Jangan Gagal, Target Wisman 24 Juta Tahun 2024 Dan US$ 32 Juta Devisanya

  • -

Jangan Gagal, Target Wisman 24 Juta Tahun 2024 Dan US$ 32 Juta Devisanya

Tak sedikit yang mencari-cari apa dan berapakah target-target Menparekraf Wishnutama di sektor pariwisata? Ternyata untuk konsumsi publik satu informasi terselip dalam sebaran melalui email termasuk yang saya terima ini  minggu lalu. …..

Menparekraf Wishnutama Kusubandio rupanya mengembalikan pada beberapa konsep yng tercantum pada RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024) dan disitu tercantum ditargetkannya  nilai penerimaan devisa pariwisata dari US$ 19,3 miliar tahun 2018 akan menjadi US$ 32 miliar tahun 2024, jumlah wisman 15,8 juta orang tahun 2018 ditargetkan menjadi 24 juta tahun 2024 (ini target tercantum dalam RPJMN 2020-2014). Dicatatnya 4 pilar  pembangunan pariwisata yaitu (1) peningkatan daya saing industri dan ekosistem usaha pariwisata; (2) peningkatan aksesibilitas, amenitas, atraksi dan tata kelola destinasi pariwisata; (3) peningkatan kualitas SDM pariwisata; dan (4) penguatan citra pariwisata dan diversifikasi pemasaran.

Ada satu artikel lagi yang saya baca melalui email kemarin. Sangat menarik, tampil angka yang menarik pula, bahwa rupanya Pemerintah sendiri menargetkan devisa pariwisata USD 32 miliar dan 24 juta wisman pada 2024 dengan Average Spending per Arrival (ASPA) sebesar USD 1.333 sebagai dasar perhitungannya. Disebutkan, artinya, pertumbuhan ASPA periode 2019 – 2024 adalah 9%. Faktanya, pertumbuhan ASPA Indonesia dalam 5 tahun terakhir hanya 3,1%.

Artikel itu tercantum ditulis oleh “ipangwahid”, Tim QuickWin 5 Destinasi Super Prioritas.

Sebelumnya kita ikuti dan catat di sini pernyataan Menparekraf tentang 3 target utama Kemenparekraf/ Baparekraf yaitu bertekad mewujudkan : pertama, pariwisata sebagai penghasil devisa nomor satu di Indonesia; kedua,  produk ekonomi kreatif Indonesia menjadi terbaik di kawasan ASEAN; dan ketiga, menjadikan pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai sumber kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (sumber: Siaran pers). Dan, melanjutkan pembangunan infrastruktur dan utilitas dasar di lima destinasi super prioritas. Kelima destinasi super prioritas itu ialah Danau Toba (Sumatera Utara), Borobudur (Joglosemar), Mandalika (Nusa Tenggara Barat), Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), dan Likupang (Sulawesi Utara).

*****

Sebenanya sudah sampai dimanakah pariwisata kita dewasa ini? Pernah kita catat di sini dengan diagram seperti di bawah ini, bahwa dalam 2 tahun pertama waktu itu (2015-2016) strategi pemasaran/promosi BAS (Branding, Advertising, Selling) menampakkan hasil (sukses) signifikan. Yaitu fase pelaksanaan bagian B dan A (Branding dan Advertising). Menjadi pertanyaan kemudian ialah hasil dari fase pelaksanaan S yaitu Selling. Tampak begini :

peta-hasil-bas-25112019

peta-05112019

Tetapi dua tahun kemudian fakta menunjukkan penerapan strategi dan program Selling tampak kurang konsisten sehingga mengalami kegagalan. Gagalnya antara lain dicerminkan melalui data berikut ini: statistik-wisman-yg-menurun-sd-2019

Terkait ini pernah dicatat di sini juga fakta selanjutnyat ini. Ketika memasuki tahap melaksanakan strategi selling itu, para pelaksana strategi tampak seperti terjebak pada sikap bekerja menjalankan rutinitas dan monoton. Hasil penjualan produk dan destinasi tampak tak bergerak bahkan secara kualitas wisman cenderung menurun. Padahal menurunnya kualitas wisman tentu menurun pula hasil devisanya. Dan effeknya akan terasa pada aspek lain perekonomian kita, yaitu CAD atau current account deficit, neraca pembayaran (internasional) berjalan. Terbantukah CAD itu dari hasil devisa pariwisata?

Kendati dimaklumi bahwa terjadinya peristiwa beberapa bencana alam yang besar (erupsi, gempa, tsunami) dan gejala sementara melambatnya perekonomian dunia, niscayalah berpengaruh pada naik turunnya arus kunjungan wisman, namun fakta statistik tergambar di atas, tetaplah amat patut didalami oleh segenap pelaku bisnis pariwisata, dan menjawab pertanyaan bagaimana selanjutnya…?

*****

Terasalah dan menjadi pertanyaan yang meminta jawaban segera, apakah selanjutnya program Kemenparekraf dan penggiat-penggiat pariwisata yang akan dilaksanakan tahun demi tahun 2019-2024? Pengalaman menunjukkan, rumusan-rumusan pada tataran policy dan strategi yang tampak sangat masuk akal dan memberi harapan, pada tataran pelaksanaannya tampak tidak efektif.  Situasi kondisi pariwisata kita saat ini serasa memesankan: Jangan gagal! Setiap kali kita membaca kalimat-kalimat berisi kebijakan, strategi, enak dibaca, terasa masuk akal, namun di pariwisata ini, pertanyaan pun selalu timbul : HOW TO OPERATE IT? Pertanyaan tak lagi 5 W, what, who, where, when, why,…tetapi HOW TO ?(bersambung).***

Sumber : http://indonesiatouristnews.com/