Pariwisata “Inbound” versus “Outbound”

  • -

Pariwisata “Inbound” versus “Outbound”

Jakarta – Tahun 2015 menjadi tahun yang sangat fenomenal bagi Jepang khususnya bidang pariwisata. Pada tahun itu, Jepang bukan hanya berhasil meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sebanyak 6,2 juta atau meningkat 47,3 persen dibanding 2014 menjadi 19,7 juta, tapi juga telah mencapai titik baru untuk pertama kali dalam 45 tahun bahwa wisatawan yang datang (inbound) melebihi angka wisatawan asal Jepang yang bepergian ke luar negeri (outbound)!

Saya sendiri yakin dalam1-2 tahun ke depan, dengan kebijakan atau strategi yang konsisten dari Jepang jumlah wisatawan inbound Jepang ini akan bisa mencapai angka dua kali lipat dari wisatawan outbound. Komposisi inbound-outbound ini penting karena selama puluhan tahun Jepang dikenal sebagai negara “pengekspor” wisatawan, bahkan agen perjalanan mereka telah lama terstruktur ke dalam bisnis outbound daripada inbound.

Posisi ekonomi Jepang yang kuat dan tingginya keinginan untuk bepergian ke luar negeri menjadi aspek penting di sini.Tidak heran jika tahun 2002 misalnya, jumlah orang Jepang yang bepergian ke luar negeri bisa tiga kali lebih banyak daripada orang luar yang berkunjung ke Jepang. Tapi, kini Jepang pun melirik pariwisata sebagai industri utama yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi, dan melakukannya secara serius.

Mereka kini cukup percaya diri mendorong lebih banyak kunjungan wisman ke Jepang, meskipun tanpa harus memaksa menurunnya sisi outbound. Terbukti, jumlah wisatawan asal Jepang yang bepergian ke luar negeri juga tetap bertumbuh positif, yaitu dari 16 juta pada 2015 menjadi 18 juta pada 2018. Ingat, bagaimana negara ini panik luar biasa setelah terjadinya bencana nuklir Fukushima pada 11 Maret 2011 yang kemudian ditandai dengan menurunnya jumlah kunjungan ke Jepang pada tahun itu hingga ke angka 6,2 juta.

Problematika inbound versus outbound ini juga melanda Indonesia saat ini. Ada kenyataan bahwa jumlah wisatawan outbond kita semakin terus meningkat dari tahun ke tahun. Sayang kita tidak punya data yang baik mengenai ini, dan semoga pihak Imigrasi segera melakukan perubahan untuk bersedia mempublikasikannya secara terbuka dan terjadwal sebagaimana juga negara lain melakukannya.

Data Bank Indonesia menyebut ada 9 juta orang Indonesia yang bepergian ke luar negeri sepanjang 2017, dan diperkirakan pertumbuhannya sekitar 20 persen per tahun, sehingga diperkirakan jumlah orang Indonesia yang melakukan outbound pada 2020 bisa mencapai 12 juta orang. Angka ini jika tidak ada perbaikan di sisi inbound akan bisa mengimbangi jumlah wisatawan outbound. Apalagi melihat statistik untuk 2019 lalu sepertinya jumlah wisman yang berkunjung ke Indonesia “hanya” sekitar 16 juta.

Sekali lagi, saya tidak dalam posisi menyalahkan outbound dan menganggapnya sebagai “pengganggu” sehingga harus dikendalikan atau diturunkan. Saya kira itu keliru. Kita tentu tidak bisa melarang outbound sebab itu juga menggambarkan dinamika perkembangan ekonomi kita dengan besarnya business traveler, serta geliat pertumbuhan kelas menengah baru yang sedang berkembang di Indonesia.

Namun yang harus menjadi concern kita adalah bagaimana kita mendorong lebih kuat pertumbuhan inbound ini. Seperti Jepang tadi, bagaimana mereka membuat strategi untuk mendatangkan lebih banyak wisman untuk berkunjung. Kita sudah punya kebijakan yang melonggarkan pemberian visa kunjungan; kita punya destinasi wisata eksisting yang sudah siap untuk dilipatgandakan kunjungannya di samping sejumlah destinasi lain yang sepertinya “underconstruction”.

Kita punya akses ke bandara atau transportasi yang baik, punya akomodasi dari berbagai jenis dari kelas biasa hingga premium; kita punya keramahtamahan yang tidak ada duanya, dan seterusnya. Karena itu jika kunjungan tidak juga naik signifikan, pasti ada sesuatu yang salah atau sesuatu yang belum tepat kita lakukan, dan itu harus dicari dengan super-serius.

Sebenarnya, kita lebih baik dari Jepang tahun 2000 –wisman ke Jepang hanya 4,7 juta, sedangkan ke kita sudah 5 juta. Tapi ketika kita masih 6,4 juta pada 2009, mereka sudah 6,7 juta. Lalu pada 2015 ketika kita mencapai 10 juta wisman, mereka sudah menanjak ke angka 15 juta. Kemudian pada 2018, ketika kita susah payah meraih 15,8 juta, mereka sudah melesat ke angka 31 juta! Apa rahasianya? Saya melihat itu bukan kontribusi satu sektor dan juga bukan faktor tunggal.

Di antara banyak faktor dan keterlibatan berbagai sektor itu, kita melihat pentingnya gotong-royong dengan benar di antara para stakeholders, baik itu lintas kementerian, lintas daerah, dan lintas pelaku usaha. Harus ada grand design strategi yang jelas, tujuan, dan target-target. Sektor bisnis atau industri, sektor pendidikan, sektor keuangan, sektor olah raga, sektor kreatif memiliki visi yang sama, dan punya agenda untuk mendorong wisman mau datang.

Di kita, meskipun kita punya grand design, namun eksekusinya betapa sulitnya. Kita juga kadang meributkan sesuatu yang tidak penting yang kontraproduktif.

Kedua, pendekatan langsung bilateral, negara per negara. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan feeling dan semua harus berbasis data, dan berbasis potensi riil. Jika ingin meningkatkan kunjungan wisman asal Jepang, fokus ke sana, cari apa yang mereka mau, pendekatan apa yang belum kita lakukan, cari tahu mengapa mereka terakhir ini lebih senang ke Thailand daripada ke destinasi wisata kita? Bagaimana kontribusi sektor lain, dan seterusnya. Negara per negara, kepala per kepala.

Anggaran? Tentu itu penting. Tapi saya selalu berpegang bahwa bagaimana membelanjakan anggaran itu jauh lebih penting daripada sekadar merengek menuntut kenaikan anggaran pemasaran/promosi. Dalam hal ini sebenarnya kita berharap ada evaluasi keras dari Kementerian Pariwisata mengenai pelaksanaan pemasaran/promosi pariwisata lima tahun terakhir. Soal bagaimana mereka membelanjakan uangnya dan bagaimana dampaknya terhadap kenaikan kunjungan wisatawan.

Misalnya, anggaran yang digelontorkan untuk promosi wisata Indonesia di sejumlah negara Eropa, dan berapa banyak wisatawan asal Eropa yang riil datang selama periode itu? Jika saya harus menghabiskan anggaran promosi Rp 1 miliar untuk satu produk ke satu tempat, tapi hanya mampu mendatangkan Rp 100 juta dari tempat itu, bagaimana mempertanggungjawabkannya?

 

Sumber : https://news.detik.com/