Pulau Bintan Siap Menyambut Wisatawan di Era New Normal

  • -

Pulau Bintan Siap Menyambut Wisatawan di Era New Normal

Jakarta – Pemerintah Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, siap menyambut wisatawan yang datang ke Pulau Bintan.

Bupati Bintan Apri Sujadi mengatakan pada prinsipnya seluruh pintu masuk ke Bintan sudah siap menyambut wisatawan sekaligus menerapkan protokol kesehatan. “Kasus Covid-19 di Kepulauan Riau sudah di angka nol atau tidak ada lagi,” kata Apri Sujadi dalami diskusi virtual bersama BNPB di Jakarta, Minggu 19 Juli 2020.

Salah satu Pantai Trikora di Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. (shutterstock.com)

Pada kesempatan yang sama, General Manager Group Bintan Resort, Abdul Wahab mengatakan dampak pandemi membuat sektor pariwisata terpukul. Pada Januari 2020 sebelum pandemi Covid-19 terjadi, sebanyak 9.000 wisatawan datang ke Bintan. Namun saat wabah terjadi, hanya tinggal puluhan orang saja yang datang.

Saat ini, Abdul Wahab mengatakan, Pulau Bintan sudah siap menerima wisatawan dengan persyaratan kesehatan yang ketat. “Tak hanya wisatawan, setiap hari kami mengecek kondisi para pegawai untuk memastikan mereka dalam keadaan sehat,” kata dia.

Sumber : https://travel.tempo.co/


  • -

Wisata Bali Resmi Dibuka Lagi 9 Juli, Yuk Liburan!

Pembukaan wisata kembali atau new normal Bali dilakukan bertahap, mulai 9 Juli 2020 berlaku untuk wisatawan lokal di Bali. Sedangkan turis asing akan dibuka pada awal September 2020.

“New normal di Bali akan dimulai tanggal 9 Juli untuk masyarakat lokal saja dulu. Untuk wisatawan domestik akan dibuka tanggal 31 Juli, dan untuk wisata mancanegara akan dibuka tanggal 11 September,” kata Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati kepada CNBC Indonesia, Senin (6/7).

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali I Putu Aswata menyebut banyak wisatawan yang sudah berniat kembali berwisata ke Bali. Berdasar survey yang dibuatnya, ada 53% turis yang berminat liburan ke Bali pada bulan Oktober-Desember.

“82% turis ke bali sangat perhatikan CHS (Cleanliness, Health and Safety). Ada juga yang ingin datang pada bulan Juli tapi kurang dari 30%,” kata I Putu Aswata dalam diskusi virtual Markplus, Senin (6/7).

Memang perlu waktu untuk mengembalikan kepercayaan diri wisatawan yang sudah cukup pudar akibat pandemi Covid-19. Pemerintah perlu mengambil langkah demi menarik kepercayaan publik tersebut. I Putu Aswata menyebut sedang melakukan sertifikasi terhadap para pelaku usaha di Bali.

“Tujuan sertifikasi ini demi memberi pengakuan bahwa usaha mempunyai standar, kemudian memastikan aspek keamanan dan kesehatan yang komprehensif bagi konsumen serta meningkatkan daya saing usaha dari aspek pelayanan dan pengelolaan,” sebutnya.

Memang bukan hal yang mudah, mengingat tidak setiap tempat memiliki pengelolaan dengan kapasitas yang sama baiknya. Hotel terutama yang dari internasional memiliki standar cukup baik, namun tempat lain belum tentu bisa dikatakan demikian.

“Kalau hotel sangat siap sekali, wisata Tirta (pemandian) yang memang harus agak keras. Spa, diskotek memang perlu pemikiran yang komprehensif, perlu kedisiplinan kesadaran kolektif masyarakat, kalau mau beroperasi nantinya,” sebut I Putu Aswata.

Kedisiplinan menjadi poin penting demi berjalannya pariwisata di Bali. Sektor ini menjadi penyumbang devisa besar dari tahun ke tahun. Berdasarkan catatannya di 2019 lalu, kontribusi devisa pariwisata Bali mencapai Rp. 116 triliun, atau sekitar 41,43% dari devisa pariwisata nasional sebesar Rp. 280 triliun.

Kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali di tahun 2019 mencapai 6,3 juta orang atau sekitar 39,1% dari wisatawan mancanegara secara nasional, sebesar 16,1 juta orang.

“Dari jumlah tersebut, pengunjung Australia menjadi dominan dengan 1.245.410 orang, disusul Tiongkok dengan 1.185.519 orang, India dengan 374.784 orang, Inggris 287.577 orang dan Amerika 277.391 orang,” papar I Putu Aswata.

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/


  • -

Menteri LHK Siti Nurbaya: Secara Bertahap, Ada 29 Kawasan Pariwisata Konservasi Dibuka Di Tengah Pandemi COVID-19

“Telah tercatat 29 Taman Nasional dan Taman Wisata Alam yang secara bertahap sudah dapat dibuka dari proyeksi waktu saat ini sampai kira-kira pertengahan Juli,” jelas Menteri LHK Siti Nurbaya, dalam keterangan resminya di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, Senin, 22 Juni 2020.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI (KLHK) sebagai bagian dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 (Gugus Tugas Nasional) mengumumkan ada sebanyak 29 kawasan pariwisata konservasi yang dapat dibuka secara bertahap pada masa pandemi COVID-19. Pembukaan kembali kawasan wisata tersebut sebagaimana arahan Presiden Joko Widodo, dalam upaya pemulihan ekonomi dan kesehatan secara paralel, dari lintas kementerian dan Gugus Tugas Nasional.

Menurut Menteri LHK Siti Nurbaya, penentuan 29 lokasi tersebut berdasarkan hasil kerja lapangan KLHK bersama pemerintah daerah melalui Unit Pelaksana Teknis Kerja Kementerian, dengan memperhatikan kondisi tingkat kerawanan COVID-19.

 

Adapun sebanyak 29 kawasan pariwisata konservasi tersebut berada di beberapa wilayah provinsi seperti, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan dan Bali.

Menteri LHK, Siti Nurbaya mengatakan bahwa langkah-langkah dari rencana pembukaan kembali kawasan wisata konservasi tersebut harus memperhatikan penerapan protokol kesehatan.

“Bahwa apa yang paling penting dari persiapan (pembukaan kawasan wisata konservasi) ini adalah langkah-langkah protokoler COVID-19. Dan itu mutlak dilakukan,” jelas Menteri Siti.

Hal itu kemudian menjadi syarat mutlak, sebagaimana yang telah diatur melalui Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.01.07/MENKES/382 tahun 2020 mengenai Protokol Kesehatan Bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian COVID-19.

Selanjutnya, Menteri Siti Nurbaya akan segera memberikan arahan kepada seluruh jajaran KLHK yang sudah dapat mendukung dibukanya kembali kawasan wisata konservasi sesuai protokol COVID-19, untuk melaksanakan, dengan harapan dapat memberikan manfaat bagi daerah dan masyarakat secara luas.

“Mudah-mudahan ini memberi kebaikan bagi daerah dan bagi kita semua,” pungkasnya.

Sumber : http://infokabinet.id/