Category Archives: Kementerian

  • -

Kemenparekraf-MNC Group Bersinergi Kembangkan Pariwisata & Ekonomi Kreatif, Ini Kata Wishnutama

JAKARTA, iNews.id – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menggandeng berbagai pemangku kepentingan guna memajukan pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia. Salah satunya, MNC Group.

Kemenparekraf dan MNC Group akan bergerak bersama di berbagai bidang mulai dari membuat event-event pariwisata hingga menciptakan travel pattern baru. Travel pattern merupakan pola perjalanan yang dirancang, dibangun, dan dikemas menjadi suatu komoditas perjalanan yang layak untuk dinikmati.

“Jadi, bukan hanya bicara soal promosi saja, tapi lebih komprehensif lagi. Kerja sama membuat event, membangun destinasi wisata, menciptakan travel pattern baru dan lain sebagainya,” tutur Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio saat menerima audiensi jajaran Board of Directors (BOD) MNC Group di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin (13/1/2020).

Tak hanya pariwisata, kata Wishnutama, Kemenparekraf dan MNC Group akan bersinergi mengembangkan ekonomi kreatif di Tanah Air. “Kita juga bicara banyak soal ekonomi kreatif. Industri film, industri konten, industri animasi, industri teknologi digital, dan lain sebagainya. Banyak sekali yang bisa kita kerja samakan,” tutur Wishnutama.

Menurutnya, kerja sama dengan MNC Group merupakan langkah penting bagi kemajuan industri pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia. “Saat presentasi dari MNC, saya lihat banyak sekali peluang-peluang kerja sama untuk mendorong kemajuan ekonomi kreatif bangsa Indonesia,” kata Wishnutama didampingi Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo.

Direktur Corporate Secretary PT Media Nusantara Citra Tbk Syafril Nasution menegaskan komitmen MNC Group mendukung kinerja Kemenparekraf di bawah komando Wishnutama dan Angela. “Tujuan kami, mendukung program-program pariwisata dan ekonomi kreatif,” tutur Syafril.

Pada kesempatan itu, Syafril memaparkan proyek-proyek yang tengah dikerjakan, yang mendukung pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia. Salah satunya, pembangunan kawasan Lido yang dilengkapi theme park di Jawa Barat.

“Kita akan memiliki theme park di Lido yang bisa menarik para wisatawan ke Indonesia. Selain itu, berbagai macam kegiatan ekonomi kreatif. Harapannya, bisa meningkatkan pendapatan devisa negara,” ujar Syafril.

Lido di Kabupaten Bogor adalah destinasi lifestyle dan entertainment yang bakal mampu mengundang wisatawan domestik dan mancanegara. Kawasan Lido yang akan menjadi ikon Indonesia tersebut sedang dibangun PT MNC Land Tbk (KPIG).

Di lahan seluas 3.000 hektare tersebut akan berdiri kawasan lifestyle dan entertainment terbaik dan terbesar di Indonesia. Di dalam satu kawasan akan terdapat berbagai macam fasilitas, antara lain hotel, villa, lapangan golf, theme park berkelas internasional dan berbagai faslitas lain, dengan pemandangan luar biasa indah ke Gunung Salak dan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango.

Sumber : https://www.inews.id/


  • -

Labuan Bajo Mau Jadi Wisata Premium, Rakyatnya Sudah Makmur?

Jakarta, CNBC Indonesia- Presiden Joko Widodo punya mimpi, Labuan Bajo hingga Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur (NTT) bakal jadi obyek wisata premium di mana hanya turis kelas atas yang bisa menikmatinya. Usulan harga tiketnya pun tak main-main, diwacanakan sebesar US$ 1000 per orang atau sekitar Rp 14 juta.

Rencana untuk mewujudkan wisata premium ini kembali ia singgung di sebuah acara di Ritz Carlton, Kamis pekan ini (28/11/2019).

“Jangan dicampur-campur. Labuan Bajo misalnya, tidak semua orang bisa ke sana, bayarnya mahal. Tapi ini masih di-desain memang, tahun depan baru selesai,” tutur Jokowi, sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia.

Jokowi mengingatkan Menteri Pariwisata Wishnutama agar berhati-hati soal destinasi wisata ini, jika perlu diberlakukan sistem kuota agar jangan tercampur aduk antara yang turis premium dan menengah bawah.

Dalam unggahan akun Instagramnya, @jokowi, Presiden juga terus menerus mensosialisasikan destinasi wisata, salah satunya Labuan Bajo.

“Kita memang memiliki Bali yang sudah sangat terkenal. Dan sekarang, sedang dikembangkan sepuluh Bali baru. Lima destinasi bahkan kita kebut pengembangannya dalam dua tahun ini,” kata mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Adapun lima destimasi yang dipromosikan yakni adalah Mandalika (Lombok Tengah, NTB), Labuan Bajo (Manggarai Barat, NTT), Borobudur (Jateng), Danau Toba (Sumatera Utara), dan Manado (Sulawesi Utara).

“Segmennya berbeda-beda, ada yang super premium, medium ke bawah, ada yang untuk wisata ramai-ramai, juga wisata khusus,” ungkap Jokowi.

“Saya berharap, nanti di akhir tahun 2020, semua infrastruktur — calendar of event, produk ekonomi kreatif, dan cenderamata — yang akan mendukung destinasi wisata baru ini akan selesai. Begitu selesai, kita promosi besar-besaran. Wisatawan yang datang pun akan berpromosi sendiri,” kata mantan Wali Kota Solo ini.

Peneliti Alpha Research Database Indonesia sekaligus pemerhati masalah NTT, Ferdy Hasiman, menegaskan soal wisata premium ini sebaiknya Jokowi perlu tinjau ulang dan membeberkan konsepnya lebih rinci kepada masyarakat Manggarai Barat (Mabar).

“Apa yang di dapat rakyat Mabar dari bisnis pariwisata premium ini? Di TNK [Taman Nasional Komodo] saja, penerimaan dari pajak dan retribusi masuk senilai Rp 28 miliar tapi pemasukan untuk Manggarai Barat, daerah lokasi TNK enggak jelas,” tegasnya di Jakarta, Minggu (1/12/2019).

“Sudah begitu masyarakat yang tinggal di Pulau Komodo tak diperhatikan oleh pemerintah bertahun-tahun. [Pemerintah] Pusat ini sungguh tidak adil. Aset TNK berupa biawak komodonya diambil pemerintah pusat, sementara masyarakat di wilayah TNK menjadi tanggung jawab daerah,” tegas Ferdi yang juga berdarah Flores ini.

Terkait dengan infrastruktur, dalam hal ini listrik, Ferdi menegaskan Pembangkit Listik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu di Manggarai hanya melayani kelistrikan untuk pariwisata Mabar, sementara kapasitasnya hanya 2×4 megawatt (MW).

Situs Rekadaya mencatat, PLTP Ulumbu merupakan proyek percontohan pertama untuk mengelola panas bumi skala kecil bagi masyarakat terpencil. PLTP ini terletak di Desa Wewo, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai dengan kapasitas sebesar 2 x 2,5 MW.

“Padahal di aturan panas bumi, potensi yang kapasitasnya di bawah 10 mw diambil PLN memakai dana imbursment dari APBN untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat,” tegas Ferdi.

“Masyarakat sekitar Ulumbu enggak dapat listrik, karena listriknya di bawah ke hotel-hotel di Bajo,” katanya.

Sebab itu, dia meminta kepada pemerintah pusat agar jangan hanya melirik Labuan Baju karena yang mendapatkan keuntungan hanya elite dan pengusaha pariwisata, sementara tata kota dan kesejahteraan masyarakat kurang mendapat perhatian.

“Air bersih juga jadi isu krusial masyarakat Labuan Bajo. Sementara air di hotel-hotel itu penuh. Ini [pemerintah] pusat ini ke Bajo hanya untuk melayani bisnis elite aja,” katanya.

Sebab itu, menurut dia ke depan diharapkan PLTP Ulumbu, listriknya tak hanya untuk hotel-hotel di Bajo, melainkan untuk rakyat Manggarai yang selama Indonesia merdeka belum mendapatkan listrik memadai karena PLN kurang memiliki suplai listrik. “Jauh itu Bajo-Ulumbu. Ulumbu di Kabupaten Manggarai, sementara bikin sutetnya di Manggarai Barat.”

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/


  • -

Cerita Guide Yang Temani Wishnutama Di Pulau Komodo

Labuan Bajo – Baru-baru ini Menparekraf Wishnutama dan wakilnya, Angela Tanoe mengunjungi Pulau Komodo. Ini cerita naturalis guide saat menemani mereka di sana.

Dimulai dari hari Selasa (26/11) kemarin, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama dan Angela Tanoe mengunjungi Mandalika di NTB dan Labuan Bajo di NTT. Dua tempat tersebut masuk dalam daftar 5 Destinasi Super Prioritas yang sedang digarap maksimal oleh pemerintah.

Hari Kamis (28/11) kemarin, Wishnutama dan Angela Tanoe menapakkan kaki di Labuan Bajo. Mereka mendatangi Pulau Komodo di Taman Nasional Komodo.

Selama di Pulau Komodo, Wishnutama dan Anegla Tanoe didampingi oleh pihak Taman Nasional Komodo, jajaran Pemkab Manggarai Barat, dan naturalis guide. Naturalis Guide merupakan penduduk lokal di Desa Komodo yang menjadi pemandu wisata di Taman Nasional Komodo. Mereka pun biasa mendampingi wisatawan untuk melihat komodo.

Hamnor, merupakan salah satu naturalis guide yang ikut dalam rombongan dan menemani perjalanan Wishnutama di Pulau Komodo. Dia menemani sejak berlabuh di dermaga di Loh Liang.

“Dari dermaga, Wishnutama dan Angela Tanoe mampir di pusat oleh-oleh. Mereka melihat berbagai suvenir, terutama soal patung-patung komodo,” jelas Hamnor kepada detikcom lewat sambungan telepon, Minggu (1/12/2019).

Hamnor pun mendengarkan apa yang Wishnutama diskusikan bersama jajarannya dan para penjaja suvenir. Wishnutama memuji para penjaja suvenir yang juga merupakan penduduk asli Desa Komodo di Pulau Komodo.

“Dia (Wishnutama) bilang, harus ada nilai tambah. Patung-patung komodo sudah bagus, tapi harus ada ekonomi kreatif lainnya seperti kerajinan tangan. Dia juga bilang akan memberikan pelatihan pada para pengrajin suvenir, khususnya para pemahat patung komodo,” papar Hamnor.

Cerita Guide yang Temani Wishnutama di Pulau KomodoFoto: (dok Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)

Setelah dari situ, Wishnutama bersama rombongan lanjut ke Oase Cafe, suatu kafe yang berada di pinggir pantai di Pulau Komodo. Saat itu Hamnor tidak bisa ikut ke dalam, karena hanya para pejabat dari Pemkab Manggarai Barat serta pihak Taman Nasional Komodo.

“Tapi dari kafenya, Wishnutama melihat-lihat komodo. Di bawah kafenya juga banyak komodo,” terangnya.

Cerita Guide yang Temani Wishnutama di Pulau KomodoWishnutama melihat komodo di dekat Oase Cafe (dok Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)

Namun sebelum ke kafe, Wishnutama bersama rombongan melewati pintu gerbang Pulau Komodo. Kata Wishnutama, gerbangnya mau diubah.

“Dia bilang patung dan gerbangnya akan diubah supaya ada daya tarik,” ungkap Hamnor yang sudah menjadi naturalis guide selama 10 tahun.

“Kemudian, Wishnutama juga dikenali oleh Kepala Desa Komodo. Dia pun mendengarkan keluh kesah warga desa, seperti membutuhkan dermaga permanen. Kata Pak Menteri, nanti akan disampaikan ke Menteri Perhubungan Budi Karya,” lanjutnya menjelaskan.

Menurut Hamnor, Wishnutama tidak sempat untuk trekking di Pulau Komodo mungkin karena jadwal yang padat. Dirinya pun ikut senang dan berharap banyak kepada Wishnutama sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

“Harapan saya, semoga masyarakat di Desa Komodo bisa lebih terlibat pada pariwisata. Selama ini, kami belum banyak merasakan langsung pendapatan dari pariwisata,” tutupnya.

Sumber : https://travel.detik.com/


  • -

Begini Gaya Wishnutama Di Mandalika, Destinasi Wisata Super Prioritas 2020

TRIBUNNEWS.COM – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama dan Wakil Menteri, Angela Tanoesoedibjo mengunjungi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Mandalika.

Selain Angela, Wishnutama juga ditemani sejumlah pihak terkait.

Seperti Gubernur NTB Zulkieflimansyah, Veranita selaku CEO Indonesia Air Asia, Direktur Utama Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) Abdulbar M. Mansoer dan teman-teman dari ITDC lainnya.

Kunjungan pada Rabu (27/11/2019) itu dibagikan melalui laman Instagram pribadinya di @wisnutama.

Dalam foto yang ia unggah, nampak sedang bercengkerama dengan penduduk lokal.

Dalam keterangannya, Wishnutama ingin agar kawasan Mandalika bukan hanya menjadi destinasi wisata baru saja.

Namun ia menginginkan Mandalika menjadi ruang ekosistem baru untuk tumbuh, hidup, dan berkembangnya industri kreatif.

Wishnutama mengunjungi Destinasi Wisata Mandalika
Wishnutama mengunjungi Destinasi Wisata Mandalika (Instagram/@wishnutama)

Ia menambahkan Mandalika akan membawa dampak terhadap pariwisata dan ekonomi kreatif.

Tidak hanya itu juga menurutnya yang paling utama adalah membawa manfaat nyata untuk kesejahteraan masyarakat setempat.

Wishnutama kunjungi Mandalika, Lombok, NTB.
Wishnutama kunjungi Mandalika, Lombok, NTB. (Instagram/@wishnutama)

Pariwisata Mandalika yang terletak di Lombok, Nusa Tenggara Barat ini menjadi satu di antara Destinasi Super Prioritas.
Sumber : https://www.tribunnews.com/

 


  • -

Jokowi Janjikan Dana Jumbo Buat Wishnutama, Tapi…

Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan tidak akan ragu memberikan dana jumbo bagi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio untuk menggencarkan promosi destinasi wisata Indonesia.

 

Hal tersebut dikemukakan Jokowi saat memberikan pengarahan di depan para pelaku pasar dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI) 2019 yang digelar di Raffles Hotel, Jakarta, Kamis (28/11/2019).

“Promosi besar-besaran silahkan Kemenpar. Kalau negara lain dananya 10, menteri pariwisata 20 saya beri,” tegas Jokowi.

Namun, Jokowi mengingatkan bahwa pemberian dana untuk mempromosikan sejumlah destinasi wisata di Indonesia harus tepat sasaran. Jokowi tak ingin, setiap rupiah yang dikeluarkan tak bermanfaat.

“Tapi harus tepat sasaran. Karena ada segmentasinya, ada super premium, premium. Jangan dicampur-campur,” tegas Jokowi.

Pernyataan ini disampaikan Jokowi pasca menjabarkan berbagai upaya pemerintah dalam menarik devisa. Salah satunya, dengan pengembangan 10 Bali Baru yang diharapkan bisa selesai dalam waktu cepat.

“Sekarang ini dalam 3 tahun sampai nanti 2020 hanya fokus di lima tempat. Labuan Bajo, Mandalika, Danau Toba, Borobudur, dan di Manado,” tegasnya.

“Lima selesai 2020, sisanya tiga tahun setelah itu dirampungkan lagi. Kalau produknya selesai, ada calendar of event, kreatif industry di situ fokus dikerjakan,  promosi besar-besaran silahkan.”

 

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/


  • -

Kemenpar Kembangkan Desa Wisata, Ini 5 Desa yang Patut Dikunjungi

Suara.com – Desa wisata di Indonesia bisa menjadi pilihan wisata alternatif yang bisa Anda pilih.

Mengunjungi desa wisata akan memberikan Anda pengalaman yang berbeda, khususnya bagi masyarakat perkotaan.

Kementerian Pariwisata pun setuju bahwa desa-desa di Indonesia memiliki potensi yang luar biasa untuk menarik wisatawan.

Tidak heran jika akhir tahun ini, Kementerian Pariwisata menargetkan 2.000 desa yang dapat dikembangkan menjadi desa wisata.

Ayo dukung program pemerintah untuk kembali ke alam dengan berlibur ke desa!

RedDoorz memberikan referensi lima desa di Indonesia yang keasrian alamnya patut untuk Anda kunjungi!

  1. Desa Wisata Kasongan, Bantul, Yogyakarta

 

Desa Wisata Kasongan merupakan desa pengrajin gerabah. Hasil kerajinan gerabah sudah diekspor ke mancanegara.

  1. Desa Mentawir, Penajam Paser Utara, Kutai Kartanegara

Desa Mentawir menjadi desa wisata yang dekat dengan lokasi ibu kota baru Indonesia. Di sini menyimpan wisata unggulan Teluk Balikpapan, hutan mangrove. Pemerintah daerah juga tengah menggalakkan industri kreatif pembuatan sirup dari buah pidada.

  1. Desa Pujon Kidul, Malang, Jawa Timur

Desa Pujon Kidul menjadi salah satu wisata unggulan di Kecamatan Pujon, Malang. Di sini Anda bisa wisata alam dan outbond.

  1. Desa Ponggok, Klaten, Jawa Tengah

Desa Ponggok dikembangkan menjadi desa wisata air, misalnya Umbul Besuki, Umbul Sigedang, Umbul Ponggok, Umbul Kapilaler, dan Umbul Cokro.

  1. Desa Wae Rebo, Flores, Nusa Tenggara Timur

Wae Rebo merupakan desa tradisional yang terletak di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Desa yang berada di ketinggian 1000 mdpl ini dikelilingi perbukitan hijau. Rumah adat yang dipertahankan keasliannya turut memberi keunikan tersendiri. Desa Wae Rebo dinyatakan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO pada tahun 2013 lalu.

Itulah lima desa wisata Indonesia yang patut dikunjungi!

 

Sumber : https://www.suara.com/


  • -

Yogya Jadi Salah Satu Lokasi Uji Trail Wisata Kesehatan Indonesia

Yogyakarta – Kota Yogyakarta menjadi salah satu lokasi uji trail wisata kesehatan di Indonesia. Uji coba ini merupakan tindak lanjut kerja sama Kemenkes dan Kemenparekraf setelah meluncurkan katalog wisata kesehatan dan skenario perjalanan wisata kebugaran beberapa waktu lalu.

“Sesuai kesepakatan dengan Kementerian Pariwisata, Indonesia sudah siap dengan wisata yang wellness. Karena itulah yang kita kembangkan, dan teman-teman pariwisata sudah membuat uji trail namanya di lima kota tadi: Yogya, Solo, Semarang, kemudian Bali, dan Jakarta.”

Hal itu dikatakan Kepala Pusat Analisis Determinan Kesehatan Kemenkes Pretty Multihartina seusai acara sosialisasi determinan kesehatan pada 25-27 November 2019 di Cavinton Hotel, Yogyakarta, Rabu (27/11/2019).

Pretty menjelaskan ada empat kluster wisata kesehatan dan kebugaran yang dikembangkan Kemenkes dan Kemenparekraf. Kluster tersebut adalah wisata medis, wisata kebugaran dan jamu atau herbal, wisata olahraga yang mendukung kesehatan, dan terakhir wisata ilmiah kesehatan.

“La kenapa kita sekarang mencoba untuk mensosialisasikan di Yogya dan sekitarnya? Karena Yogyakarta dengan Borobudur-nya menjadi salah satu dari lima destinasi superprioritas,” sebutnya.

 

Sumber : https://news.detik.com/


  • -

Tantangan Wishnutama untuk Kembangkan Pariwisata Bali Utara

Jakarta – Menparekraf Wishnutama ingin mengembangkan kawasan Bali bagian utara, termasuk timur dan barat. Tapi rasanya, ada tantangan yang tak mudah.

   Pekan lalu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama bersama wakilnya Angela Tanoe mengunjungi Bali sebagai kunjungan kerja perdana ke daerah. Selama di Bali, mereka bertemu Gubernur Bali, Wayan Koster dan para pelaku wisata.
Salah satu hasil pertemuan tersebut adalah, Wishnutama ingin mengembangkan pariwisata di Bali bagian utara, barat, dan timur. Tentu bukan rahasia lagi, kawasan Bali bagian selatan seperti Kuta, Sanur, dan Seminyak sudah penuh sesak.

Konsentrasi pariwisata Bali pun terpusat di bagian selatan. Hingga akhirnya muncul permasalahan seperti overtourism, hingga kemacetan.

Tantangan Wishnutama untuk Kembangkan Pariwisata Bali UtaraWishnutama saat kunjungan kerja perdana di Bali (Afif Farhan/detikcom)

BACA JUGA: Siap Benahi Turis Nakal di Bali, Wishnutama?

Praktisi dan pemerhati pariwisata asal Bali, Puspa Negara berpendapat, pengembangan pariwisata Bali bagian utara, timur, dan barat tidak semudah membalikan telapak tangan. Akesesibilitas menjadi tantangan terberat.

“Aksesibilitas menjadi faktor penentu terdistribusinya wisatawan maupun berkembangnya destinasi di belahan Bali utara, timur, dan barat. Ini tak lepas dari kondisi infrastruktur pendukung kepariwisataan lebih dominan ada di Bali selatan seperti bandara, sarana, dan prasarana pendukung lainnya,” kata Puspa kepada detikcom, Selasa (26/11/2019).

Tantangan Wishnutama untuk Kembangkan Pariwisata Bali UtaraKawasan Bali utara yang penuh kontur perbukitan (Imam Sunarko/d’Traveler)

Rata-rata, wisatawan yang menginap di Bali menghabiskan waktu 2-3 malam. Tentu kalau dari kawasan selatan ke utara Bali, waktunya akan habis di jalan.

“Turis yang datang lewat jalur laut seperti cruise, ada yang berlabuh di Padang Bay (Bali bagian timur), Celukan Bawang (Bali bagian utara) dan Gilimanuk (Bali barat). Namun angkanya, itu hanya 2 persen saja dari total turis yang datang ke Bali. Sisanya melalui Bandara Ngurah Rai di Bali bagian selatan,” papar Puspa.

Bagaimana soal pembangunan bandara di kawasan Buleleng?

“Begini, tahun 1967 ibukota Bali pindah dari Singaraja ke Denpasar, mungkin karena upaya untuk membangun bandara sebagai pintu masuk, yang mana pembangunan bandara relatif lebih mudah di Bali bagian selatan,” jawab Puspa.

Maksudnya pembangunan bandara relatif lebih mudah?

“Kawasan Bali bagian utara mungkin secara geografis memang sulit dibangun bandara karena kontur lahan yang berbukit, sedangkan di Bali bagian selatan relatif datar. Termasuk untuk membangun bandara di atas laut di Bali bagian utara, biayanya lebih besar,” terangnya.

Tantangan Wishnutama untuk Kembangkan Pariwisata Bali UtaraMenteri Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono saat meninjau proyek Jalan Pintas di Mangwitani-Singaraja di Bali (Kementerian PUPR)

Puspa menjelaskan, oleh sebab itu harus ada perhitungan matang dari Kementerian Perhubungan dan Kementerian PUPR untuk membangun bandara dan jalan tol. Sementara menanti bandara dan jalan tol tersebut, Wishnutama disarankan untuk memperkuat SDM, atraksi wisata, dan peningkatan MICE di Bali bagian selatan.

“Menteri Parekraf Wishnutama bisa fokus untuk perbaikan destinasi, penguatan SDM pariwisata, penguatan atraksi wisata, dan peningkatan MICE,” tutup Puspa.

Sumber : https://travel.detik.com/

  • -

Ekonomi Kreatif Di Mata Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo

Jakarta – Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo membahas ekonomi kreatif bisa menjadi kekuatan baru dalam ekonomi di masa depan. Ini alasannya.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif menggelar acara Creative Economy Review di Balai Kartini, Selasa (26/11/2019). Menurut penjelasan Angela dalam pidatonya bahwa saat ini terjadi pergeseran ekonomi.

“Fenomena global saat ini pergeseran ekonomi baru ke ekonomi kreatif. Pergeseran terjadi ke kebutuhan konsumsi barang menjadi konsumsi pengalaman,” kata Angela mengawali keynote-nya.Menurut Angela, ekonomi kreatif akan semakin besar dan dikenal melalui teknologi yang ada saat ini. Tapi, kata dia, para pemangku kepentingan juga harus melihat sela tersebut.

“Ekonomi kreatif akan berkembang dan tumbuh beriringan dengan teknologi. Dan peluang ada jika kita mampu memanfaatkannya dengan baik,” tegas dia.

Lebih lanjut, menurut Angela ekonomi kreatif adalah wujud dari nilai tambah kekayaan intelektual yang bersumber pada kreativitas manusia dan berbasis warisan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi ekonomi kreatif diharapkan mampu menjadi pilar ekonomi yang baru.

“Ekraf diharapkan mampu jadi kekuatan baru di masa mendatang di ekonomi nasional tentunya bersamaan dengan sektor pariwisata,” imbuh dia.Ada satu alasan utama kenapa ekonomi kreatif tak akan habis. Karena, sektor ini tak bertumpu pada sumber daya alam, tapi lebih ke manusianya.

“Beda dengan lainnya, sektor ekonomi kreatif sangat bertumpu pada SDM. Lainnya kebanyakan bertumpu alam. Seiring terdegadrasi SDA setiap tahunnya, sektor ekonomi kreatif justru menempatkan kreativitas dan pengetahuan sebagai aset utama,” pungkas dia.

 

Sumber : https://travel.detik.com/


  • -

Jangan Gagal, Target Wisman 24 Juta Tahun 2024 Dan US$ 32 Juta Devisanya

Tak sedikit yang mencari-cari apa dan berapakah target-target Menparekraf Wishnutama di sektor pariwisata? Ternyata untuk konsumsi publik satu informasi terselip dalam sebaran melalui email termasuk yang saya terima ini  minggu lalu. …..

Menparekraf Wishnutama Kusubandio rupanya mengembalikan pada beberapa konsep yng tercantum pada RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024) dan disitu tercantum ditargetkannya  nilai penerimaan devisa pariwisata dari US$ 19,3 miliar tahun 2018 akan menjadi US$ 32 miliar tahun 2024, jumlah wisman 15,8 juta orang tahun 2018 ditargetkan menjadi 24 juta tahun 2024 (ini target tercantum dalam RPJMN 2020-2014). Dicatatnya 4 pilar  pembangunan pariwisata yaitu (1) peningkatan daya saing industri dan ekosistem usaha pariwisata; (2) peningkatan aksesibilitas, amenitas, atraksi dan tata kelola destinasi pariwisata; (3) peningkatan kualitas SDM pariwisata; dan (4) penguatan citra pariwisata dan diversifikasi pemasaran.

Ada satu artikel lagi yang saya baca melalui email kemarin. Sangat menarik, tampil angka yang menarik pula, bahwa rupanya Pemerintah sendiri menargetkan devisa pariwisata USD 32 miliar dan 24 juta wisman pada 2024 dengan Average Spending per Arrival (ASPA) sebesar USD 1.333 sebagai dasar perhitungannya. Disebutkan, artinya, pertumbuhan ASPA periode 2019 – 2024 adalah 9%. Faktanya, pertumbuhan ASPA Indonesia dalam 5 tahun terakhir hanya 3,1%.

Artikel itu tercantum ditulis oleh “ipangwahid”, Tim QuickWin 5 Destinasi Super Prioritas.

Sebelumnya kita ikuti dan catat di sini pernyataan Menparekraf tentang 3 target utama Kemenparekraf/ Baparekraf yaitu bertekad mewujudkan : pertama, pariwisata sebagai penghasil devisa nomor satu di Indonesia; kedua,  produk ekonomi kreatif Indonesia menjadi terbaik di kawasan ASEAN; dan ketiga, menjadikan pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai sumber kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (sumber: Siaran pers). Dan, melanjutkan pembangunan infrastruktur dan utilitas dasar di lima destinasi super prioritas. Kelima destinasi super prioritas itu ialah Danau Toba (Sumatera Utara), Borobudur (Joglosemar), Mandalika (Nusa Tenggara Barat), Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), dan Likupang (Sulawesi Utara).

*****

Sebenanya sudah sampai dimanakah pariwisata kita dewasa ini? Pernah kita catat di sini dengan diagram seperti di bawah ini, bahwa dalam 2 tahun pertama waktu itu (2015-2016) strategi pemasaran/promosi BAS (Branding, Advertising, Selling) menampakkan hasil (sukses) signifikan. Yaitu fase pelaksanaan bagian B dan A (Branding dan Advertising). Menjadi pertanyaan kemudian ialah hasil dari fase pelaksanaan S yaitu Selling. Tampak begini :

peta-hasil-bas-25112019

peta-05112019

Tetapi dua tahun kemudian fakta menunjukkan penerapan strategi dan program Selling tampak kurang konsisten sehingga mengalami kegagalan. Gagalnya antara lain dicerminkan melalui data berikut ini: statistik-wisman-yg-menurun-sd-2019

Terkait ini pernah dicatat di sini juga fakta selanjutnyat ini. Ketika memasuki tahap melaksanakan strategi selling itu, para pelaksana strategi tampak seperti terjebak pada sikap bekerja menjalankan rutinitas dan monoton. Hasil penjualan produk dan destinasi tampak tak bergerak bahkan secara kualitas wisman cenderung menurun. Padahal menurunnya kualitas wisman tentu menurun pula hasil devisanya. Dan effeknya akan terasa pada aspek lain perekonomian kita, yaitu CAD atau current account deficit, neraca pembayaran (internasional) berjalan. Terbantukah CAD itu dari hasil devisa pariwisata?

Kendati dimaklumi bahwa terjadinya peristiwa beberapa bencana alam yang besar (erupsi, gempa, tsunami) dan gejala sementara melambatnya perekonomian dunia, niscayalah berpengaruh pada naik turunnya arus kunjungan wisman, namun fakta statistik tergambar di atas, tetaplah amat patut didalami oleh segenap pelaku bisnis pariwisata, dan menjawab pertanyaan bagaimana selanjutnya…?

*****

Terasalah dan menjadi pertanyaan yang meminta jawaban segera, apakah selanjutnya program Kemenparekraf dan penggiat-penggiat pariwisata yang akan dilaksanakan tahun demi tahun 2019-2024? Pengalaman menunjukkan, rumusan-rumusan pada tataran policy dan strategi yang tampak sangat masuk akal dan memberi harapan, pada tataran pelaksanaannya tampak tidak efektif.  Situasi kondisi pariwisata kita saat ini serasa memesankan: Jangan gagal! Setiap kali kita membaca kalimat-kalimat berisi kebijakan, strategi, enak dibaca, terasa masuk akal, namun di pariwisata ini, pertanyaan pun selalu timbul : HOW TO OPERATE IT? Pertanyaan tak lagi 5 W, what, who, where, when, why,…tetapi HOW TO ?(bersambung).***

Sumber : http://indonesiatouristnews.com/