Aplikasi Pelatihan Online Gratis Untuk Meningkatkan Kompetensi SDM Diluncurkan Assosiasi Pariwisata, Komunitas dan Para Mentor Profesional

  • -

Aplikasi Pelatihan Online Gratis Untuk Meningkatkan Kompetensi SDM Diluncurkan Assosiasi Pariwisata, Komunitas dan Para Mentor Profesional

Indonesia Tourism E-Learning (ITEL) mentargetkan 10.000 peserta dalam 3 bulan kedepan tambahan kemampuan “Up skilling” berbasis kompentensi untuk Karyawan yang terkena dampak dalam bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Jakarta 4 Mei 2002

Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) bersama beberapa assosiasi industri Pariwisata Indonesia seperti GIPI (Gabungan Industri Pariwisata Indonesia), Astindo (Asosiasi Travel Agent Indonesia), IHGMA (Indonesia Hotel General Manager Indonesia), Asperapi (Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia) , ITLA ( Indonesian Tour Leader Association), PUWSI (Perkumpulan Usaha Wisata Selam Indonesia) dan menyusul assosiasi lain hari ini meluncurkan sebuah aplikasi gratis yang dinamakan Indonesia Tourism E.Learning (ITEL) dalam rangka hari Pendidikan Nasional. ITEL merupakan sebuah sistem kursus online gratis yang bersertifikat dengan fokus pada peningkatan dunia pariwisata.

Ada beberapa fitur menarik di dalamnya, yakni Kursus Online, Ruang Kelas, Perpustakaan, Berita Pariwisata, Latihan Soal, dan Ujian. Fitur seperti “Ruang Kelas” dimana terdapat jadual yang diajar langsung oleh para mentor secara online yang dapat ditonton rekamannya pada kelas2 berikutnya , fitur lain adalah Latihan Soal dengan sistem ‘Download and Go”, hanya digunakan oleh peserta sebagai latihan. Fitur Ujian streaming yang dipakai hanya saat ada ujian saja dengan waktu sangat flexible. Panca Sarungu, Ketua Umum MASATA mengatakan, aplikasi ITEL ini tercipta sebagai bentuk kontribusi nyata dari MASATA untuk pariwisata Indonesia.

Selain menambah ilmu pariwisata, aplikasi ini diciptakan untuk mengisi waktu luang pekerja pariwisata yang terkena dampak dari COVID-19. Target utama peserta ITEL ialah para pekerja pariwisata yang terkena PHK atau unpaid leave akibat dampak dari COVID-19, ITEL mentargetkan 10.000 peserta dalam 3 bulan kedepan tambahan kemampuan “Upskiling” berbasis kompentensi untuk karyawan yang terkena dampak dalam bidang Pariwisata dan ekonomi kreatif.

COVID-19 membuat beberapa karyawan dari Industri lain harus mencari alternatif dalam era normal baru “Lewat aplikasi ini, kita juga memikirkan bagaimana caranya membantu orang-orang di industri lain untuk belajar pariwisata. Kesempatan mengajak mereka mau beralih ke industri ini yang selalu digadang2 jadi penghasil devisa no 2 setelah energi, untuk menambah jumlah SDM terlatih yang ada saat ini,” ucap Panca lagi.

ITEL dalam hal ini juga mendukung usaha pemerintah dalam peningkatan SDM seperti yang disampaikan Presiden Jokowi, “Goals kita adalah setelah pandemi ini berakhir, Indonesia memiliki sumber daya nomor 1 di ASEAN untuk industri pariwisata, ibarat direset harusnya kita memanfaatkan masa seperti ini untuk bisa mengasah kemampuan sehingga setelah new normal posisi kita bisa lebih baik dari Malaysia dan Thailand bahkan Singapura,” harapnya lagi.

Tetty DS Ariyanto Ketua Umum ITLA (Indonesia Tour Leader Association) yang menaungi hampir 1500 tour leaders seluruh Indonesia “Sangat penting bagi seorang Tour Leader memiliki kompetensi, baik dasar maupun tambahan, dimana kompetensi yang dibutuhkan adalah yang berkualitas dan bernilai” Lanjut Tetty “Pandemi Covid – 19, #stay home, disikapi oleh para Tour Leader Profesional untuk melakukan perenungan sekaligus memperkaya diri melalui Peer To Peer Sharing dengan bertumpu pada pemanfaatan teknologi” Sebagai wadah profesi, DPP ITLA memfasilitasi peningkatan kapasitas anggotanya melalui program Merdeka Belajar.

“Tujuannya adalah dalam rangka pemeliharaan kompetensi profesi dan agar tetap memiliki kemampuan kebekerjaan (employability skills) dalam situasi dan kondisi di era disrupsi berorientasi layanan prima serta cerdas berinovasi, Kolaborasi ITEL adalah sinergi yang pas dan semoga menghasilkan sinergi yang berfaedah” Jelas Tetty K. Swabawa, CHA , salah satu anggota Dewan Penasihat ITEL yang juga praktisi, penulis buku perhotelan, akademisi serta professional trainer mengatakan “ITEL merupakan suatu terobosan yang inovatif dan satu-satunya platform Learning Managament System di Indonesia yang melibatkan berbagai Industry Expert sebagai online mentornya.

Langkah strategis ini akan menjadi essential supplement dalam rangka akselerasi pembangunan SDM Pariwisata Indonesia yang berdaya saing global” Saat ini Aplikasi ITEL baru dapat diakses oleh pengguna ponsel Android. Untuk pengguna iOS dan Windows akan menyusul beberapa waktu mendatang. Kedepan ITEL akan menggandeng Kementrian, Lembaga, BUMN dan organisasi swasta untuk mengembangkan medium dan higher education.


  • -

Nasib Pegawai Industri Pariwisata: Tak Digaji hingga PHK

Jakarta -Industri pariwisata tengah merana digempur dampak virus corona (COVID-19). Gencarnya gerakan pembatasan aktivitas di luar rumah menyebabkan industri tersebut kehilangan pendapatan. Ditambah lagi mulai hari ini pemerintah sudah melarang arus turis asing ke Indonesia.

Sebut saja biro travel yang sudah merugi hingga Rp 4 triliun. Lalu, sektor perhotelan, sekitar 698 hotel di Indonesia sudah menutup sementara operasionalnya. Hal ini berakibat langsung pada pegawai di kedua sektor tersebut yang merupakan salah satu sumber pemasukan bagi industri pariwisata Indonesia.

Bagaimana nasib pegawai di dua sektor tersebut? Berikut rangkuman detikcom, Kamis (2/4/2020):

1. Karyawan Kontrak di Biro Travel Kena PHK
Sekjen Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline mengatakan, seluruh agen travel sepakat untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada seluruh karyawan kontrak mereka.

“Untuk sementara seluruh kantor agen travel ditutup dulu dan memutuskan (PHK) karyawan kontrak,” ujar Pauline kepada detikcom, Rabu (1/4/2020).

 

2. Karyawan Tetap Biro Travel Dirumahkan, Potong Gaji dan Tak Dapat THR
Pauline menuturkan, para agen travel juga terpaksa melakukan pemotongan gaji pada seluruh karyawan tetap mereka. Pemotongan gaji karyawan itu diberlakukan sementara mengikuti imbauan kerja dari rumah atau work from home (WFH) dari pemerintah di daerah masing-masing.

“Karena kebijakan WFH (work from home/ kerja dari rumah) sehingga kerja dari rumah dan memberlakukan pemotongan gaji untuk semua karyawan. Bulan lalu dipotong selama 1 minggu saja. Bulan ini 2 minggu. Sehingga mereka hanya dibayar 50% plus tidak mendapat uang makan atau transportasi,” paparnya.

Agen travel juga mengaku berat untuk membayarkan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi para karyawannya. Untuk itu, pihaknya berharap pemerintah dapat kembali melonggarkan kebijakan ketenagakerjaan seperti kebijakan soal PHK dan THR.

“Untuk THR, pengusaha tidak akan sanggup bayar sebab tak ada pemasukan dari Februari sampai April ini, untuk itu kalau bisa dilonggarkan peraturan ketenagakerjaannya atau diberi kebijakan baru terkait situasi darurat ini,” sambungnya.

3. Karyawan Hotel Dirumahkan dan Tak Digaji

Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengungkapkan, dengan tutupnya 698 hotel di Indonesia, maka perusahaan terpaksa mencutikan para karyawannya tanpa digaji.

“Jadi perusahaan menerapkan cuti di luar tanggungan perusahaan, unpaid leave, cuti yang tidak dibayarkan. Itu yang terjadi seperti itu karena perusahaan tidak punya dana cash yang cukup,” ungkap Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani kepada detikcom, Rabu (1/4/2020).

4. Badai PHK Mulai Melanda Bisnis Hotel

Sekjen PHRI Maulana Yusran mengungkapkan, PHK sudah mulai terjadi di bisnis perhotelan, contohnya di Jakarta yakni Hotel Aryaduta, dan di Bali.

“Iya betul. Saya nggak tahu detailnya, tapi saya sudah dengar terjadi PHK di sana,” ujar Maulana kepada detikcom, Selasa (31/3/2020).
Bahkan, Maulana memprediksi badai PHK akan terjadi lagi di sektor perhotelan pada bulan ini, April 2020. Di tengah gempuran virus corona (COVID-19) ini perhotelan di Indonesia tak memperoleh pemasukan, namun harus menanggung biaya operasional yang tinggi.

“Kan sudah disampaikan sejak dulu bahwa kekuatan pengusaha itu hanya sampai beberapa bulan. Mungkin nanti April akan terjadi lagi. Situasinya yang membuat sulit dan kita tak terbantu sama sekali, dan operasional cost hotel itu sangat tinggi,” terang Maulana.

 

Sumber : https://finance.detik.com/