Category Archives: Berita Masata

  • -

Masata Gagas Festival Desa Wisata Nusantara di Belitung, Kemenparekraf Berikan Dukungan

JAKARTA – Dewan Pengurus Cabang (DPC) Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) Kabupaten Belitung menyatakan siap menyelenggarakan Festival Desa Wisata Nusantara.

Rencananya, Festival Desa Wisata Nusantara digelar pada 30 Maret-3 April 2021 di Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Adapun rangkaian acaranya meliputi kegiatan pelatihan/workshop, pameran, dan kunjungan desa wisata.

Rencana kegiatan Festival Desa Wisata Nusantara tersebut terungkap saat Ketua DPC MASATA Kabupaten Belitung Saifuddin Al Mughniy dan Panitia Pelaksana Festival Desa Wisata Nusantara yang didampingi Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat MASATA Panca Rudolf Sarungu melakukan udiensi dengan Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf)/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Baparekraf) Wisnu Bawa Tarunajaya di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Jumat (22/1/2021).

Dalam penjelasannya, Ketua DPC MASATA Kabupaten Belitung Saifuddin Al Mughniy meyakini kegiatan pariwisata dalam event nasional di Kabupaten Belitung itu dapat berdampak positif terhadap pertumbuhan dan pemerataan ekonomi masyarakat, terutama jenis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM ) sektor ekonomi kreatif, untuk kesejahteraan rakyat dan pembangunan wilayah yang bertumpu dan memberdayakan masyarakat seperti masyarakat yang bertempat tinggal di dalam wilayah destinasi pariwisata dan diprioritaskan untuk mendapatkan manfaat penyelenggaraan kegiatan pariwisata di tempat tersebut.

Ia menyampaikan hingga kini tercatat lebih 56 jajaran MASATA di kepengurusan level daerah/cabang seperti Sulawesi, Wakatobi, Maluku, Halmahera, Bogor, Jawa Tengah, Jawa Timur, Makassar, Toraja, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Riau, dan Jambi menyatakan siap untuk hadir.

“Pengurus lainnya juga menujukan ketertarikan untuk berpartisipasi di Negeri Laskar Pelangi nanti,” ujar Saifuddin Al Mughniy.

Saifuddin Al Mughniy juga menjelaskan, berbagai macam kegiatan wisata tersebut didukung fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belitung,
dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepulauan Bangka Belitung.

“Kami sangat mendukung Festival Desa Wisata Nusantara sebagai terobosan untuk memulihkan kegiatan ekonomi daerah, mengingat Bangka Belitung memiliki potensi pariwisata berskala dunia,” katanya.

Menurutnya, Bupati Belitung Sahani Saleh mengapresiasi langkah DPC MASATA Kabupaten Belitung untuk mengambil bagian dalam pembangunan kepariwisataan yang bertumpu kepada keanekaragaman, keunikan, dan kekhasan Kabupaten Belitung. Bahkan Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung memasukkan event nasional Festival Desa Wisata Nusantara dalam kalender kegiatan kepariwisataan.

“Belitung bersiap menjadi destinasi unggulan, baik nasional maupun internasional. Event nasional ini capaian terbesar Belitung yang akan menerima status UGG (United Global Geopark) dari UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) yang direncanakan bulan April 2021,” pungkasnya mengutip pernyataan Bupati Belitung.

Ketua DPP MASATA, Panca Rudolf Sarungu menyampaikan kegiatan Festival Desa Wisata Nusantara tersebut merupakan keseriusan MASATA sebagai komunitas dalam rangka mendorong tumbuh kembangnya destinasi pariwisata dan ekonomi kreatif di tengah masa pandemi.

“Percepatan pemulihan ekonomi masyarakat saat ini di UMKM bisa dimulai dari desa wisata. Pengurus MASATA siap turun ke desa. Saat ini pengurus MASATA hadir di 75 kabupaten/kota dan akan dilantik 20 DPD/DPC baru secara hybrid di Kalimantan Timur minggu depan,” katanya.

MASATA sebagai bagian GIPI (Gabungan Industri Pariwisata Indonesia) akan menjadi team player, karena dengan 244 jumlah desa wisata maka rencana besar pemerintah tidak mungkin dilakukan sendiri. Idealnya government lead, industry supporting.

Menurut Panca, minat perjalanan wisatawan Nusantara semakin membaik. Mereka memperhatikan protokol kesehatan yang ketat. Namun desa wisata belum pulih sebagai destinasi seperti masa sebelum pandemi.

Untuk itu lanjut dia, penyiapan desa wisata di seluruh Indonesia sangat penting melalui kegiatan yang terstruktur dan sistimatis dalam menerapkan CHSE (Cleanliness, Health , Safety, dan Environment Sustainability) atau K4 (Kebersihan, Kesehatan, Keamanan, dan Keberlanjutan Lingkungan ).

“Kami juga menghimbau jaringan hotel bintang empat dan lima yang dekat ke desa wisata bersama BUMN (Badan Usaha Milik Negara) bidang pelayanan untuk ikut memberikan bantuan pelatihan penerapan layanan CHSE di desa desa wisata,” pungkas Panca Rudolf Sarungu.

Sementara itu, Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf, Wisnu Bawa Tarunajaya menyatakan kegembiraannya atas inisiatif MASATA sebagai komunitas pelaku, pemerhati, dan pecinta pariwisata untuk berpartisipasi dalam mempersiapkan 244 desa wisata mandiri, 150 di antaranya dalam lima super prioritas dan sisanya di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan beberapa kawasan lain yang berpotensi wisata.

“Kami akan terus mendukung komunitas yang mendukung terwujudnya 244 desa wisata mandiri dan desa wisata lainnya yang mungkin sedang bertumbuh. Kesadaran Masyarakat di Belitung sangat penting karena termasuk 10 destinasi prioritas nasional dengan potensi pariwisata seperti beberapa geosite di beberapa kawasan,” pungkasnya. (rls/rin)

Sumber : https://lelemangura.com/


  • -

Nikmati Pesona Sungai, Danau, Rawa, Tanjung, Pesut dan Kehidupan Nelayan Di Pela dan Sekitarnya

Desa Pela yang berada di kecamatan Kotabangun, Kabupaten Ku- tai Karatnegara, Provinsi Kalimantan Timur adalah sebuah desa yang unik, karena berada dalam irisan antara Sungai Pela, Danau Semayang dan hamparan rawa. Berada dalam pertemuan 3 ekosistem air maka Desa Pela mempunyai kelimpahan keanekaragaman hayati berbasis air.

Salah satu yang paling besar adalah keberadaan Pesut Mahakam. Desa Pela memperkuat diri sebagai Kampung Nelayan (air tawar) dan mengembangkan diri menjadi Desa Wisata adalah sebuah pilihan yang tepat bagi desa ini untuk membangun masa depan dan keberlanjutan masyarakatnya.

Tentu yang dibangun adalah wisata dengan minat khusus yaitu ekowisa- ta. Wisata yang berbasis pada alamnya yaitu Sungai, Danau dan Rawa. Dan bukan semata pada keindahan atau kekayaannya saja melainkan juga interaksi antara warganya dengan lingkungan hidupnya yang mem- bangun nilai-nilai sosial dan kultural. Konsep pariwaisata yang diusung pada Desa Pela adalah konsep ekowisata yang bermuatan kearifan lokal dan konservasi ekologi. Ekowisata bukanlah wisata buatan atau dibuat buat.

Apa yang ditampilkan adalah realita kehidupan dan alam. Bahwa yang disebut kekayaan alam bukan sekedar untuk diekstrak, diperas ha- bis melainkan mesti dimanfaatkan secara bijak bukan sekedar sebagai penghasil uang melainkan juga pengetahuan dan kebijaksanaan.

Desa Pela sedang berjuang untuk membangun kehidupan dan kese- jahteraan bersama dengan basis ekonomi sirkular ekonomi yang tidak menghasilkan sampah dan limbah. Tentu saja ini adalah sebuah per- juangan yang tidak mudah mengingat model produksi dan konsumsi di era ini yang serba instan. Dengan jejaring dan dukungan yang coba dan telah dibangun niscaya cita cita itu akan bisa dicapai.

Kabupaten Kutai Kartanegara

Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan sebuah kabupaten di Kalimantan Timur, Indonesia. Ibu kota berada di Kecamatan Tenggarong. Kabupaten Kutai Kartanega- ra memiliki luas wilayah 27.263,10 km² dan luas perairan sekitar 4.097 km² yang dibagi dalam 18 wilayah kecamatan dan 237 desa/ kelurahan dengan jumlah penduduk menca- pai 645.817 jiwa (sensus 2014).

Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan kelanjutan dari Kabupaten Kutai sebelum terjadi pe- mekaran wilayah pada tahun 1999. Ber- dasarkan data yang ada, wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki 31 sungai besar dan kecil, Dari sungai-sungai tersebut yang tersebar dan terpanjang adalah Sungai Ma- hakam sebagai Wilayah Sungai Strategis Nasional dengan DAS meliputi DAS Ma- hakam, DAS Semboja, DAS Senipah, dan DAS Semoi.

Aliran Sungai Mahakam yang lebar dan ten- ang memberikan pengaruh yang sangat be- sar terutama bagi kegiatan sosial ekonomi masyarakat. potensi air sungai yang men- galir sepanjang sungai dan anak Sungai Ma- hakam ini dapat diakibatkan oleh penggu-naan wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara yang merupakan kawasan hutan, sehingga sangat berpotensi untuk daya resap air (in- filtrasi) di wilayah ini dan selanjutnya meng- hasilkan volume/debit air yang sangat besar di daerah hulu.

Bagi kepentingan sosial ekonomi dan san- itasi masyarakat, sungai/anak Sungai Ma- hakam hingga saat ini dimanfaatkan sebagai air baku bagi penyediaan air minum pen- duduk di sepanjang wilayah yang dilaluinya. Sedangkan lebar dan dalamnya sungai dija- dikan sarana esensial bagi kegiatan trans- portasi air sebagai transportasi lokal mau-pun antar wilayah (transportasi regional).

Penduduk yang bermukim di wilayah ini ter- diri dari penduduk asli (Kutai, Benuaq, Tun- jung, Bahau, Modang, Kenyah, Punan dan Kayan) dan penduduk pendatang seperti Jawa, Bugis, Banjar, Madura, Buton, Timor dan lain-lain. Pola penyebaran penduduk sebagian besar mengikuti pola transportasi yang ada. Sungai Mahakam merupakan jal- ur arteri bagi transportasi lokal. Keadaan ini menyebabkan sebagian besar pemukiman penduduk terkonsentrasi di tepi Sungai Ma- hakam dan cabang-cabangnya.

Kecamatan Kota Bangun

Kota bangun merupakan salah satu kecamatan yang berada di wilayah tengah kabupaten Kutai Kartanegara. Sebagian wilayah kecamatan Kota Bangun dibelah oleh Sungai Mahakam dan Sungai Belayan serta terletak di tepi Danau Semayang dan Danau Melintang. Pola penyebaran penduduknya pun terkonsentrasi di sepanjang sungai maupun da- nau tersebut.

Secara administratif, kecamatan Kota Bangun terb- agi dalam 20 desa yakni Benua Baru, Kedang Ipil, Kedang Murung, Kota Bangun I, Kota Bangun II, Kota Bangun III, Kota Bangun Ilir, Kota Bangun Se- berang, Kota Bangun Ulu, Liang, Liang Ulu, Loleng, Muhuran, Pela, Sarinadi, Sebelimbingan, Sedulang, Sukabumi, Sumber Sari, dan Wonosari.

Hal yang menarik dari Kota Bangun adalah wisa- ta airnya yang tersebar di beberapa wilayah pemukiman penduduk. Danau Melintang, adalah salah satunya. Tempat wisata yang begitu teduh ini menyimpan keindahan yang tiada duanya keti- ka matahari baru akan terbit dan menjelang teng- gelam.

Desa Pela – Kota Bangun

Desa Pela adalah salah satu desa di wilayah kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Desa Pela terdapat di hilir Danau Semayang, tepatnya di Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara. Desa Pela dihuni sekitar 153 KK atau 555 jiwa penduduk. Secara umum mayoritas penduduk di desa ini berasal dari Suku Banjar, Kalimatan Selatan.

Kendati demikian, warga di sana juga mahir berbahasa Kutai. Mereka hidup sebagai nelayan. Desa ini melalui Kepala Desa dan Badan Pemberdayaan Desa, telah men- canangkan Desa Pela sebagai Desa Wisata berbasis Desa Nelayan.

Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki potensi wisaya alam yang eksotik. Pengunjung bisa menikmati pemandangan sunset (ma- tahari terbenam) dan fauna endemik, Pesut Mahakam dari pinggir Danau Semayang.

Konsep Desa Wisata

Daya tarik utama dari sebuah Desa Wisata adalah kehidupan warga desa yang unik dan tidak dapat ditemukan di perko- taan. Wisata pedesaan merupakan aktivitas yang dilakukan disuatu Desa Wisata. Inti utama dari wisata pedesaan ada- lah aktivitas warga pedesaan yang unik. Wisata pedesaan memberikan kesempatan masyarakat kota untuk mengenal kehidupan pedesaan melalui aktivitas-aktivitas tersebut. Wisata pedesaan mampu memberikan manfaat sosial bagi masyarakat desa seperti kesempatan untuk berinteraksi dengan orang dari luar desa, kemampuan untuk bersosialisa- si, dan membuka wawasan lebih luas mengenai dunia. Selain itu, wisata pedesaan juga mampu memberikan keuntungan secara ekonomi.

Seiring berkembangnya waktu dengan meluasnya definisi pariwisata, daerah tujuan wisata juga semakin berkembang. Salah satu daerah tujuan wisata yang menjadi alternatif bagi wisatawan yang penat dan bosan dengan hiruk pikuk kehidupan perkotaan serta penurunan kualitas lingkungan kota, adalah pariwisata pedesaan atau yang biasa disebut desa wisata.

Desa wisata dibentuk dengan mengedepankan gaya hidup dan kualitas dan kebudayaan hidup masyarakatnya serta pel- ibatan masyarakat setempat dan pengembangan mutu pro- duk desa wisata tersebut. Desa wisata dibangun dengan kon- sep kembali ke alam serta menawarkan pengalaman tentang kehidupan masyarakat yang lebih alami serta menampilkan kekayaan kebudayaan daerah setempat.

Pela Sebagai Desa Wisata

Bupati Kutai Kartanegara Bapak Edi Damansyah, meresmi- kan Desa Pela sebagai Desa di Kabupaten Kutai Kartanega- ra. Peresmian itu dilaksanakan di tepi Danau Semayang Desa Pela Kecamatan Kota Bangun, pada hari Minggu 16 Juni 2019 tempo lalu yang ditandai dengan penandatanganan Prasas- ti. Bupati Edi Damansyah menyampaikan rasa bangga, dan apresiasi yang kepada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pela, yang telah mampu membangun komunikasi dan kerjasama yang baik dengan unsur Pemerintahan Desa Pela, baik Pemerintah Desa maupun Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan lembaga Desa lainnya, sehingga acara itu dapat berlangsung dengan baik.

Dengan sinergi dan dukungan yang kuat dari Kepala Desa, lembaga masyarakat desa dan segenap warga masyarakat lainnya, menjadi modal dasar yang mengantarkan Pela men- jadi Desa Wisata ke-tiga yang diresmikan di Kabupaten Kukar, setelah Desa Sumber Sari Kecamatan Loa Kulu pada 2014 dan Desa Kedang Ipil Kecamatan Kota Bangun pada 2016.

Kegiatan pembinaan dan pendampingan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten, Dinas Pariwisata dan Kampus Politeknik Negeri Samarinda lebih merupakan peletak dasar dan pendampingan bagi spirit pengembangan Desa Wisata. Terwujudnya Desa Wisata ini sangat dipengaruhi oleh keak- tifan dan semangat membangun desa, dari jajaran lembaga penggerak masyarakat desa beserta masyarakatnya. Oleh karena itu melalui peresmian Desa wisata ini, diharapkan masyarakat Desa Pela agar terus berupaya.

mewujudkan sadar wisata, dengan menerapkan program Sapta Pesona. Yakni memujudkan lingkungan desa yang aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah dan kenangan se- runya.

Desa Pela terus mengembangkan paket-paket wisata yang unik, kreatif dan khas Desa Pela, dengan penyediaan homestay (merupakan rumah masyarakat yang ingin disewa oleh wisatawan ) yang memenuhi standar yang telah ditetap- kan, penyajian kuliner yang nyaman, bersih dan higienis, ser- ta petugas pemandu wisata yang ramah dan mumpuni dalam mengenalkan berbagai informasi wisata di Desa Pela dan sekitarnya.

Serta peran dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) desa Pela – Pokdarwis Bakayuh, Baumbai dan Babudaya (3B) yang dibentuk sejak 2017 lalu, ini sudah mampu menghasilkan berbagai kegiatan wisata, dan memiliki aset-aset penunjang paket wisata seperti perahu motor, dan perlengkapan wisata pantai lainnya di tepi Tanjong Tamanoh, baik melalui penye- diaan dari hasil kegiatan wisata, maupun bantuan dari OPD terkait di Kabupaten Kukar dan Provinsi Kalimantan Timur. Dan berkat sentuhan dari Pokdarwis 3B Pela, kini Desa Pela menjadi salah satu destinasi wisata yang populer di sekitar Kabupaten Kutai Kartanegara.

 


  • -

MASATA, Pengembangan Desa Wisata Menuju 205 Desa Mandiri Tahun 2024

KAPOL.ID – Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I dan Focus Grup Discussion (FGD) dengan mengusung tema “Pengembangan Desa Wisata Menuju 205 Desa Mandiri Tahun 2024”.

Acara berlangsung di Prime Park Hotel, Jalan PHH. Mustofa, Bandung, Jumat 27 November 2020.

Ketua Umum DPP MASATA, Panca Rudolf Sarungu mengatakan, Rakernas diselenggarakan untuk menyamakan persepsi dalam mendukung pariwisata berkelanjutan bagi pelaku, pemerhati dan pencinta pariwisata baik swasta maupun pemerintah untuk mewujudkan Indonesia sebagai tujuan wisata kelas dunia.

“MASATA menyambungkan kepentingan pemerintah untuk mewujudkan pariwisata Indonesia berkelas dunia dengan mengembangkan 205 Desa Wisata Mandiri sebagai program dalam menggerakkan prekonomian desa yang nantinya bisa dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa,” kata Panca.

Ketua Komisi X DPR, Syaiful Huda, menjelaskan, program Desa Wisata menjadi salah satu upaya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi baru.

Pengembangan desa wisata merupakan contoh ikhtiar pemerintah dalam menjadikan desa sebagai penyangga destinasi wisata utama maupun alternatif.

“Dengan adanya Desa Wisata Mandiri pertumbuhan ekonomi di desa akan terdorong, Melalui desa wisata, masyarakat akan terlibat. Desa-desa juga bisa menjadi sentra baru tumbuhnya pendapatan baru,” katanya

Ditempat yang sama, General Manager Divisi Business Service (HBS), PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk, Dedy, ST menjelaskan, PT Telkom Indonesia telah membuat Aplikasi MASATA agar setiap desa bisa berkomunikasi antar komunitas, Aplikasi MASATA bisa digunakan sebagai payment, transaksional sesama membernya yang betul-betul case plus

“Aplikasi MASATA berisi fitur yang dapat digunakan pembayaran dengan mesin digital, tinggal tapping transaksi menginap dihotel maupun pembayaran terselesaikan dengan praktis.” kata Dedy

Dedy berharap Aplikasi MASATA bisa memajukan Desa Wisata, khususnya obyek wisata yang memiliki tempat penginapan.

Sehingga booking engine yang dimiliki hotel dapat langsung melakukan pembayaran tanpa melalui OTA.

“Selain itu Aplikasi MASATA juga memiliki dua kepentingan, yakni dapat digunakan link dengan server engine hotel dan bisa link kepada transaksi pembayaran melalui OTA.” pungkas Dedy. ***

Sumber : https://kapol.id/


  • -

MASATA Ingin Ada Kesamaan Persepsi Dukung Pariwisata Berkelanjutan

JAKARTA – Masyarakat Sadar Wista (MASATA) ingin agar pelaku, pemerhati, dan pecinta pariwisata memiliki kesamaan persepsi dalam mendukung pariwisata berkelanjutan. Sebagai bagian integral pembangunan Indonesia, kepariwisataan harus mendorong pemerataan kesempatan berusaha dalam memberi manfaat untuk keadilan dan kesetaraan.

“MASATA berharap agar kepariwisataan mampu menjamin keterpaduan antarsektor, antar-aktor, dan antardaerah selaku pemangku kepentingan dalam sinergitas dan kolaborasi antarpihak yang menjaga keharmonisan hubungan pusat dengan daerah,” ujar Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) MASATA Panca Rudolf Sarungu dalam siaran pers yang diterima SINDOnews, Sabtu (28/11/2020).

Untuk diketahui, MASATA menyelenggarakan focus group discussion (FGD) bertema ‘Pengembangan Desa Wisata Menuju 205 Desa Wisata Mandiri Tahun 2024’ di Prime Park Hotel, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (27/11/2020).

Sumber : https://nasional.sindonews.com/


  • -

Menparekraf RI Wishnu Tama Buka Rakernas Masata I Bandung, PT Telkom Luncurkan Aplikasi App Masata

BANDUNG, BABELREVIEW.CO.ID — Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreafit (Menparekraf) RI Wishnu Tama menghadiri dan sekaligus membuka Rapat Kerja Nasional (Rakornas) Masyarakat Sadar Wisata (Masata).

Rakornas Masata I ini diselenggarakan di Bandung, 26 – 28 November 2020. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh DPD dan DPC Masata yang sudah terbentuk di seluruh Indonesia. Untuk Bangka Belitung, mengirimkan perwakilan dari DPD Masata Babel, DPC Belitung dan DPC Belitung Timur

Tema rapat kerja organisasi Masata yang berbasis pemberdayaan masyarakat ini adalah  “Kebangkitan Pariwisata Indonesia Melalui Strategi Pengembangan Desa Wisata Menuju 205 Desa Wisata Mandiri pada Tahun 2024”.

Ketua DPD Masata Babel Syawaludin yang hadir dalam Rakornas Masata I mengungkapkan, dalam kegiatan tersebut durumuskan program kerja Masata tahun 2021.

Berbagai program strategis dalam pemberdayaan masyarakat diformulasikan. Tujuannya tak lain adalah Masata seluruh Indonesia akan ikut berkontribusi dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas destinasi wisata di Indonesia.

Fokus program kerja Masata adalah pemberdayaan dan pengembangan Desa Wisata di seluruh daerah di Indonesia.

Diceritakan Ketua Masata Babel Syawaludin, dalam arahanyanya Menparekraf RI Wishnu Tama mengatakan, dalam membangun pariwisata berkelanjutan  dibutuhkan keterlibatan semua pihak. Masata diharapkan mampu mendorong pariwisata yang berkualitas (quality tourism).

“Yang artinya jadikan perjalanan wisata adalah perjalanan yang berkesan memuaskan wisatawan. Sehingga mereka mendapatkan pengalaman baru dengan kearifan local yang ditonjolkan,” ujar Mas Menteri, sapaan akrab Menparekraf Wishnu Tama ini.

Lebih lanjut menurut Wishu, quality tourism yang dimaksud adalah keunikan yang dimiliki oleh suatu obyek wisata dan tidak dimiliki oleh daerah lain, dan ini  harus dipertahankan, dikelola dan dipromosikan kepada masyarakat luas.

Pada konsep ini hakekatnya para wisatawan itu mencari suatu yang berbeda yang tidak ada ditempat asalnya.

“Berilah mereka pengalaman baru yang memuaskan dengan pelayanan utama pada keramahan kepada para wisatawan, agar mereka mendapatkan pengalaman baru yang menyenangkan,” tukas Mas Menteri.

Dijelaskan Wisnu, kita tidak  perlu menjadikan pariwisata seperti Singapura, Washinton dan lain-lain. Paalnya jenis pariwisata tersebut bukan karakteristik Indonesia. Wisata Indonesia adalah keunikan dan kearifan local yang bertahan secara turun menurun selama ini.

Selain Menteri Pariwisata, kegiatan Rakernas Masata I ini dihadiri Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda. Dalam presentasinya Syaiful menyambut baik kehadiran organisasi Masata.

Menurut Syaiful, Masata sangat strategis keberadaannya dalam mendukung pariwisata berkelanjutan.

“Salah satu problem pariwisata adalah pemberdayaan kesadaran masyarakat. Masyarakat harus diajak untuk berkolaborasi bersama-sama  mendukung pariwisata, sebab keberhasilan pariwisata ini akan diukur seberapa jauh kebermanfaatannya kepada masyarakat, dan ekonominya semakin meningkat. Sejauh masyarakat belum menikmati kehidupan yang sejahterah, maka pariwisata perlu kita pertanyakan tingkat keberhasilannya,” ungkap Syaiful.

Rakernas Masata I ini bekerjasama dengan PT Telkom, yang diikuti dengan meluncurkan program aplikasi MASATA. Aplikasi ini adalah hibah PT Telkom dalam rangka mendukung pariwisata Indonesia.

Saat ini ada 32 juta wisatawan, dan jumlah ini merupakan angka yang sangat potensial.

Dalam aplikasi Masata ini, semuanya sudah dapat diakses dalam satu produk digital, baik berkenaan dengan lokasi pariwisata, produk unggulan, SDM, pemasaran pariwisata, bahkan penjualan tiket event, applikasi ini dinamakan App Masata. (BBR)
Sumber: Ketua Masata Babel


  • -

MASATA Gelar Rakernas I Menitikberatkan Pengembangan 205 Desa Wisata Mandiri

citarakyat.com, Bandung, 28 November 2020 – MASATA, Masyarakat Sadar Wisata menggelar Rapat Kerja Nasional I (Rakernas I) sekaligus menyelenggarakan focus group discussion (FGD) yang menitikberatkan pengembangan 205 Desa Wisata Mandiri.

Rakernas I dan FGD mengusung tema ” Pengembangan Desa Wisata Menuju 205 Desa Mandiri Tahun 2024′, di Prime Park Hotel, jl. PHH. Mustofa No. 47/57 Kota Bandung, bertujuan untuk menyamakan persepsi dalam mendukung pariwisata berkelanjutan bagi pelaku, pemerhati dan pecinta pariwisata baik di pemerintahan (kementrian/lembaga) maupun swasta (asosiasi/organisasi/perkumpulan).

Ketua Umum DPP MASATA, Panca Rudolf Sarungu mengatakan bahwa dibutuhkan sinergitas dan kolaborasi dalam membantu pemerintah mewujudkan Indonesia sebagai negara tujuan pariwisata kelas dunia.

“MASATA berusaha menyambungkan kepentingan pemerintah mewujudkan pariwisata Indonesia menjadi kelas dunia yang didukung atraksi yang menarik, aksesibilitas yang mudah dan amenitas yang berkualitas,” kata Panca.

Titik berat pada pengembangan 205 Desa Wisata Mandiri sebagai program dalam menggerakkan perekonomian desa yang dapat berasal dari dana desa sehingga nantinya desa wisata tersebut dapat dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa, lanjut Panca.

“Desa Wisata sebagai bagian dari integral pembangunan Indonesia, sehingga kepariwisataan dapat mendorong pemerataan kesempatan berusaha, memberi manfaat, keadilan dan kesetaraan,” ungkap Panca.

“Kemajuan pariwisata suatu daerah bisa menjadi tolak ukur keberhasilan kepala pemerintah daerah dalam memajukan perekonomian wilayahnya,” jelas Panca.

“MASATA berharap agar kepariwisataan mampu menjamin keterpaduan antar-sektor, antar-aktor dan antar-daerah selaku pemangku kepentingan dalam bersinergitas dan berkolaborasi antar-pihak yang menjaga keharmonisan hubungan pusat dengan daerah yang memiliki destinasi Desa Wisata Mandiri,” jelas Panca Rudolf Sarungu.

Ketua Komisi X DPR, Syaiful Huda mengatakan dalam sambutannya bahwa sektor pariwisata sebagai backbone ekonomi Indonesia sangat terdampak dimasa pandemi Covid-19.

“Sektor pariwisata membutuhkan kebijakan afirmasi terkait prioritas pemerintah dalam memprogramkan vaksinasi pada wisatawan. Pemberian vaksin kepada wisatawan menjadi satu paket vaksin sehingga menjadi wisata yang menarik perhatian wisatawan,” kata Syaiful Huda.

Desa Wisata menjadi penyangga destinasi wisata utama atau menjadi alternatif tujuan wisata diluar destinasi wisata super prioritas dan 10 wisata prioritas, lanjut Syaiful.

“Pertumbuhan ekonomi baru didesa akan terdorong dengan adanya Desa wisata, karena masyarakat akan terlibat sehingga tumbuh juga pendapatan baru bagi masyarakat desa,” pungkas Syaiful.

Rakernas I MASATA yang dibuka oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Wishnutama Kusubandio secara daring menyambut baik dan bergembira dengan menggeliatnya pariwisata dimasa pandemi Covid-19.

“Kebangkitan pariwisata Indonesia dibeberapa destinasi menunjukkan 80% booking kamar hotel di Bali pada Bulan Desember 2020. Begitu juga didestinasi lain seperti Labuan Bajo juga mengalami peningkatan,” kata Wishnutama.

“Kedepan, pariwisata yang dikembangkan adalah pariwisata yang dapat menumhkan pengalaman yang unik. Desa Wisata menjadi bagian dari Quality Tourism menawarkan pengalaman yang bebeda dan unik,” jelas Wishnutama.

Pengembangan amenitas dan atraksi yang melibatkan partisipasi masyarakat melalui pengembangan desa wisata sevcara terintegrasi dari hulu ke hilir.

Sehingga pemerintahan desa didorong agar mengoptimalkan pemanfaatan dana desa, sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 ditargetkan mewujudkan 205 wisata desa mandiri.

Sumber : https://citarakyat.com/


  • -

MASATA Menyelenggarakan FGD Pengembangan Desa Wisata

BANDUNG,SUARAPEMRED  – Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) menyelenggarakan focus group discussion (FGD) bertema “Pengembangan Desa Wisata Menuju 205 Desa Wisata Mandiri Tahun 2024 di Prime Park Hotel, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (27/11/2020). Kegiatan tersebut sebagai bagian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I MASATA yang ditujukan agar pelaku, pemerhati, dan pecinta pariwisata di kalangan pemerintah (kementerian/lembaga) serta swasta (asosiasi/organisasi/perkumpulan) memiliki kesamaan persepsi dalam mendukung pariwisata berkelanjutan.

Kegiatan tersebut menghadirkan beberapa narasumber, yaitu Asisten Deputi IV Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Kewirausahaan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Chairul Saleh; Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Dwi Rudi Hartoyo; Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diwakili Hartanti Maya Khrisna; Executive Vice President Divisi Business Service-Telkom Indonesia Syaifudin, Chief of Corporate Affairs PT Astra International Tbk Riza Deliansyah, dan Ketua Asosiasi Desa Wisata (Asidewi) Andi Yuwono.

Ketua Umum Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) MASATA Panca Rudolf Sarungu menjelaskannya, narasumber berlatar belakang kementerian/lembaga di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif dan asosiasi/organisasi/perkumpulan pariwisata dimaksudkan sebagai upaya MASATA menyambung kepentingan serta membangun sinergitas dan kolaborasi dalam membantu Pemerintah mewujudkan Indonesia sebagai negara tujuan pariwisata kelas dunia didukung atraksi yang menarik, aksesibilitas yang mudah, dan amenitas yang berkualitas.

Melalui upaya tersebut, MASATA ingin agar pelaku, pemerhati, dan pecinta pariwisata memiliki kesamaan persepsi dalam mendukung pariwisata berkelanjutan. Sebagai bagian integral pembangunan Indonesia, kepariwisataan harus mendorong pemerataan kesempatan berusaha dalam memberi manfaat untuk keadilan dan kesetaraan. “MASATA berharap agar kepariwisataan mampu menjamin keterpaduan antarsektor, antar-aktor, dan antardaerah selaku pemangku kepentingan dalam sinergitas dan kolaborasi antarpihak yang menjaga keharmonisan hubungan pusat dengan daerah,” ujar Panca.

Pembukaan Rakernas I MASATA diawali oleh Ketua Umum DPP MASATA Panca Rudolf Sarungu, diikuti sambutan Ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Syaiful Huda, sambutan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio yang sekaligus membuka resmi Rakernas I MASATA, serta peluncuran aplikasi kerjasama MASATA dengan Telkom Indonesia.

Dalam sambutannya, Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda menggarisbawahi bahwa sektor pariwisata sebagai backbone ekonomi hampir luluh lantah selama 10 bulan di masa pandemi Covid-19. Kondisi sektor pariwisata yang memprihatinkan itu, karena paling terdampak dan mengalami kontraksi tajam, sementara berbagai program belum memberikan hasil optimal, maka menurutnya sektor pariwisata membutuhkkan kebijakan afirmasi, yakni Pemerintah memprogramkan para wisatawan mendapat prioritas vaksinasi. Pemberian vaksin kepada wisatawan menjadi satu paket vaksin-wisata yang menarik perhatian wisatawan (pelancong).

“Kita tidak boleh berhenti untuk berikhtiar,”sambungnya. Pengembangan desa wisata merupakan contoh ikhtiar Pemerintah, yakni menjadikan desa wisata sebagai penyangga destinasi wisata utama atau alternatif tujuan wisata di luar destinasi wisata super prioritas dan 10 prioritas destinasi wisata. Pertumbuhan ekonomi baru di desa akan terdorong. Bertumbuhnya pendapatan ekonomi desa mendorong pertumbuhan desa wisata. Melalui desa wisata, masyarakat akan terlibat. Desa-desa menjadi sentra baru tumbuhnya pendapatan baru.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio menyatakan gembira karena geliat pariwisata mulai terasa di beberapa destinasi wisata. Booking kamar beberapa hotel di Bali mencapai 80% bulan Desember 2020. Di destinasi lain seperti Labuhan Bajo booking kamar hotel juga meningkat. “Tentunya ini kabar menggembirakan.”

Ke depan, pariwisata yang dikembangkan ialah pariwisata yang menumbuhkan pengalaman yang unik. Quality tourism memberikan tawaran pengalaman yang berbeda. Desa wisata menjadi bagian quality tourism tersebut. Misalnya makanan yang khas. “Banyak salah kaprah bahwa quality tourism dianggap hanya menginap di hotel bintang lima.”
Wishnutama menerangkan, untuk pengembangan amenitas dan atraksi wisata yang melibatkan partisipasi masyarakat melalui pengembangan desa wisata secara terintegrasi dari hulu ke hilir, maka pemerintah desa didorong mengoptimalkan pemanfaatan dana desa. Karena itu, sebagai arah kebijakan desa wisata dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, ditargetkan 205 wisata desa mandiri di tahun 2024. “Potensinya luar biasa. Jangan ikut-ikutan destinasi wisata di tempat lain. Cita-cita desa wisata sangat besar, sangat mulia.”

Dalam FGD juga dipaparkan teknis program kolaborasi MASATA disampaikan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat yang diwakili Shanti Umbara Dewi selaku Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Pariwisata, Gotix – Say CHSE MASATA yang disampaikan oleh Head of Platform Business Gotix Damar Jayengrana, dan DIGI Hotel oleh Telkom Indonesia.

Editor: Munif
Sumber : http://suarapemred.co/

  • -

Pengembangan Desa Wisata Mandiri, Dorong Tingkatkan Pariwsiata ditengah Pandemi Covid-19

Pariwisata masih memiliki prospek besar meski ditengah pandemi Covid-19, salah satunya dengan mengembangkan potensi wisata berbasis pedesaan atau desa wisata.

Indonesia termasuk Jawa Barat memiliki potensi besar untuk mengembangkan desa wisata sebagai salah satu destinasi atau tujuan wisata tidak hanya wisatawan domestik tapi juga wisatawan mancangara.

Meski sudah banyak desa wisata yang dikembangkan namun belum banyak desa wisata yang menjadi desa wisata mandiri.

Terlebih pandemi Covid-19 juga berdampak pada sektor wisata.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) MASATA (Masyarakat Sadar Wisata), Panca Rudolf Sarungu mengatakan pandemi Covid-19 bedampak pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dan desa wisata juga menjadi salah satu yang tedampak akibat pandemi.

“Pandemi memberikan dampak cukup besar pada aktivitas desa wisata karena tingkat kunjungan wisatawan juga menurun,” kata Panca disela acara FGD “Pengembangan Desa Wisata  Menuju 205 Desa Wisata Mandiri  Tahun 2024 di Bandung, Jumat (27/11/2020).

Sumber : https://jabar.tribunnews.com/


  • -

Harapan Pada Desa Wisata Agar Mampu Sebagai Stimulus Kebangkitan Kembali Pariwisata Indonesia

Desa Wisata merupakan salah satu bentuk Kelembagaan di bidang pariwisata yang membutuhkan pengelolaan strategis demi keberlangsungan suatu destinasi dan industri pariwisata. Sebagaimana berwisata merupakan dambaan setiap orang, baik lokal – domestik – internasional maka desa wisata pun perlu menciptakan hal-hal kreatif dan unik untuk mendukung popularitas dan daya tarik destinasi. Saat ini ketika pandemi COVID-19 melanda, orang akhirnya tidak bisa berwisata baik karena disiplin agar tidak bepergian untuk memutus mata rantai penyebaran virus selain alasan keterbatasan keuangan.

Foto : Ketut Swabawa, Sekjen DPD MASATA BALI bersama ketua Forum Komunikasi Desa Wisata (Forkomdewi) Provinsi Bali, I Made Mendra Astawa di Kaniva-Student Coffee di Mengwitani, Badung

Bagaimana prospek kebangkitan pariwisata pasca pandemi? Menurut Ketut Swabawa, Sekjen DPD MASATA BALI, dampak pandemi pada perubahan perilaku manusia dan kampanye protokol kesehatan mengarahkan target kunjungan wisatawan ke pedesaan. “Untuk jangka pendek sepertinya demikian, wisatawan cenderung memilih low risk covid destination dengan kriteria jauh dari keramaian, cahaya matahari maksimal, sirkulasi udara yang sempurna serta terhindar dari populasi padat dan kerumunan pengunjung. Untuk Bali sangat mudah karena kita punya banyak desa wisata di seluruh kabupaten/kota, tinggal bagaimana kita bisa membangkitkan optimisme pelaku kegiatan wisata di desa dalam menyiapkan produk, layanan dan tata kelola yang adaptif dengan standar CHSE yang menjadi concern kita bersama” kata Swabawa ketika mengadakan pertemuan tatap muka dengan ketua Forum Komunikasi Desa Wisata (Forkomdewi) Provinsi Bali, I Made Mendra Astawa di Kaniva-Student Coffee di Mengwitani, Badung pada hari Rabu bertepatan hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2020.

Ditambahkannya pula bahwa pelaku usaha pariwisata saat ini harus bergandengan tangan dan menghindari strategi pengelolaan yang fraksional. Semua harus bersatu padu dalam spirit membangun industri pariwisata. “Kita harus menyadari bahwa wisatawan ke Bali untuk berwisata, jadi destinasi nya harus dijamin bagus dan menarik, destinasi kan ada di desa baik secara kewilayahan maupun pengelolaannya. Setelah menentukan destinasi barulah mereka memikirkan akan menginap dimana, cari hotel apa dan dimana. Jadi industri hotel pun saya kira harus memikirkan destinasi ini secara nyata karena dampaknya akan mereka nikmati” ujar mantan Wakil Ketua DPD IHGMA Bali periode 2016-2020 ini.

Mendra Astawa menyampaikan menyambut baik terbentuknya MASATA (Masyarakat Sadar Wisata) di Bali. Menurutnya semakin banyak yang memikirkan desa wisata di Bali akan semakin baik. “Kami dari Forkomdewi Provinsi Bali tentu sangat senang dengan keberadaan MASATA Bali dan siap bersinergi membangun dan mendampingi desa wisata yang ada. Tadi kami sudah jelaskan banyak hal tentang keberadaan dan karakteristik desa wisata yang ada di Bali. Termasuk kendalanya dan berharap MASATA Bali bisa mengambil peran strategis untuk memecahkan permasalahan bersama-sama” kata Mendra Astawa yang telah malang melintang di dunia pariwisata dan berbagai asosiasi ini.

Foto : Dr.(C). I Made Ramia Adnyana, SE.,MM,.CHA (Wakil Ketua Umum DPP IHGMA ).

Dihubungi secara terpisah, Ketua Umum DPD MASATA BALI, Dr.(C). I Made Ramia Adnyana, SE.,MM,.CHA menyampaikan program kerja jangka pendek asosiasi yang dipimpinnya sejak 3 Oktober 2020 ini adalah membentuk DPC di seluruh kabupaten/kota di Bali serta persiapan mengikuti Rakernas MASATA I 2020 yang akam dilaksanakan pada akhir November depan di Bandung. “MASATA telah ditunjuk oleh Kemenparekraf RI sebagai mitra kerja dalam mewujudkan desa wisata kategori Mandiri sebanyak 250 desa secara nasional hingga tahun 2024 mendatang. Jadi program kami sangat jelas yakni membangun kemandirian desa wisata dalam mewujudkan pariwisata berkualitas berbasis budaya dan kerakyatan. Rakernas bulan depan akan diikuti 10 DPD dan 34 DPC seluruh Indonesia dan kami dari Bali akan sampaikan hal-hal strategis dalam membangun desa wisata di era digital ini sehingga semakin dikenal secara global” kata pria yang juga Wakil Ketua Umum DPP IHGMA ini.

Sumber : http://www.ihgma.com/


  • -

Serap Banyak Hal, MASATA Aceh Kunjungi BPCB Aceh

Dewan Pengurus Daerah (DPD) Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) Aceh kembali menggelar audiensi dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh, Kamis (15/10/2010) sore.

Kunjungan dari MASATA Aceh ini disambut langsung Kepala BPCB Aceh Nurmatias bersama sejumlah stafnya di kantor setempat, daerah Peukan Bada, Aceh Besar.

“Ini merupakan kunjungan silaturrahmi MASATA Aceh dengan pihak BPCB Aceh guna untuk beraudiensi dan saling bertukar informasi mengenai lembaga masing-masing,” kata Kabid Pelestarian Budaya dan Pariwisata Berkelanjutan Arini Izzati mewakili Ketua MASATA Aceh Putri Syafrilia.

Kabid Media Informasi dan Humas MASATA Aceh Reza Fardian yang juga hadir dalam pertemuan ini mengungkapkan, selain mengenalkan organisasi dan lembaga, juga turut membicarakan sinergi program kerja.

“Ada sejumlah hal yang ingin kita bahas, termasuk diantaranya perkenalan lembaga serta program jangka pendek. Secara tegas Kepala BPCB Aceh sangat mendukung segala program kerja yang disusun pengurus MASATA Aceh,” ungkap Reza.

Kepala BPCB Aceh Nurmantias mengapresiasi atas kehadiran pengurus DPD MASATA Aceh untuk berkunjung langsung ke lembaga yang dipimpinnya.

“Saya baru saja menjabat sekitae 1 bulan di BPCB Aceh, jadi sangat senang bisa bersilaturrahmi dengan teman-teman dari MASATA Aceh. Kami jadi lebih tahu lebih mendalam tentang MASATA yang juga konsen dalam hal budaya,” jelas Nurmatias.

Lebih lanjut, Nurmatias menuturkan bahwa BPCB Aceh ingin cagar budaya yang ada di Aceh lebih dikenal masyarakat.

“Melalui MASATA Aceh kami ingin agar masyarakat luas mengenal cagar budaya di Aceh. Bagaimana bentuknya nantinya bisa dilakukan bersama dengan berbagai cara agar masyarakat juga ikut menjaga cagar budaya,” tukasnya.

Ketika disinggung mengenai kegiatan yang akan digelar BPCB Aceh dalam waktu dekat, Nurmatias mengatakan bahwa akan ada kegiatan Diskusi Kelompok Terpumpun serta Virtual Tour.

“Kami akan menggelar kegiatan Diskusi Kelompok Terpumpun tentang “Jalur Rempah” serta Virtual Tour Masjid Raya Baturrahman dalam waktu dekat. Saya ingin MASATA Aceh ikut terlibat dalam kegiatan tersebut,” tambahnya.

Terkait kolaborasi sendiri, Nurmatias mengatakan bahwa BPCB Aceh akan mendukung kegiatan MASATA Aceh.

“Terlebih lagi MASATA Aceh ini banyak digerakkan oleh anak muda serta penuh semangat jadi kami harus mendukungnya apalagi untuk hal-hal yang positif. Dengan kolaborasi segala kegiatan pasti akan lebih ringan untuk dilaksanakan,” tutupnya.

Sumber : https://acehnow.com/