Bali Buka, Menteri Wishnutama: Pariwisata Adalah Bisnis Kepercayaan

  • -

Bali Buka, Menteri Wishnutama: Pariwisata Adalah Bisnis Kepercayaan

Jakarta – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengingatkan agar pelaku pariwisata mengedepankan aspek kesehatan, keamanan, dan kenyamanan kepada wisatawan. Wishnutama menyampaikan hal tersebut menyambut pembukaan wisata Bali untuk turis lokal pada Jumat, 31 Juli 2020.

“Pariwisata adalah bisnis kepercayaan. Karena itu para pelaku sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali harus dapat menjalankan protokol kesehatan sehingga mampu membangun rasa percaya wisatawan akan rasa aman saat berkunjung ke Bali,” kata Wishnutama dalam keterangan tertulis, Selasa 28 Juli 2020.

Pemerintah Provinsi Bali membuka kembali aktivitas wisata secara bertahap di masa new normal pandemi Covid-19. Pada 9 Juli 2020, pemerintah Bali telah membuka tahapan pemulihan aktivitas ekonomi masyarakat secara bertahap dan terbatas.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama berbincang dengan petugas saat meninjau Rumah Sakit BIMC Siloam, Nusa Dua, Badung, Bali, Selasa, 16 Juni 2020. ANTARA/Fikri Yusuf

Wishnutama menjelaskan pemerintah telah menerapkan berbagai program bantuan bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif. Di antaranya bantuan sosial, relaksasi pajak, dana talangan usaha melalui Himbara senilai Rp10 miliar, sampai diskon penerbangan dan paket wisata.

“Kami bersama kementerian dan lembaga lainnya berupaya memberikan berbagai bantuan tambahan bagi pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif,” kata Wishnutama Kusubandio. “Saya percaya dalam setiap krisis selalu ada peluang untuk bangkit kembali.”

Sumber : https://travel.tempo.co/

 


  • -

Corona Gebuk Pariwisata Bali, Entitas Anak Usaha Perusahaan Milik Orang Terkaya RI Terpaksa Tutup..

Entitas anak usaha PT Sona Topas Tourism Industry Tbk (SONA), yakni Bali Galleria terpaksa tidak beroperasi atau tutup sementara. Penutupan dilakukan sejak Sabtu (28/03/2020) hingga waktu akhir April mendatang.

Direktur SONA, Susan Liwang, mengungkapkan bahwa pandemi corona yang berlangsung sejak Februari 2020 lalu menjadi pertimbangan utama yang membuat manajemen menutup sementara pusat perbelanjaan Bali Galleria yang berlokasi di Jalan By Pass Ngurah Rai, Kuta, Bali itu.

“Sehubungan dengan pandemi virus coorna yang sampai sekarang masih berlangsung, maka terjadi penutupan toko bebas bea di tengah kota, Jalan By Pass Ngurah Rai, Kuta, Bali terhitung tanggal 28 Maret 2020 hingga akhir April 2020,” jelas Susan, Jakarta, Senin (30/03/2020).

Ia menambahkan, penutupan Bali Galleria tentu akan berdampak pada penurunan pendapatan. Terlebih lagi, kewajiban dalam hal pembayaran operasional, seperti sewa, listrik, dan dan gaji karyawan masih harus dipenuhi oleh Bali Galleria.

“Kami akan menyampaikan kembali bila ada dampak kelangsungan usaha yang berhubungan dengan wabah virus corona,” sambungnya.

Sebagai informasi, SONA merupakan perusahaan yang bergerak di bidang biro perjalanan wisata. Emiten ini dimiliki oleh keluarga Tahir dengan kompisisi kepemilikan sebesar 11,53%. Dilansir dari RTI, salah satu anak dari Dato Sri Tahir, yakni Jonathan Tahir menjabat sebagai Presiden Komisaris SONA.

 

Sumber : https://www.wartaekonomi.co.id/


  • -

Turunnya Kunjungan Wisatawan China Mulai Berdampak Ke Sektor Pariwisata

JAKARTA – Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Provinsi Bali, I Putu Astawa menyebutkan bahwa dengan menurunnya angka kunjungan turis asing asal China selama beberapa waktu terakhir, juga mempengaruhi keberadaan Wisata Kesehatan yang ada di Bali.

“Terutama wisatawan Tiongkok, biasanya langsung cancelkan dan kehadirannya juga mempengaruhi wisata yang ada di Bali. Penurunan terlihat mencapai 15 ribuan paket kunjungan ke Bali karena adanya isu virus corona ini,” jelas I Putu Astawa usai dikonfirmasi di Denpasar, Minggu (2/2/2020).

Ia mengatakan bahwa apabila turunnya kunjungan turis China ini berlangsung jangka panjang bisa menghambat peningkatan kunjungan wisatawan ke wisata sehat di Bali.

Pihaknya berharap agar kondisi ini bisa segera pulih kembali, dan tidak berlangsung dalam jangka panjang. “Apalagi Pemerintah China juga sudah berupaya mengatasi ini secara masif dan sudah dilakukan semua negara untuk pencegahan,” ucapnya.

Adapun pihak-pihak yang dirugikan dengan turunnya wisatawan China yaitu bagi travel guide turis asing yang awalnya sudah mendapatkan daftar turis yang akan berlibur ke Bali namun akhirnya tidak jadi berkunjung.

Sebelumnya, diketahui sebanyak 86 penerbangan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, dengan bandara di China dibatalkan sejak 13 Januari 2019 terkait penyebaran virus corona baru tersebut.

“Ya jelas bagi travel turis itu rugi ya karenakan sebelumnya sudah bayar DP untuk rencana boking wisata tapi akhirnya engga jadi datang turisnya itu jelas rugi, selain itu penerbangan juga banyak dicancel dan tempat-tempat wisata yang sering dikunjungi dari China juga sepi,” jelasnya.

Meskipun kunjungan dari China menurun, beberapa negara lainnya masih mendominasi kunjungan ke Bali seperti wisatawan Australia dan Eropa. Untuk wisatawan Australia biasanya akan menyasar wisata pantai dan Eropa akan menyasar wisata budaya Bali.

Ia menerangkan beberapa faktor-faktor yang perlu diperhatikan terkait dengan keberadaan wisata sehat, diantaranya bekerjasama dengan pihak yang mengatur wisata agar dapat membantu membuat paket wisata untuk diarahkan ke wisata sehat.

Selain itu juga, bisa dengan menyelenggarakan festival olahraga dengan skala Internasional untuk menarik partisipasi wisatawan asing.

“Untuk wisata sehat kita akan bangun di beberapa tempat yang cocok, nah kalau yang kita sebut spiritual tourism mungkin arahnya ke Kabupaten Karangasem, karena di sana juga sudah dibuatkan tempat pengolahan herbal, disana akan dikembangkan dan cocok untuk kegiatan spiritual tourism,” lanjutnya.

Sumber : https://bali.bisnis.com/

  • -

Dinas Pariwisata Siapkan Raperda Menuju Pariwisata Berkualitas

DENPASAR, Berita Dewata – Dinas Pariwisata Provinsi Bali tengah merancang Ranperda Standar Penyelenggaraan Kepariwisataan Bali. Dengan mengundang sejumlah pelaku pariwisata baik yang berada di bawah naungan Bali Tourism Board, tokoh pariwisata serta akademisi, diharapkan bisa mendapat masukan untuk isi Raperda, yang dilaksanakan dalam Forum Group Discussion di ruang rapat Soka, Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Denpasar, Rabu (15/1).

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Daerah (Disparda) Bali, I Putu Astawa, FGD ini menjadi faktor untuk meningkatkan kualitas pariwisata Bali ke depannya baik dari sisi pelayanan, destinasi, aktivitas wisata, SDM, produk wisata dan lainnya, serta menghindari penurunan kuliatas industri wisata ke depan.

Ke depan menurutnya di dalam Perda itu akan mengatur 4 pilar diantaranya pilar destinasinya, industrinya, pemasaran kita dan pilar kelembagaan kita. Semua harus mengikuti standar-standar yang kita atur di dalam Perda itu meliputi produknya apa, pelayanannya seperti apa, pengelolaannya seperti apa.

Menurut dia, semua yang berkaitan dengan kepariwisataan di pulau ini harus memiliki standar, selanjutnya akan dituangkap pada pasal demi pasal di Perda tersebut. “Harus semua kita arahkan terstandar dan semuanya nanti akan dijelaskan pada pasal-pasal di dalam Perda itu. Sekarang kita sosialisasikan, FGD-kan dengan harapan dapat penyempurnaan dari rancangan yang telah kita susun. Untuk dibahas secara bersama-sama. Selanjutnya akan menjadi Perda yang akan dibahas antara eksekutif dan legislatif,” bebernya.

Dilanjutkan Astawa, pencapaian kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dari tahun 2018 ke 2019 mengalami peningkatan, walaupun sedikit mengalami perlambatan. Peningkatan sekitar 200 ribuan turis mancanegara dikarenakan tahun-tahun politik, isu bencana dan kondisi ekonomi global yang belum stabil. Pemerintah Provinsi Bali kata dia, ke depan tidak hanya menargetkan jumlah, namun juga bagaimana mengupayakan wisatawan dapat tinggal lebih lama dan pengeluarannya pun semakin banyak.

Guna mencapai hal itu, menurut dia, para pelaku di industri ini penting untuk menentukan paket-paket tur yang akan dijual agar wisatawan betah berlama-lama melakukan kegiatan wisata di Bali. “Paket wisata apa yang bisa kita jual termasuk dalam standarisasi ini juga kita bahas,” ucapnya.

Pihaknya akan mengajak pelaku industri pariwisata Bali untuk mengatur paket-paket yang menarik keinginan wisatawan menambah masa tinggal. “Sehingga wisatawan bisa tinggal lebih lama,” cetusnya.

Dia menambahkan, banyak potensi untuk menambah masa tinggal wisatawan karena Bali memiliki aktivitas wisata yang beragam mulai dari di Bali Selatan, Timur, Barat dan Utara. Selain itu aktivitas wisata bahari diyakini mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan.

“Harapan kami ke depan, selain jumlah lebih banyak kualitas lebih tinggi secara angka lebih banyak. 10 sampai 15 persen peningkatan setiap tahun. Harapan tahun 2020, sekurang-kurangnya 6,5 juta wisman,” harap Astawa.

 

Sumber : https://beritadewata.com/

 


  • -

Tantangan Wishnutama untuk Kembangkan Pariwisata Bali Utara

Jakarta – Menparekraf Wishnutama ingin mengembangkan kawasan Bali bagian utara, termasuk timur dan barat. Tapi rasanya, ada tantangan yang tak mudah.

   Pekan lalu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama bersama wakilnya Angela Tanoe mengunjungi Bali sebagai kunjungan kerja perdana ke daerah. Selama di Bali, mereka bertemu Gubernur Bali, Wayan Koster dan para pelaku wisata.
Salah satu hasil pertemuan tersebut adalah, Wishnutama ingin mengembangkan pariwisata di Bali bagian utara, barat, dan timur. Tentu bukan rahasia lagi, kawasan Bali bagian selatan seperti Kuta, Sanur, dan Seminyak sudah penuh sesak.

Konsentrasi pariwisata Bali pun terpusat di bagian selatan. Hingga akhirnya muncul permasalahan seperti overtourism, hingga kemacetan.

Tantangan Wishnutama untuk Kembangkan Pariwisata Bali UtaraWishnutama saat kunjungan kerja perdana di Bali (Afif Farhan/detikcom)

BACA JUGA: Siap Benahi Turis Nakal di Bali, Wishnutama?

Praktisi dan pemerhati pariwisata asal Bali, Puspa Negara berpendapat, pengembangan pariwisata Bali bagian utara, timur, dan barat tidak semudah membalikan telapak tangan. Akesesibilitas menjadi tantangan terberat.

“Aksesibilitas menjadi faktor penentu terdistribusinya wisatawan maupun berkembangnya destinasi di belahan Bali utara, timur, dan barat. Ini tak lepas dari kondisi infrastruktur pendukung kepariwisataan lebih dominan ada di Bali selatan seperti bandara, sarana, dan prasarana pendukung lainnya,” kata Puspa kepada detikcom, Selasa (26/11/2019).

Tantangan Wishnutama untuk Kembangkan Pariwisata Bali UtaraKawasan Bali utara yang penuh kontur perbukitan (Imam Sunarko/d’Traveler)

Rata-rata, wisatawan yang menginap di Bali menghabiskan waktu 2-3 malam. Tentu kalau dari kawasan selatan ke utara Bali, waktunya akan habis di jalan.

“Turis yang datang lewat jalur laut seperti cruise, ada yang berlabuh di Padang Bay (Bali bagian timur), Celukan Bawang (Bali bagian utara) dan Gilimanuk (Bali barat). Namun angkanya, itu hanya 2 persen saja dari total turis yang datang ke Bali. Sisanya melalui Bandara Ngurah Rai di Bali bagian selatan,” papar Puspa.

Bagaimana soal pembangunan bandara di kawasan Buleleng?

“Begini, tahun 1967 ibukota Bali pindah dari Singaraja ke Denpasar, mungkin karena upaya untuk membangun bandara sebagai pintu masuk, yang mana pembangunan bandara relatif lebih mudah di Bali bagian selatan,” jawab Puspa.

Maksudnya pembangunan bandara relatif lebih mudah?

“Kawasan Bali bagian utara mungkin secara geografis memang sulit dibangun bandara karena kontur lahan yang berbukit, sedangkan di Bali bagian selatan relatif datar. Termasuk untuk membangun bandara di atas laut di Bali bagian utara, biayanya lebih besar,” terangnya.

Tantangan Wishnutama untuk Kembangkan Pariwisata Bali UtaraMenteri Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono saat meninjau proyek Jalan Pintas di Mangwitani-Singaraja di Bali (Kementerian PUPR)

Puspa menjelaskan, oleh sebab itu harus ada perhitungan matang dari Kementerian Perhubungan dan Kementerian PUPR untuk membangun bandara dan jalan tol. Sementara menanti bandara dan jalan tol tersebut, Wishnutama disarankan untuk memperkuat SDM, atraksi wisata, dan peningkatan MICE di Bali bagian selatan.

“Menteri Parekraf Wishnutama bisa fokus untuk perbaikan destinasi, penguatan SDM pariwisata, penguatan atraksi wisata, dan peningkatan MICE,” tutup Puspa.

Sumber : https://travel.detik.com/

  • -

Wishnutama Mau Majukan Pariwisata Bali Utara, Barat, dan Timur

Jakarta – Pekan lalu, Menparekraf Wishnutama melakukan kunjungan ke Bali. Dia pun ingin memajukan pariwisata Pulau Dewata, khususnya di bagian utara, barat, dan timur.

Kamis (21/11) dan Jumat (22/11) pekan lalu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama bersama wakilnya, Angela Tanoesoedibjo melakukan kunjungan kerja perdana ke daerah yakni ke Bali. Mereka pun menghadiri acara Indonesia Tourism Outlook 2020 di ITDC, Nusa Dua.

Lewat akun Instagram pribadinya, Wishnutama menjabarkan hasil kunjungannya. Termasuk, bertemu dengan Gubernur Bali, Wayan Koster.

Wishnutama menjelaskan, pertemuan dengan Wayan Koster bersama jajarannya berlangsung di Rumah Dinas Gubernur Bali, Denpasar. Salah satu hasil pertemuan itu adalah pengembangan Bali bagian utara, barat, dan timur.

“Dalam diskusi, kami sepakat dan punya komitmen yang sama untuk memajukan pariwisata Bali khususnya revitalisasi dan pengembangan Bali utara, Bali Barat dan Bali Timur, sebagai pilihan baru para turis. Pak Gubernur banyak berkisah tentang betapa potensi pariwisata di luar Selatan Bali yang belum tergali optimal, karena berbagai faktor dan kendala, seperti pembebasan lahan untuk pembangunan aksesibiltas dan infrastruktur,” tulis caption pada postingan foto di Instagram-nya.

Sumber : https://travel.detik.com/