwisata, dan pengurus MASATA dari Sumatera serta disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube.

Direktur Pemasaran Pariwisata Regional 1 Kemenparekraf Vinsesnius Jemadu, yang menjadi keynote speaker secara daring pada FGD ini mengungkapkan, potensi pariwisata domestik sebanyak 260 Juta, tahun lalu sebelum pandemi terus dicoba untuk dipertahankan karena pariwisata adalah salah satu safety net ekonomi Indonesia.

Seiring dengan itu Kemenparekraf membuat program InDOnesia CARE (IDOCARE) untuk melakukan protokol kesehatan dan kampanye wisata #DiIndonesiaAja, bekerjasama dengan assosiasi dan stakeholder terkait termasuk pemerintah daerah.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung Edarwan, sebagai tuan rumah sangat mengapresiasi acara yang diselenggarakan oleh Kemenparekraf/Baparekraf bersama MASATA.

Pada kesempatan ini Edarwan memaparkan tentang potensi pariwisata di Lampung dengan 3 zonasi, yaitu Zona I Teluk Lampung, Selat Suekrnda, dan sekitarnya. Zona II Pesisir, Pantai Barat, TN BBS dan sekitarnya. Kemudian zona III TN Way Kambas dan sekitarnya.

“Lampung memiliki potensi pariwisata yang sangat luar biasa dan ke depan ini akan terus kami kembangkan dengan berkolaborasi dengan berbagai stakeholders terkait, agar perekonomian masyarakat dapat semakin meningkat,” kata Edarwan, Kamis.

Ketua Umum MASATA Panca R Sarungu, menyampaikan, di masa pandemi Covid-19, stakeholders kegiatan pariwisata harus saling mendukung agar industri pariwisata semakin tangguh melewati tantangan.

Kata kuncinya saat ini adalah kolaborasi, masa pandemi ini memberikan kesempatan untuk duduk bersama dan memanfaatkan kekuatan wisata nusantara khususnya dalam mendukung kampanye Kemenparekraf #DiIndonesiaAja.

“Misalnya wisata dalam pulau yang sama atau antar pulau yang berdekatan seperti Jakarta ke Lampung atau Bandung ke Palembang,” kata Panca.

Panca menambahkan, hikmah pandemi Covid-19 adalah para pihak yang terlibat dalam keseluruhan kegiatan pariwisata semakin menyadari betapa pentingnya keterpaduan antarsektor, antar-aktor, dan antardaerah, serta keterpaduan antara pusat dan daerah dalam wujud sinergitas dan kolaborasi dalam mempersiapkan Indonesia menuju destinasi pariwisata International berwawasan pariwisata berkelanjutam atau sustainable tourism.

Executive Vice President Business Service Telkom Indonesia Syaifudin yang juga juga hadir secara daring menyampaikan paparan terkait strategi digitalisasi dalam membantu pemulihan sektor pariwisata daerah.

Sebagai perusahaan plat merah, Telkom Indonesia akan terus meningkatkan layanan khususnya pariwisata.

Utamanya melalui pemanfaatan data insights sebagai dasar analisis market yang bisa dimanfaatkan untuk perencanaan, data driven marketing plan, pembuatan strategi promosi, serta monitoring dan evaluasi hasil promosi yang dapat membantu membuat kebijakan pariwisata di destinasi.

Sekertaris Jendral DPP MASATA Andi Azwan menyampaikan dipilihnya Lampung sebagai lokasi dikarenakan adalah Jantung di Sumatera dari hasil dari pembangunan infrastruktur penggerak pariwisata Nusantara.

Ini merupakan arahan Presiden Joko Widodo yang menargetkan lebih dari 2.000 km jalan tol tersambung dari Lampung hingga Aceh pada akhir 2024.

Rencananya jika seluruh target tercapai, membangun lebih dari 3.000 km jalan tol dalam 10 tahun memerintah atau sekitar 300 km setiap tahunnya, tidak saja mendukung pergerakan barang namun juga orang berwisata

Dia menyadari, kepariwisataan akan berubah pasca-pandemi Covid-19. MASATA menjadi perkumpulan yang berperan strategis dalam upaya menopang kebangkitan pariwisata Indonesia di tengah perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.

Terhadap kepariwisataan yang memelihara kelestarian alam, lingkungan, dan sumberdaya, MASATA juga meyakini, kepariwisataan akan memajukan kebudayaan, mengangkat citra, memupuk cinta tanah air, memperkukuh jati diri, dan mempererat kebangsaan.

Sumber : https://lampung.tribunnews.com/