Pariwisata Tunggu Kedatangan Wisatawan Mancanegara dengan Aturan “New Normal”

  • -

Pariwisata Tunggu Kedatangan Wisatawan Mancanegara dengan Aturan “New Normal”

Bali sebagai barometer pariwisata Indonesia berhati-hati mempersiapkan kegiatan pariwisata dan memantau perkembangan kebijakan negara-negara lain terkait perjalanan ke luar negeri.

Sektor pariwisata di Indonesia selama triwulan pertama dan kedua 2020 terpuruk ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Banyak usaha pariwisata dan hotel ditutup menyebabkan pegawai diberhentikan atau dirumahkan akibat perebakan virus corona.

Ida Bagus Purwa Sidemen, Direktur Eksekutif BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali mengatakan meski Bali ingin mengembalikan pariwisata seperti sebelumnya namun protokol-protokol baru yang diterapkan pemerintah akan mempengaruhi sektor ini.

Ida Bagus Purwa Sidemen, Direktur Eksekutif BPD PHRI Bali (foto: courtesy).
Ida Bagus Purwa Sidemen, Direktur Eksekutif BPD PHRI Bali (foto: courtesy).

“Mungkin kembalinya pariwisata, tidak seperti “booming” atau maraknya pariwisata sebelum covid karena kalau saya contohkan di hotel ada beberapa prosedur SOP yang diterapkan termasuk misalnya di dalam hotel terdapat restoran, bagaimana mengatur jarak kursi antara satu dengan yang lain, misalnya kalau dulu ada 100 kursi sekarang hanya bisa setengahnya, 50 kursi dan lain sebagainya,” kata IB Purwa Sidemen.

Sejak perebakan virus corona, Indonesia telah kehilangan sumber perolehan devisanya dari sektor pariwisata demikian pula triliunan rupiah pendapatan pajak hotel dan restoran. Direktur Eksekutif BPD PHRI Bali mengatakan dari target sekitar 4,7 triliun rupiah pendapatan pajak hotel dan restoran yang ditetapkan tahun 2020, pemerintah provinsi Bali telah kehilangan hampir 2 triliun rupiah.

Putu Astawa Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali (foto: courtesy).
Putu Astawa Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali (foto: courtesy).

Putu Astawa, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali mengatakan ambruknya pariwisata akibat covid menyebabkan pertumbuhan ekonomi Bali sejak bulan Januari hingga Maret 2020, minus 1,14 %.

Meski ada pelonggaran pembatasan kegiatan masyarakat secara bertahap, Pemda Bali belum menetapkan kapan pariwisata akan mulai dibuka kembali mengingat situasi masyarakat dan kebijakan pemerintah pusat serta pemerintah asal wisatawan asing.

“Karena dari pusat sendiripun pariwisata internasional juga belum dibuka, penerbangan belum ada kemudian negara-negara luar juga belum ada melakukan perjalanan untuk perjalanan luar negeri mereka sehingga masalah visa juga belum ada kejelasan dari pemerintah kita,” lanjut Putu Astawa.

Akibat situasi ini, pariwisata masih mempersiapkan kondisi “new normal” karena tren mendatang pada pariwisata global akan berfokus pada CHS “Clean, Health, Safety” atau Kebersihan, Kesehatan dan Keamanan, kata Putu Astawa. Beberapa negara wisatawan asing, seperti Belanda dan Australia telah menyampaikan rencana perjalanan luar negeri mereka.

Objek wisata Taman Mumbul di Sangeh, Bali (foto: Gus Santi Utama).
Objek wisata Taman Mumbul di Sangeh, Bali (foto: Gus Santi Utama).

“Rata-rata menyampaikan sekitar bulan Oktober, baru akan bepergian kalau toh kelihatannya Juli dibuka Bali, mungkin juga belum ada wisatawan yang datang,” tambah Putu Astawa.

Terkait citra pariwisata dan upaya meyakinkan warga asing, Pemda Bali juga menyambut partisipasi desa dalam mengamankan wilayahnya lewat keterlibatan aparat petugas pengaman desa adat (pecalang) dalam mencegah perebakan di wilayahnya. Partisipasi ini menjadi kampanye lunak pariwisata, dan telah berimbas pada pencapaian tingkat kesembuhan Bali yang tertinggi dari virus corona di Indonesia.

Putu Agus Yudiawan, pengamat dan aktivis pariwisata dan sosial di Bali, mengatakan terlepas dari kebijakan pemerintah, warga yang selama hampir enam bulan menggantungkan diri pada inovasi mata pencaharian daripada pendapatan sektor pariwisata, siap Bali dibuka kembali.

Warga Menuju Pura di Bali (foto: Gus Santi Utama).
Warga Menuju Pura di Bali (foto: Gus Santi Utama).

“Saya sudah berkecimpung di pariwisata lama selama 24 tahun, saya kira Bali selalu siap untuk menerima pariwisata, baik dengan aturan “New Normal”. Di Bali sudah mulai ada perubahan-perubahan signifikan tentang cara hidup misalnya restoran, di depan rumah makan yang dulunya tidak ada tempat cuci tangan sekarang ada, apalagi hotel lebih dari siap,” kata Agus Yudiawan.

Hingga pertengahan Juni 2020, dari sekitar 5000 hotel berbintang dan non bintang dengan 146 ribu kamar di Bali, tingkat hunian hotel kurang dari 2 %. [my/jm]

Sumber : https://www.voaindonesia.com/


  • -

Pariwisata Terimbas Corona, Bantuan Tunai Hingga Stimulus Fiskal Disiapkan

Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah telah menyiapkan berbagai skema seperti program Bantuan Langsung Tunai (BLT), stimulus fiskal untuk membantu sektor pariwisata, dan juga Program Kartu Pra-Kerja sebagai jaring sosial bagi masyarakat yang paling terkena dampak virus corona Covid-19.

“Untuk stimulus fiskal tahap kedua beberapa pasal seperti pasal 21 dan 25 Itu di-extend ke sektor pariwisata. Kami juga sudah siapkan BLT untuk masyarakat kita yang paling terdampak, kemudian untuk Kartu Pra-Kerja juga sudah dialihkan untuk benefit bagi yang mengalami pemutusan hubungan kerja,” ujar Airlangga kala rapat bersama Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, seperti dilansir dalam keterangan tertulis, Jumat, 27 Maret 2020.

Dalam rapat itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama melihat perlunya benefit khusus seperti pengurangan pajak bagi hotel dan restoran yang tidak memutus hubungan kerja dengan para karyawannya. Hal ini berkaitan dengan anjloknya kinerja industri sektor pariwisata lantaran terhantam wabah cirus corona.

“Extra benefit kepada perusahaan-perusahaan yang tidak melakukan PHK bagi karyawannya, semisal pengurangan pajak untuk hotel dan restoran di Indonesia, hal itu akan sangat membantu mereka,” ujar Wishnutama.

Selain benefit, Wishnutama juga menyarankan agar program Kartu Pra-Kerja dapat diprioritaskan untuk para pekerja yang mendapatkan PHK akibat dunia usaha yang terkena dampak Covid-19. “Kami menyarankan ini diprioritaskan kepada karyawan yang mengalami PHK jadi untuk kartu Pra-Kerja yang training bisa dialihkan ke tahun depan apalagi mengingat kondisi seperti saat ini,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Bank Indonesia menyampaikan kondisi saat ini lebih kompleks dibandingkan dengan kondisi pada 2008 ketika saat itu dunia juga diterpa krisis ekonomi global. Namun, BI tetap memprioritaskan di bidang kesehatan masyarakat, jaring pengaman sosial dan juga terus berupaya menstabilkan sektor keuangan.

“Kami fokus ke penanganan kesehatan masyarakat, kemudian kepada program social safety net, karena ini berdampak sangat luar biasa bagi masyarakat. BI juga terus berusaha menstabilkan sektor keuangan, dengan cadangan devisa kita yang jumlahnya juga cukup besar,” ujar Deputi Senior Gubernur BI, Destri Damayanti.

Menurut Plt Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenko Marves, Odo Manuhutu, sektor pariwisata memang banyak terkena dampak. Dia pun menyarankan beberapa hal di antaranya dengan benefit khusus. “Semoga dengan adanya forum ini dapat membantu masyarakat, terutama di sektor yang paling banyak terdampak,” kata dia.

 

Sumber : https://bisnis.tempo.co/


  • -

Menparekraf Wishnutama Siap Jalin Kerjasama Dengan MNC Group Demi Kemajuan Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Indonesia

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada MNC Group atas komitmen dan dukungan dalam memajukan industri pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia.

Hal ini ia sampaikan seusai audiensi bersama jajaran MNC Group di Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat, Senin (13/1/2020). Menurut pemaparan Menparekraf Wishnutama Kusubandio dari hasil audiensi tersebut ada banyak peluang kerjasama yang bisa dilakukan oleh Kemenparekraf dan MNC Group.

“Audiensi tadi luar biasa sekali. Ada banyak hal yang bisa kita kerjasama. Mulai dari sisi pariwisata, media, film, animasi, hingga aplikasi. Banyak sekali yang berkaitan dengan Kemenparekraf. Karena memang tanggung jawab kami terhadap bidang-bidang tersebut sangat terkait sekali,” ujarnya.

Menparekraf Wishnutama Kusubandio pun yakin bahwa di masa yang akan datang, bukan tidak mungkin kerjasama antara MNC Group dan Kemenparekraf RI bisa terjalin. Apalagi melihat fakta bahwa keberadaan media sangat diperlukan dalam menunjang jalannya promosi potensi wisata baik di dalam maupun di luar negeri.

Sumber : https://lifestyle.okezone.com/