Author Archives: admin

  • -

MASATA Menyelenggarakan FGD Pengembangan Desa Wisata

BANDUNG,SUARAPEMRED  – Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) menyelenggarakan focus group discussion (FGD) bertema “Pengembangan Desa Wisata Menuju 205 Desa Wisata Mandiri Tahun 2024 di Prime Park Hotel, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (27/11/2020). Kegiatan tersebut sebagai bagian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I MASATA yang ditujukan agar pelaku, pemerhati, dan pecinta pariwisata di kalangan pemerintah (kementerian/lembaga) serta swasta (asosiasi/organisasi/perkumpulan) memiliki kesamaan persepsi dalam mendukung pariwisata berkelanjutan.

Kegiatan tersebut menghadirkan beberapa narasumber, yaitu Asisten Deputi IV Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Kewirausahaan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Chairul Saleh; Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Dwi Rudi Hartoyo; Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diwakili Hartanti Maya Khrisna; Executive Vice President Divisi Business Service-Telkom Indonesia Syaifudin, Chief of Corporate Affairs PT Astra International Tbk Riza Deliansyah, dan Ketua Asosiasi Desa Wisata (Asidewi) Andi Yuwono.

Ketua Umum Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) MASATA Panca Rudolf Sarungu menjelaskannya, narasumber berlatar belakang kementerian/lembaga di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif dan asosiasi/organisasi/perkumpulan pariwisata dimaksudkan sebagai upaya MASATA menyambung kepentingan serta membangun sinergitas dan kolaborasi dalam membantu Pemerintah mewujudkan Indonesia sebagai negara tujuan pariwisata kelas dunia didukung atraksi yang menarik, aksesibilitas yang mudah, dan amenitas yang berkualitas.

Melalui upaya tersebut, MASATA ingin agar pelaku, pemerhati, dan pecinta pariwisata memiliki kesamaan persepsi dalam mendukung pariwisata berkelanjutan. Sebagai bagian integral pembangunan Indonesia, kepariwisataan harus mendorong pemerataan kesempatan berusaha dalam memberi manfaat untuk keadilan dan kesetaraan. “MASATA berharap agar kepariwisataan mampu menjamin keterpaduan antarsektor, antar-aktor, dan antardaerah selaku pemangku kepentingan dalam sinergitas dan kolaborasi antarpihak yang menjaga keharmonisan hubungan pusat dengan daerah,” ujar Panca.

Pembukaan Rakernas I MASATA diawali oleh Ketua Umum DPP MASATA Panca Rudolf Sarungu, diikuti sambutan Ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Syaiful Huda, sambutan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio yang sekaligus membuka resmi Rakernas I MASATA, serta peluncuran aplikasi kerjasama MASATA dengan Telkom Indonesia.

Dalam sambutannya, Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda menggarisbawahi bahwa sektor pariwisata sebagai backbone ekonomi hampir luluh lantah selama 10 bulan di masa pandemi Covid-19. Kondisi sektor pariwisata yang memprihatinkan itu, karena paling terdampak dan mengalami kontraksi tajam, sementara berbagai program belum memberikan hasil optimal, maka menurutnya sektor pariwisata membutuhkkan kebijakan afirmasi, yakni Pemerintah memprogramkan para wisatawan mendapat prioritas vaksinasi. Pemberian vaksin kepada wisatawan menjadi satu paket vaksin-wisata yang menarik perhatian wisatawan (pelancong).

“Kita tidak boleh berhenti untuk berikhtiar,”sambungnya. Pengembangan desa wisata merupakan contoh ikhtiar Pemerintah, yakni menjadikan desa wisata sebagai penyangga destinasi wisata utama atau alternatif tujuan wisata di luar destinasi wisata super prioritas dan 10 prioritas destinasi wisata. Pertumbuhan ekonomi baru di desa akan terdorong. Bertumbuhnya pendapatan ekonomi desa mendorong pertumbuhan desa wisata. Melalui desa wisata, masyarakat akan terlibat. Desa-desa menjadi sentra baru tumbuhnya pendapatan baru.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio menyatakan gembira karena geliat pariwisata mulai terasa di beberapa destinasi wisata. Booking kamar beberapa hotel di Bali mencapai 80% bulan Desember 2020. Di destinasi lain seperti Labuhan Bajo booking kamar hotel juga meningkat. “Tentunya ini kabar menggembirakan.”

Ke depan, pariwisata yang dikembangkan ialah pariwisata yang menumbuhkan pengalaman yang unik. Quality tourism memberikan tawaran pengalaman yang berbeda. Desa wisata menjadi bagian quality tourism tersebut. Misalnya makanan yang khas. “Banyak salah kaprah bahwa quality tourism dianggap hanya menginap di hotel bintang lima.”
Wishnutama menerangkan, untuk pengembangan amenitas dan atraksi wisata yang melibatkan partisipasi masyarakat melalui pengembangan desa wisata secara terintegrasi dari hulu ke hilir, maka pemerintah desa didorong mengoptimalkan pemanfaatan dana desa. Karena itu, sebagai arah kebijakan desa wisata dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, ditargetkan 205 wisata desa mandiri di tahun 2024. “Potensinya luar biasa. Jangan ikut-ikutan destinasi wisata di tempat lain. Cita-cita desa wisata sangat besar, sangat mulia.”

Dalam FGD juga dipaparkan teknis program kolaborasi MASATA disampaikan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat yang diwakili Shanti Umbara Dewi selaku Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Pariwisata, Gotix – Say CHSE MASATA yang disampaikan oleh Head of Platform Business Gotix Damar Jayengrana, dan DIGI Hotel oleh Telkom Indonesia.

Editor: Munif
Sumber : http://suarapemred.co/

  • -

Pengembangan Desa Wisata Mandiri, Dorong Tingkatkan Pariwsiata ditengah Pandemi Covid-19

Pariwisata masih memiliki prospek besar meski ditengah pandemi Covid-19, salah satunya dengan mengembangkan potensi wisata berbasis pedesaan atau desa wisata.

Indonesia termasuk Jawa Barat memiliki potensi besar untuk mengembangkan desa wisata sebagai salah satu destinasi atau tujuan wisata tidak hanya wisatawan domestik tapi juga wisatawan mancangara.

Meski sudah banyak desa wisata yang dikembangkan namun belum banyak desa wisata yang menjadi desa wisata mandiri.

Terlebih pandemi Covid-19 juga berdampak pada sektor wisata.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) MASATA (Masyarakat Sadar Wisata), Panca Rudolf Sarungu mengatakan pandemi Covid-19 bedampak pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dan desa wisata juga menjadi salah satu yang tedampak akibat pandemi.

“Pandemi memberikan dampak cukup besar pada aktivitas desa wisata karena tingkat kunjungan wisatawan juga menurun,” kata Panca disela acara FGD “Pengembangan Desa Wisata  Menuju 205 Desa Wisata Mandiri  Tahun 2024 di Bandung, Jumat (27/11/2020).

Sumber : https://jabar.tribunnews.com/


  • -

President PATA Indonesia Chaptere : Spot Wisata Adventure di Banten Bisa Dikembangkan

Hal itu disampaikan President/CEO PATA Indonesia Chaptere Poernomo Siswoprasetijo saat meluncurkan PATA Indonesia Adventure Travel Mart 2020, di Tanjung Lesung, Kamis (12/11/2020).

“Di Banten dan Jawa barat banyak potensi adventure, makanya wisata adventure di Banten harus di kembangkan bersama. Banyak sekali potensi wisata adventure di Banten yang bisa di manfaatkan,” ujar Poernomo.

Selain itu, lanjut Poernomo, di daerahnya yang menjadi tempat wisata adventure, para pelaku seperti pokdarwis dan UKM harus menerapkan protokol kesehatan kepada wisatawan.

“Jadi kalo di daerahnya masyarakatnya patuh terhadap prokes covid 19, tentu wisatawan yang datang terlindungi dengan baik, ini sangat penting,” terangnya.

Dikatakan Poernomo, promosi wisata adventure juga harus dilakukan melalui pelaku pelaku pariwisata dan juga media sosial sangat besar perannya.

“Jadi sehabis mereka berkunjung posting di medsos, kalo perlu anak anak muda lokal setempat di undang. Jadi mereka tau potensi wisata adventure didaerahnya,” tandasnya.(Aden)

Sumber : https://www.detakbanten.com/


  • -

PIATM 2020 Beri Semangat Baru Bagi Dunia Wisata

ASKARA – Sejumlah assosiasi pariwisata mendukung wisata virtual bertajuk PATA Indonesia Adventure Travel Mart 2020 (PIATM 2020) pada 12-13 November 2020 dipusatkan di lokasi wisata Tanjung Lesung.

Ketua Assosiasi Pendaki Gunung Indonesia (APGI) Cecilia Vita menuturkan, 10 tahun terakhir wisata petualangan khususnya gunung menjadi salah satu yang diminati para petualang domestik dan mancanegara.

“Tingkat kunjungan di kawasan pendakian menjadi sangat tinggi karena keinginan pendaki yang ingin melihat indahnya Indonesia,” tutur Cecilia Vita dalam keterangannya, Kamis (12/11).

Tidak hanya gunung-gunung di Pulau Jawa saja yang kerap dibanjiri pendaki, bahkan sampai gunung di ujung Sabang (Gunung Leuser) ke gunung di Papua (Gunung Carstenz).

“Para Tour Operator, atau pebinis wisata petualangan, berlomba meningkatkan kualitas perjalanannya, dan mensertifikasi para pemandunya,” kata Cecilia Vita.

Dia menjelaskan, PATA Indonesia Adventure Travel Mart 2020 memberikan harapan baru, semangat baru, nafas baru bagi dunia usaha wisata petualangan khususnya gunung. Para pengusaha wisata dibukakan lagi peluang untuk membentuk pasar baru yang disesuaikan dengan kondisi pandemi Covid-19.

Ketua PB Federasi Arung Jeram Indonesia Amalia Yunita mengemukakan, sektor pariwisata merupakan salah satu sektor ekonomi paling terpuruk akibat pandemi.

Salah satu sub sektor dalam parowisata wisata arung jeram yang sudah dikenal di Indonesia. Wisata arung jeram mayoritas berada di lingkungan yang masuk dalam zona hijau Covid-19.

“Diharapkan wisata ini dapat kembali tumbuh, dengan adanya protokol CHSE dengan label I do Care,” tutur Amalia.

Asosiasi lain turut mendukung event itu di antaranya GIPI, PHRI, IHGMA, ASTINDO, ASITA, MASATA, CMSI, GAHAWISRI, IAATA, PUWSI, dan PUWSI.

PB FAJI mendukung adanya PATA Adventure Travel Mart 2020 sebagai salah satu inisiatif untuk kembali menggerakkan pariwisata khususnya wisata petualangan selama dekade terakhir meningkat pesat.

Event ini merupakan kolaborasi PATA Indonesia dengan Raja MICE didukung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan  Pemerintah Kabupaten Dairi sebagai partner destinasi dan asosiasi pariwisata.

Sumber : https://www.askara.co/


  • -

Pokdarwis Diminta Terus Berkontribusi untuk Kemajuan Desa Wisata di NTB

Mataram, MN – Tidak diragukan lagi bahwa sektor pariwisata merupakan daya pikat utama di Provinsi NTB. Budaya serta keindahan alam NTB menjadi magnet, bukan hanya di dalam negeri, namun hingga ke seluruh dunia. Oleh karenanya, pariwisata menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi NTB.

Berbagai ikhtiar dan sinergi dengan berbagai kalangan terus dibangun guna semakin melejitkan pariwisata di NTB. Salah satunya dengan dibentuknya organisasi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam dunia pariwisata.

Dalam hal ini, Komite Pokdarwis NTB yang baru saja dibentuk pada bulan Agustus telah melakukan berbagai kegiatan untuk meningkatkan sinergi dengan pemerintah untuk mempercepat akselerasi pariwisata NTB. Bahkan, dalam waktu dekat Pokdarwis NTB akan segera melakukan Musyawarah Daerah (Musda) dengan Pokdarwis yang ada di kabupaten/kota se-NTB.

Hal inilah yang diungkapkan Ketua Komite Pokdarwis NTB saat bersilaturahmi dengan Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah bertempat di Ruang Kerja Wagub, Senin, 2 November 2020. Turut pula mendampingi Wagub dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, H. L. Moh. Faozal, S. Sos., M. Si.

Wagub kemudian mengapresiasi semangat Pokdarwis NTB yang bertekad kuat memajukan pariwisata di NTB. Umi Rohmi sapaan akrabnya, kemudian mengarahkan agar Komite Pokdarwis terus menjalin sinergi dan koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota.

“Ini tidak bisa hanya dipikirkan oleh satu orang saja, harus bersinergi karena ini multisektor,” ucapnya.

Umi Rohmi kemudian mengungkapkan jika program unggulan 99 Desa Wisata yang saat ini digaungkan Pemprov merupakan bentuk keterlibatan masyarakat dalam memajukan desanya. Ia percaya setiap desa memiliki potensi yang apabila dimanfaatkan sebaik mungkin akan berbuah manis bagi masyarakat desa itu sendiri.

“Program Desa Wisata yang kita maksudkan ini sebenarnya untuk memancing desa-desa ini agar berbenah, karena kita percaya setiap desa itu punya potensi,” jelas Umi Rohmi.

Desa Wisata diibaratkan sebagai rumah besar, dimana di dalamnya terdapat banyak aspek yang dapat dikembangkan. Untuk itu, kesuksesan Desa Wisata diharapkan dapat memberikan efek berganda bagi masyarakat. Umi Rohmi optimis, pariwisata NTB akan semakin eksis apabila didukung penuh oleh seluruh pihak dan elemen masyarakat NTB.

“Kalau anak mudanya semangat, pemerintah desanya semangat, Pokdarwisnya semangat, maka pasti desanya juga akan maju,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Komite Pokdarwis NTB, Yogi Birul Walid Sugandi menerangkan jika terbentuknya Komite Pokdarwis NTB yakni sebagai mitra strategis Pemprov untuk mempercepat rangkaian kegiatan desa-desa wisata.

Ia pun mengungkapkan dalam waktu dekat Komite Pokdarwis NTB akan segera menyelenggarakan Musyawarah Daerah (Musda). Rangkaian kegiatan juga telah dilakukan menuju Musda tersebut.

“Salah satunya adalah Road Show Lombok-Sumbawa dan bertemu dengan Pokdarwis, membuat FGD, serta menghasilkan diskusi-diskusi yang serius dan hangat untuk akselerasi percepatan pariwisata,” aku Yogi.

Kedepannya, Yogi berharap pariwisata di NTB dapat semakin terintegrasi dengan baik. Begitu juga dari sisi kelembagaan, yang disebutnya butuh perhatian serius dari seluruh pihak.

“Kelembagaan dalam arti di sini pengelola masing-masing kawasan itu betul-betul bagus kapasitasnya dan terintegrasi, harapan kita itu disana,” pungkasnya.

Sumber : https://mataramnews.co.id/


  • -

Harapan Pada Desa Wisata Agar Mampu Sebagai Stimulus Kebangkitan Kembali Pariwisata Indonesia

Desa Wisata merupakan salah satu bentuk Kelembagaan di bidang pariwisata yang membutuhkan pengelolaan strategis demi keberlangsungan suatu destinasi dan industri pariwisata. Sebagaimana berwisata merupakan dambaan setiap orang, baik lokal – domestik – internasional maka desa wisata pun perlu menciptakan hal-hal kreatif dan unik untuk mendukung popularitas dan daya tarik destinasi. Saat ini ketika pandemi COVID-19 melanda, orang akhirnya tidak bisa berwisata baik karena disiplin agar tidak bepergian untuk memutus mata rantai penyebaran virus selain alasan keterbatasan keuangan.

Foto : Ketut Swabawa, Sekjen DPD MASATA BALI bersama ketua Forum Komunikasi Desa Wisata (Forkomdewi) Provinsi Bali, I Made Mendra Astawa di Kaniva-Student Coffee di Mengwitani, Badung

Bagaimana prospek kebangkitan pariwisata pasca pandemi? Menurut Ketut Swabawa, Sekjen DPD MASATA BALI, dampak pandemi pada perubahan perilaku manusia dan kampanye protokol kesehatan mengarahkan target kunjungan wisatawan ke pedesaan. “Untuk jangka pendek sepertinya demikian, wisatawan cenderung memilih low risk covid destination dengan kriteria jauh dari keramaian, cahaya matahari maksimal, sirkulasi udara yang sempurna serta terhindar dari populasi padat dan kerumunan pengunjung. Untuk Bali sangat mudah karena kita punya banyak desa wisata di seluruh kabupaten/kota, tinggal bagaimana kita bisa membangkitkan optimisme pelaku kegiatan wisata di desa dalam menyiapkan produk, layanan dan tata kelola yang adaptif dengan standar CHSE yang menjadi concern kita bersama” kata Swabawa ketika mengadakan pertemuan tatap muka dengan ketua Forum Komunikasi Desa Wisata (Forkomdewi) Provinsi Bali, I Made Mendra Astawa di Kaniva-Student Coffee di Mengwitani, Badung pada hari Rabu bertepatan hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2020.

Ditambahkannya pula bahwa pelaku usaha pariwisata saat ini harus bergandengan tangan dan menghindari strategi pengelolaan yang fraksional. Semua harus bersatu padu dalam spirit membangun industri pariwisata. “Kita harus menyadari bahwa wisatawan ke Bali untuk berwisata, jadi destinasi nya harus dijamin bagus dan menarik, destinasi kan ada di desa baik secara kewilayahan maupun pengelolaannya. Setelah menentukan destinasi barulah mereka memikirkan akan menginap dimana, cari hotel apa dan dimana. Jadi industri hotel pun saya kira harus memikirkan destinasi ini secara nyata karena dampaknya akan mereka nikmati” ujar mantan Wakil Ketua DPD IHGMA Bali periode 2016-2020 ini.

Mendra Astawa menyampaikan menyambut baik terbentuknya MASATA (Masyarakat Sadar Wisata) di Bali. Menurutnya semakin banyak yang memikirkan desa wisata di Bali akan semakin baik. “Kami dari Forkomdewi Provinsi Bali tentu sangat senang dengan keberadaan MASATA Bali dan siap bersinergi membangun dan mendampingi desa wisata yang ada. Tadi kami sudah jelaskan banyak hal tentang keberadaan dan karakteristik desa wisata yang ada di Bali. Termasuk kendalanya dan berharap MASATA Bali bisa mengambil peran strategis untuk memecahkan permasalahan bersama-sama” kata Mendra Astawa yang telah malang melintang di dunia pariwisata dan berbagai asosiasi ini.

Foto : Dr.(C). I Made Ramia Adnyana, SE.,MM,.CHA (Wakil Ketua Umum DPP IHGMA ).

Dihubungi secara terpisah, Ketua Umum DPD MASATA BALI, Dr.(C). I Made Ramia Adnyana, SE.,MM,.CHA menyampaikan program kerja jangka pendek asosiasi yang dipimpinnya sejak 3 Oktober 2020 ini adalah membentuk DPC di seluruh kabupaten/kota di Bali serta persiapan mengikuti Rakernas MASATA I 2020 yang akam dilaksanakan pada akhir November depan di Bandung. “MASATA telah ditunjuk oleh Kemenparekraf RI sebagai mitra kerja dalam mewujudkan desa wisata kategori Mandiri sebanyak 250 desa secara nasional hingga tahun 2024 mendatang. Jadi program kami sangat jelas yakni membangun kemandirian desa wisata dalam mewujudkan pariwisata berkualitas berbasis budaya dan kerakyatan. Rakernas bulan depan akan diikuti 10 DPD dan 34 DPC seluruh Indonesia dan kami dari Bali akan sampaikan hal-hal strategis dalam membangun desa wisata di era digital ini sehingga semakin dikenal secara global” kata pria yang juga Wakil Ketua Umum DPP IHGMA ini.

Sumber : http://www.ihgma.com/


  • -

Garut Menjadi Garda Terdepan Penerapan Pariwisata Berbasis CHSE

Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Bapekraf) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Teknis Kemitraan Strategi Promosi Pariwisata di Era Adaptasi Kebiasaan Baru di Garut pada Rabu (28/10/2020). Bimtek kali ini mengajarkan penerapan pariwisata berbasis Cleanliness, Health, Safety and Environtment Sustainability (CHSE)

Direktur Pemasaran Regional I, Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Bapekraf, Vinsenius Jemadu mengatakan melalui Bimtek ini Garut akan menjadi garda terdepan dalam penerapatan pariwisata berbasis CHSE. Ia menambahkan pariwisata berbasis CSHE ini merupakan salah satu strategi menghadapi masa adaptasi kebiasaan baru di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Saat pandemi seperti ini, CHSE menjadi pedoman wisatawan untuk menentukan destinasi wisata yang akan ditujunya. Pandemi membuat orientasi wisatawan dalam melakukan perjalanan mengalami perubahan drastis.” ujar Vinsensius Jemadu di Garut.

CSHE ini dibuat sebagai salah satu upaya pencegahan dan pengendalian Covid-19 terutama di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Kemenkes membuat peraturan ini sebagai jaminan kepada wisatawan dan masyarakat bahwa produk dan pelayanan yang diberikan sudah memenuhi protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan dan kelestarian lingkungan.

Sumber : https://infogarut.id/


  • -

Serap Banyak Hal, MASATA Aceh Kunjungi BPCB Aceh

Dewan Pengurus Daerah (DPD) Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) Aceh kembali menggelar audiensi dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh, Kamis (15/10/2010) sore.

Kunjungan dari MASATA Aceh ini disambut langsung Kepala BPCB Aceh Nurmatias bersama sejumlah stafnya di kantor setempat, daerah Peukan Bada, Aceh Besar.

“Ini merupakan kunjungan silaturrahmi MASATA Aceh dengan pihak BPCB Aceh guna untuk beraudiensi dan saling bertukar informasi mengenai lembaga masing-masing,” kata Kabid Pelestarian Budaya dan Pariwisata Berkelanjutan Arini Izzati mewakili Ketua MASATA Aceh Putri Syafrilia.

Kabid Media Informasi dan Humas MASATA Aceh Reza Fardian yang juga hadir dalam pertemuan ini mengungkapkan, selain mengenalkan organisasi dan lembaga, juga turut membicarakan sinergi program kerja.

“Ada sejumlah hal yang ingin kita bahas, termasuk diantaranya perkenalan lembaga serta program jangka pendek. Secara tegas Kepala BPCB Aceh sangat mendukung segala program kerja yang disusun pengurus MASATA Aceh,” ungkap Reza.

Kepala BPCB Aceh Nurmantias mengapresiasi atas kehadiran pengurus DPD MASATA Aceh untuk berkunjung langsung ke lembaga yang dipimpinnya.

“Saya baru saja menjabat sekitae 1 bulan di BPCB Aceh, jadi sangat senang bisa bersilaturrahmi dengan teman-teman dari MASATA Aceh. Kami jadi lebih tahu lebih mendalam tentang MASATA yang juga konsen dalam hal budaya,” jelas Nurmatias.

Lebih lanjut, Nurmatias menuturkan bahwa BPCB Aceh ingin cagar budaya yang ada di Aceh lebih dikenal masyarakat.

“Melalui MASATA Aceh kami ingin agar masyarakat luas mengenal cagar budaya di Aceh. Bagaimana bentuknya nantinya bisa dilakukan bersama dengan berbagai cara agar masyarakat juga ikut menjaga cagar budaya,” tukasnya.

Ketika disinggung mengenai kegiatan yang akan digelar BPCB Aceh dalam waktu dekat, Nurmatias mengatakan bahwa akan ada kegiatan Diskusi Kelompok Terpumpun serta Virtual Tour.

“Kami akan menggelar kegiatan Diskusi Kelompok Terpumpun tentang “Jalur Rempah” serta Virtual Tour Masjid Raya Baturrahman dalam waktu dekat. Saya ingin MASATA Aceh ikut terlibat dalam kegiatan tersebut,” tambahnya.

Terkait kolaborasi sendiri, Nurmatias mengatakan bahwa BPCB Aceh akan mendukung kegiatan MASATA Aceh.

“Terlebih lagi MASATA Aceh ini banyak digerakkan oleh anak muda serta penuh semangat jadi kami harus mendukungnya apalagi untuk hal-hal yang positif. Dengan kolaborasi segala kegiatan pasti akan lebih ringan untuk dilaksanakan,” tutupnya.

Sumber : https://acehnow.com/


  • -

Terapkan Prokes, Masata Audiensi dengan Wakil Ketua DPRD Pekanbaru

PEKANBARU, (RIAUPOS.CO) – Pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Masyarakat Sadar Wisata (Masata) Kota Pekanbaru,  melakukan audiensi dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) bersama Wakil Ketua DPRD Pekanbaru Ginda Burnama ST, Rabu (21/10).

Selain memperkenalkan organisasi, kedatangan Ketua DPC Masata Pekanbaru Abdul Khair, Wakil Ketua I Bidang Organisasi Lismar Sumirat SE Ak MM, Sekretaris Budi Setiawan SIkom, Bidang Penelitian Pengembangan SDM Tonny Martinoes SM PAR dan Bendahara DPD Masata Riau Harpina Diansari ini, untuk mengajak Ginda sebagai Dewan Penasehat Organisasi DPC Masata Pekanbaru periode 2025-2025.

Ketua DPC Masata Pekanbaru Abdul Khair menjelaskan, Masata merupakan wadah organisasi pariwisata yang berbasis komunitas Indonesia yang memiliki visi sebagai organisasi pelaku, pemerhati dan pecinta pariwisata Indonesia yang berkompeten dalam mendukung pariwisata berkelanjutan di Indonesia. “Masata berdiri tahun 2018.

Saat ini memiliki pengurus dari pusat, provinsi hingga kabupaten/kota. Di Riau yang sudah terbentuk adalah Pekanbaru dan Kampar. Khusus Pekanbaru, akan dikukuhkan dalam waktu dekat. Untuk itu,  kami minta kesediaan Ginda Burnama menjadi Dewan Penasehat DPC Masata Pekanbaru,” ujarnya.Ada lima fokus Masata, yakni mendukung sektor pariwisata sebagai penyumbang devisa terbesar, meningkatkan ekonomi daerah melalui pariwisata, ikut mendorong desa wisata, kawasan wisata dan destinasi wisata, sebagai narahubung dalam kepentingan pusat dengan daerah.

Selanjutnya membangun siner­gitas dan kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam industri. Wakil Ketua DPRD Pekanbaru Ginda Burnama ST, menyatakan kesediaanya menjadi Dewan Penasehat Organisasi DPC Masata Pekanbaru. “Saya berharap, hadirnya Masata bisa menaikkan gairah pariwisata khususnya di Kota Pekanbaru. Masata harus bersinergi bukan saja pemerintah. Namun juga travel dan pelaku pariwisata lainnya,” ucapnya.(mar)

Sumber : https://riaupos.jawapos.com/


  • -

Tegal Mas Dapat Piagam Masata untuk Destinasi Wisata Bersih, Sehat, Aman, dan Menjaga Lingkungan

Organisasi komunitas pelaku, pemerhati, pecinta pemajuan dunia pariwisata Indonesia, Masyarakat Sadar Wisata (MASATA), secara eksklusif memberikan penghargaan bergengsi kepada pengampu destinasi wisata Pulau Tegal Mas, Pesawaran, Lampung, Jumat 9 Oktober 2020.

Penghargaan itu berupa Piagam Apresiasi Pulau Tegal Mas Lampung Telah Memenuhi Persyaratan Standarisasi CHSE (Cleanliness, Healthty, Safety, and Environmental Sustainability) Destinasi Pariwisata Indonesia.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) MASATA Panca Rudolf Sarungu dan Sekretaris Jenderal Andi Azwan, didampingi sejumlah pengurus DPP menyerahkan piagam tersebut kepada Direktur Utama PT Tegal Mas Thomas, Rafsanzani Patria, mewakili Thomas Azis Riska selaku owner destinasi.

Penyerahan di sela kunjung lapang itu berlangsung hangat di dermaga utama Pulau Tegal Mas, di bawah pandu ketat protokol kesehatan COVID-19.

Direktur Operasional Pulau Tegal Mas, Happy Yulizar, hangat menyampaikan ucapan selamat datang. Disusul kata sambutan dari Sekjen DPP MASATA Andi Azwan, mewakili ketumnya.

Andi mengungkapkan, pihaknya cukup tersanjung atas sambutan tuan rumah. “Pulau Tegal Mas ini sungguh karunia Tuhan yang luar biasa. Surga kecil, Maldives of Indonesia, from Lampung,” pujinya disahut aplaus yang hadir.

Menjelaskan maksud kedatangan, tak lupa Andi mensosialisasikan berikut hasil agenda diskusi fokus terpumpun/ Focus Group Discussion (FGD) Strategi Reaktivasi Pariwisata Nusantara di Provinsi Lampung, sehari sebelumnya, Kamis 8 Oktober 2020, di Hotel Bukit Randu, Bandarlampung.

Gelaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bareng MASATA itu, membangunkan kembali optimisme elemen pemangku kepentingan sektor pariwisata regional se-Sumatera.

Yakni untuk tetap tangguh bertahan di tengah pandemi, bersama meyakini bahwa pemajuan pesat akan kembali dirasakan masyarakat pariwisata di Indonesia pascapandemi, disertai kata kunci proses pemajuannya: kolaborasi.

“Alhamdulillah kegiatan FGD yang dilaksanakan oleh Kemenparekraf dan MASATA berjalan dengan sukses. Demikian juga Kick Off Penerapan Protokol Pariwisata dan Sosialisasi Digitalisasi Pariwisata MASATA dan Telkom Indonesia, di Lembah Hijau Lampung, kemarin (Kamis),” ujarnya.

Pria berlatar 20-an tahun pengalaman profesional sejumlah perusahaan multinasional di Jakarta-Hongkong ini menambahkan, dengan tangan terbuka pihaknya mengajak Pulau Tegal Mas bersinergi berkolaborasi memajukan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Lampung, Sumatera dan Indonesia.

“MASATA siap mendukung dan bekerja sama, kami juga siap mempromosikan tempat yang indah ini melalui semua media sosial MASATA,” janjinya.

Dirut Tegal Mas, Rafsanzani Patria, semangat pidatonya berterima kasih atas penganugerahan piagam apresiasi, juga mengatakan itu jadi sebuah kebahagiaan, kebanggaan, kesan mendalam, pelecut semangat pihaknya untuk terus berbuat terbaik bagi pemajuan pariwisata di Lampung.

Paparannya, soal seluk beluk muasal berdirinya destinasi Tegal Mas, yang beroperasi sejak 2018 usai Thomas Azis Riska bersama warga setempat bahu-membahu dan jatuh bangun membangun pulau eksotis itu.

“Dulunya pulau ini bisa dibilang pulau hantu, tak berpenghuni. Saat kami para warga sini, bertemu pak Thomas Riska selanjutnya terus berjuang bersama-sama hingga saat ini, saat itu kami menemukan selain lautan sampah juga ada mohon maaf, 86 mayat manusia saat pembersihan pulau dan wilayah sekeliling,” ungkap dia, bikin kaget juga tercengang yang mendengarnya.

Dia menambahkan, sebelum dikelola pihaknya, Pulau Tegal Mas juga dikenal sebagai penampung ‘setia’ sampah laut dan pesisir pantai Teluk Lampung.

“Sampai sekarang masih pak. Disini ada siklus Januari-Februari, di bulan itu pulau ini kedatangan sampah berton-ton jumlahnya. Eksavator kami pun tak cukup imbangi volume sampah yang ada. Abis gimana, masih buruknya sistem penanganan sampah oleh pemda, tak heran warga di pesisir sana rata-rata buang sampah ya ke laut. Dari itu kami juga aktif bersama lakukan penyadaran,” Rafsazani setengah curhat mengeluarkan unek-unek suka duka.

Sekadar informasi, apa CHSE dan Say CHSE, peran MASATA berkecimpung didalamnya, secara normatif CHSE ini Panduan Pelaksanaan Kesehatan, Kebersihan, dan Keselamatan untuk sektor Hotel, Restoran dan Bioskop.

Menparekraf/Kepala Baparekraf Wishnutama Kussubadio meluncurkan program tematik ini bareng program “Indonesia Care” atau I Do Care pada 11 Juli 2020 lalu, ditandai dengan pemutaran video “Indonesia Care” di Studio XXI Plaza Senayan, Jakarta.(*/rls)

Sumber : https://lampung.tribunnews.com/