Tegal Mas Dapat Piagam Masata untuk Destinasi Wisata Bersih, Sehat, Aman, dan Menjaga Lingkungan

  • -

Tegal Mas Dapat Piagam Masata untuk Destinasi Wisata Bersih, Sehat, Aman, dan Menjaga Lingkungan

Organisasi komunitas pelaku, pemerhati, pecinta pemajuan dunia pariwisata Indonesia, Masyarakat Sadar Wisata (MASATA), secara eksklusif memberikan penghargaan bergengsi kepada pengampu destinasi wisata Pulau Tegal Mas, Pesawaran, Lampung, Jumat 9 Oktober 2020.

Penghargaan itu berupa Piagam Apresiasi Pulau Tegal Mas Lampung Telah Memenuhi Persyaratan Standarisasi CHSE (Cleanliness, Healthty, Safety, and Environmental Sustainability) Destinasi Pariwisata Indonesia.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) MASATA Panca Rudolf Sarungu dan Sekretaris Jenderal Andi Azwan, didampingi sejumlah pengurus DPP menyerahkan piagam tersebut kepada Direktur Utama PT Tegal Mas Thomas, Rafsanzani Patria, mewakili Thomas Azis Riska selaku owner destinasi.

Penyerahan di sela kunjung lapang itu berlangsung hangat di dermaga utama Pulau Tegal Mas, di bawah pandu ketat protokol kesehatan COVID-19.

Direktur Operasional Pulau Tegal Mas, Happy Yulizar, hangat menyampaikan ucapan selamat datang. Disusul kata sambutan dari Sekjen DPP MASATA Andi Azwan, mewakili ketumnya.

Andi mengungkapkan, pihaknya cukup tersanjung atas sambutan tuan rumah. “Pulau Tegal Mas ini sungguh karunia Tuhan yang luar biasa. Surga kecil, Maldives of Indonesia, from Lampung,” pujinya disahut aplaus yang hadir.

Menjelaskan maksud kedatangan, tak lupa Andi mensosialisasikan berikut hasil agenda diskusi fokus terpumpun/ Focus Group Discussion (FGD) Strategi Reaktivasi Pariwisata Nusantara di Provinsi Lampung, sehari sebelumnya, Kamis 8 Oktober 2020, di Hotel Bukit Randu, Bandarlampung.

Gelaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bareng MASATA itu, membangunkan kembali optimisme elemen pemangku kepentingan sektor pariwisata regional se-Sumatera.

Yakni untuk tetap tangguh bertahan di tengah pandemi, bersama meyakini bahwa pemajuan pesat akan kembali dirasakan masyarakat pariwisata di Indonesia pascapandemi, disertai kata kunci proses pemajuannya: kolaborasi.

“Alhamdulillah kegiatan FGD yang dilaksanakan oleh Kemenparekraf dan MASATA berjalan dengan sukses. Demikian juga Kick Off Penerapan Protokol Pariwisata dan Sosialisasi Digitalisasi Pariwisata MASATA dan Telkom Indonesia, di Lembah Hijau Lampung, kemarin (Kamis),” ujarnya.

Pria berlatar 20-an tahun pengalaman profesional sejumlah perusahaan multinasional di Jakarta-Hongkong ini menambahkan, dengan tangan terbuka pihaknya mengajak Pulau Tegal Mas bersinergi berkolaborasi memajukan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Lampung, Sumatera dan Indonesia.

“MASATA siap mendukung dan bekerja sama, kami juga siap mempromosikan tempat yang indah ini melalui semua media sosial MASATA,” janjinya.

Dirut Tegal Mas, Rafsanzani Patria, semangat pidatonya berterima kasih atas penganugerahan piagam apresiasi, juga mengatakan itu jadi sebuah kebahagiaan, kebanggaan, kesan mendalam, pelecut semangat pihaknya untuk terus berbuat terbaik bagi pemajuan pariwisata di Lampung.

Paparannya, soal seluk beluk muasal berdirinya destinasi Tegal Mas, yang beroperasi sejak 2018 usai Thomas Azis Riska bersama warga setempat bahu-membahu dan jatuh bangun membangun pulau eksotis itu.

“Dulunya pulau ini bisa dibilang pulau hantu, tak berpenghuni. Saat kami para warga sini, bertemu pak Thomas Riska selanjutnya terus berjuang bersama-sama hingga saat ini, saat itu kami menemukan selain lautan sampah juga ada mohon maaf, 86 mayat manusia saat pembersihan pulau dan wilayah sekeliling,” ungkap dia, bikin kaget juga tercengang yang mendengarnya.

Dia menambahkan, sebelum dikelola pihaknya, Pulau Tegal Mas juga dikenal sebagai penampung ‘setia’ sampah laut dan pesisir pantai Teluk Lampung.

“Sampai sekarang masih pak. Disini ada siklus Januari-Februari, di bulan itu pulau ini kedatangan sampah berton-ton jumlahnya. Eksavator kami pun tak cukup imbangi volume sampah yang ada. Abis gimana, masih buruknya sistem penanganan sampah oleh pemda, tak heran warga di pesisir sana rata-rata buang sampah ya ke laut. Dari itu kami juga aktif bersama lakukan penyadaran,” Rafsazani setengah curhat mengeluarkan unek-unek suka duka.

Sekadar informasi, apa CHSE dan Say CHSE, peran MASATA berkecimpung didalamnya, secara normatif CHSE ini Panduan Pelaksanaan Kesehatan, Kebersihan, dan Keselamatan untuk sektor Hotel, Restoran dan Bioskop.

Menparekraf/Kepala Baparekraf Wishnutama Kussubadio meluncurkan program tematik ini bareng program “Indonesia Care” atau I Do Care pada 11 Juli 2020 lalu, ditandai dengan pemutaran video “Indonesia Care” di Studio XXI Plaza Senayan, Jakarta.(*/rls)

Sumber : https://lampung.tribunnews.com/


  • -

Aplikasi Pelatihan Online Gratis Untuk Meningkatkan Kompetensi SDM Diluncurkan Assosiasi Pariwisata, Komunitas dan Para Mentor Profesional

Indonesia Tourism E-Learning (ITEL) mentargetkan 10.000 peserta dalam 3 bulan kedepan tambahan kemampuan “Up skilling” berbasis kompentensi untuk Karyawan yang terkena dampak dalam bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Jakarta 4 Mei 2002

Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) bersama beberapa assosiasi industri Pariwisata Indonesia seperti GIPI (Gabungan Industri Pariwisata Indonesia), Astindo (Asosiasi Travel Agent Indonesia), IHGMA (Indonesia Hotel General Manager Indonesia), Asperapi (Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia) , ITLA ( Indonesian Tour Leader Association), PUWSI (Perkumpulan Usaha Wisata Selam Indonesia) dan menyusul assosiasi lain hari ini meluncurkan sebuah aplikasi gratis yang dinamakan Indonesia Tourism E.Learning (ITEL) dalam rangka hari Pendidikan Nasional. ITEL merupakan sebuah sistem kursus online gratis yang bersertifikat dengan fokus pada peningkatan dunia pariwisata.

Ada beberapa fitur menarik di dalamnya, yakni Kursus Online, Ruang Kelas, Perpustakaan, Berita Pariwisata, Latihan Soal, dan Ujian. Fitur seperti “Ruang Kelas” dimana terdapat jadual yang diajar langsung oleh para mentor secara online yang dapat ditonton rekamannya pada kelas2 berikutnya , fitur lain adalah Latihan Soal dengan sistem ‘Download and Go”, hanya digunakan oleh peserta sebagai latihan. Fitur Ujian streaming yang dipakai hanya saat ada ujian saja dengan waktu sangat flexible. Panca Sarungu, Ketua Umum MASATA mengatakan, aplikasi ITEL ini tercipta sebagai bentuk kontribusi nyata dari MASATA untuk pariwisata Indonesia.

Selain menambah ilmu pariwisata, aplikasi ini diciptakan untuk mengisi waktu luang pekerja pariwisata yang terkena dampak dari COVID-19. Target utama peserta ITEL ialah para pekerja pariwisata yang terkena PHK atau unpaid leave akibat dampak dari COVID-19, ITEL mentargetkan 10.000 peserta dalam 3 bulan kedepan tambahan kemampuan “Upskiling” berbasis kompentensi untuk karyawan yang terkena dampak dalam bidang Pariwisata dan ekonomi kreatif.

COVID-19 membuat beberapa karyawan dari Industri lain harus mencari alternatif dalam era normal baru “Lewat aplikasi ini, kita juga memikirkan bagaimana caranya membantu orang-orang di industri lain untuk belajar pariwisata. Kesempatan mengajak mereka mau beralih ke industri ini yang selalu digadang2 jadi penghasil devisa no 2 setelah energi, untuk menambah jumlah SDM terlatih yang ada saat ini,” ucap Panca lagi.

ITEL dalam hal ini juga mendukung usaha pemerintah dalam peningkatan SDM seperti yang disampaikan Presiden Jokowi, “Goals kita adalah setelah pandemi ini berakhir, Indonesia memiliki sumber daya nomor 1 di ASEAN untuk industri pariwisata, ibarat direset harusnya kita memanfaatkan masa seperti ini untuk bisa mengasah kemampuan sehingga setelah new normal posisi kita bisa lebih baik dari Malaysia dan Thailand bahkan Singapura,” harapnya lagi.

Tetty DS Ariyanto Ketua Umum ITLA (Indonesia Tour Leader Association) yang menaungi hampir 1500 tour leaders seluruh Indonesia “Sangat penting bagi seorang Tour Leader memiliki kompetensi, baik dasar maupun tambahan, dimana kompetensi yang dibutuhkan adalah yang berkualitas dan bernilai” Lanjut Tetty “Pandemi Covid – 19, #stay home, disikapi oleh para Tour Leader Profesional untuk melakukan perenungan sekaligus memperkaya diri melalui Peer To Peer Sharing dengan bertumpu pada pemanfaatan teknologi” Sebagai wadah profesi, DPP ITLA memfasilitasi peningkatan kapasitas anggotanya melalui program Merdeka Belajar.

“Tujuannya adalah dalam rangka pemeliharaan kompetensi profesi dan agar tetap memiliki kemampuan kebekerjaan (employability skills) dalam situasi dan kondisi di era disrupsi berorientasi layanan prima serta cerdas berinovasi, Kolaborasi ITEL adalah sinergi yang pas dan semoga menghasilkan sinergi yang berfaedah” Jelas Tetty K. Swabawa, CHA , salah satu anggota Dewan Penasihat ITEL yang juga praktisi, penulis buku perhotelan, akademisi serta professional trainer mengatakan “ITEL merupakan suatu terobosan yang inovatif dan satu-satunya platform Learning Managament System di Indonesia yang melibatkan berbagai Industry Expert sebagai online mentornya.

Langkah strategis ini akan menjadi essential supplement dalam rangka akselerasi pembangunan SDM Pariwisata Indonesia yang berdaya saing global” Saat ini Aplikasi ITEL baru dapat diakses oleh pengguna ponsel Android. Untuk pengguna iOS dan Windows akan menyusul beberapa waktu mendatang. Kedepan ITEL akan menggandeng Kementrian, Lembaga, BUMN dan organisasi swasta untuk mengembangkan medium dan higher education.


  • -

Dear Wishnutama, Pramuwisata Menanti Kepastian Kartu Pra Kerja

Jakarta -Di tengah corona, Kartu Pra Kerja dijanjikan oleh Kemenparekraf untuk membantu pekerja industri. Hingga kini, pramuwisata pun masih menanti kejelasan.

Untuk membantu para pekerja industri pariwisata yang terdampak corona, Kemenparekraf hingga DPR mengeluarkan anggaran darurat berjumlah 1 triliun rupiah. Hal itu menurut Wakil Ketua Komisi X DPR RI Pendidikan dan Pariwisata, Dede Yusuf dalam Webinar yang diadakan oleh Indonesian Food & Beverage Executive Association (IFBEC) dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) pada Kamis lalu (9/4).

Diungkapkan olehnya, selama masa pandemi ada beberapa fase yang akan masyarakat lalui. Fase yang pertama, yaitu yang sekarang sedang dialami berupa tanggap darurat.

“Untuk tanggap darurat saat ini realokasi untuk anggaran yang diambil pariwisata adalah 500 miliar untuk memberikan pelatihan-pelatihan pekerja pariwisata untuk masa kosong seperti ini dan mendukung kartu pra kerja dari karyawan PHK atau pekerja honorer yang mendapat uang harian,” kata Dede.

Sementara itu, pada Selasa (7/4) Deputi Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Fajar Utomo, mengatakan bahwa Kemenparekraf menjaring 55 ribu-80 ribu tambahan orang untuk mendapatkan Kartu Pra Kerja. Ia optimistis bisa segera menambah 120 ribu orang lagi untuk bisa didaftarkan ke dalam Kartu Pra Kerja.

Sekilas, anggaran darurat berjumlah hingga 1 triliun rupiah hingga Kartu Pra Kerja yang dijanjikan pemerintah dan lembaga terkait memang cukup menjanjikan. Hanya bagi kalangan pramuwisata dan tour leader, masih membingungkan.Sementara itu, pada Selasa (7/4) Deputi Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Fajar Utomo, mengatakan bahwa Kemenparekraf menjaring 55 ribu-80 ribu tambahan orang untuk mendapatkan Kartu Pra Kerja. Ia optimistis bisa segera menambah 120 ribu orang lagi untuk bisa didaftarkan ke dalam Kartu Pra Kerja.

“Kemenparekraf menawarkan Kartu Pra Kerja, tapi kami kan terus terang masih bingung. Apa itu kartu Pra Kerja? Karena apa yang ada di benak teman-teman adalah uang cash BLT, Bantuan Langsung Tunai, tapi itukan kayaknya gak mungkin,” ujar Ketua DPP Himpunan Pramuwisata (HPI) Jakarta, Revalino Tobing atau akrab disapa bang Lino pada detikcom via sambungan telepon, Senin (20/4/2020).

Lino pun mengatakan, kalau pihaknya dan pengurus pusat telah mendaftarkan seluruh pramuwisata dan tour leader yang terdampak virus corona ke Kemenparekraf. Hanya belum ada kejelasan.

“Sementara Kemenparekraf minta pada DPP Pusat, daftar nama anggota lengkap dengan NIKnya penduduk KTP lain-lain. Itu sdah kami kumpulkan hampir 10 ribu orang. Karena anggota seluruh Indonesia hampir 12 ribuan. Sudah kita berikan, tapi gak ada kabar,” ujar Lino.

Hanya diakui Lino, sudah ada perwakilan dari Kemenparekraf yang telah mengontaknya untuk memberi bantuan lewat program yang disebutnya padat karya. Hanya dalam pelaksanaannya, masih sulit bagi para pramuwisata.

“Masalahnya program padat karya kami ini kan pahamnya hanya pariwisata. Kami ini pemandu wisata, teman-teman juga gak semuanya punya bakat yang sama. Tahunya hanya cerita storytelling dan lain-lain. Nah, jadi tawaran atupun kalau ditanya kira-kira program apa untuk padat karya kami masih bingung,” urai Lino.

Dijabarkan Lino, program padat karya itu bervariasi dari pelatihan hingga bidang agrikultur. Hanya dirasa Lino, masih kurang tepat.

“Kecuali kalau pelatihan yang untuk meningkatkan kemampuan sang guide, kami bisa. Tapi itu pun gak semua jadi pengajar, karena dia konsepnya semua jadi pengajar. Kalau semua jadi pengajar siapa yang jadi murid? Kami ditawarkan juga untuk agrowisata, suruh naneem-nanem. Kami di Jakarta mana ada yang punya lahan,” ujar Lino.

Sebagai penyambung keindahan pariwisata Indonesia di garda terdepan, Lino yang mewakili pramuwisata dan para tour leader merasa masih kurang mendapat perhatian dari para pemangku kepentingan. Khususnya di saat sulit seperti ini.

“Sementara yang menunggu ini teman-teman se-Indonesia 12 ribu orang lebih, itu baru guide doang. Karena kami merasakan pariwisata dari segala sektor kan kami penyumbang devisa kedua terbesar di Indonesia dan jumlahnya tak sedikit. Kalau kami mati suri yang hilang uang negara pun jauh lebih banyak lagi,” pungkas Lino.Sebagai penyambung keindahan pariwisata Indonesia di garda terdepan, Lino yang mewakili pramuwisata dan para tour leader merasa masih kurang mendapat perhatian dari para pemangku kepentingan. Khususnya di saat sulit seperti ini.

Pada akhirnya, Lino pun menanti ketegasan dari para pemangku kepentingan di pucuk tertinggi industri pariwisata seperti Kemenparekraf untuk memperhatikan para bawahannya.

“Karena pada intinya pariwisata tergantung pucuk pimpinan kota atau negaranya. Kalau pariwisata ini benar-benar penting, mereka harus ingat kalau indonesia itu kaya sekali seni tradisi budaya, mereka datang ke indonesia mereka perlu guide. Supaya tahu lebih dalam lagi apa yang kita punya,” tutup Lino.

Di masa sulit ini, Lino dengan kapasitasnya sebagai ketua DPD HPI Jakarta pun terus memberi wejangan positif bagi para rekan-rekannya yang masih sama-sama berjuang. Hanya itu saja yang tersisa, entah untuk berapa lama

 

Sumber : https://travel.detik.com/


  • -

Presiden Joko Widodo: Siap-siap Booming Pariwisata 2021

Jakarta – Presiden Joko Widodo memperkirakan sektor pariwisata akan mengalami perkembangan pesat pada 2021 atau setelah pandemi Covid-19 berlalu. Pernyataan itu disampaikan Pesiden Jokowi dalam rapat terbatas melalui konferensi virtual dari Istana Merdeka Jakarta, pada Kamis, 16 April 2020.

“Saya meyakini ini (wabah corona) hanya sampai akhir tahun. Tahun depan akan terjadi booming di bidang pariwisata,” kata Presiden Joko Widodo dalam rapat dengan topik ‘Mitigasi Dampak Covid-19 terhadap Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Saat pandemi Covid-19 mereda, Jokowi mengatakan semua orang ingin keluar rumah dan menikmati keindahan.

Seperti diketahui, berbagai kebijakan untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona, seperti lock down, karantina wilayah, hingga physical distancing memaksa orang agar lebih banyak tinggal di rumah. Sebab itu, Presiden Joko Widodo berharap para pelaku industri pariwisata tetap optimistis.

Sumber : tempo.co


  • -

Libur Akhir Tahun, Kemenparekraf Ajak Buat Paket Wisata

TEMPO.COJakarta – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengajak para pelaku industri pariwisata untuk optimistis di tengah pandemi Covid-19, untuk tetap mempersiapkan paket liburan cuti bersama akhir tahun, setelah masa darurat corona berlalu.

Menparekraf Wishnutama Kusubandio mengatakan pihaknya akan mempersiapkan rencana dan langkah, untuk mendukung program yang menggeser cuti bersama Idul Fitri 1441 H ke akhir tahun nanti.
“Perubahan cuti bersama Idul Fitri 2020 ini harus benar-benar diantisipasi masyarakat untuk tidak bepergian atau mudik saat lebaran nanti dan menggantinya pada akhir tahun,” ujarnya. Menurut Wishnutama, fokus pemerintah pada masa tanggap darurat ini adalah penanganan dan pencegahan penyebaran Covid-19.
Pergeseran libur bersama ke akhir tahun dilakukan dengan pertimbangan, bahwa pada akhir tahun Pandemi Covid-19 diperkirakan telah tertangani dengan baik. Selain itu, akhir tahun juga merupakan masa liburan sekolah dan memberikan waktu kepada keluarga untuk merencanakan libur akhir tahun.
Hal itu sesuai dengan rencana Kemenparekraf/Baparekraf yang akan mengutamakan pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) dalam masa pemulihan setelah pandemi Covid-19 dinyatakan selesai oleh pemerintah.
“Saya berharap, bergesernya liburan ke akhir tahun bersamaan dengan berakhirnya pandemi, sehingga dapat membantu industri pariwisata yang terdampak untuk bangkit kembali,” kata Wishnutama.
Perubahan cuti bersama 2020 tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Nomor 391/2020, Nomor 02/2020 dan Nomor 02/2020 tentang Perubahan Kedua atas Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan dan Menteri PANRB Nomor 728/2019, Nomor 213/2019, dan Nomor 01/2019 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2020.
Ketetapan dalam SKB antara lain menggeser cuti bersama Idul Fitri 1441 H, yang semula ditetapkan 26 – 29 Mei 2020 digeser ke tanggal 28 – 31 Desember 2020. Sementara libur Hari Raya Idul Fitri tetap pada 24-25 Mei 2020, dan tambahan cuti bersama pada hari libur nasional Maulid Nabi Muhammad SAW pada 28 Oktober 2020.
Sumber : https://travel.tempo.co/

  • -

Nasib Pegawai Industri Pariwisata: Tak Digaji hingga PHK

Jakarta -Industri pariwisata tengah merana digempur dampak virus corona (COVID-19). Gencarnya gerakan pembatasan aktivitas di luar rumah menyebabkan industri tersebut kehilangan pendapatan. Ditambah lagi mulai hari ini pemerintah sudah melarang arus turis asing ke Indonesia.

Sebut saja biro travel yang sudah merugi hingga Rp 4 triliun. Lalu, sektor perhotelan, sekitar 698 hotel di Indonesia sudah menutup sementara operasionalnya. Hal ini berakibat langsung pada pegawai di kedua sektor tersebut yang merupakan salah satu sumber pemasukan bagi industri pariwisata Indonesia.

Bagaimana nasib pegawai di dua sektor tersebut? Berikut rangkuman detikcom, Kamis (2/4/2020):

1. Karyawan Kontrak di Biro Travel Kena PHK
Sekjen Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline mengatakan, seluruh agen travel sepakat untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada seluruh karyawan kontrak mereka.

“Untuk sementara seluruh kantor agen travel ditutup dulu dan memutuskan (PHK) karyawan kontrak,” ujar Pauline kepada detikcom, Rabu (1/4/2020).

 

2. Karyawan Tetap Biro Travel Dirumahkan, Potong Gaji dan Tak Dapat THR
Pauline menuturkan, para agen travel juga terpaksa melakukan pemotongan gaji pada seluruh karyawan tetap mereka. Pemotongan gaji karyawan itu diberlakukan sementara mengikuti imbauan kerja dari rumah atau work from home (WFH) dari pemerintah di daerah masing-masing.

“Karena kebijakan WFH (work from home/ kerja dari rumah) sehingga kerja dari rumah dan memberlakukan pemotongan gaji untuk semua karyawan. Bulan lalu dipotong selama 1 minggu saja. Bulan ini 2 minggu. Sehingga mereka hanya dibayar 50% plus tidak mendapat uang makan atau transportasi,” paparnya.

Agen travel juga mengaku berat untuk membayarkan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi para karyawannya. Untuk itu, pihaknya berharap pemerintah dapat kembali melonggarkan kebijakan ketenagakerjaan seperti kebijakan soal PHK dan THR.

“Untuk THR, pengusaha tidak akan sanggup bayar sebab tak ada pemasukan dari Februari sampai April ini, untuk itu kalau bisa dilonggarkan peraturan ketenagakerjaannya atau diberi kebijakan baru terkait situasi darurat ini,” sambungnya.

3. Karyawan Hotel Dirumahkan dan Tak Digaji

Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengungkapkan, dengan tutupnya 698 hotel di Indonesia, maka perusahaan terpaksa mencutikan para karyawannya tanpa digaji.

“Jadi perusahaan menerapkan cuti di luar tanggungan perusahaan, unpaid leave, cuti yang tidak dibayarkan. Itu yang terjadi seperti itu karena perusahaan tidak punya dana cash yang cukup,” ungkap Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani kepada detikcom, Rabu (1/4/2020).

4. Badai PHK Mulai Melanda Bisnis Hotel

Sekjen PHRI Maulana Yusran mengungkapkan, PHK sudah mulai terjadi di bisnis perhotelan, contohnya di Jakarta yakni Hotel Aryaduta, dan di Bali.

“Iya betul. Saya nggak tahu detailnya, tapi saya sudah dengar terjadi PHK di sana,” ujar Maulana kepada detikcom, Selasa (31/3/2020).
Bahkan, Maulana memprediksi badai PHK akan terjadi lagi di sektor perhotelan pada bulan ini, April 2020. Di tengah gempuran virus corona (COVID-19) ini perhotelan di Indonesia tak memperoleh pemasukan, namun harus menanggung biaya operasional yang tinggi.

“Kan sudah disampaikan sejak dulu bahwa kekuatan pengusaha itu hanya sampai beberapa bulan. Mungkin nanti April akan terjadi lagi. Situasinya yang membuat sulit dan kita tak terbantu sama sekali, dan operasional cost hotel itu sangat tinggi,” terang Maulana.

 

Sumber : https://finance.detik.com/


  • -

Antisipasi Jatuhnya Bisnis Pariwisata, PATA Bentuk Pusat Krisis

TEMPO.COBangkok – Asosiasi Perjalanan Asia Pasifik (PATA) pada Kamis, 2 Maret 2020 mengumumkan peluncuran Pusat Sumber Daya Krisis PATA dan Pemantau Pemulihan Pariwisata.

Dua program tersebut merupakan platform terpadu yang menyediakan kebijakan terkini, informasi resmi, dan indikator pariwisata dari seluruh dunia. Tujuannya untuk menyediakan repositori terpusat untuk informasi global, yang dapat diandalkan bagi pelaku bisnis pariwisata sesuai kebutuhan mereka.

Pusat Sumber Daya Krisis PATA adalah hasil dari pilot Expert Task Force (ETF) yang dipimpin oleh PATA Immediate Past Chair, Sarah Mathews. ETF bertugas untuk mengumpulkan pengetahuan, menghasilkan dukungan, dan membantu anggota dan pemangku kepentingan industri di seluruh dunia mengakses solusi dan membantu pemerintah dalam memahami tantangan melalui survei dari dampak pariwisata.

Wakil Ketua PATA Segera Hwa Wong juga memimpin ETF untuk mendirikan PATA Tourism Recovery Monitor, yang bertujuan menjadi perencana pariwisata strategis dan membuat keputusan untuk tetap mengikuti perkembangan lingkungan yang cepat berubah. Kedua inisiatif ditempatkan di bawah satu microsite.

“Industri perjalanan dan pariwisata telah melewati berbagai jenis krisis. Namun, pandemi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini merupakan ancaman besar bagi seluruh industri yang berdampak pada mata pencarian ekonomi jutaan orang di seluruh dunia,” ujar Mathews.

Menurut World Travel & Tourism Council (WTTC), hingga 75 juta pekerjaan berisiko langsung secara global, sementara kerugian PDB perjalanan dan pariwisata terhadap ekonomi dunia mencapai US$ 2,1 triliun.

“Oleh karena itu, saya merasa sangat penting bahwa kami mengumpulkan pakar krisis global seperti Damian Cook dari E-Tourism Frontiers, Willem Niemeijer dari YAANA Ventures, dan Greg Klassen dari Twenty31 untuk membantu menciptakan Pusat Sumber Daya Krisis jangka panjang,” imbuhnya.

ETF akan menjadi sumber informasi terpadu untuk organisasi perjalanan dan pariwisata, agar dapat menemukan solusi bagi krisis saat ini, “Kami meluncurkan dengan dua area fokus utama; satu adalah untuk menampung semua upaya di seluruh dunia oleh pemerintah yang memiliki dan menyediakan bantuan dan dukungan bagi para pemangku kepentingan industri mereka di dalam pusat sumber daya,” kata Mathews.

Kedua, menurut Mathews, ETF meminta industri untuk menyelesaikan survei dampak bisnis yang hasilnya untuk memetakan masalah, agar pemerintah dapat memberi dukungan yang lebih besar.

 

Sumber : https://travel.tempo.co/


  • -

Para Tenaga Medis Mulai Manfaatkan Fasilitas Dari Kemenparekraf

Jakarta – Tenaga medis serta tim gugus tugas penanganan Covid-19 dari empat rumah sakit rujukan di Jakarta, mulai memanfaatkan akomodasi dan transportasi yang disiapkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Barekraf) yang bekerja sama dengan sejumlah stakeholder pariwisata, Rabu (1/4/2020).

Menurut Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kemenparekraf, Ari Juliano Gema, kerja sama dengan berbagai pihak tersebut sudah sejalan dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2020 tentang pemfokusan ulang (refocusing) kegiatan, realokasi anggaran, serta pengadaan barang dan jasa untuk percepatan penanganan Covid-19.
Kemenparekraf bersama dengan Accor Group sebelumnya telah menjalin kerja sama dengan menyediakan 615 kamar yang disesuaikan dengan kebutuhan empat rumah sakit rujukan Covid-19 di Jakarta. Dengan jumlah kamar tersebut akan menjadi tempat istirahat 1.100 tenaga medis dengan skema kamar mix twin dan single room.
Meski sudah menerapkan Standard Operational Procedure (SOP) kesehatan yang ditetapkan dalam pelayanannya, pihak hotel mendapatkan pelatihan dan informasi tambahan dari Kementerian Kesehatan terkait SOP kesehatan pencegahan penularan Covid-19.
“Sehingga pihak hotel benar-benar siap, sampai akhirnya tenaga medis dan gugus tugas penanganan Covid-19 dari empat rumah sakit rujukan itu mulai menempati penginapan pada pukul 14.00 siang tadi,” kata Ari.
Rincian tenaga medis tersebut adalah 360 tenaga medis dari RSCM yang menginap di 10 kamar single dan 175 kamar twin di Novotel Cikini. Armada transportasinya disiapkan oleh Panorama Group dengan mengoperasikan empat bus dan satu minivan.
Kemudian 260 tenaga medis dari RSPAD akan beristirahat di 40 kamar single di Hotel Ibis Senen, dan 110 kamar twin yang terbagi dalam 22 kamar di Novotel Cikini, 37 kamar di Mercure Cikini, dan 51 kamar di Ibis Senen. Transportasi para tenaga medis tersebut disiapkan oleh pihak Blue Bird dengan enam bus dan satu minivan.
 
Sebanyak 250 tenaga medis dari RSPI Sulianti Saroso akan diantar jemput menggunakan lima bus dan satu minivan dari Antavaya untuk menginap di Ibis Style Sunter. Dengan ketersediaan kamar sebanyak 50 kamar single dan 91 kamar twin.
Bagi tenaga medis dari RS Persahabatan, terdapat 230 orang yang akan menempati 30 kamar single dan 100 kamar twin di Mercure Cikini. Petugas nantinya juga akan disiapkan transportasi menuju rumah sakit dan hotel dengan lima bus dan satu minivan dari perusahaan White Horse.
Sumber : https://travel.tempo.co/