Monthly Archives: December 2020

  • -

MICE dan Bisnis Even ‘Pertolongan Pertama’ Bagi Pariwisata

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pandemi tahun ini menyebabkan kerugian sekitar Rp 7 triliun bagi industri pariwisata Indonesia khususnya penyelengaraan MICE (Meeting, Incentive Convention and Exhibition). Namun demikian, dalam dua bulan terakhir–mulai perlahan tapi pasti–ada harapan baru, utamanya berkat aktivitas kementerian dan pemerintah daerah melakukan kegiatan penyerapan anggaran di hotel.

Industri MICE dan perjalanan wisata terbukti menjadi pertolongan pertama (first aid) yang berkontribusi dalam perjalanan menuju pemulihan pariwisata dan pemulihan ekonomi khususnya triwulan terakhir.

photo

Hype Festival Indonesia dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia menggagas Wonders untuk mempromosikan destinasi wisata unggulan Tanah Air. – (Hype Festival)

Minggu ini (tanggal 1-3 Desember), sebuah perhelatan pertemuan bisnis berbasis virtual dan bertajuk 2nd Indonesia International MICE Expo 2020 berhasil digelar. Kegiatan ini mempertemukan seller dan buyer pada sesi bisnis One on One menggunakan flaform Jublia Business Matching menghasilkan 570 pertukaran informasi dan 146 pertemuan bisnis langsung selama 3 hari.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaran Kegiatan (Events) Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Rizki Handayani Mustafa, membuka resmi rangkaian kegiatan IIME 2020. Dia pun menyampaikan optimisme penyelenggaraan MICE kembali bergerak seiring dengan kepercayaan daripada masyarakat, khususnya dalam mengunaka fasilitas MICE termasuk di hotel yang menyosialisasikan protokol kesehatan secara ketat khususnya dukungan Kemenparekraf dengan pemberian sertifikasi CHSE ( Cleanliness Health Safety and Environment Friendly ) secara gratis.

“Kami tetap menghimbau terjadinya pertemuan walau dalam jumlah terbatas agar industri ini tetap berjalan dan kita terbiasa dalam protokol baru. Kami juga berharap dinas pariwisata daerah bekerja sama erat dengan otoritas setempat yang memberikan izin penyeleggaraan acara sesuai protokol kesehatan dalam hal pembatasan jumlah peserta dan dilakukan secara hybrid yaitu online dan offline,” katanya.

Co Founder IIME Panca R Sarungu menyampaikan, untuk membuat acara ini lebih  produktif, sistem Business Matching Jublia yang digunakan IIME 2020 mirip bahkan lebih baik dari dengan yang digunakan oleh beberapa kegiatan Virtual Internasional seperti ITB Asia Singapura dan WTM Inggirs baru-baru ini. Sistim ini, kata dia, memungkinkan pertemuan bisnis tatap muka dan fitur lanjutan lainnya.

Hanya saja, tantangan utamanya adalah membiasakan normal baru dalam diskusi secara online dengan orang baru dan beberapa hal teknis yang kedepan akan terus disempurnakan.

“Terdapat 57 perusahaan penyedia jasa MICE di Indonesia sebagai seller dan 60 buyers dari domestic dan internasional bersemangat untuk mendiskusikan rencana bisnis di tahun 2021, ada harapan dari testimoni yang diberikan dari seller dan buyer pada perhelatan 3 hari ini.  Meski dalam masa pandemi terjadi peningkatan 15 persen dari event pertama,” katanya.

Tercatat buyers yang diseleksi dan lolos kriteria buyer dari Amerika Serikat, Australia, Spanyol, Arab Saudi, Singapura, Filipina, Jerman, India, Nigeria, Belanda dan juga pelaku bisnis dari seluruh Indonesia.

Sementara Awan Aswinabawa, CEO A&T Travel Nusa Tenggara Barat menyambut baik pelaksanaan event ini dan merasakan manfaat dari pertemuan Face to face dengan pihak pembeli dari mancanegara. Untuk ini, dirinya mengapresiasi sistim business matching yang dipilih oleh penyelenggara IIME yang memungkinkan membuat jadual pertemuan, rescheduling dan bahkan presentasi ibarat bertemu langsung.

“Ini kesempatan menarik bertemu banyak calon pembeli produk wisata dari mancanegara walau secara virtual sekaligus memberikan update terbaru jika suatu saat kesempatan berwisata antar Negara dibuka kembali. Ke depan semoga event seperti ini dapat juga dilakukan di berbagai daerah tujuan Wisata MICE,” ujarnya.

Direktur Wisata Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran Kemenparekraf Masruroh, pada kesempatan sebelumnya mendukung terjadinya perjalanan oleh para korporasi. “Kami juga menginisiasi kegiatan familiarization trip untuk korporasi, yang diharapkap melihat langsung penerapan protokol CHSE sekaligus membangun kepercayaan kepada para pengambil keputusan dalam perusahaan untuk melakukan perjalanan dinas dan meeting bagi karyawan diluar kantor khususnya ke Destinasi MICE di Indonesia dengan ketentuan dan protokol kesehatan yang berlaku,” ujarnya.

Yang unik dari acara ini, kata Jim Tehusijarana, Co Founder IIME adalah dilakukan 24/7 karena perbedaan waktu seseorang pada pagi hari di London dapat bertemu dengan penjual Indonesia di Denpasar pada malam hari atau sebaliknya. Selain itu ada pertemuan bisnis presentasi yang di dukung PT Telkom Indonesia untuk memberikan kempatan berapa perusahaan melakukan bisnis presentasi.

“Kami juga dengan senang hati mengumumkan bahwa para seller dan buyer masih tetap mempergunaka fasilitas business matching hingga 7 hari ke depan, sehingga buyer dan seller masih dapat beriteraksi hingga tanggal 10 Desember,” ujarnya.

Perhelatan IIME adalah hasil yang bekerja sama dengan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta didukung oleh Asosiasi Pariwisata di Indonesia diantaranya GIPI (Gabungan Industri Pariwisata Indonesia), ASITA (Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia), PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia), MASATA (Masyarakat Sadar Wisata), dan IHGMA (Indonesian Hotel General Manager Association).

IIME diorganisir bersama oleh para pelaku usaha di industri MICE yang terdiri dari AlcorMICE sebagai perusahaan yang membawahi beberapa unit usaha, salah satunya di bidang venue. Selanjutnya, RajaMICE yang merupakan perusahaan dibidang professional conference organizer, dan TripEvent sebagai perusahaan yang mengelola trip and event management company.

Sumber : https://republika.co.id/


  • -

MASATA, Pengembangan Desa Wisata Menuju 205 Desa Mandiri Tahun 2024

KAPOL.ID – Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I dan Focus Grup Discussion (FGD) dengan mengusung tema “Pengembangan Desa Wisata Menuju 205 Desa Mandiri Tahun 2024”.

Acara berlangsung di Prime Park Hotel, Jalan PHH. Mustofa, Bandung, Jumat 27 November 2020.

Ketua Umum DPP MASATA, Panca Rudolf Sarungu mengatakan, Rakernas diselenggarakan untuk menyamakan persepsi dalam mendukung pariwisata berkelanjutan bagi pelaku, pemerhati dan pencinta pariwisata baik swasta maupun pemerintah untuk mewujudkan Indonesia sebagai tujuan wisata kelas dunia.

“MASATA menyambungkan kepentingan pemerintah untuk mewujudkan pariwisata Indonesia berkelas dunia dengan mengembangkan 205 Desa Wisata Mandiri sebagai program dalam menggerakkan prekonomian desa yang nantinya bisa dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa,” kata Panca.

Ketua Komisi X DPR, Syaiful Huda, menjelaskan, program Desa Wisata menjadi salah satu upaya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi baru.

Pengembangan desa wisata merupakan contoh ikhtiar pemerintah dalam menjadikan desa sebagai penyangga destinasi wisata utama maupun alternatif.

“Dengan adanya Desa Wisata Mandiri pertumbuhan ekonomi di desa akan terdorong, Melalui desa wisata, masyarakat akan terlibat. Desa-desa juga bisa menjadi sentra baru tumbuhnya pendapatan baru,” katanya

Ditempat yang sama, General Manager Divisi Business Service (HBS), PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk, Dedy, ST menjelaskan, PT Telkom Indonesia telah membuat Aplikasi MASATA agar setiap desa bisa berkomunikasi antar komunitas, Aplikasi MASATA bisa digunakan sebagai payment, transaksional sesama membernya yang betul-betul case plus

“Aplikasi MASATA berisi fitur yang dapat digunakan pembayaran dengan mesin digital, tinggal tapping transaksi menginap dihotel maupun pembayaran terselesaikan dengan praktis.” kata Dedy

Dedy berharap Aplikasi MASATA bisa memajukan Desa Wisata, khususnya obyek wisata yang memiliki tempat penginapan.

Sehingga booking engine yang dimiliki hotel dapat langsung melakukan pembayaran tanpa melalui OTA.

“Selain itu Aplikasi MASATA juga memiliki dua kepentingan, yakni dapat digunakan link dengan server engine hotel dan bisa link kepada transaksi pembayaran melalui OTA.” pungkas Dedy. ***

Sumber : https://kapol.id/


  • -

MASATA Ingin Ada Kesamaan Persepsi Dukung Pariwisata Berkelanjutan

JAKARTA – Masyarakat Sadar Wista (MASATA) ingin agar pelaku, pemerhati, dan pecinta pariwisata memiliki kesamaan persepsi dalam mendukung pariwisata berkelanjutan. Sebagai bagian integral pembangunan Indonesia, kepariwisataan harus mendorong pemerataan kesempatan berusaha dalam memberi manfaat untuk keadilan dan kesetaraan.

“MASATA berharap agar kepariwisataan mampu menjamin keterpaduan antarsektor, antar-aktor, dan antardaerah selaku pemangku kepentingan dalam sinergitas dan kolaborasi antarpihak yang menjaga keharmonisan hubungan pusat dengan daerah,” ujar Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) MASATA Panca Rudolf Sarungu dalam siaran pers yang diterima SINDOnews, Sabtu (28/11/2020).

Untuk diketahui, MASATA menyelenggarakan focus group discussion (FGD) bertema ‘Pengembangan Desa Wisata Menuju 205 Desa Wisata Mandiri Tahun 2024’ di Prime Park Hotel, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (27/11/2020).

Sumber : https://nasional.sindonews.com/


  • -

Menparekraf RI Wishnu Tama Buka Rakernas Masata I Bandung, PT Telkom Luncurkan Aplikasi App Masata

BANDUNG, BABELREVIEW.CO.ID — Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreafit (Menparekraf) RI Wishnu Tama menghadiri dan sekaligus membuka Rapat Kerja Nasional (Rakornas) Masyarakat Sadar Wisata (Masata).

Rakornas Masata I ini diselenggarakan di Bandung, 26 – 28 November 2020. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh DPD dan DPC Masata yang sudah terbentuk di seluruh Indonesia. Untuk Bangka Belitung, mengirimkan perwakilan dari DPD Masata Babel, DPC Belitung dan DPC Belitung Timur

Tema rapat kerja organisasi Masata yang berbasis pemberdayaan masyarakat ini adalah  “Kebangkitan Pariwisata Indonesia Melalui Strategi Pengembangan Desa Wisata Menuju 205 Desa Wisata Mandiri pada Tahun 2024”.

Ketua DPD Masata Babel Syawaludin yang hadir dalam Rakornas Masata I mengungkapkan, dalam kegiatan tersebut durumuskan program kerja Masata tahun 2021.

Berbagai program strategis dalam pemberdayaan masyarakat diformulasikan. Tujuannya tak lain adalah Masata seluruh Indonesia akan ikut berkontribusi dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas destinasi wisata di Indonesia.

Fokus program kerja Masata adalah pemberdayaan dan pengembangan Desa Wisata di seluruh daerah di Indonesia.

Diceritakan Ketua Masata Babel Syawaludin, dalam arahanyanya Menparekraf RI Wishnu Tama mengatakan, dalam membangun pariwisata berkelanjutan  dibutuhkan keterlibatan semua pihak. Masata diharapkan mampu mendorong pariwisata yang berkualitas (quality tourism).

“Yang artinya jadikan perjalanan wisata adalah perjalanan yang berkesan memuaskan wisatawan. Sehingga mereka mendapatkan pengalaman baru dengan kearifan local yang ditonjolkan,” ujar Mas Menteri, sapaan akrab Menparekraf Wishnu Tama ini.

Lebih lanjut menurut Wishu, quality tourism yang dimaksud adalah keunikan yang dimiliki oleh suatu obyek wisata dan tidak dimiliki oleh daerah lain, dan ini  harus dipertahankan, dikelola dan dipromosikan kepada masyarakat luas.

Pada konsep ini hakekatnya para wisatawan itu mencari suatu yang berbeda yang tidak ada ditempat asalnya.

“Berilah mereka pengalaman baru yang memuaskan dengan pelayanan utama pada keramahan kepada para wisatawan, agar mereka mendapatkan pengalaman baru yang menyenangkan,” tukas Mas Menteri.

Dijelaskan Wisnu, kita tidak  perlu menjadikan pariwisata seperti Singapura, Washinton dan lain-lain. Paalnya jenis pariwisata tersebut bukan karakteristik Indonesia. Wisata Indonesia adalah keunikan dan kearifan local yang bertahan secara turun menurun selama ini.

Selain Menteri Pariwisata, kegiatan Rakernas Masata I ini dihadiri Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda. Dalam presentasinya Syaiful menyambut baik kehadiran organisasi Masata.

Menurut Syaiful, Masata sangat strategis keberadaannya dalam mendukung pariwisata berkelanjutan.

“Salah satu problem pariwisata adalah pemberdayaan kesadaran masyarakat. Masyarakat harus diajak untuk berkolaborasi bersama-sama  mendukung pariwisata, sebab keberhasilan pariwisata ini akan diukur seberapa jauh kebermanfaatannya kepada masyarakat, dan ekonominya semakin meningkat. Sejauh masyarakat belum menikmati kehidupan yang sejahterah, maka pariwisata perlu kita pertanyakan tingkat keberhasilannya,” ungkap Syaiful.

Rakernas Masata I ini bekerjasama dengan PT Telkom, yang diikuti dengan meluncurkan program aplikasi MASATA. Aplikasi ini adalah hibah PT Telkom dalam rangka mendukung pariwisata Indonesia.

Saat ini ada 32 juta wisatawan, dan jumlah ini merupakan angka yang sangat potensial.

Dalam aplikasi Masata ini, semuanya sudah dapat diakses dalam satu produk digital, baik berkenaan dengan lokasi pariwisata, produk unggulan, SDM, pemasaran pariwisata, bahkan penjualan tiket event, applikasi ini dinamakan App Masata. (BBR)
Sumber: Ketua Masata Babel


  • -

MASATA Gelar Rakernas I Menitikberatkan Pengembangan 205 Desa Wisata Mandiri

citarakyat.com, Bandung, 28 November 2020 – MASATA, Masyarakat Sadar Wisata menggelar Rapat Kerja Nasional I (Rakernas I) sekaligus menyelenggarakan focus group discussion (FGD) yang menitikberatkan pengembangan 205 Desa Wisata Mandiri.

Rakernas I dan FGD mengusung tema ” Pengembangan Desa Wisata Menuju 205 Desa Mandiri Tahun 2024′, di Prime Park Hotel, jl. PHH. Mustofa No. 47/57 Kota Bandung, bertujuan untuk menyamakan persepsi dalam mendukung pariwisata berkelanjutan bagi pelaku, pemerhati dan pecinta pariwisata baik di pemerintahan (kementrian/lembaga) maupun swasta (asosiasi/organisasi/perkumpulan).

Ketua Umum DPP MASATA, Panca Rudolf Sarungu mengatakan bahwa dibutuhkan sinergitas dan kolaborasi dalam membantu pemerintah mewujudkan Indonesia sebagai negara tujuan pariwisata kelas dunia.

“MASATA berusaha menyambungkan kepentingan pemerintah mewujudkan pariwisata Indonesia menjadi kelas dunia yang didukung atraksi yang menarik, aksesibilitas yang mudah dan amenitas yang berkualitas,” kata Panca.

Titik berat pada pengembangan 205 Desa Wisata Mandiri sebagai program dalam menggerakkan perekonomian desa yang dapat berasal dari dana desa sehingga nantinya desa wisata tersebut dapat dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa, lanjut Panca.

“Desa Wisata sebagai bagian dari integral pembangunan Indonesia, sehingga kepariwisataan dapat mendorong pemerataan kesempatan berusaha, memberi manfaat, keadilan dan kesetaraan,” ungkap Panca.

“Kemajuan pariwisata suatu daerah bisa menjadi tolak ukur keberhasilan kepala pemerintah daerah dalam memajukan perekonomian wilayahnya,” jelas Panca.

“MASATA berharap agar kepariwisataan mampu menjamin keterpaduan antar-sektor, antar-aktor dan antar-daerah selaku pemangku kepentingan dalam bersinergitas dan berkolaborasi antar-pihak yang menjaga keharmonisan hubungan pusat dengan daerah yang memiliki destinasi Desa Wisata Mandiri,” jelas Panca Rudolf Sarungu.

Ketua Komisi X DPR, Syaiful Huda mengatakan dalam sambutannya bahwa sektor pariwisata sebagai backbone ekonomi Indonesia sangat terdampak dimasa pandemi Covid-19.

“Sektor pariwisata membutuhkan kebijakan afirmasi terkait prioritas pemerintah dalam memprogramkan vaksinasi pada wisatawan. Pemberian vaksin kepada wisatawan menjadi satu paket vaksin sehingga menjadi wisata yang menarik perhatian wisatawan,” kata Syaiful Huda.

Desa Wisata menjadi penyangga destinasi wisata utama atau menjadi alternatif tujuan wisata diluar destinasi wisata super prioritas dan 10 wisata prioritas, lanjut Syaiful.

“Pertumbuhan ekonomi baru didesa akan terdorong dengan adanya Desa wisata, karena masyarakat akan terlibat sehingga tumbuh juga pendapatan baru bagi masyarakat desa,” pungkas Syaiful.

Rakernas I MASATA yang dibuka oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Wishnutama Kusubandio secara daring menyambut baik dan bergembira dengan menggeliatnya pariwisata dimasa pandemi Covid-19.

“Kebangkitan pariwisata Indonesia dibeberapa destinasi menunjukkan 80% booking kamar hotel di Bali pada Bulan Desember 2020. Begitu juga didestinasi lain seperti Labuan Bajo juga mengalami peningkatan,” kata Wishnutama.

“Kedepan, pariwisata yang dikembangkan adalah pariwisata yang dapat menumhkan pengalaman yang unik. Desa Wisata menjadi bagian dari Quality Tourism menawarkan pengalaman yang bebeda dan unik,” jelas Wishnutama.

Pengembangan amenitas dan atraksi yang melibatkan partisipasi masyarakat melalui pengembangan desa wisata sevcara terintegrasi dari hulu ke hilir.

Sehingga pemerintahan desa didorong agar mengoptimalkan pemanfaatan dana desa, sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 ditargetkan mewujudkan 205 wisata desa mandiri.

Sumber : https://citarakyat.com/


  • -

MASATA Menyelenggarakan FGD Pengembangan Desa Wisata

BANDUNG,SUARAPEMRED  – Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) menyelenggarakan focus group discussion (FGD) bertema “Pengembangan Desa Wisata Menuju 205 Desa Wisata Mandiri Tahun 2024 di Prime Park Hotel, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (27/11/2020). Kegiatan tersebut sebagai bagian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I MASATA yang ditujukan agar pelaku, pemerhati, dan pecinta pariwisata di kalangan pemerintah (kementerian/lembaga) serta swasta (asosiasi/organisasi/perkumpulan) memiliki kesamaan persepsi dalam mendukung pariwisata berkelanjutan.

Kegiatan tersebut menghadirkan beberapa narasumber, yaitu Asisten Deputi IV Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Kewirausahaan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Chairul Saleh; Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Dwi Rudi Hartoyo; Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diwakili Hartanti Maya Khrisna; Executive Vice President Divisi Business Service-Telkom Indonesia Syaifudin, Chief of Corporate Affairs PT Astra International Tbk Riza Deliansyah, dan Ketua Asosiasi Desa Wisata (Asidewi) Andi Yuwono.

Ketua Umum Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) MASATA Panca Rudolf Sarungu menjelaskannya, narasumber berlatar belakang kementerian/lembaga di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif dan asosiasi/organisasi/perkumpulan pariwisata dimaksudkan sebagai upaya MASATA menyambung kepentingan serta membangun sinergitas dan kolaborasi dalam membantu Pemerintah mewujudkan Indonesia sebagai negara tujuan pariwisata kelas dunia didukung atraksi yang menarik, aksesibilitas yang mudah, dan amenitas yang berkualitas.

Melalui upaya tersebut, MASATA ingin agar pelaku, pemerhati, dan pecinta pariwisata memiliki kesamaan persepsi dalam mendukung pariwisata berkelanjutan. Sebagai bagian integral pembangunan Indonesia, kepariwisataan harus mendorong pemerataan kesempatan berusaha dalam memberi manfaat untuk keadilan dan kesetaraan. “MASATA berharap agar kepariwisataan mampu menjamin keterpaduan antarsektor, antar-aktor, dan antardaerah selaku pemangku kepentingan dalam sinergitas dan kolaborasi antarpihak yang menjaga keharmonisan hubungan pusat dengan daerah,” ujar Panca.

Pembukaan Rakernas I MASATA diawali oleh Ketua Umum DPP MASATA Panca Rudolf Sarungu, diikuti sambutan Ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Syaiful Huda, sambutan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio yang sekaligus membuka resmi Rakernas I MASATA, serta peluncuran aplikasi kerjasama MASATA dengan Telkom Indonesia.

Dalam sambutannya, Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda menggarisbawahi bahwa sektor pariwisata sebagai backbone ekonomi hampir luluh lantah selama 10 bulan di masa pandemi Covid-19. Kondisi sektor pariwisata yang memprihatinkan itu, karena paling terdampak dan mengalami kontraksi tajam, sementara berbagai program belum memberikan hasil optimal, maka menurutnya sektor pariwisata membutuhkkan kebijakan afirmasi, yakni Pemerintah memprogramkan para wisatawan mendapat prioritas vaksinasi. Pemberian vaksin kepada wisatawan menjadi satu paket vaksin-wisata yang menarik perhatian wisatawan (pelancong).

“Kita tidak boleh berhenti untuk berikhtiar,”sambungnya. Pengembangan desa wisata merupakan contoh ikhtiar Pemerintah, yakni menjadikan desa wisata sebagai penyangga destinasi wisata utama atau alternatif tujuan wisata di luar destinasi wisata super prioritas dan 10 prioritas destinasi wisata. Pertumbuhan ekonomi baru di desa akan terdorong. Bertumbuhnya pendapatan ekonomi desa mendorong pertumbuhan desa wisata. Melalui desa wisata, masyarakat akan terlibat. Desa-desa menjadi sentra baru tumbuhnya pendapatan baru.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio menyatakan gembira karena geliat pariwisata mulai terasa di beberapa destinasi wisata. Booking kamar beberapa hotel di Bali mencapai 80% bulan Desember 2020. Di destinasi lain seperti Labuhan Bajo booking kamar hotel juga meningkat. “Tentunya ini kabar menggembirakan.”

Ke depan, pariwisata yang dikembangkan ialah pariwisata yang menumbuhkan pengalaman yang unik. Quality tourism memberikan tawaran pengalaman yang berbeda. Desa wisata menjadi bagian quality tourism tersebut. Misalnya makanan yang khas. “Banyak salah kaprah bahwa quality tourism dianggap hanya menginap di hotel bintang lima.”
Wishnutama menerangkan, untuk pengembangan amenitas dan atraksi wisata yang melibatkan partisipasi masyarakat melalui pengembangan desa wisata secara terintegrasi dari hulu ke hilir, maka pemerintah desa didorong mengoptimalkan pemanfaatan dana desa. Karena itu, sebagai arah kebijakan desa wisata dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, ditargetkan 205 wisata desa mandiri di tahun 2024. “Potensinya luar biasa. Jangan ikut-ikutan destinasi wisata di tempat lain. Cita-cita desa wisata sangat besar, sangat mulia.”

Dalam FGD juga dipaparkan teknis program kolaborasi MASATA disampaikan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat yang diwakili Shanti Umbara Dewi selaku Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Pariwisata, Gotix – Say CHSE MASATA yang disampaikan oleh Head of Platform Business Gotix Damar Jayengrana, dan DIGI Hotel oleh Telkom Indonesia.

Editor: Munif
Sumber : http://suarapemred.co/

  • -

Pengembangan Desa Wisata Mandiri, Dorong Tingkatkan Pariwsiata ditengah Pandemi Covid-19

Pariwisata masih memiliki prospek besar meski ditengah pandemi Covid-19, salah satunya dengan mengembangkan potensi wisata berbasis pedesaan atau desa wisata.

Indonesia termasuk Jawa Barat memiliki potensi besar untuk mengembangkan desa wisata sebagai salah satu destinasi atau tujuan wisata tidak hanya wisatawan domestik tapi juga wisatawan mancangara.

Meski sudah banyak desa wisata yang dikembangkan namun belum banyak desa wisata yang menjadi desa wisata mandiri.

Terlebih pandemi Covid-19 juga berdampak pada sektor wisata.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) MASATA (Masyarakat Sadar Wisata), Panca Rudolf Sarungu mengatakan pandemi Covid-19 bedampak pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dan desa wisata juga menjadi salah satu yang tedampak akibat pandemi.

“Pandemi memberikan dampak cukup besar pada aktivitas desa wisata karena tingkat kunjungan wisatawan juga menurun,” kata Panca disela acara FGD “Pengembangan Desa Wisata  Menuju 205 Desa Wisata Mandiri  Tahun 2024 di Bandung, Jumat (27/11/2020).

Sumber : https://jabar.tribunnews.com/